Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: HUKUMAN DI KAMAR UTAMA
Bantingan pintu kayu kamar utama menggelegar hebat, memutus kesunyian lorong lantai dua mansion Baskara.
BRAK!
Suara kunci yang diputar dua kali dari luar disusul denting rantai halus terdengar jelas di telinga Clara. Gadis itu terdorong pelan ke depan, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak pinggiran kasur king-size. Napasnya memburu, matanya yang membelalak dipenuhi ketakutan menatap Arsen yang berdiri membelakangi pintu.
Pria itu perlahan melonggarkan dasinya, melemparnya sembarangan ke atas sofa kulit. Punggung lebar Arsen tampak naik turun menahan emosi yang masih bergolak liar di dadanya.
"Arsen... tolong," cicit Clara dengan suara yang hampir tenggelam dalam ketakutan. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Dion. Dia cuma—"
"Cuma mau membawamu pergi dari sisiku, kan?" potong Arsen cepat. Arsen berbalik, menatap Clara dengan sepasang mata pekat yang kini dipenuhi kegelapan yang amat mencekam. "Bebas dari utang 50 juta? Bebas dari rumah ini? Dari aku?"
Langkah Arsen mendekat, pelan namun penuh dominasi mutlak yang sanggup melumpuhkan persendian Clara.
"Kamu pikir aku tidak tahu jalan pikiran pria seperti Dion?" Arsen mencengkeram kedua bahu Clara, memaksanya menatap lurus ke dalam manik matanya. Cengkeramannya erat, memagari tubuh rapuh Clara agar tidak punya celah sedikit pun untuk mundur. "Dia melihatmu sebagai korban yang kasihan. Dia berpura-pura menjadi pahlawan. Dan kamu... kamu membiarkan pria itu menatapmu dan menyentuh milikku!"
"Dia tidak menyentuhku!" sangkal Clara, bulir air mata mulai menetes membasahi pipinya yang pucat. "Aku cuma anemia, Arsen! Dion cuma memberikan obat dan roti karena aku pusing di perpustakaan!"
"Lalu kenapa kamu tidak mencariku?!" teriak Arsen dengan nada penuh rasa frustrasi dan kecemburuan gila. "Aku penawarmu! Aku yang melunasi utang ibumu! Aku yang berhak atas seluruh hidupmu, Clara! Bukan pria lain!"
Arsen melepaskan cengkeramannya pada bahu Clara lalu melangkah ke arah meja kerja. Ia mengambil ponsel pribadi milik Clara, menyalakan layarnya sejenak, lalu menghantamkan benda elektronik itu ke lantai marmer tanpa ragu.
PRANG!
Ponsel itu hancur berkeping-keping.
"Mulai hari ini, kamu tidak boleh keluar dari kamar ini tanpa izin dariku," pangkas Arsen dengan suara dingin yang tak menerima bantahan. "Sekolahmu aku liburkan sementara. Pembelajaranmu akan dilakukan secara privat di ruangan ini."
Clara terpaku, tangannya meremas seprai ranjang saat menyadari rentetan hukuman gila itu. "Arsen, kamu tidak bisa mengurungku seperti ini! Ini sama saja penjara!"
"Memang!" bentak Arsen balik, menatap Clara dengan pendar obsesif yang tak lagi bisa disembunyikan. "Jika sangkar emas ini tidak sanggup menahanmu dari godaan luar, maka aku akan mengubahnya menjadi penjara nyata! Dua pengawal akan berdiri di depan pintu ini 24 jam. Kamu tidak akan melangkah ke luar, dan tak ada seorang pun yang boleh masuk—termasuk Ayah."
Arsen melangkah mendekat, berlutut di hadapan Clara yang sedang menangis sesenggukan di tepi tempat tidur. Jemari hangat Arsen terulur, menghapus air mata di pipi Clara dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah kontras yang mengerikan dengan kemarahannya beberapa detik lalu.
"Jangan menangis, Clara..." bisik Arsen serak, menyandarkan dahinya di lutut Clara yang gemetar. "Aku melakukan ini demi melindungimu. Ayah mulai mengincarmu, dan Dion mencoba merebutmu. Kamu cuma aman di sini... di dalam genggamanku."
Clara hanya bisa terdiam membisu dengan dada yang terasa sesak luar biasa. Kehangatan sentuhan Arsen kini terasa bagai rantai besi yang makin mencengkeram lehernya. Sangkar emas tempat ia berlindung dulu kini telah resmi menjelma menjadi penjara tak bertali yang membunuh kebebasannya perlahan-lahan.