Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Sajadah Terakhir dan Bayang-Bayang yang Belum Usai
Malam yang melelahkan itu perlahan meluruh, menyisakan sisa-sisa embun dingin yang menempel di kaca jendela kamar utama mansion Ardiansyah. Suasana rumah megah di kawasan Menteng itu kini terbebas dari aura mencekam yang selama bertahun-tahun dihembuskan oleh kehadiran Eleanor. Namun bagi Anindya Naya, keheningan yang datang setelah badai penangkapan itu justru menghadirkan ruang kosong yang teramat luas—ruang yang kini dipenuhi oleh keheningan nuraninya sendiri.
Di dalam kamar berukuran luas dengan interior bernuansa krem dan kayu hangat tersebut, Naya duduk bersimpuh di atas sajadah beludru berwarna hijau zamrud. Jam dinding besar berdetik pelan, menunjukkan pukul empat pagi. Bayang-bayang fajar belum sepenuhnya menyapu kegelapan langit Jakarta, tetapi Naya telah menyelesaikan rakaat-rakaat shalat malamnya.
Ia menundukkan kepala sangat dalam. Jemarinya yang halus mengusap permadani lembut di bawahnya, sementara tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa bersuara. Bahunya berguncang hebat. Lelehan air mata menetes hangat, membasahi kain sajadah tepat di tempat keningnya baru saja bersujud.
Jeritan histeris Eleanor beberapa jam lalu di aula utama masih terngiang-ngiang bagai gema yang menolak padam.
"Kamu pikir kamu menang, Naya?! Kamu memulai pernikahan ini dengan kebohongan! Kamu pura-pura jadi wanita solehah! Kamu membohongi Gavin! Pernikahan kalian kotor!"
Setiap kata itu menusuk jantung Naya seperti sembilu yang diiriskan tanpa ampun. Eleanor memang seorang penjahat yang kini telah diborgol, tetapi kalimat yang diucapkannya mengenai kebohongan Naya adalah kebenaran telanjang yang tidak bisa disangkal oleh Naya di hadapan Sang Pencipta.
Naya mengingat kembali hari pertama ia melangkah ke kehidupan Gavin. Rasa takut akan kemiskinan, ketakutan akan kejaran orang-orang jahat yang memburu ayahnya, serta trauma mendalam atas kematian ibunya yang mengenaskan tanpa biaya pengobatan, telah mendesak Naya ke dalam sudut paling gelap dalam hidupnya. Kala itu, Naya tidak punya pilihan. Ia menciptakan identitas baru, memakai hijab bukan karena kesadaran iman yang murni, melainkan sebagai perisai pelindung dari kejamnya dunia luar. Ia berbohong tentang siapa dirinya, berbohong tentang latar belakangnya, dan berpura-pura menjadi sosok wanita muslimah yang anggun demi meraih simpati dan kedudukan di sisi Gavin Ardiansyah.
Namun, di atas سجادة (sajadah) yang menjadi saksi bisu ini, takdir justru membalikkan segalanya. Kebohongan yang semula ia rancang sebagai alat bertahan hidup, perlahan-lahan bertransformasi menjadi jerat penyesalan yang membakar jiwanya. Sebab dalam proses membohongi Gavin, Naya justru menemukan ketulusan tanpa batas dari pria itu. Pria yang rela mempelajari agama dengan lebih dalam, pria yang selalu memandangnya dengan binar pemujaan yang suci, dan pria yang menuntunnya kembali pada Tuhan dengan penuh ketelatenan.
Naya berjuang setengah mati untuk menyintai apa yang dicintai Gavin—termasuk keimanan, ketakwaan, dan ketundukan kepada Allah SWT yang tadinya hanya ia jadikan topeng. Rasa bersalah itu kini menjadi belati yang menusuk dadanya setiap kali Gavin mencium keningnya dengan penuh rasa hormat.
