NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Tuduhan di Balik Pintu

Setelah kembali ke ruang kerjanya, Zinnia duduk cukup lama di depan komputernya tanpa menyentuh papan ketik.

Ponselnya tergeletak di samping tangan. Ia membuka tas, mengeluarkan dompet, lalu menyelipkan jari ke bagian tempat ia menyimpan cincin milik Arvid.

Benda itu masih ada di sana.

Dulu, cincin itu menjadi satu-satunya petunjuk yang dimilikinya untuk menemukan pria yang meninggalkannya di pantai. Ia mengira, setelah berhasil bertemu dengan pria itu, setidaknya ia akan mendapatkan penjelasan dan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Sekarang, setelah melihat Arvid secara langsung, ia justru takut mengambil langkah berikutnya. Zinnia mengeluarkan cincin tersebut dan menatapnya lama.

"Apa benar kamu ayah anakku?" Pertanyaan itu hanya menjadi suara dalam pikirannya.

Ia tidak membutuhkan pernikahan. Tidak membutuhkan kekayaan Arvid. Bahkan, ia tidak ingin pria itu menerimanya hanya karena merasa terpaksa.

Ia hanya ingin tahu kebenarannya.

Jika Arvid memang ayah anak ini, Zinnia ingin mengetahuinya. Ia ingin anaknya kelak tidak tumbuh dalam kebohongan tentang asal-usulnya. Namun, ia belum tahu apakah dirinya sanggup menghadapi keluarga pria itu, apalagi jika mereka memutuskan bahwa anaknya lebih pantas dibesarkan tanpa dirinya.

Zinnia menggenggam cincin itu erat-erat. Mungkin ia harus berhenti berusaha mendekati Arvid untuk sementara.

Bukan karena ia tidak berhak meminta pertanggungjawaban. Bukan pula karena ia merasa dirinya tidak pantas mendapatkan keadilan.

Ia hanya perlu memikirkan bagaimana melindungi anaknya sebelum membuka pintu menuju kehidupan Arvid.

Untuk sekarang, ia akan tetap bekerja. Ia akan menjaga kesehatannya, menabung, dan mempersiapkan diri menghadapi kelahiran anaknya. Ia tidak ingin menggantungkan masa depan mereka pada keputusan seorang pria yang bahkan belum tentu bersedia mengakui keberadaannya.

Namun, satu hal yang tidak akan pernah berubah.

Jika suatu hari ia mengetahui bahwa Arvid benar-benar ayah anaknya, Zinnia tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukannya seolah ia tidak memiliki hak untuk menjadi ibu.

Ia mungkin tidak sanggup menghadapi keluarga Danendra hari ini. Namun, ia tidak akan menyerahkan anaknya hanya karena mereka memiliki lebih banyak uang, kekuasaan, atau nama besar.

Zinnia memasukkan cincin itu kembali ke dalam dompet. Untuk pertama kalinya sejak datang ke kota demi mencari Arvid, ia memutuskan untuk tidak terburu-buru menemui pria itu.

Ia masih membutuhkan jawaban. Hanya saja, kali ini, ia harus memastikan bahwa pencarian tersebut tidak membuatnya kehilangan hal paling berharga yang sedang ia perjuangkan.

***

Lima menit sebelum jam kerja berakhir, Zinnia mulai merapikan meja kerjanya. Ia menyimpan sketsa ke dalam map, mematikan komputer, lalu memasukkan ponsel ke tas.

Hari ini cukup melelahkan. Ia hanya ingin pulang, beristirahat, dan melupakan sejenak semua pikiran yang sejak pagi mengganggunya.

Kring!

Suara interkom di meja kerjanya membuat Zinnia menghentikan gerakan.

Ia mengangkat gagang telepon.

“Zinnia, bisa dengar saya?” Suara seorang perempuan terdengar dari seberang. “Saya sekretaris Pak Arvid. Beliau minta kamu datang ke ruangannya sekarang.”

