NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Jiang Chen mengusap dadanya yang terkena lemparan botol sabun sambil cemberut kesal.

Dia merasa sangat jengkel karena dituduh menyusup di apartemen yang jelas-jelas diberikan istrinya sendiri.

"Hei, kenapa kau malah marah-marah? Ini adalah apartemenku, aku masuk pakai kata sandi resmi!" bantah Jiang Chen tidak mau mengalah.

"Lagipula tubuhmu itu terlalu kurus, kau pasti kurang makan protein sapi, sama sekali tidak ada yang menarik untuk dilihat."

Jiang Chen sengaja melontarkan komentar analisis medis asal-asalan itu hanya untuk membuktikan dia tidak tertarik secara seksual padanya.

Namun dia sangat bodoh karena tidak paham bahwa bagi seorang wanita, komentar soal bentuk tubuh adalah penghinaan yang jauh lebih menyakitkan daripada ancaman perampokan.

Wajah gadis itu yang tadinya ketakutan dan menangis kini berubah menjadi topeng kemarahan yang luar biasa mengerikan.

Dia langsung meraih gagang shower besi yang sedang mengalirkan air dan mengarahkannya lurus ke wajah Jiang Chen bak sebuah senapan.

Syuuuur.

Air hangat menyemprot dengan tekanan sangat deras tepat ke wajah dan dada Jiang Chen hingga kemejanya basah kuyup seketika.

"Keluar dari sini, dasar buaya darat bermulut busuk!" teriak gadis itu sambil terus menyemprotkan air ke arah pemuda itu.

Jiang Chen terbatuk-batuk kaget karena hidung dan mulutnya kemasukan air sabun yang mengalir dari rambut gadis itu.

"Oke, oke aku keluar sekarang! Jangan siram aku lagi, Nona!" rutuk Jiang Chen sambil berjalan mundur sambil menutupi wajahnya dengan tangan.

Dia meraba-raba kenop pintu kayu di belakangnya dan langsung menariknya tertutup dengan cepat.

Blam.

Pintu kamar mandi akhirnya tertutup rapat, memisahkan dua manusia yang sama-sama emosi tinggi tersebut.

Jiang Chen bersandar di daun pintu sambil mengusap wajahnya yang basah menggunakan kedua telapak tangannya.

Air menetes deras dari ujung rambutnya, membasahi karpet mahal di lantai lorong apartemen itu.

"Sialan, baru lima menit pindah ke rumah mewah sudah disiram air seperti anjing jalanan," gerutu Jiang Chen sambil memeras ujung kemejanya.

"Siapa sebenarnya gadis barbar yang berani mengklaim apartemen ini miliknya?"

Dia berjalan menuju ruang tamu dan mengambil ponsel murahnya dari atas meja kaca.

Jiang Chen mencari kontak asisten Su Yuhan yang meneleponnya tadi pagi, lalu segera menekan tombol panggil.

Tuuut. Tuuut.

Panggilan itu tersambung setelah nada dering ketiga terdengar.

"Halo, Tuan Jiang Chen. Apakah ada yang bisa saya bantu dengan kepindahan Anda?" sapa suara sangat datar asisten wanita itu dari seberang telepon.

"Hei Asisten Lin, apa kau salah memberiku kata sandi atau sengaja mengirimku ke unit gedung yang lain?" tanya Jiang Chen ketus.

"Tentu saja tidak Tuan Jiang, Anda berada tepat di Unit delapan nol empat Apartemen Mutiara Jinghai, properti eksklusif milik Nona Su."

"Kalau ini propertinya, lalu kenapa ada gadis gila liar yang sedang mandi santai di dalam kamar mandiku?!" bentak Jiang Chen tidak bisa menahan amarahnya lagi.

Terdengar suara hening yang cukup lama dan canggung dari ujung telepon tersebut.

