NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diantara Sajadah dan Sembilu

​Beribu penyesalan membuat dadanya sesak. Tangisnya pecah di balik bantal, menahan rasa malu dan sakit hati yang makin meluap. Kini Winta sadar sepenuhnya.

Rangga, lelaki yang selama ini bersikap begitu lembut dan penuh kasih, ternyata hanya mengincar tubuhnya. Tubuh seorang janda yang sudah enam tahun bertahan menahan diri.

​Tiap sebentar Winta mengecek WhatsApp, tetapi pesan untuk Rangga masih saja bercentang satu.

​Malam itu, di atas sajadah dalam sujud tahajudnya, tangis Winta pecah. Ia melangitkan tanya,

“Ya Allah, mengapa begitu mudah Engkau beri hamba kesempatan bertemu dengannya? Enam tahun hamba menahan kesepian dan dahaga batin ini, hamba sanggup… Lalu kenapa sekarang harus seperti ini, Ya Allah?”

​Winta tertidur di atas sajadah karena letih. Ia baru tersadar saat tepukan halus di bahunya membangunkannya.

​“Mama habis tahajud? Kok sampai ketiduran di lantai?”

tanya Dinda.

​“Iya… mungkin Mama ketiduran pas zikir tadi,” sahut Winta pelan.

​“Pindah ke kasur, Ma. Nanti Mama sakit.”

​“Iya, Nak.”

​Winta melepas mukenanya lalu berpindah ke tempat tidur, meski matanya tetap enggan terpejam.

​Usai salat Subuh, mengaji, dan berzikir, hatinya berangsur agak tenang. Ia keluar jalan pagi mengitari kompleks, masih melilitkan mukena di kepalanya.

Setengah jam kemudian, saat ia kembali ke rumah, sarapan sudah tersaji rapi di meja.

​Dada Winta kembali berdenyut perih. Begitu besarnya rasa sayang anak-anak kepadanya, tetapi ia malah mencari penyakit, bisa-bisanya tertipu oleh lelaki antah-berantah dari dunia maya.

​“Mama kenapa? Kok nggak semangat gitu? Tadi malam kemalaman ya salatnya? Habis mandi, Mama tidur aja lagi,”

panggil Dinda sambil memperhatikannya.

​“Iya, nanti Mama rebahan.”

​“Sebenarnya Mama lagi mikirin apa, sih?” tanya Dinda menelisik.

​“Nggak ada, Nak. Mama nggak mikir apa-apa.”

​“Hmm… Dinda pikir ada apa-apa, muka Mama agak pucat soalnya.”

​“Nggak kok. Mama aman-aman aja. Cuma kurang tidur aja tadi malam.”

​“Awas ya, Ma. Kami nggak mau Mama sakit. Kasihan Adik jauh di sana, kalau Mama sakit dia pasti kepikiran dan minta pulang.”

​“Iya, Mama tahu.”

​Seusai sarapan, Winta mandi lalu merebahkan diri di kamar. Suasana rumah mulai sepi. Dinda dan suaminya sudah berangkat kerja, sementara cucu-cucunya sudah pergi sekolah.

​Winta kembali membuka WhatsApp. Nama Rangga masih di sana, dan status pesannya tetap centang satu.

​Aku pasti bisa. Aku harus melupakannya, bisik Winta menguatkan diri.

​Ia meraih laptopnya, mulai merangkai kata demi kata untuk cerpen yang biasa ia unggah di Facebook. Menulis selalu menjadi tempatnya melarikan diri.

​Seminggu berlalu. Hati Winta mulai tertata dan aktivitas harian berjalan seperti biasa.

​Hari Sabtu yang dinanti pun tiba. Winta berkumpul bersama anak dan cucunya. Dua putri cantiknya yang sudah berkeluarga hadir memboyong lima cucunya yang menggemaskan. Demi meluangkan lebih banyak waktu untuk bercengkerama, mereka sengaja memesan nasi rames Padang.

​Namun, ketenangan Winta mendadak diuji saat ponselnya bergetar ringan. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk, dari Rangga

​Umi, apa kabar? Abi minta maaf baru bisa hubungi Umi… Abi kemarin sakit.

​Jantung Winta serasa berhenti berdetak. Ia langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas kasur.

​“Siapa, Ma?”

tanya Widi, anak pertamanya yang melihat perubahan raut wajahnya.

​“Cuma teman sekolah Mama.”

​“Masa? Kok muka Mama langsung kaget gitu?”

​“Nggak ah, perasaan kamu aja,”

kilah Winta mencoba tertawa.

​Setelah Widi beserta suami dan anak-anaknya pamit pulang, Winta masuk ke dalam kamar. Dinda dan keluarganya pun sudah beristirahat di kamar masing-masing.

​Dengan tangan sedikit gemetar, Winta kembali menyalakan ponselnya. Sebuah pesan baru sudah menyusul di layarnya dari Rangga.

​Umi, kenapa WhatsApp Abi cuma dibaca? Umi marah sama Abi?

​Jemari Winta makin gemetar. Ada rindu, benci, sayang, dan amarah yang meledak bersamaan di dadanya.

​Klak.

​Pintu kamar mendadak terbuka. Winta tersentak kaget.

​“Ma, jangan kemalaman main HP-nya ya. Tahajudnya juga jangan lama-lama dulu, nanti Mama sakit lagi,”

tutur Dinda dari ambang pintu.

​Winta buru-buru menyembunyikan ponselnya.

“Iya, sebentar lagi Mama tidur kok.”

​Dinda mengangguk pelan lalu kembali menutup pintu, meninggalkan Winta dalam kesunyian malam yang kembali mencabik hatinya.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!