"Ya Allah..." bisik Naya di antara sedu-kayannya, suaranya parau tercekik oleh air mata. "Hamba memulainya dengan kepalsuan... Hamba membohongi hamba-Mu yang sangat tulus ini... Jika pernikahan ini kotor karena niat awal hamba yang terdistorsi oleh ketakutan, ampunilah hamba... Jangan hukum Gavin atas dosa-dosa dan kebohongan yang hamba buat..."
Pintu kamar berdecit pelan. Langkah kaki yang teratur melangkah mendekat di atas karpet tebal.
Gavin, yang baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan baju koko putih bersih, berdiri diam beberapa meter di belakang istrinya. Pria itu menatap punggung Naya yang berguncang. Hatinya tersayat melihat betapa wanita yang amat ia cintai itu masih terus menyiksa dirinya sendiri dengan beban masa lalu.
Gavin melangkah pelan, lalu berlutut di samping sajadah Naya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia mengulurkan tangannya yang hangat dan mengusap punggung Naya yang gemetar.
Naya mendongak dengan wajah yang sudah basah kuyup oleh air mata. Matanya sembap dan memerah, memancarkan rasa bersalah yang amat dalam. "Gavin..." suaranya bergetar. "Aku... aku tidak pantas berdiri di sampingmu. Eleanor benar... Aku adalah pembohong. Aku mendatangi kehidupanmu dengan kepalsuan. Aku menggunakan agama ini... menggunakan pakaian ini... hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku membuat pernikahan kita dimulai dari atas fondasi kebohongan yang sangat kotor..."
Gavin menatap Naya dengan pandangan mata yang melunakkan seluruh kekerasan dunia. Pria itu tidak menunjukkan rasa marah, tidak pula ada raut kekecewaan. Yang ada di dalam iris matanya hanyalah samudra kasih sayang dan pemujaan yang mendalam.
Gavin meraih kedua tangan Naya yang dingin, menggenggamnya erat di atas pangkuannya.
"Naya, dengarkan aku," ujar Gavin lembut namun penuh penekanan yang berwibawa. "Mungkin kamu memulai langkahmu dengan ketakutan dan kebohongan. Tapi bisakah kamu melihat bagaimana Allah menuntunmu setelah itu? Kamu berpura-pura mencintai apa yang aku cintai, hingga akhirnya rasa cinta itu meresap ke dalam hatimu menjadi kebenaran yang nyata. Aku tidak peduli bagaimana awal dari kisah kita, Naya. Yang aku saksikan setiap malam adalah seorang wanita yang menangis meratapi dosanya di atas sajadah ini. Yang aku lihat adalah istriku yang berjuang keras membela kebenaran di sampingku."
Gavin mendekatkan wajahnya, mengecup kening Naya lama sekali. Rasa hangat dari bibir suaminya meresap hingga ke dalam rongga dada Naya, menghadirkan kebasahan baru di matanya—kali ini bukan lagi air mata ketakutan, melainkan air mata keharuan.
"Kebohonganmu telah mati bersama terkuaknya kebenaran malam ini," bisik Gavin tepat di depan bibir Naya. "Yang tersisa di hadapanku sekarang hanyalah Anindya Naya, wanita solehah yang jiwanya telah disucikan oleh penyesalan dan air matanya sendiri. Jangan pernah katakan pernikahan kita kotor, karena di mataku dan di hadapan Allah, tidak ada janji suci yang lebih murni daripada cinta yang tumbuh dari proses saling memperbaiki diri."
Naya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Gavin. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang beraroma kayu cendana dan kasturi. Tangannya mencengkeram erat bagian belakang baju koko Gavin, seolah takut jika pria itu hanyalah ilusi yang bisa menghilang diterpa angin pagi. Gavin membalas dekapan itu dengan protektif, mengusap lembut kepala istrinya yang masih tertutup kain mukena halus.
Di luar, gema azan Subuh berkumandang merdu dari masjid tak jauh dari kediaman mereka, membelah keheningan Menteng dan menyambut terbitnya fajar yang baru.
