"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 4] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Langkah kaki Anisa terasa berat ketika seorang pelayan paruh baya bergaun hitam rapi membimbingnya menuju kamar di lantai dua.
Mantel milik Oscar masih tersampir di bahunya. Aroma perpaduan kayu cendana dan mint yang dingin terpancar kuat dari kain tebal tersebut, seolah-olah memberikan perlindungan hangat dari dinginnya mansion yang penuh rahasia ini.
"Ini kamar Nona untuk sementara waktu," ujar pelayan itu dengan sopan namun tanpa senyum. "Tuan Oscar sudah memerintahkan agar seluruh kebutuhan Nona dipenuhi. Jika Nona membutuhkan sesuatu, tekan tombol pemanggil di samping tempat tidur."
"Terima kasih, Bu," sahut Anisa lembut.
"Panggil saya Bibi Martha." Pelayan itu membungkuk kecil sebelum berbalik meninggalkan Anisa seorang diri.
Pintu tertutup rapat. Anisa menyandarkan punggungnya pada pintu kayu tebal tersebut, membiarkan napasnya terlepas perlahan.
Kamar itu sangat luas. Sebuah ranjang berukuran besar dengan kelambu abu-abu gelap mendominasi tengah ruangan. Di sampingnya terdapat jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan hutan pinus di bawah guyuran hujan yang belum sepenuhnya redah.
Anisa berjalan mendekati tempat tidur, melipat mantel Oscar dengan rapi, lalu meletakkannya di atas kursi kayu.
Ia memegang dadanya sendiri. Jantungnya masih berdegup kencang mengingat tatapan tajam pria itu.
'Oscario Carlous...'
Pria itu terang-terangan mengatakan membenci pernikahan ini dan menyebutnya sebagai putri haram. Namun di saat yang sama, ia menutupi tubuh Anisa dengan mantelnya sendiri agar tidak kedinginan.
"Pria yang aneh" bisik Anisa pada dirinya sendiri.
***
Sementara itu, di ruang kerja utama...
Oscar berdiri di dekat jendela kaca besar, memegang cangkir kopi hitam yang masih menggepulkan uap. Pria berjas kelabu yang tadi dipanggil 'Ez'—Ezekiel, tangan kanan sekaligus sahabat Oscar—masuk tanpa mengetuk pintu.
"Jadi... gadis bercadar itu bukan Ananira?" Ezekiel menyilangkan tangan di dada sambil bersandar di kuis kayu.
"Si kakek tua Lezman itu berani bermain-main dengan mengirimkan cucu yang berbeda?"
Oscar menyesap kopinya pelan. "Azriel Lezman tidak bermain-main. Dia hanya memanfaatkan situasi instan untuk melindungi darah keturunan tersisa?"
"Lalu kenapa kau tidak menolaknya?" Ezekiel mengerutkan kening. "Kita mencari calon istri untuk memenuhi syarat batas waktu warisan dan formalitas aliansi. Ananira adalah putri sah yang memegang pengaruh besar. Sedangkan gadis bernama Anisa ini... dia tidak punya apa-apa"
Oscar berbalik, menatap Ezekiel dengan sorot mata yang tak terbaca.
"Justru karena dia tidak punya apa-apa" suara Oscar terdengar datar. "Dia tidak punya ambisi. Dia tidak peduli pada harta. Dan yang paling penting..."
Oscar teringat bagaimana gadis mungil itu menegakkan kepalanya dan menatap matanya tanpa rasa takut saat membela harga dirinya.
"... dia punya keberanian untuk menentangku"
Ezekiel terkekeh pelan. "Jangan bilang kau tertarik padanya, Bos?"
"Jangan konyol"potong Oscar dingin. "Siapkan dokumen pernikahan esok hari. Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun. Setelah itu, dia bebas pergi membawa persetujuannya"
"Bagaimana dengan keluarga Li?" Ezekiel mengingatkan. "Aku dengar Tuan Muda Li baru saja bertunangan dengan Ananira. Bukankah keluarga Li awalnya menginginkan Anisa?"
Oscar membisu sejenak. Sorot matanya mendadak menggelap.
"Biarkan saja keluarga Li memainkan permainan mereka" jawab Oscar singkat. "Besok, pastikan perancang busana dan tim hukum datang tepat waktu"
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Anisa terbangun oleh ketukan pintu yang teratur. Ketika ia membuka pintu, beberapa wanita berpenampilan rapi membawa beberapa gantungan baju tertutup kain pelindung dan kotak-kotak perhiasan.
"Selamat pagi, Nona Anisa" sapa salah seorang wanita dengan ramah. "Tuan Oscar meminta kami menyiapkan pakaian pernikahan untuk Anda hari ini"
Anisa terpaku. "Hari ini?"
"Benar, Nona. Akad dan penandatanganan berkas pernikahan akan dilaksanakan siang ini di mansion"
Belum sempat Anisa mencerna situasi, ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal—Ananira.
