NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Sarapan di Rumah Bu Lina

Aku tidak menunggu sampai Damar mengulang namaku.

Kakiku terus bergerak di jalan yang masih basah. Kerikil menempel di telapak, kardigan tipis tak mampu menahan udara subuh Bandung, dan bungkusan tisu di sakuku terasa seperti satu-satunya benda yang membuatku yakin malam tadi bukan sekadar mimpi.

Aku baru berhenti ketika mencium aroma kluwek dan serai dari ujung gang.

Papan kayu bertuliskan RAWON BU LINA belum dibalik ke sisi buka, tetapi pintu warung sudah terangkat separuh. Lampu kuning menyala di balik etalase. Suara panci beradu, lalu kepala Rangga muncul dari bawah pintu gulung.

"Kar?"

Ia menatap wajahku, turun ke kakiku, lalu kembali lagi. Candaan yang biasanya siap di bibirnya hilang.

"Kamu kenapa?"

"Aku mau sarapan."

"Kamu datang tanpa sandal buat sarapan?"

Aku mencoba tersenyum. Bibirku gemetar.

Rangga langsung mengangkat pintu lebih tinggi. "Masuk dulu."

Bu Lina keluar dari dapur sambil membawa centong. Kerudungnya masih terpasang miring, tanda ia baru selesai salat Subuh dan langsung menyiapkan dagangan.

"Ya Allah, Sekar." Ia meletakkan centong begitu saja. "Kok pucat begini?"

"Cuma dingin, Bu."

"Dingin apanya? Angga, ambil handuk. Sama sandal Ibu yang biru. Cepat."

"Sudah ambil sebelum Ibu suruh," sahut Rangga dari belakang.

Bu Lina menarikku ke bangku dekat dapur. Ia tidak bertanya kenapa aku keluar rumah, tidak menyebut Ibu, tidak menuntut penjelasan. Tangannya menggosok rambutku dengan handuk hangat, lalu menyelimuti bahuku dengan sarung bersih.

"Makan dulu. Urusan lain belakangan."

Kalimat sederhana itu hampir merobohkanku.

Pak Bambang muncul dari ruang belakang dengan jaket pengemudi tersampir di bahu. Ia menatapku lama, lalu mengambil kunci motor dari meja.

"Kalau perlu antar pulang, bilang. Kalau belum mau pulang, duduk saja," katanya.

Tak ada ceramah. Tak ada pertanyaan apa kata tetangga.

Aku mengangguk, tak percaya pada suaraku sendiri.

Rangga berjongkok di depanku. Ia membersihkan telapak kakiku dengan kain basah, mengangkat dua kerikil kecil yang menempel di kulit.

"Kembang, kamu habis lomba lari?"

Nada mengejeknya kembali, tetapi terlalu lembut untuk benar-benar menjadi ejekan.

"Kalah. Nggak dapat medali."

"Pantas. Kostumnya salah."

Ia memasangkan sandal biru milik Bu Lina ke kakiku. Ukurannya terlalu besar. Saat ia berdiri, pandangannya berhenti pada pergelangan tanganku.

Aku buru-buru menarik lengan kardigan.

"Itu kenapa?"

"Kejepit waktu tidur."

"Tidur sama mesin cuci?"

"Rangga," tegur Bu Lina.

Ia mengangkat kedua tangan, tetapi rahangnya mengeras. "Aku cuma tanya."

Semangkuk rawon diletakkan di depanku. Kuah hitam mengepulkan aroma daging dan daun jeruk. Bu Lina menambahkan nasi sedikit, lalu menatap Rangga.

"Jangan kasih sambal dulu. Perutnya kosong."

"Dia kalau nggak pakai sambal bilang hidupnya hambar."

"Hari ini hambar dulu."

Kari berlari dari halaman belakang, kukunya berderak di lantai. Anjing kampung berbulu cokelat itu berhenti di kakiku, mengendus, lalu menaruh kepalanya di pangkuanku seolah paham aku tak sanggup menerima sambutan yang terlalu riuh.

Aku memeluk lehernya.

Hangat.

Nyata.

Tubuhku akhirnya berhenti gemetar, tetapi air mata justru jatuh ke bulunya.

"Hei." Rangga menarik bangku di sebelahku. "Siapa yang bikin kamu begini?"

"Nggak ada."

"Jangan bohong sama orang yang tahu kamu pernah makan sambal satu mangkuk gara-gara kalah lomba kelas empat."

"Itu fitnah."

"Ada saksi. Kari."

Kari mengibaskan ekor.

Bu Lina duduk di seberang. Matanya turun sekali lagi ke lengan kardiganku. "Ibumu marah?"

Aku menggeleng terlalu cepat. "Aku cuma nggak bisa tidur. Jalan sebentar, terus kebablasan ke sini."

Rangga melihat jendela. Hujan sudah reda, tetapi jarak rumahku ke warung cukup jauh untuk membuat baju tidurku basah di bagian bawah.

Ia tahu aku bohong. Bu Lina juga.

Namun Bu Lina hanya mendorong mangkuk lebih dekat. "Habiskan setengah saja. Setelah itu tidur di kamar depan."

"Aku bisa pulang."

"Siapa yang suruh pulang?"

Suara perempuan itu tegas, tangannya hangat saat menyentuh kepalaku.

Pak Bambang berangkat menarik penumpang setelah meninggalkan ponselnya di meja. "Kalau ada apa-apa, hubungi Bapak. Bara masih jaga malam di rumah sakit, mungkin baru pulang siang."

Rangga mengantarnya sampai pintu, lalu kembali membawa segelas air hangat dan satu sachet madu.

"Minum."

"Kamu cerewet seperti Ibu."

"Ibu level nasional. Aku baru kecamatan."

Aku tertawa. Suaranya kecil dan serak, tetapi tetap tawa pertama yang keluar sejak malam tadi.

Setelah beberapa suap, rasa hangat menjalar ke perut. Dunia belum kembali normal. Pergelangan tanganku masih nyeri. Aroma dingin itu seakan tertinggal di hidung. Namun di dapur sempit yang dipenuhi uap rawon, tidak ada mata hitam yang mengawasiku.

Bu Lina bangkit mengambil pakaian kering. Ketika aku hendak meraih gelas, lengan kardiganku tersingkap.

Jejak kemerahan itu terlihat jelas.

Langkah Bu Lina berhenti.

Rangga ikut melihatnya.

Tak satu pun dari mereka langsung bertanya, tetapi keheningan yang jatuh membuatku tahu satu hal.

Bu Lina akhirnya berjongkok di sampingku. "Kalau ada yang perlu diperiksa, kita bisa ke rumah sakit tempat Bara bekerja. Ibu ikut. Kamu nggak perlu menjelaskan apa pun sekarang."

Tawaran itu membuat bungkusan tisu di sakuku terasa semakin berat. Aku belum siap menyerahkannya kepada siapa pun, belum siap mendengar orang lain memberi nama pada malam yang bahkan tak sanggup kuingat utuh.

"Nanti," kataku.

Rangga hendak menyela, tetapi Bu Lina menepuk lengannya. Ia menerima jawabanku tanpa memaksaku. Justru sikap itulah yang membuat rasa sesak di dada sedikit longgar.

Orang-orang yang lembut justru paling cepat menyadari ketika seseorang telah melukaiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!