Jiang Chen bisa mendengar suara lembaran kertas yang sedang dibolak-balik dengan sangat tergesa-gesa di sana.

"Ah, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian teknis ini, Tuan Jiang," ucap asisten Lin dengan nada yang akhirnya terdengar sedikit panik.

"Saya baru saja mengecek kembali catatan agen properti kami dari bulan lalu."

"Apartemen unit tersebut rupanya sudah terlanjur disewakan secara tahunan kepada seorang mahasiswi bernama Chu Mengqi."

Mendengar penjelasan konyol itu, Jiang Chen langsung memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut sangat nyeri.

"Lalu kenapa kau baru mengecek catatannya sekarang setelah aku mendobrak pintu kamar mandinya, hah?!" omel Jiang Chen kesal.

"Nona Su memerintahkan saya untuk memindahkan Anda dengan sangat mendadak tadi pagi, jadi saya langsung memberikan aset perusahaan terdekat yang kunci sandinya tersedia."

"Nona Su saat ini sedang memimpin rapat darurat pemegang saham untuk melawan manuver keluarga Lin, beliau sama sekali tidak bisa diganggu."

Jiang Chen memutar bola matanya mendengar alasan klasik yang selalu dipakai oleh para konglomerat sibuk.

"Jadi sekarang aku harus bagaimana menghadapi situasi ini? Tidur di atas karpet basah sementara gadis barbar itu menelepon polisi untuk menangkapku?"

"Tolong bicarakan baik-baik dengannya untuk meredakan situasi, Tuan Jiang."

"Apartemen tersebut sangat luas dan memiliki dua kamar tidur utama yang terpisah."

"Untuk sementara waktu, Anda terpaksa harus berbagi tempat tinggal dengannya sampai kami berhasil mencarikan unit baru minggu depan."

"Semua biaya sewa apartemennya akan dikembalikan penuh kepadanya sebagai kompensasi permintaan maaf dari Grup Su."

Jiang Chen mendecakkan lidahnya kesal menyadari posisinya sangat tidak menguntungkan.

"Kalian orang kaya memang selalu seenaknya sendiri mengatur nasib orang miskin," gerutu Jiang Chen sebal.

Tut. Panggilan telepon langsung dia matikan secara sepihak dengan kasar.

Tepat pada detik itu, suara kenop pintu kamar mandi yang diputar perlahan terdengar dari ujung lorong.

Cklek.

Pintu terbuka pelan, dan gadis bernama Chu Mengqi itu melangkah keluar ke area ruang tamu.

Dia kini sudah memakai piyama tidur berlengan panjang berwarna merah muda yang ukurannya sengaja sangat kebesaran untuk menyembunyikan lekuk tubuh.

Rambut panjangnya dibungkus ke atas dengan handuk kecil, dan tangan kanannya menggenggam erat sebuah pengering rambut layaknya sedang memegang pistol setrum.

Matanya yang masih kemerahan menatap lurus ke arah Jiang Chen dengan tatapan penuh kewaspadaan dan kebencian.

"Sudah selesai menelepon komplotan penjahatmu, Tuan penyusup?" sindir Mengqi dengan nada yang tajam seperti silet.

Jiang Chen menghela napas panjang dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja kaca.

Dia menatap Chu Mengqi dengan ekspresi wajah yang sangat lelah dan luar biasa malas untuk berdebat lagi.

"Dengar Nona Chu Mengqi, mari kita duduk dan meluruskan kesalahpahaman konyol ini sebelum kita saling membunuh."

Mengqi langsung tersentak kaget dan memeluk pengering rambutnya lebih erat mendengar pemuda asing itu mengetahui nama lengkapnya.

"Dari mana kau tahu namaku? Siapa kau sebenarnya dan apa maumu dari mahasiswi miskin sepertiku?!" tanyanya sambil mundur selangkah mendekati arah pintu keluar.

1
watno antonio
lanjut thorrrrr ceritanya rame.
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!