[ Kak Anisa, selamat ya atas pernikahanmu dengan 'pria misterius' itu. Aku dan Kak Liu Li juga baru saja mengumumkan tanggal pernikahan kami ke media! Oh ya, Kakek bilang pernikahanmu dilakukan diam-diam tanpa pesta, kan? Kasihan sekali... tapi bukankah itu memang cocok untuk statusmu? ]
Anisa menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mematikannya tanpa membalas satu kata pun.
Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan hatinya yang sempat bergetar.
(Satu tahun) bisik nya Anisa dalam hati (Hanya satu tahun, Anisa. Setelah ini kau akan benar-benar bebas)
Ia berbalik menatap para perancang busana yang sudah bersiap. "Tolong bantu saya bersiap."
Tanpa Anisa ketahui, di luar mansion, sebuah mobil mewah berwarna perak milik An Liu Li sedang melaju pelan melewati gerbang kawasan kediaman Carlous—membawa rasa penasaran dan ketidakrelaannya yang belum usai.
hingga ketika mansion bernuansa gelap itu mendadak begitu hening.
Tidak ada dekorasi bunga-bunga mahal yang mencolok, tidak ada karpet merah yang membentang panjang, dan tidak ada riuh suara awak media. Hanya ada karpet marmer hitam yang bersih, serta beberapa rangkaian bunga putih sederhana yang tertata rapi di sudut aula utama.
Anisa akhirnya berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin putih polos yang longgar dan anggun, dipadukan dengan hijab dan cadar warna senada. Tidak ada kilauan berlian berlebih di tubuhnya.
Bibi Martha berdiri di sampingnya, membantu merapikan kain hijab Anisa.
"Nona... apakah Nona tidak kecewa?" tanya Bibi Martha pelan, menatap wajah Anisa dari pantulan cermin.
"Pernikahan ini sangat sederhana. Tuan Oscar bilang dia hanya pengusaha properti biasa yang kebetulan cukup sukses untuk punya mansion ini. Beliau tidak membuat pesta besar"
Anisa tersenyum kecil di balik cadarnya.
"Kenapa harus kecewa, Bi?" suara Anisa terdengar lembut dan tulus. "Dalam Islam, yang terpenting adalah kesahihan akad dan keberkahannya, bukan seberapa mewah perayaannya. Justru seperti ini terasa lebih tenang untuk saya."
Bibi Martha terdiam sejenak. Ada rasa kagum yang makin tumbuh di matanya terhadap wanita muda ini.
***
kala itu di ruang tengah mansion, suasana terasa begitu hikmat.
Seorang penghulu yang telah diatur kehadirannya duduk di depan meja kayu sederhana. Di sisi kanan dan kiri, berdiri sekitar empat bawahan terpercaya Oscar—termasuk Ezekiel—yang kini mengenakan kemeja rapi dan bersikap sangat sopan, jauh dari kesan intimidatif semalam.
Oscar duduk di berhadapan dengan penghulu. Pria itu mengenakan setelan jas hitam sederhana tanpa aksesori berlebihan. Meski penampilannya dibuat sesederhana mungkin untuk menutupi skala kekayaannya yang sebenarnya, aura tegas dan wibawa alaminya tetap tak bisa disembunyikan.
Ketika Anisa melangkah masuk ke ruangan dipandu oleh Bibi Martha, pandangan Oscar seketika terkunci padanya.
Untuk pertama kalinya, Oscar menatap wanita yang akan menjadi istrinya tanpa tatapan dingin. Ada sesuatu yang bergetar pelan di dadanya saat melihat ketenangan dan keikhlasan di mata Anisa.
Anisa duduk di tempat yang telah disediakan, menundukkan pandangannya.
"Baiklah, karena semua syarat dan saksi sudah terpenuhi, bisa kita mulai?" tanya Pak Penghulu dengan ramah.
Oscar mengangguk mantap. Ia mengulurkan tangannya, menjabat tangan sang penghulu.
Prosesi ijab kabul berlangsung dengan sangat lancar. Suara bariton Oscar terdengar tegas, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun saat mengucapkan kalimat sakral tersebut dalam satu tarikan napas.
"Sah?"
"Sah!" sahut Ezekiel dan para saksi lainnya serempak.
Doa-doa kebaikan dilantunkan di ruangan yang sunyi itu. Suasana terasa begitu sakral dan menyentuh hati.
Setelah penandatanganan berkas nikah selesai, Oscar memutar tubuhnya menghadap Anisa. Sesuai tradisi, Anisa perlahan meraih tangan Oscar lalu mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.
Sentuhan lembut jemari Anisa membuat Oscar sempat membeku sejenak. Pria itu kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kepala Anisa yang tertutup hijab dan cadarnya, membisikkan doa kebaikan untuk istri barunya—sebuah tindakan refleks yang bahkan mengejutkan Ezekiel di belakangnya.
Di hadapan para pelayan dan bawahan yang menyaksikan dalam diam, sebuah ikatan suci telah terjalin.
Pernikahan ini memang tidak diumumkan kepada dunia, dan Anisa masih mengira ia hanya menikah dengan seorang pengusaha properti biasa. Namun di ruangan dingin itu, sebuah awal baru yang hangat perlahan-lahan mulai tercipta.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...