Jantung Zinnia seketika berdegup kencang.

Pak Arvid?

Jemarinya mencengkeram gagang telepon. Ia sempat ingin memastikan apakah ada keperluan pekerjaan yang belum selesai, tetapi suaranya tentu tidak akan keluar. Akhirnya, ia mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat. Ia mengaktifkan fitur pembaca teks.

"Apakah ada dokumen yang perlu saya bawa, Bu?"

“Nggak perlu. Langsung aja ke ruangan beliau.”

Sambungan terputus.

Zinnia masih memegang gagang telepon selama beberapa detik sebelum meletakkannya kembali.

Ia menatap map di atas meja, lalu melirik jam dinding. Tinggal lima menit sebelum jam kerja berakhir. Ia bahkan sudah bersiap pulang ketika panggilan itu datang.

Mengapa Arvid memanggilnya? Apakah pria itu mengenalinya? Apakah ia mengetahui sesuatu tentang malam di pantai? Atau panggilan itu hanya berkaitan dengan pekerjaannya?

Zinnia mencoba mencari alasan yang masuk akal, tetapi pikirannya justru kembali pada cincin yang tersimpan di dalam tas.

Tadi siang, ia sudah memutuskan untuk tidak terburu-buru menemui Arvid. Ia ingin mengumpulkan keberanian dan memikirkan cara melindungi anaknya sebelum mencari jawaban.

Namun, sekarang ia tidak perlu lagi mencari jalan untuk bertemu pria itu. Arvid sendiri yang memanggilnya.

Zinnia memasukkan map ke dalam tas, lalu berdiri. Kakinya terasa berat saat melangkah meninggalkan meja kerja.

Ia takut mendengar jawaban Arvid. Lebih dari itu, ia takut mengetahui bahwa dugaannya benar. Namun, ia tidak mungkin terus menghindar.

Beberapa menit kemudian, Zinnia berhenti di depan pintu ruangan CEO.

Tangannya sudah terangkat, tetapi belum sempat mengetuk ketika suara Arvid terdengar dari dalam.

“Jadi, perempuan itu salah satu klien kita?”

Zinnia spontan menurunkan tangannya.

“Benar, Bos,” jawab Juki. “Dari hasil pemeriksaan sementara, ada bukti yang mengarah padanya. Dia memang sudah lama tertarik sama Bos. Malam itu, beberapa orang juga lihat dia berusaha deketin Bos.”

Arvid mengumpat pelan. “Jadi, dia pikir dengan menjebakku kayak gitu, dia bisa dapat apa yang dia mau?”

“Entah apa yang ada di pikirannya, Bos. Tapi kalo bukan karena Lena menyadari kondisi Bos dan ngikutin Bos malam itu, akibatnya mungkin jauh lebih buruk.”

“Perempuan macam apa yang nekat berbuat kayak gitu?” Suara Arvid terdengar dingin. “Apa dia pikir aku bakal nikahin dia kalo malam itu dia berhasil tidur sama aku? Ngarep bisa masuk ke keluarga Danendra, menikmati hidup mewah, lalu menaikkan status sosialnya dengan cara jadi istriku? Mimpi.”

Zinnia membeku. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut suara itu terdengar sampai ke dalam ruangan.

Menikahi perempuan itu? Menikmati hidup mewah?

 

...🔸🔸🔸...

...“Seorang ibu tidak harus memiliki kekayaan atau kedudukan tinggi untuk memperjuangkan anaknya. Cinta, keberanian, dan kesediaan bertanggung jawab adalah kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan harta sebanyak apa pun.”...

...“Mencari kebenaran tidak selalu membawa ketenangan. Terkadang, kita justru harus melewati tuduhan, ketakutan, dan rasa sakit sebelum akhirnya menemukan jawaban yang layak kita ketahui.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
Sugiharti Rusli
meski sekarang dia belum menemukan orang yang dia cari setelah malam itu dan bagaimana nasibnya ke depan yah,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Zinnia harus segera memutuskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!