NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malu sendiri

"Mbak Aira? Devan? Ngapain kalian di sini?" tanya Karin kaget.

Aira dan Devan pun sama terkejutnya melihat Karin yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Karin? Kamu di sini juga?" Aira balik bertanya.

"Ya iyalah! Aku kan habis dari salon kecantikan terus lanjut shopping. Aku mau tampil sempurna di acara pernikahanku nanti. Lah, Mbak Aira sendiri ngapain ke sini?" celetuk Karin dengan nada menyindir.

Aira refleks menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Bingung mau jawab apa. Memang Devan yang menyuruhnya memilih baju di toko ini, tapi Aira merasa tidak tega mengeluarkan uang. Baju-baju di sini mahal semua!

"Jangan bilang Mbak Aira ke sini cuma mau cuci mata doang?" tebak Karin sambil tersenyum remeh. "Aduh, Mbak, kalau nggak sanggup beli mending nggak usah masuk deh, bikin malu aja. Lihat tuh penampilan Mbak, kucel gitu kaya gembel. Kok bisa ya satpam izinin kamu masuk?" lanjut Karin mengejek.

"Karin, kami ke sini tentu saja mau beli baju." potong Devan, tak tahan melihat adik iparnya terus-terusan merendahkan istrinya.

Mendengar itu, Karin justru tertawa keras. "Ha… ha… ha… Apa kata kamu tadi? Mau beli baju di sini? Yang benar saja! Aku kasih tahu ya, harga baju di toko ini mahal-mahal, kamu mana ada duit buat bayarnya!"

Devan mengepalkan tangan. Gemas setengah mati dengan mulut lemes adik iparnya ini. Andai saja Karin bukan adik Aira, sudah dari tadi mulutnya disumpal.

"Kenapa tidak punya? Aku kan kerja." sahut Devan santai.

"Sudah, Mas, sudah. Karin, jangan bikin keributan di sini, malu dilihat orang." sela Aira cepat. Dia paling tidak suka jadi pusat perhatian di depan umum.

Benar saja, beberapa pengunjung toko mulai menengok ke arah mereka karena keributan kecil yang dibuat Karin.

"Ya sudahlah, terserah kalian! Yang penting aku sudah ingetin ya, harga di sini mahal! Jangan sampai nanti kalian malah minta dibayarin sama aku. Ogah banget aku bayarin belanjaan Mbak Aira." cerocos Karin tajam.

"Lagian tumben banget sih Mbak Aira kelayapan ke sini? Harusnya Mbak di rumah bantuin Ibu. Kasihan tahu, Ibu apa-apa sendiri di rumah." tambahnya lagi tanpa beban.

Dada Aira mendadak panas. "Jangan pura-pura kasihan sama Ibu kalau kamu sendiri nggak pernah peduli! Selama ini siapa yang selalu bantuin Ibu di rumah kalau bukan aku?" balas Aira emosi. Enak saja Karin bicara begitu, padahal Aira baru sekali ini keluar rumah untuk sekadar menghirup udara segar dan jalan-jalan.

"Sudah, Sayang, ayo kita cari baju yang cocok buat kamu." ajak Devan menenangkan Aira agar suasana tak makin panas.

"Ih, gayanya sok banget. Mau beli baju sebagus apa pun, kalau mukanya kusam ya tetap aja kusam." cibir Karin pada temannya sambil berlalu menuju rak pakaian malam.

Teman Karin yang sejak tadi memperhatikan Aira menggeleng tak percaya. Karin terlihat sangat modis, cantik, dan berkelas, berbanding terbalik dengan Aira yang saat itu hanya mengenakan kulot santai dan kaos oblong yang warnanya sudah agak pudar.

"Kampungan banget. Suaminya kuli bangunan aja sok-sokan mau belanja di sini. Nanti kalau nggak sanggup bayar kan bikin malu keluarga." gerutu Karin. Temannya hanya mengangguk-angguk setuju.

Sementara itu, Devan melihat sebuah gaun anggun berwarna caramel. Potongannya sederhana namun memancarkan kesan berkelas, sangat cocok untuk Aira.

"Sayang, baju ini sepertinya pas banget buat kamu." ujar Devan sambil mengambil gaun tersebut.

Aira langsung jatuh cinta pada pandangan pertama melihat gaun itu. "Wah, cantik banget, Mas. Kelihatan simpel tapi mewah."

Namun, saat Aira melirik price tagnya, matanya mendadak melotot. Rp1.250.000!

"Eh, tapi jangan yang ini deh, Mas. Harganya mahal banget, cari yang murah saja." bisik Aira ketakutan.

Karin yang berdiri tak jauh dari sana menyambar ucapan Aira. "Ha… ha… tuh kan, aku bilang juga apa! Mending Mbak Aira keluar aja dari sini deh, daripada nanti pas di kasir nggak bisa bayar terus malah malu sendiri." cerocos Karin sambil tertawa mengejek.

Baik Devan maupun Aira memilih mengabaikan celotehan gatal itu. Aira buru-buru mencari baju lain yang jauh lebih murah, sementara Devan diam-diam tetap memegang gaun caramel tadi.

"Pilih saja mana yang kamu suka, Sayang." kata Devan lembut.

Aira akhirnya mengambil sebuah tanktop yang harganya paling miring di toko itu, yaitu Rp250.000. Niatnya cuma mau beli itu saja daripada keluar toko dengan tangan hampa.

"Sudah, Mas. Aku beli ini aja, yuk bayar." ajak Aira. Devan mengangguk, lalu diam-diam mengambil 3 potong baju lain yang sudah dia incar untuk istrinya.

Melihat Aira dan Devan berjalan ke kasir, Karin ikut mengekor membawa 3 gaun malam pilihannya. Dia mengambil tanpa melihat harga karena merasa uangnya tak berseri.

Karin mengira Aira cuma membawa satu tanktop murah itu, tapi matanya membelalak saat melihat beberapa potong baju diletakkan di meja kasir.

"Seriusan itu mau diambil semua? Udah liat harganya belum? Awas aja nanti nggak bisa bayar." celetuk Karin tajam.

Aira yang kaget langsung menoleh ke arah suaminya. "Mas, kok banyak banget?" bisik Aira panik, takut Devan tak sanggup membayar karena harga per potongnya bisa jutaan rupiah.

"Iya, sengaja Mas ambil buat kamu. Langsung dihitung saja ya, Mbak." ucap Devan pada kasir. Karin di samping mereka hanya tersenyum remeh sambil bersedekap.

"Mas, jangan, balikin aja bajunya!" bisik Aira lagi, makin cemas.

"Awas aja kalau sampai kurang uangnya ya, aku ogah ngebantu bayarin!" tegas Karin menatap sinis. Devan tak membalas sedikit pun.

Kasir toko sempat ragu menatap Devan dan Aira, terutama melihat penampilan Aira yang terkesan sangat sederhana dan sedikit kucel. Namun, ia tetap memindai semua pakaian itu profesional.

"Total semuanya jadi Rp4.550.000 ya, Kak." ucap kasir.

Angka itu sukses membuat Aira menahan napas. Namun, Devan dengan sangat santai merogoh dompetnya, mengeluarkan sebuah kartu hitam berkilau dari jajaran kartu di dalamnya.

"Pake ini ya, Mbak." ujar Devan tenang.

Melihat kartu yang diacungkan Devan, mata Karin mendadak melotot sempurna. Rasa kaget langsung menghantam dadanya ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang ada di depan matanya!

Mana pernah terlintas di otak Karin kalau kakak iparnya yang setahunya cuma kuli bangunan bisa punya kartu elegan seperti itu!

"Wow, gaya banget! Kuli bangunan zaman sekarang punya kartu juga ya? Tapi awas, jangan-jangan kartunya kosong melompong lagi." celetuk Karin tajam sambil terkekeh sinis.

Kebetulan ada dua kasir yang bertugas, jadi baju-baju pilihan Karin ditotal oleh kasir di sebelahnya.

"Total belanjaannya jadi dua juta lima ratus ribu rupiah ya, Kak." ujar kasir sebelah ramah. Kasir itu mengira Karin orang kaya melintir karena penampilannya yang modis dan penuh barang branded.

Dengan gaya sok keren dan kepala terangkat tinggi, Karin menyodorkan kartunya.

Di sisi lain, jantung Aira serasa mau copot. Dia kepikiran ucapan Karin. Gimana kalau kartu suaminya benar-benar kosong? Mampuslah dia, padahal kemarin Devan baru saja mentransfernya uang 11 juta.

*Bip!*

Suara mesin EDC berbunyi, disusul keluarnya struk pembayaran Devan. Transaksi berhasil tanpa hambatan sama sekali!

Mbak kasir yang tadinya sempat meragukan Devan langsung merasa tidak enak hati. Malu sendiri karena sudah menilai orang dari penampilannya saja.

"Ini pakaiannya ya, Mas, Mbak. Terima kasih banyak sudah berbelanja di toko kami." tutur sang kasir dengan senyum manis dan nada yang jauh lebih sopan.

Aira bisa bernapas lega seketika. Suaminya benar-benar bisa membayar seluruh pakaian mahal itu!

"Sama-sama, Mbak. Oh iya, ini buat tip Mbaknya ya." ucap Devan santai sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke tangan kasir.