Tiga hari berlalu semenjak malam penangkapan Eleanor Ardiansyah. Berita mengenai kejatuhan sang janda kaya dan terkuaknya skandal rekayasa keuangan sepuluh tahun lalu menjadi bahan perbincangan hangat di seluruh penjuru media nasional. Nama baik keluarga ayah Naya perlahan-lahan dipulihkan oleh keputusan pengadilan, sementara saham Ardiansyah Group kembali stabil di bawah kepemimpinan tunggal Gavin.
Siang itu, matahari merayap tinggi di atas kota Jakarta. Naya duduk di sebuah kafe privat di kawasan Senopati. Di hadapannya, secangkir teh chamomile hangat masih mengesulkan uap tipis. Namun, fokus Naya tidak berada pada minumannya. Matanya tertuju pada pria tua yang duduk di seberang meja—ayahnya, Pak Burhan.
Kondisi kesehatan Pak Burhan telah jauh membaik setelah mendapatkan perawatan medis yang layak atas bantuan Gavin. Pria tua itu kini mengenakan kemeja bersih, meski garis-garis keriput di wajahnya dan sisa-sisa penderitaan di matanya tak bisa dihapus begitu saja oleh waktu.
"Naya..." suara Pak Burhan terdengar gemetar saat memegang cangkir tegelnya. "Ayah benar-benar tidak menyangka... kamu harus melewati semua penderitaan ini sendirian selama sepuluh tahun."
Naya mengukir senyum tipis, jemarinya mengusap lembut jemari ayahnya yang sudah keriput dan penuh kapalan. "Semua sudah berlalu, Yah. Allah sudah membuka jalan kebenaran. Ayah tidak perlu merasa bersalah lagi. Kasus penggelapan itu sudah dibersihkan, dan nama Ayah sudah harum kembali."
Pak Burhan menunduk, air mata menetes di atas meja kayu. "Tapi harga yang harus kamu bayar terlalu mahal, Nak. Kamu harus menyembunyikan identitasmu, hidup dalam ketakutan, bahkan... berpura-pura menjadi orang lain saat menikah dengan Gavin. Ayah merasa menjadi seorang ayah yang sangat gagal."
"Jangan berkata seperti itu, Yah," sela Naya cepat, matanya ikut berkaca-kaca. "Kalau bukan karena cobaan ini, Naya tidak akan pernah belajar arti keimanan yang sesungguhnya. Naya tidak akan pernah bertemu dengan Gavin—pria yang mencintai Naya tanpa syarat, bahkan saat dia tahu seluruh keburukan dan kebohongan masa lalu Naya."
Pak Burhan mengangguk perlahan, menyapu air matanya dengan sapu tangan lusuh. "Gavin pria yang sangat baik, Naya. Sangat luar biasa. Dia mengingatkan Ayah pada sosok almarhum ibumu... yang selalu memaafkan ketidakmampuan Ayah."
Penyebutan nama sang ibu membuat dada Naya kembali berdesir nyeri. Kenangan masa kecil saat ibunya terbaring lemah di atas kasur tipis tanpa obat-obatan, sementara Eleanor hidup dalam kemewahan hasil memeras ayahnya, kembali terbayang. Namun kali ini, rasa benci itu tidak lagi membakar dada Naya. Penyesalan dan doa kini mengisi relung hatinya yang paling dalam.
Ketika suasana haru di antara ayah dan anak itu mulai mencair, tiba-tiba seorang pria berjas rapi—salah satu asisten pribadi Gavin—melangkah mendekati meja mereka dengan raut wajah yang sangat panik.
"Permisi, Ibu Naya," bisik asisten itu dengan suara bergetar, mencoba menjaga kerahasiaan di tengah kafe yang sepi.
Naya menoleh, alisnya bertaut melihat kepanikan di wajah pria kepercayaan suaminya itu. "Ada apa, Pak Danu? Apakah ada masalah di kantor?"
Pak Danu menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik ke sekeliling sebelum menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi tanpa nama pengirim.
