NovelToon NovelToon
Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Gelombang Terakhir

Berita tentang pengungkapan nama-nama di jaringan lama menyebar seperti api yang menjalar cepat. Reaksi yang muncul tidak hanya berupa dukungan — ketegangan juga meningkat tajam. Setiap pagi, Gu Shiyu menemukan pesan-pesan ancaman terselip di bawah pintu, di saku tasnya, bahkan di berkas-berkas kerjanya. Isinya selalu sama: Berhenti, atau kalian akan menyesal.

Suatu sore, saat mereka hendak pulang, Rian berlari mendekat dengan napas memburu. “Mobil… ada yang merusak ban mobil kalian!”

Lin Muchen segera menarik Gu Shiyu ke belakang dirinya. Di tempat parkir, keempat ban kendaraan mereka sudah kempes, dan di kaca depan tertulis goresan tajam: Jangan ikut campur urusan yang bukan milikmu.

Orang-orang yang melihat hanya diam, menunduk, takut ikut terlibat. Gu Shiyu menatap goresan itu, tangannya mengepal erat. “Mereka ingin kita takut,” ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Mereka ingin kita lari.”

“Dan mereka tahu itu tidak akan terjadi,” jawab Lin Muchen tenang namun matanya tajam memindai sekeliling. “Mereka mulai panik. Itu tandanya kita semakin dekat ke tujuan.”

Namun tekanan semakin berat. Beberapa saksi yang baru saja maju mulai menarik keterangannya — ada yang menerima ancaman terhadap keluarga, ada yang ditawari uang dalam jumlah besar untuk pergi. Bu Lina datang dengan wajah cemas, mengaku ada orang asing yang menunggu di depan rumahnya.

“Aku tidak peduli dengan diriku sendiri,” ucapnya pelan, “tapi anakku… aku tidak bisa membiarkan dia terluka.”

Gu Shiyu menggenggam tangan wanita itu erat. “Kami paham ketakutanmu. Tapi kami tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluargamu. Ada pengamanan, ada tempat aman. Selama kita bersama, mereka tidak bisa menyakiti kalian.”

Pertemuan mendesak diadakan malam itu juga. Komandan Haris hadir, bersama Pak Surya, Bu Lina, Rian, dan beberapa saksi lain. Ruangan itu dipenuhi wajah-wajah yang cemas, namun juga teguh.

“Mereka tidak akan berhenti sebelum semua bukti ini dihancurkan,” kata Komandan Haris lantang. “Rencana mereka jelas — memecah belah kalian, menakut-nakuti, membuat kalian menyerah sebelum sidang berikutnya dimulai.”

“Lalu apa yang bisa kita lakukan?” tanya seseorang.

Lin Muchen berdiri. “Kita tidak menunggu mereka datang. Kita yang maju duluan. Besok pagi, kita ajukan semua bukti sekaligus ke pengadilan — termasuk nama-nama baru dan keterangan saksi-saksi ini. Semakin cepat bukti tercatat secara resmi, semakin sulit bagi mereka untuk menghapusnya.”

“Terlalu berisiko,” tegur Komandan Haris. “Mereka pasti akan mencoba menghalangi di jalan.”

“Kami tahu risikonya,” jawab Gu Shiyu, ikut berdiri di samping Lin Muchen. “Tapi menunggu lebih berbahaya. Setiap jam yang berlalu memberi mereka waktu untuk menyusun rencana baru.”

Keputusan diambil. Pagi berikutnya, sebelum fajar menyingsing, rombongan berangkat — tiga kendaraan, rute berbeda, tujuannya sama: gedung pengadilan. Lin Muchen menyetir mobil yang membawa Gu Shiyu, Pak Surya, dan berkas-berkas utama. Di jalan yang sepi, ia terus memantau spion, memastikan tidak ada yang mengikuti.

“Dua mobil lain dialihkan,” lapornya pelan. “Tapi ada satu kendaraan hitam yang mengikuti dari kejauhan sejak tadi.”

Gu Shiyu menoleh ke belakang. Mobil itu tampak biasa saja, namun tetap berada di jarak yang sama, tak tertinggal, tak mendekat. “Mereka tahu jalannya,” ucapnya.

