Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katedral Besi dan Tarian Kerambit di Perut Bumi
Deru mesin Ghost-Train menggema layaknya raungan naga purba yang terbangun dari tidur panjangnya. Getaran hebat merambat melalui dinding baja kabin, membuat gigi siapa pun yang berada di dalamnya bergemeretak pelan. Di luar, mata bor tungsten raksasa itu mengoyak lapisan batuan granit Pegunungan Alpen dengan kecepatan konstan, mengubah batu-batu padat menjadi serpihan debu yang terbuang ke saluran pembuangan belakang kereta.
Semakin dalam mereka menyelam ke perut bumi, suhu di dalam ruang kemudi yang sempit itu perlahan merangkak naik. Sistem pendingin udara peninggalan Uni Soviet yang sudah uzur itu mulai terdengar seperti orang penderita asma, hanya mampu mengembuskan angin hangat yang berbau oli dan, tentu saja, sisa-sisa vodka.
Tania menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu mengipasi lehernya menggunakan majalah persenjataan tua yang ia temukan di laci dasbor. Jaket parasut hijaunya kini sudah ia lepas dan diikatkan di pinggang.
"Astaga, panasnya ngalah-ngalahin terminal bus Baranangsiang pas jam dua siang," keluh Tania, mengibaskan kerah kausnya. Ia menoleh ke arah Xander yang duduk tegak di kursi kemudi, masih terbalut kemeja hitam berlengan panjang tanpa setetes keringat pun di wajahnya. "Kau ini terbuat dari es atau apa, Xander? Kita ini sedang direbus hidup-hidup di dalam kaleng sarden raksasa."
Xander tidak memalingkan pandangannya dari layar sonar analog yang berkedip hijau. "Baju yang kau tolak tadi memiliki sistem pendingin mikro internal, Tania. Dan tubuhku sudah dilatih untuk menahan fluktuasi suhu ekstrem selama interogasi. Anggap saja ini sauna gratis."
"Sauna gratis yang bisa meledak kapan saja," gerutu Dirga dari kursi belakang. Wajah pria veteran itu tampak sedikit pucat, tangannya memeluk perut. "Nyonya Tania, efek tolak anginnya sepertinya bentrok dengan bau vodka di ruangan ini. Perutku rasanya seperti sedang diaduk pakai mixer."
Dea yang duduk di depan panel navigasi sekunder terkekeh pelan melihat tingkah Dirga. Gadis itu tidak terlihat ketakutan sama sekali. Jari-jarinya dengan lincah mengetik di atas keyboard kuantum milik ayahnya, menerjemahkan data dari radar analog kereta menjadi pemetaan tiga dimensi yang jauh lebih modern.
"Kita sudah mencapai kedalaman seribu delapan ratus meter, Ayah," lapor Dea, suaranya jernih dan penuh konsentrasi. "Sensor suhu eksternal menunjukkan lonjakan panas yang drastis di depan kita. Kita sudah sangat dekat dengan kantong magma yang mereka jadikan sumber tenaga."
"Bersiaplah," perintah Xander, menarik tuas persneling bor ke mode penembusan akhir. "Sistem pertahanan Elysium pasti sudah mendeteksi getaran kita sejak kita melewati batas kedalaman seribu meter. Mereka akan menyambut kita begitu kita menembus dinding fasilitas."
Lampu peringatan berwarna merah berkedip cepat di atas dasbor. Suara gesekan mata bor tiba-tiba berubah, dari yang semula berderak melawan batu keras, kini terdengar melengking tajam seolah sedang mengoyak lapisan logam padat.
KRAAAANG!
Bunyi robekan baja yang memekakkan telinga meledak di depan mereka. Kereta bor itu tersentak keras, menembus sesuatu yang jauh lebih tebal dari batuan gunung. Cahaya biru elektrik tiba-tiba menerobos masuk dari celah kaca kokpit yang retak, menggantikan kegelapan tanah. Hantaman terakhir membuat kereta meluncur tak terkendali selama beberapa meter sebelum Xander menarik tuas rem darurat, memicu percikan api dari rel roda rantai.
Kereta berhenti dengan dengusan mesin yang berat, menghembuskan kepulan uap panas.
Hening. Deru mata bor telah mati. Yang tersisa hanyalah suara dengungan energi berfrekuensi rendah yang membuat bulu kuduk merinding.
Xander meraih senapan taktis hibridanya, menekan tombol pembuka palka atas. Pintu baja bulat itu berdesis terbuka. Satu per satu, mereka memanjat keluar dari lambung Ghost-Train.
