Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 21 - Catatan yang Disembunyikan
Lorong terdalam Perpustakaan Agung Kerajaan Bintang belum pernah diinjak siapa pun selama ribuan tahun. Debu bercahaya mengambang pelan di udara, menutupi rak-rak yang menjulang hingga lenyap dalam kegelapan di atas. Di tengah ruangan, satu meja batu berdiri sendirian — di atasnya, sebuah buku tertutup kain beludru berwarna hitam pekat, seakan dijaga oleh bayangan sendiri.
"Ini dia," bisik Naga Langit Tertinggi, suaranya bergema lembut di dinding-dinding batu. "Catatan yang dilarang dibuka sejak masa leluhur. Aku sendiri tak pernah berani menyentuhnya."
Kai melangkah mendekat, tangannya gemetar sedikit saat meraih kain penutup itu. Ia menariknya perlahan — buku itu berwarna perak pudar, di sampulnya terukir satu simbol: naga bersayap dua, satu sayap cahaya, satu sayap bayangan, melingkar membentuk lingkaran tanpa ujung.
Aurelia menatap simbol itu lekat-lekat. "Itu… seperti aku merasakannya. Seperti bagian dari diriku."
Kai membuka halaman pertama. Tulisan tangan kuno namun terbaca jelas, seakan baru ditulis kemarin:
"Ketika cahaya dan bayangan terpisah, kekuasaan terpecah. Yang mengatur dari balik tirai hidup di perpecahan itu. Mereka tak terlihat, tak terjamah, memberi harapan lalu mengambilnya kembali — agar tak ada yang cukup kuat untuk menentang."
Jantung Kai berdebar kencang. Ia terus membaca:
"Dua bersaudara lahir — satu membawa terang, satu membawa gelap. Mereka dipisahkan sejak muda, ditanamkan rasa cemburu dan perbedaan. Bukan karena mereka berbeda — tapi karena mereka terlalu sama. Jika bersatu, mereka akan mengakhiri kekuasaan para Pengatur."
Ren mengepal tangannya. "Jadi Kaelan benar… mereka sengaja memisahkan kalian."
"Belum selesai," suara Kai berat, matanya tak lepas dari baris berikutnya.
"Namun ada satu yang lebih kuat dari dua bersaudara itu. Anak yang lahir dari penyatuan yang tak mungkin — pembawa keseimbangan sejati. Ia akan dicari, dilindungi, atau dihancurkan sebelum kekuatannya tumbuh. Namanya tertulis di sini…"
Kai membalik halaman berikutnya — dan semua orang menahan napas.
Di sana, tertulis jelas — bukan ramalan samar, bukan kiasan. Terdapat nama yang membuat darah terasa berhenti mengalir:
AURELIA — Putri Penyatuan.
Lyra menutup mulutnya tak percaya. "Nama ini sudah tertulis… sejak ribuan tahun lalu?"
Aurelia melangkah mendekat, matanya lebar menatap tulisan itu. "Aku… aku sudah ditakdirkan sejak sebelum lahir?"
"Tidak hanya itu," kata Kai pelan, jarinya menyentuh baris terakhir. "Lihat catatan di bawahnya."
Tulisan itu lebih kecil, ditulis dengan tangan yang gemetar:
"Hati-hati. Di antara mereka yang dipercaya melindunginya — ada yang sudah lama melayani para Pengatur. Pengkhianat itu tidak datang dari luar… ia berjalan di sisi kalian sejak awal."
Suasana seketika hening. Dingin merayap di tulang punggung semua orang. Setiap orang menatap satu sama lain — teman yang dipercaya, yang berjuang bersama, yang berbagi luka dan harapan. Siapa?
Elara menggenggam gagang pedangnya erat. "Siapa yang menulis ini? Siapa yang tahu?"
Penulisnya menandai nama sendiri di bagian paling bawah — nama yang membuat Kai tersentak mundur selangkah:
Ditulis oleh — KAIRUS, Ayah Kai.
Ayahnya… yang diyakini telah meninggal saat ia masih bayi. Ia yang menulis peringatan ini ribuan tahun lalu?
"Tapi… bagaimana mungkin?" gumam Kai. "Ayahku pergi saat aku belum bisa berjalan."
"Kekuatan Kerajaan Bintang berbeda," suara Lirael pelan. "Waktu tidak berjalan sama di sini. Dia mungkin hidup lebih lama dari yang kau kira."
Tiba-tiba pintu perpustakaan tertutup sendiri. Cahaya obor meredup, menyisakan remang yang menakutkan. Dari kegelapan lorong masuk, terdengar langkah kaki — pelan, tenang, tak terburu-buru.
Sosok muncul di ambang pintu — seseorang yang mereka kenal, yang dipercaya, yang selalu ada di sisi mereka sejak awal.
"Ternyata kalian menemukannya," suaranya tenang, tanpa rasa bersalah. "Aku berharap tidak akan sampai sejauh ini."
Aurelia menatapnya, matanya membesar kesakitan. "Kau…?"
Sosok itu tersenyum tipis, senyum yang tak pernah mereka lihat sebelumnya — dingin, tanpa kasih sayang.
"Maafkan kebohongan ini, Aurelia. Tapi rencana para Pengatur sudah berjalan terlalu lama untuk dihentikan sekarang."
Kai melangkah ke depan, melindungi putrinya di belakangnya, meski tangannya gemetar. "Siapa kau sebenarnya?"
Sosok itu melangkah masuk, dan cahaya menyinari wajahnya sepenuhnya — mengungkapkan identitas yang tak seorang pun menyangka.
"Kau akan tahu semuanya… sebelum akhir tiba."
Dan di tangan sosok itu, muncul benda yang berkilauan gelap — kunci yang akan membuka gerbang tempat para Pengatur menunggu.
Siapa pengkhianat yang berjalan di sisi mereka sejak awal? Dan apa rencana sebenarnya para Pengatur?