Mata kasir itu membelalak senang. "Wah, terima kasih banyak, Tuan!"

Melihat pemandangan itu, dada Karin terasa panas seperti terbakar! Dia tidak terima melihat Devan bisa bayar belanjaan jutaan rupiah, bahkan bagi-bagi tip seakan uang tak ada harganya.

"Gila, beneran bisa bayar dong?" gumam Karin kaget bercampur dengki. "Dapet duit dari mana coba? Gaya banget kuli bangunan ngajak istrinya belanja di tempat kelas gini!"

Teman Karin yang berdiri di sebelahnya justru menatap Devan tanpa kedip. "Keren juga ya kakak ipar lo, Rin. Mana ganteng banget lagi." celetuknya polos.

"Ih, apaan sih lo!" ketus Karin makin gondok.

Tiba-tiba—

"Maaf, Mbak. Ada kartu yang lain? Kartu yang ini saldonya tidak mencukupi." potong kasir yang melayani Karin sambil menyerahkan kembali kartunya.

Wajah Karin yang tadinya tengil mendadak merah padam! Malunya setengah mati. Dia sama sekali tidak menyangka kartu utamanya sudah mencapai batas *limit*.

"Hah? Kok bisa limit sih?" bisik Karin panik setengah mati. "Duh, berabe ini! Pakai apa bayarnya?"

"Mau dibayar tunai saja, Mbak?" tawar kasir.

"I-iya, sebentar ya, Mbak." sahut Karin gugup. Dia berbalik, menyenggol lengan temannya dan berbisik penuh desakan, "Gue pinjem duit lo dulu dong..."

Temannya spontan terbelalak kaget. "Hah? Pinjem? Yang bener aja lo, masa seorang Karin nggak ada duit?"

Karin refleks membungkam mulut temannya rapat-rapat karena pengunjung lain mulai menengok. "Ssstt! Pelan-pelan suaranya, babi!"

"Aduh, sorry ya, Rin. Tapi gue lagi nggak ada pegangan juga. Lagian kalau lo emang nggak punya duit, mending balikin aja tuh bajunya." cibir temannya tanpa beban.

"Ih, bisa jatuh gengsi gue! Malu banget!" tolak Karin keras kepala.

"Ya mau gimana lagi?"

"Maaf, Mbak, jadi mau dibayar pakai apa?" tegur mbak kasir dengan nada yang sudah berubah dingin dan jengkel. Risih melihat Karin yang tadi berlagak sombong selangit dan merendahkan orang lain, tapi ternyata malah zonk.

"Ya ampun, tadi ajanya gaya banget ngatain orang kenceng. Eh, giliran sendiri yang bayar malah krisis," bisik sang kasir pelan, tapi cukup terdengar hingga membuat telinga Karin memerah panas.

Karena tak ada pilihan lain dan uang tunainya tidak cukup, Karin terpaksa mengembalikan semua baju pilihannya ke kasir dengan tangan gemetar. Begitu selesai, dia langsung ngacir keluar toko sambil menahan malu yang luar biasa!

Di sepanjang koridor mall, Karin disemprot habis-habisan oleh temannya. Temannya merasa sangat dipermalukan karena ikut terseret dalam aksi sok kaya Karin yang berujung amsyong.

**BERSAMBUNG**

1
Adinda
terlalu lemah
Adinda
pindah aja ajak bapakmu biarin si benalu kelaparan biar tau rasa
Adinda
pisah rumah aja bawa bapakmu Aira
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
iya aira sekalian bawa pulang kerumah suami kamu
Sri Supriatin
Untung Aira langsung ke RS.... Alhamdullilah pa Bambang ke urus 🙏🙏🙏
Sri Supriatin
kasian.pa Bambang, semoga cepat tertanganin 🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
Tuty Yatun
sering2 up dong kak bagus ceritanya asal jgn terlalu bertele2 seperti sinetron ikan terbang🤭🤣
Noona Rara: Hehehe iyaa kak
total 1 replies
Cha Libra
thour ..novel mu masih bnyak yg On going npa udh nongol yg baru terus setiap cerita hampir Sma smua
Noona Rara: Iya kak. Untul novel sebelumnya itu udah stuck. Nggak bisa aku kembangin lagi.
Dan untuk kenapa ceritanya hampir sama karena memang aku fokusnya ke drama keluarga yah.
Jadi saat ini fokus aku kedua novel aja. Terjerat Takdir dan suksesnya istri yang tersakitii.
Makasih kak udah mau baca🙏🏽
total 1 replies
Sri Supriatin
Saya hadiir thor baru aja bc marathon n seryuuu👍🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih ya udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!