Begitu mereka berdiri di atas atap kereta bor tersebut, pemandangan di depan mereka membuat napas tertahan.
Mereka tidak lagi berada di dalam terowongan tanah, melainkan di dalam sebuah kavern bawah tanah yang maha luas, begitu besarnya hingga awan uap tipis terbentuk di bagian atasnya. Di tengah kavern raksasa itu, berdiri sebuah struktur yang menyerupai katedral futuristik yang terbuat dari baja hitam mengkilap. Pipa-pipa raksasa memompa cairan plasma biru yang menyala terang, terhubung langsung ke sebuah reaktor fusi berbentuk bola raksasa di pusat ruangan. Reaktor itu melayang perlahan, ditopang oleh medan magnet yang berdengung konstan.
"Selamat datang di ruang mesin Olympus," bisik Xander. "Mereka menyebutnya The Sun Core."
"Ini... ini lebih besar dari stadion bola," gumam Dirga takjub, menodongkan senapannya ke sekeliling. "Di mana para penjaga yang kau sebutkan tadi, Bos? Tempat ini sepi sekali."
Baru saja kalimat Dirga selesai, lampu-lampu di sepanjang lorong gantung katedral besi itu berubah warna dari biru menjadi merah darah. Suara sirine bernada rendah mulai bergema secara ritmis, terdengar seperti detak jantung monster raksasa.
Dari balik bayang-bayang pilar baja, belasan siluet tinggi mulai bermunculan. Mereka melangkah maju dengan gerakan yang kaku namun sangat cepat. Saat cahaya merah menimpa wajah mereka, Dea memekik tertahan.
Mereka bukanlah manusia. Mereka adalah Aegis Sentinels—automaton setinggi dua meter berlapis zirah keramik putih polos, tanpa mata, hidung, maupun mulut di wajah mereka. Lengan kanan mereka terintegrasi dengan bilah pedang frekuensi tinggi yang menyala oranye karena panas, sementara lengan kiri mereka memegang perisai energi transparan.
"Prajurit mekanik, tanpa rasa sakit, tanpa rasa takut," Xander mengokang senapannya. "Dirga, Freya, gunakan peluru EMP (Electromagnetic Pulse). Tania, jaga Dea di belakangku!"
TRAT-TAT-TAT-TAT!
Dirga dan Freya langsung melepaskan tembakan rentetan. Peluru-peluru berujung biru melesat menembus udara, menghantam perisai energi para Sentinels. Ledakan-ledakan listrik statis bermunculan, membuat dua automaton terhuyung ke belakang dengan percikan api keluar dari persendian mereka. Namun, sisanya terus maju tanpa henti, merapatkan formasi layaknya legiun Sparta.
Satu automaton melompat melintasi jarak sepuluh meter dengan kelincahan yang tak masuk akal, mendarat tepat di atas atap kereta, hanya beberapa meter dari Xander. Bilah pedang panasnya mengayun membelah udara, mengarah lurus ke leher Sang Penguasa Bayangan.
Xander tidak menghindar. Dengan kecepatan refleks yang menembus batas manusia, ia menangkis ayunan pedang panas itu menggunakan laras senapannya yang terbuat dari paduan titanium murni, lalu memutar tubuhnya, melepaskan tembakan jarak dekat tepat ke arah persendian lutut mesin tersebut. Automaton itu kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia bisa jatuh, Xander melayangkan tendangan putar mematikan yang meremukkan dada keramiknya hingga hancur berantakan.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Dua automaton lainnya menyusup dari sisi samping, menghindari baku tembak Dirga dan melesat lurus menuju tempat Dea berlindung di balik palka.
"Dea, menunduk!" teriak Tania.
Tania melesat ke depan. Ia tidak menggunakan senapan api. Ia mencabut dua bilah kerambit perak dari balik pinggangnya. Automaton pertama menusukkan pedang panasnya ke arah perut Tania, namun wanita pesilat itu meliuk dengan keanggunan luar biasa yang mengingatkan pada gerakan tarian tradisional. Tania menepis lengan mesin itu menggunakan punggung tangannya, membiarkan panas pedang itu hanya menyengat udara di sebelahnya.
Dalam satu gerakan mulus bertenaga penuh, Tania menukik rendah dengan kuda-kuda Silat Harimau. Kerambit di tangan kanannya melesat mengait celah sempit di bagian tumit automaton, tempat kabel hidrolik terekspos.
KRAK! SSSSH!