“Ya,” Lin Muchen mempercepat laju. “Mereka menunggu tempat yang sepi.”

Dan tepat di depan jembatan kecil yang melintasi sungai, jalan itu terhalang oleh dua kendaraan yang berhenti melintang. Pintu terbuka, beberapa orang turun berdiri di tengah jalan. Wajah mereka tertutup bayangan, tangan mereka menggenggam benda-benda yang tak terlihat jelas.

“Tetap di dalam,” perintah Lin Muchen pelan, mengerem pelan hingga mobil berhenti.

“Muchen…” panggil Gu Shiyu cemas.

“Tetap di sini,” ulangnya lembut namun tegas. Ia membuka pintu, turun menghadang mereka sendirian.

Pria yang tampak sebagai pemimpin melangkah maju, tersenyum sinis. “Serahkan berkasnya. Dan kalian bisa pergi tanpa luka.”

“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Lin Muchen tenang, berdiri tegak di depan mobil.

“Tidak penting siapa. Yang penting — berikan kertas itu, atau semua orang di dalam mobil ikut menanggung risiko.”

Lin Muchen menatap mereka satu per satu. Ada keraguan di wajah beberapa orang — mereka bukan penjahat kejam, hanya orang yang disuruh, mungkin diancam sendiri. “Kalian tahu apa isi berkas ini?” suaranya terdengar lantang namun tenang. “Di dalamnya bukan soal keuntungan satu orang. Ini soal keadilan untuk puluhan keluarga yang dirugikan. Jika kalian menghalangi ini, kalian ikut menindas mereka juga.”

“Kami tidak peduli!” bentak pemimpin itu, memberi isyarat maju.

Namun sebelum mereka sempat melangkah, terdengar suara sirine dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat. Cahaya lampu biru berkedip di kejauhan. Wajah orang-orang itu berubah pucat — mereka tidak menyangka ada pengawalan polisi yang menyusul diam-diam.

“Pergi!” teriak salah satu, dan mereka segera naik ke kendaraan, berbalik arah melarikan diri.

Lin Muchen tidak mengejar. Ia menoleh ke arah mobil, tersenyum lega saat melihat Gu Shiyu turun berlari mendekatinya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas, memeriksa wajahnya.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya, memeluknya erat. “Kau… kau berani sekali.”

“Kau ada di dalam mobil itu,” ucapnya lembut. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”

Tidak lama kemudian, kendaraan kepolisian tiba. Komandan Haris turun, wajahnya tegas namun lega. “Kalian aman. Kami sudah mengawasi gerak-gerik mereka sejak kemarin. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian lagi.”

Sesampainya di pengadilan, berkas-berkas itu diserahkan secara resmi. Ruangan itu hening saat daftar nama-nama baru dibacakan — puluhan orang yang selama ini bersembunyi di balik kekuasaan, kini terungkap satu per satu. Beberapa orang yang hadir terkejut, beberapa menunduk, tidak ada yang berani menyangga.

Sore itu, saat mereka keluar dari gedung pengadilan, langit tampak lebih cerah dari biasanya. Orang-orang yang mendukung mereka sudah menunggu di depan — warga desa, mantan karyawan, keluarga yang namanya dipulihkan. Tepuk tangan terdengar hangat, bukan riuh, melainkan penuh rasa syukur.

Gu Shiyu berhenti sejenak, menatap wajah-wajah itu. Ia melihat harapan yang nyata, bukan lagi sekadar janji kosong. Ia melihat keberanian yang tumbuh dari ketakutan yang lama. Ia melihat bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

“Kita belum menyelesaikan semuanya,” ucapnya pelan kepada Lin Muchen saat berjalan berdampingan. “Masih ada persidangan, masih ada proses panjang.”

“Ya,” jawabnya lembut. “Tapi jalannya sudah terbuka. Dan kita tidak berjalan sendirian lagi.”

Di kejauhan, matahari mulai turun, menyinari kota yang perlahan bangkit dari masa lalunya. Badai terakhir telah berlalu, dan meskipun jejaknya masih terlihat, tanah di bawah kaki mereka kini terasa kokoh, siap menumbuhkan hal-hal baru yang indah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!