"Ini baru saja dikirimkan ke kantor pusat Ardiansyah Group, ditujukan khusus untuk Anda, Ibu Naya. Bapak Gavin sedang rapat direksi dan belum mengetahui hal ini. Tapi... staf keamanan yang memeriksa isinya menyarankan agar Anda segera melihatnya sendiri."
Naya menerima amplop cokelat itu dengan perasaan yang mendadak tidak enak. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Naya membuka segel amplop tersebut dan mengeluarkan tumpukan foto berkertas glosir serta sebuah kilas data (flashdisk) berwarna hitam.
Naya membalikkan foto pertama.
Seketika itu juga, pasokan udara di dalam paru-paru Naya seolah tersedot habis. Wajahnya yang semula memancarkan rona kebahagiaan mendadak pucat pasi bagaikan mayat. Matanya terbelalak menatap gambar yang tertera di hadapannya.
Di dalam foto tersebut, terlihat Gavin sedang berdiri di sebuah lorong rumah sakit luar negeri bernuansa mewah. Dan di samping Gavin, tampak seorang wanita muda berparas jelita dengan pakaian elegan, merangkul lengan Gavin dengan sangat mesra. Di foto berikutnya, Gavin terlihat duduk di tepi ranjang rumah sakit, menggenggam erat tangan wanita itu yang terbaring lemah, dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan yang teramat sangat—tatapan yang sama persis seperti saat Gavin memandangnya.
Foto-foto itu memuat stempel tanggal yang sangat jelas: Dua minggu sebelum Gavin menikahi Naya.
Tangan Naya bergetar hebat hingga tumpukan foto itu terlepas dari genggamannya dan berserakan di atas meja.
"Ini... ini apa?" bisik Naya dengan suara yang hampir tak terdengar, tenggorokannya terasa sangat kering dan terbakar.
Pak Danu menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata sang nyonya besar. "Kami... kami belum bisa mengonfirmasi siapa wanita di dalam foto itu, Bu Naya. Tapi di balik amplop itu, ada sebuah surat singkat..."
Naya dengan tangan gemetar meraih lembaran kertas putih yang tersisa di dalam amplop. Ia membaca tulisan tangan bergaris tegas dengan tinta hitam yang terukir di sana:
"Jangan pernah berpikir kamu adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh Gavin Ardiansyah, Anindya Naya. Pernikahanmu yang kamu anggap suci itu didirikan di atas penyesalan Gavin karena telah mencintai wanita lain yang harus ia korbankan demi nama baik keluarganya. Kamu hanyalah bayang-bayang pengganti. Buka isi flashdisk itu jika kamu ingin mendengar bagaimana pria pemuja hatimu itu berjanji akan menyerahkan jiwa dan raga untuk wanita yang sebenarnya ia cintai."
Bagaikan dihantam gada besi bertubi-tubi, dada Naya terasa remuk seketika. Air mata yang baru saja mengering kini kembali menetes, membasahi lembaran kertas penuh racun tersebut.
Dunia Naya yang baru saja ditata kembali di atas puing-puing kebenaran, kini runtuh berkeping-keping untuk kedua kalinya. Rasa manis setelah patah hati dan trauma masa lalu yang baru saja ia rasakan bersama Gavin mendadak berubah menjadi rasa pahit yang tiada tara.
Apakah pernikahan ini dari awal memang merupakan sebuah panggung sandiwara dari kedua belah pihak? Apakah Gavin juga menyimpan rahasia kelam dan cinta terlarang yang selama ini ia tutupi di balik sikap manis dan kesolehannya?
Pak Burhan yang melihat perubahan drastis pada putrinya segera meraih tangan Naya. "Naya! Ada apa, Nak?! Siapa wanita itu?!"
Naya tidak mampu menjawab. Suaranya tertahan di tenggorokan. Ia menatap flashdisk hitam di atas meja dengan tatapan kosong yang dipenuhi oleh luka baru yang teramat dalam—sebuah luka yang mengancam akan menghancurkan kepercayaan yang baru saja ia bangun dengan air mata dan doa di bawah sujudnya.
#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