Cairan hidrolik bertekanan tinggi menyembur keluar bagaikan darah hitam. Kaki mesin itu kehilangan tekanan, membuatnya tersungkur ke depan. Tanpa membuang sedetik pun, Tania melompat bertumpu pada punggung mesin yang terjatuh itu, melayang di udara, dan menghunjamkan kedua kerambitnya tepat ke bagian belakang leher automaton kedua yang baru saja tiba. Bilah perak itu menembus sirkuit utama. Lampu di wajah mesin itu berkedip mati, dan tubuhnya roboh tak bernyawa.
"Mesin atau manusia, kalau urat nadinya dipotong ya jatuh juga," desis Tania sambil memutar kerambit di sela-sela jarinya, menatap tumpukan rongsokan mesin mahal itu dengan tatapan menantang.
Di sisi lain, Xander dan Freya berhasil membersihkan gelombang pertama Sentinels menggunakan kombinasi tembakan presisi dan granat EMP. Asap putih pekat sisa ledakan sirkuit memenuhi udara kavern.
"Dea, sekarang!" panggil Xander.
Dea melompat turun dari kereta bor, berlari merunduk menuju panel terminal utama yang mengontrol akses ke Sun Core. Jari-jari mungilnya segera menghubungkan pad kuantum ke dalam port terminal. Baris-baris kode hijau mengalir deras di layar.
"Sistem enkripsinya berlapis tiga belas, Ayah," lapor Dea, keringat dingin mulai sebesar biji jagung menetes di pelipisnya. "Algoritma Elysium ini terus berubah setiap detik. Aku butuh waktu setidaknya tiga menit untuk membuka pintu perisai reaktor!"
"Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Kami yang akan menahan sisanya," jawab Xander dingin. Ia mengisi ulang magasin senapannya, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk katedral baja di ujung lorong.
Langkah kaki terdengar menggema. Namun kali ini, bukan langkah kaki dari automaton baja. Suara itu adalah ketukan pelan sol sepatu kulit yang sangat rapi dan berirama.
Dari balik kepulan asap EMP, sesosok manusia melangkah keluar dengan santai. Ia tidak memakai zirah baja atau memegang pedang bercahaya. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang dipenuhi oleh tato berpendar keemasan, dan hanya mengenakan celana kain hitam panjang yang diikat dengan sabuk tambang merah. Di kedua tangannya, ia memegang sepasang chakram (senjata berbentuk cakram melingkar) dari logam obsidian yang sangat tajam.
Xander langsung memberikan isyarat agar Dirga dan Freya menahan tembakan. Hawa keberadaan pria ini sangat berbeda; ia memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa berat.
"Luar biasa," suara pria itu berat dan menggema, penuh dengan keangkuhan. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang dikikir runcing layaknya hewan buas. "Sudah lama sekali sejak ada manusia biasa yang bisa bertahan melawan mainan-mainan penjaga itu. Valerius bilang kalian merepotkan, tapi aku tidak menyangka Dominus Umbrae akan membawa rombongan sirkus keluarga ke tempat suciku."
Pria itu memutar chakram di jari telunjuknya dengan kecepatan mengerikan hingga menghasilkan suara siulan angin yang tajam.
"Namaku Kaelen," ucapnya, menatap Xander dan Tania secara bergantian. "Aku adalah Sang Eksekutor, Penjaga Sun Core dari Pilar Perang. Sayang sekali perjalanan wisata keluarga kalian di bawah tanah harus berakhir di sini. Tidak akan ada lagi yang kembali ke Bogor... atau ke mana pun kalian menyebut tempat asal kalian."
Tania melangkah maju, menyejajarkan posisinya di samping Xander. Kerambit di tangannya telah kembali berkilat mengancam. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang jauh lebih mengerikan dari seringai pria bertato itu.
"Tato yang bagus, Kaelen," balas Tania dengan nada meremehkan. "Tapi di kampungku, pria yang banyak omong sambil telanjang dada biasanya cuma preman pasar yang minta jatah parkir. Mari kita lihat apakah tubuhmu cukup kebal untuk menahan tebasan logamku."
Xander melirik istrinya, lalu tersenyum tipis. "Serang bersama-sama. Dirga, lindungi Dea sampai pintu itu terbuka."
Kaelen tertawa keras, tawanya menggema memenuhi katedral besi. Sang Eksekutor melesat maju menembus kepulan asap, membawa badai kematian obsidian tepat ke arah keluarga yang tak pernah mengenal kata mundur. Pertempuran sesungguhnya di kedalaman neraka es Olympus baru saja meledak.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor