NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40.3k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Tiga

Beberapa puluh menit berlalu, roda-roda mobil akhirnya bergulir perlahan memasuki halaman rumah luas milik orang tua Azka. Begitu getaran mesin menghilang dan hening menyergap, Reatha menghembuskan napas panjang, melepaskan seluruh rasa lelah yang menumpuk selama perjalanan.

“Akhirnya sampai juga,” gumam Reatha lega.

Belum sempat Reatha menyentuh gagang pintu, Azka sudah lebih dulu turun. Pria itu mengitari kap depan mobil dengan langkah lebar, lalu membukakan pintu untuk Reatha.

“Pelan-pelan,” ucap Azka singkat sambil mengulurkan tangannya.

Reatha mendongak, menatap uluran tangan itu ragu. “Aku bisa sendiri, kok.”

“Aku tahu.”

“Tapi?”

“Aku tetap mau membantu,” balas Azka mantap, tanpa niat menarik tangannya kembali.

Reatha menatap manik mata Azka selama beberapa detik. Ada kehangatan asing yang menjalar lembut di dadanya, membuat keraguan Reatha perlahan menguap. Namun, sebelum sepatah kata pun sempat lolos dari bibirnya, sebuah suara familiar bergema dari arah ruang keluarga.

“Azka?”

Mama yang sedang bersantai bersama Papa di sofa langsung berdiri tegak. “Azka?!”

Papa ikut menoleh, meletakkan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Keduanya menatap ke arah pintu dengan raut wajah serempak terkejut melihat anak dan menantu mereka sudah berdiri di ambang pintu.

“Kok sudah pulang?” tanya Mama heran sambil melangkah mendekat.

Azka yang baru saja mendorong pintu mobil hingga tertutup rapat membalas santai, “Kenapa, Ma? Memangnya nggak boleh pulang ke rumah sendiri?”

“Ya boleh, dong,” Mama menepuk lengan Azka pelan. “Tapi bukannya kalian baru saja berangkat? Ini baru dua hari, loh.”

Mama mengernyitkan dahi, menatap Azka dan Reatha bergantian. “Loh, kenapa liburannya cuma dua hari? Ada masalah?”

Azka menghela napas pendek, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kaki Raisa sakit, Ma. Kita jadi nggak bisa ke mana-mana.”

Mendengar kepolosan tuduhan itu—serta bagaimana Azka menyebut nama 'Raisa'—Reatha tidak bisa menahan diri. Sebuah tawa kecil lolos begitu saja dari bibirnya.

Mama langsung menoleh tajam ke arah menantunya. “Kok malah ketawa, Nak?”

Reatha buru-buru mengibaskan tangan, mencoba menetralkan suasana. “Tidak apa-apa, Ma. Lucu saja dengar alasannya.”

Mama melirik ke bawah, memperhatikan balutan perban tipis di kaki Reatha. Raut wajahnya seketika berubah penuh keprihatinan. “Ya ampun! Kenapa kakimu bisa sampai begini, Nak?”

Reatha menunjuk kakinya sendiri dengan wajah ringis canggung. “Waktu bermain pasir di pantai, kakiku ketusuk kulit kerang yang agak tajam, Ma.”

Mama menggeleng-gelengkan kepala penuh penyesalan, lalu mengalihkan pandangannya pada Azka dengan tatapan menyindir. “Makanya ... bulan madu itu mainnya di kamar saja, nggak usah aneh-aneh ke pantai segala!”

“Ma!” Azka langsung memprotes keras, wajahnya memerah seketika.

Mama justru menanggapi dengan sangat santai, menautkan kedua tangan di dada. “Kenapa? Mama salah bicara? Lagian kenapa juga mesti repot-repot ke pantai kalau akhirnya cuma bikin cedera?”

Di samping mereka, Reatha menunduk dalam-dalam, menggigit bibir bawahnya demi menahan tawa yang hampir meledak melihat ekspresi panik Azka.

Mama kembali menggeleng-gelengkan kepala dengan raut dramatis. “Duh, Mama jadi gagal mau cepat-cepat momong cucu kalau begini ceritanya.”

Azka memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. “Mama ngomong apa sih? Kok pembahasannya melebar ke mana-mana?”

Papa yang sejak tadi menyimak dari balik meja akhirnya ikut angkat suara. Suara beratnya memecah perdebatan ibu dan anak itu. “Papa sama Mama ini sudah tua, Ka.”

Mama mengangguk cepat mengiyakan. “Betul! Makanya kami pengen cepat-cepat menggendong cucu. Iyakan, Pa?”

Papa mengangguk mantap tanpa ragu. “Iya, betul sekali.”

Azka menatap kedua orang tuanya dengan tatapan pasrah yang luar biasa. Ia tahu betul, berdebat dengan gabungan chemistry orang tuanya adalah kekalahan mutlak.

Tak berhenti di situ, Papa mengangkat jari telunjuknya, menunjuk Azka dengan senyum penuh arti. “Kamu itu harus cepat bikin Raisa gendut. Masa kalah sama Papa?”

Reatha yang sedang menyimak spontan tersedak lidahnya sendiri.

Mata Azka membelalak sempurna. “Papa!”

Mama tertawa lepas melihat reaksi anak bujangnya. “Papa kamu dulu memang begitu! Mama baru tiga bulan menikah, langsung positif hamil kamu.”

Azka menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya. “Tiga bulan, Pa ... Aku ini baru menikah satu minggu!”

Papa tertawa sembari mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah. “Ya sudah, ya sudah, jangan marah gitu.”

“Aku mau istirahat di atas,” potong Azka cepat sebelum topik bahasan semakin melenceng jauh. Ia kemudian melirik Reatha di sampingnya. “Lagian Raisa juga kakinya masih sakit, butuh istirahat.”

Mama akhirnya luluh dan mengangguk paham. “Iya, kalian istirahatlah dulu. Kasihan Raisa.” Namun, raut wajah Mama perlahan berubah, dihiasi senyuman misterius. “Tapi ingat ya, sore nanti kita keluar.”

Dahi Azka kembali berkerut curiga. “Keluar ke mana lagi?”

“Papa dan Mama mau memberikan kado spesial buat kalian berdua,” jawab Mama riang.

“Kado apa lagi sih, Ma? Kan kemarin sudah?” tanya Azka penuh selidik.

Papa hanya tersenyum tipis, menyimpan rahasia rapat-rapat. “Lihat saja nanti sore. Sudah, sana naik ke kamar.”

Sesampainya di kamar, Azka tanpa basa-basi langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang empuk. Rasa lelah fisik dan mental seolah menguap begitu punggungnya menyentuh kasur.

“Aku benar-benar capek hari ini,” gumam Azka seraya memejamkan mata.

Reatha yang baru saja mendaratkan diri di tepi ranjang meliriknya pelan. “Kalau capek, tidurlah.”

“Kamu juga tidur,” balas Azka tanpa membuka mata.

“Iya.”

Reatha mengangguk. Namun, alih-alih berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, ia justru berdiri dan melangkah menghampiri almari untuk mengambil sebuah bantal tambahan dan selimut tebal.

Azka yang mendengar pergerakan itu mendadak membuka mata dan mengernyit bingung. “Kamu mau ke mana?”

“Tidur,” jawab Reatha polos.

“Di mana?”

Reatha menunjuk sofa panjang yang terletak di sudut kamar. “Di sana.”

Azka terdiam sejenak. Pandangannya berganti antara sofa dan wajah Reatha. “Kamu masih mau tidur di sofa?”

“Iya.”

"Terserahlah, aku mau lanjut tidur," balas Azka.

Hanya dalam hitungan menit, keheningan kamar menyapu bersih rasa canggung di antara mereka. Keduanya benar-benar terlelap dalam tidur nyenyak.

Sore harinya, sesuai janji yang dibuat Mama, mereka berempat pergi meninggalkan rumah menggunakan dua mobil terpisah. Perjalanan memakan waktu lumayan jauh, membelah kepadatan lalu lintas kota hingga akhirnya mobil Papa berbelok memasuki sebuah kawasan kompleks perumahan elit dengan penjagaan ketat.

