Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Penerbangan Kelas Bisnis Menuju Mimpi
"Tega banget, sih, Mah! Sella ini anak kandung Mama yang sah secara hukum negara dan agama lho, bukan anak pungut yang ditemukan di pinggir Jalan Tol Jagorawi!" protes Sella sambil menyeka keringatnya menggunakan ujung hoodie cokelatnya yang malang.
"Lagian yang punya niat awal ke Paris itu kan Sella. Sella mau kuliah desain mode di sana! Mama sama Papa kan cuma tim hore yang tugasnya mengantar doang."
Aulia memperbaiki letak kacamata hitam mahalnya, lalu menatap Sella dengan senyum kemenangan yang menyebalkan.
"Mengantar? Enak saja. Kita sekalian mau honeymoon kedua dong, Sayang. Masa cuma jadi bodyguard kamu doang? Sayang tiket kelas bisnisnya kalau cuma buat mengantar anak gadis yang hobinya bangun siang. Kapan lagi Mama bisa healing romantis ke Paris sama Papa kamu yang gagah ini?"
Sella mendengus kencang, matanya berputar malas ke atas. "Mama enak banget, ya, di sana cuma mau liburan, belanja, dan senang-senang. Lah, Sella? Sella harus pusing mikirin tugas kuliah, bikin pola baju, dan mikirin karier desain!"
"Pusing apaan, sih, Sell?" Aulia melambaikan tangan dengan gerakan meremehkan. "Kamu itu tinggal duduk manis, kuliah yang benar. Apartemen mewah di Paris sudah Papa sediain di area paling strategis dekat Menara Eiffel. Biaya kuliah sampai lulus sudah aman di rekening. Kamu tinggal bawa otak saja ke sana—itu pun kalau otaknya nggak ketinggalan di bantal kamar kamu tadi pagi. Gitu aja repot!"
"Ihhh, Mama mah selalu menjatuhkan mental Sella!" Sella nyaris berteriak kesal karena selalu kalah telak berdebat dengan ibunya. Tangannya mengepal gemas di udara.
"Sudah. Cukup."
Satu kata itu meluncur dengan nada rendah namun sangat tajam, sanggup memutus perdebatan sengit antara ibu dan anak itu dalam sekejap mata. Kaizen, sang ayah yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil melipat tangan di depan dada bidangnya, akhirnya membuka suara. Aura mantan komandan militer berpangkat tinggi langsung terpancar kuat dari tatapan matanya yang tajam.
"Jangan banyak berdebat di tempat umum. Papa capek, mau istirahat di pesawat nanti. Jangan berisik atau kalian berdua Papa tinggal di ruang tunggu ini sekarang juga," ucap Kaizen tegas, dingin, dan tanpa ada celah untuk dibantah.
Sella langsung bungkam seribu bahasa, menutup mulutnya rapat-rapat. Ia melirik Mamanya yang juga mendadak sibuk merapikan isi tas mewahnya. Sella menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lunglai. Menghadapi Papa kalau sudah masuk ke dalam mode "Komandan Barak" begini, Sella tahu lebih baik diam daripada dihukum push-up seratus kali di tengah ruang tunggu bandara internasional.
Getaran halus mesin pesawat mulai merambat ke telapak kaki Sella saat burung besi raksasa berlogo maskapai internasional itu bergerak perlahan menyusuri landasan pacu. Sella menyandarkan tubuhnya dalam-dalam ke kursi kelas bisnis yang super empuk dan luas, mencoba mencari posisi ternyaman bagi punggungnya yang masih pegal akibat aksi akrobatik di atas motor sport merah milik Reno tadi.
Klik.
Ia mengunci sabuk pengaman, lalu memasang earphone putihnya. Alunan musik pop bertempo ceria mulai memenuhi rongga telinganya, menenggelamkan suara bising mesin turbin pesawat yang mulai menderu kencang bersiap lepas landas.
"Duh, akhirnya... Paris, I’m coming! Selamat tinggal drama preman angkot!" gumam Sella pelan dengan mata berbinar-binar menatap ke luar jendela kecil di sampingnya.
Wushhh!
Tubuh Sella sedikit terdorong ke belakang saat pesawat Boeing raksasa itu lepas landas dengan kecepatan penuh. Ia menahan napas sejenak, merasakan sensasi menggelitik yang aneh di perutnya ketika roda pesawat meninggalkan aspal landasan dan mulai membelah gumpalan awan sore. Di bawah sana, kerlip lampu kota Jakarta perlahan mengecil seperti mainan lego, digantikan oleh hamparan awan putih yang terkena semburat sinar matahari terbenam.
Di kursi sebelah, Aulia sedang sibuk mengoleskan hand cream beraroma mawar Prancis. Sang mama sesekali melirik Sella yang tampak asyik sendiri menikmati musik, lalu berkata setengah berbisik, "Bukannya mau merusak suasana puitis kamu, Sella. Mama cuma mengingatkan realita hidup. Paris itu kota mode dan kerja keras, bukan tempat simulasi mati suri. Kalau kamu tetap tidak konsisten dan susah bangun subuh begini, Mama berani taruhan baru seminggu kuliah kamu sudah menangis minta pulang karena kangen masakan Bi Aeni."
Sementara itu, beberapa baris di depan mereka, Kaizen sudah menutup matanya dengan penutup mata hitam. Bahkan dalam keadaan tidur pun, aura militer Papa tidak pernah luntur sedikit pun.
Sella memilih tidak membalas khotbah Mamanya. Ia kembali menaikkan volume musik hingga maksimal dan melemparkan pandangannya ke luar jendela. Jemari lentik Sella bergerak-gerak abstrak di udara, seolah-olah ia sedang menggambar pola gaun malam yang megah di atas hamparan awan kapas tersebut.
****
Empat belas jam penerbangan internasional. Durasi itu mungkin terasa membosankan bagi sebagian orang. Namun bagi seorang Thania Arshila Sella Saputra, setiap detik di atas pesawat adalah langkah nyata yang membawanya terbang semakin dekat dengan mimpinya: menjadi desainer mode kelas dunia nomor satu. Gadis itu melamun, membayangkan dirinya berjalan dengan anggun di atas runway berlampu sorot, melambaikan tangan kepada para jurnalis mode, dengan latar belakang Menara Eiffel yang gemerlap.
Sella sama sekali tidak tahu bahwa di ujung perjalanan ini, bukan hanya gulungan kain mahal dan benang sutra yang sedang menantinya di Paris. Melainkan sebuah skandal lengket yang siap menjungkirbalikkan hidupnya.
Saat kelopak matanya terbuka setelah sempat tertidur beberapa jam akibat jet lag, pemandangan di balik jendela kaca tebal itu telah berubah total. Hamparan jutaan titik lampu kota yang berkelap-kelip dengan sangat indah menyambutnya. Paris dari ketinggian terlihat seperti taburan berlian berharga yang sengaja dihamparkan di atas kain beludru hitam yang pekat.
Pesawat perlahan menurunkan ketinggian, bersiap mendarat di Bandara Charles de Gaulle. Sella tersenyum lebar.
"Hah... akhirnya sampai juga di tanah leluhur para desainer!"