Azka, yang mengemudikan mobil kedua di belakang mobil Papa, mulai memicingkan mata curiga. Ia memperhatikan deretan rumah megah berarsitektur modern di sepanjang jalan.

Mobil Papa akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gerbang rumah besar berdesain minimalis mewah. Azka ikut menghentikan mobilnya persis di belakangnya.

Begitu keluar dari mobil, Azka menengadah menatap megahnya bangunan di hadapannya. “Rumah siapa ini, Pa?”

Papa yang baru turun hanya tersenyum simpul. “Masuk saja dulu.”

Azka makin memicingkan mata. “Kenapa Papa main masuk rumah orang sembarangan? Nanti dikira maling.”

Mama turun dari pintu penumpang mobil depan, mengibaskan tangan santai. “Sudahlah, Azka. Ikuti saja Papa kamu.”

Azka menoleh pada Reatha di sampingnya, mencari jawaban. Namun Reatha hanya mengangkat kedua bahunya, sama bingungnya. “Ya sudah, kita ikut saja.”

Mereka melangkah melewati pintu utama yang tinggi. Dan begitu pintu kayu jati itu terdorong terbuka, Reatha langsung menghentikan langkahnya. Matanya membelalak kecil.

Rumah itu benar-benar luar biasa mewah. Ruang tamunya amat luas dengan plafon tinggi. Perabotannya tampak sangat mahal dan tertata rapi; ada sofa kulit berukuran besar, lampu gantung kristal yang elegan, konsep dapur bersih yang modern, hingga pintu kaca yang mengarah langsung ke taman asri berukuran sedang di belakang rumah.

Azka mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan dahi berkerut tajam. “Ini rumah siapa sebenarnya, Pa? Kok interiornya sudah lengkap begini?”

Papa dan Mama saling pandang sejenak. Sebuah senyum haru dan bahagia terukir di wajah kedua orang tua itu. Mereka melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Azka dan Reatha.

“Ini rumah kalian,” ucap Papa dengan suara berat namun hangat.

Azka membeku di tempatnya. Reatha di sebelahnya tak kalah terkejut, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

“Rumah ... kami?” bisik Reatha tidak percaya.

Mama mengangguk penuh semangat, matanya berkaca-kaca. “Ini kado pernikahan dari Papa dan Mama buat kalian berdua.”

Reatha mengedarkan pandangan sekali lagi, namun kali ini dengan mata yang mulai digenangi air mata haru. Ia tidak pernah membayangkan akan menerima kebaikan sebesar ini. “Semoga kamu suka ya, Raisa …,” tambah Mama lembut.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang sarat akan emosi. Azka yang akhirnya berhasil menguasai diri, menoleh mantap kepada kedua orang tuanya.

“Pa ... Ma ... terima kasih banyak,” ucap Azka.

Sedangkan Reatha, ia menarik napas panjang, ada keraguan mendalam di raut wajahnya. “Tapi ... aku tidak pantas menerima kado sebesar ini. Aku merasa belum ....”

"Kenapa tidak pantas, kamu itu istrinya Azka," ucap Mama.

Reatha menundukkan kepala, memandangi ujung sepatunya dengan perasaan campur aduk. “Tapi Ma ... aku ini hanya ....”

1
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
Sugiharti Rusli
dan sejatinya hati nurani si Azka masih jalan sih, dan cinta yang selama ini dia rasa buat Vania, bisa jadi bukan cinta sebenarnya yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi keberadaan Raisa/Reatha di sisi Azka selama beberapa bulan ini bisa mendekatkan mereka, meski tidak ada sentuhan fisik,,,
Sugiharti Rusli
terkadang manusia yah terlalu percaya pada dirinya sendiri sih, padahal yang menggenggam hati manusia tuh Sang Pencipta,,,
Ass Yfa
ada yak..adil buat istri dan pacar
...nikahin tuh si Vania lepasin Raisa /Reatha
Ass Yfa
kok aku pingin alurnya dicepetin..setahun kemudian🤭...ini bahkan belum sebulan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!