NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku, Cleaning Service

Suami Kontrakku, Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"

"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.

Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paksa Nikah

***

"Alana, Mama enggak mau tahu. Sebelum umurmu genap tiga puluh, kamu harus sudah menikah!"

Dwi meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan keramik dengan denting yang cukup keras, memotong ketenangan pagi di meja makan. Tatapannya lurus dan dingin, mengunci Alana yang baru saja hendak menyuap sarapannya.

"Kalau kamu masih menunda-nunda, minggu depan posisi direktur di perusahaan kosmetik itu bakal Mama alihkan ke Gisel. Sepupumu itu jauh lebih siap. Kerjanya bagus, hidupnya mapan, dan yang paling penting, dia sudah berkeluarga. Kamu mau bisnis yang kita bangun dari nol lepas begitu saja cuma gara-gara kamu terlalu egois?"

Alana menghela napas panjang, menaruh sendoknya kembali ke piring.

"Ma, bisnis itu jalan pesat di tangan Alana. Apa hubungannya performa kerja sama status pernikahan?"

"Hubungannya besar!" nada suara Dwi meninggi, menepuk pelan permukaan meja.

"Mama malu, Alana! Teman-teman relasi bisnis kita terus-terusan nanya kenapa putri tunggal keluarga ini belum juga nikah di usia hampir kepala tiga. Kamu itu jadi bahan omongan di belakang Mama!"

"Alana kan udah bilang, Alana punya pacar," potong Alana berusaha tenang, meski dadanya mulai bergemuruh.

"Tapi kita berdua memang belum mikir ke arah sana. Alana masih mau fokus karier dan menikmati masa muda Alana dulu, Ma."

"Masa muda apa lagi? Usiamu itu sudah bukan waktunya main-main!" Dwi memotong cepat, sama sekali tidak memberi ruang.

"Lagipula Mama enggak peduli sama pacarmu itu. Laki-laki yang bakal jadi suamimu adalah laki-laki pilihan Mama. Titik. Mama yang akan atur pertemuannya, kamu tinggal tunggu kabar dan datang."

Alana langsung berdiri dari kursinya, menatap ibunya tak percaya.

"Enggak bisa gitu dong, Ma! Ini hidup Alana, masa depan Alana! Alana enggak mau dijodohkan dan Alana tetap menolak!"

Dwi ikut berdiri, menatap Alana tanpa keraguan sedikit pun. Matanya menunjukkan dominasi mutlak yang tak tergoyahkan.

"Kamu boleh menolak sebanyak yang kamu mau, Alana. Tapi ingat, di rumah ini dan di perusahaan itu, keputusan Mama yang berlaku. Putuskan pacarmu, atau Mama pastikan kamu keluar dari perusahaan tanpa membawa sepeser pun."

"Alana udah dewasa, Ma!" Alana meremas jemarinya yang gemetar, menahan emosi yang makin membuncah.

"Alana berhak mengambil keputusan untuk hidup Alana sendiri. Soal pasangan, Alana tahu mana laki-laki yang cocok dan pantas untuk jadi suami Alana!"

Dwi hanya terkeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Sok tahu soal laki-laki yang cocok? Dengar ya, Alana, Mama sama sekali enggak yakin sama pilihanmu. Selama ini Mama perhatikan, kamu enggak pernah dekat sama pengusaha mana pun."

Dwi maju satu langkah, menatap Alana penuh selidik.

"Karena memang pacar Alana bukan pengusaha, Ma."

"Lalu siapa dia? Dokter? Tentara? Hakim? Atau jangan-jangan cuma sopir? Tukang bengkel? Atau malah OB kantor?"

"Memangnya penting ya siapa dia, Ma?" potong Alana cepat, suaranya mulai bergetar.

"Apa standar suami yang layak buat Alana itu harus selalu pengusaha atau orang kaya?"

"Tentu saja penting!" nada suara Dwi meninggi, matanya membelalak tak percaya pada jalan pikiran putrinya.

"Jangan naif kamu, Alana! Materi itu perlu untuk membiayai semua kebutuhan hidup! Selama ini kamu kerja banting tulang buat apa? Buat dapat uang, kan?"

Dwi mengibaskan tangannya di udara dengan gesture merendahkan.

"Kamu sekolah jauh-jauh, kuliah ke luar negeri, dan sekarang pegang jabatan CEO ... masa mau nikah sama laki-laki biasa? Kamu mau taruh di mana nama besar keluarga Mahendra, hah? Mau dibikin malu seperti apa lagi keluarga ini?!"

"Keluarga Mahendra tidak dibesarkan dengan belas kasihan, Alana," lanjut Dwi dengan nada dingin yang menusuk.

"Setiap langkah, setiap relasi, dan setiap pernikahan di keluarga ini punya nilai strategis. Kamu pikir Mama dan Papamu bisa membangun perusahaan kosmetik besar ini cuma berbekal cinta dan kenyamanan?"

Alana memalingkan wajahnya, memejamkan mata rapat-rapat. Kalimat ibunya selalu saja berujung pada hitung-hitungan bisnis dan harga diri.

"Pacarmu itu," Dwi menunjuk Alana dengan telunjuknya, "kalau dia memang laki-laki yang bertanggung jawab dan punya harga diri, dia bakal sadar diri. Dia harusnya tahu levelnya ada di mana dan tidak menyeret putri tunggal Mahendra ke kehidupan biasanya yang serba pas-pasan."

"Dia laki-laki baik, Ma! Dia menghargai Alana bukan karena Alana seorang CEO atau putri dari keluarga Mahendra!" balas Alana dengan nada tinggi, mencoba membela pria yang dicintainya.

"Kenapa sih Mama selalu mengukur kebahagiaan cuma dari isi dompet dan gelar?"

"Karena kebahagiaan tanpa uang itu cuma omong kosong!" potong Dwi tanpa keraguan sedikit pun.

"Uang bisa membeli kenyamanan, keamanan, dan kehormatan. Kebahagiaan yang kamu agung-agungkan itu bakal menguap begitu tagihan dan masalah hidup datang kalau suamimu tidak punya modal!"

Dwi merapikan letak pakaiannya, kembali bersikap tenang namun penuh intimidasi.

"Mama tidak mau dengar alasan apa pun lagi. Nanti malam, Mama sudah atur makan malam di restoran hotel bintang lima. Laki-laki pilihan Mama bakal datang sama orang tuanya. Kamu berdandan yang cantik, pakai gaun yang pantas, dan bersikaplah seperti calon istri yang berpendidikan."

"Alana enggak akan datang," ucap Alana mantap, menatap lurus ke mata ibunya.

Dwi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Alana merinding.

"Coba saja kalau kamu berani tidak datang, Alana. Detik kamu melangkahkan kaki keluar dari rumah ini tanpa menuruti perintah Mama, surat penonaktifanmu sebagai CEO sudah ada di meja sekertaris perusahaan. Kita lihat, sejauh mana pacar biasamu itu bisa menopang gaya hidupmu tanpa nama Mahendra di belakangmu."

***

Atmosfer tegang dan dingin langsung menusuk ke seluruh sudut gedung mewah itu begitu mobil Alphard hitam milik Alana berhenti tepat di depan pintu masuk. Semua karyawan yang tadinya asyik mengobrol di lobi langsung lari berhamburan kembali ke meja kerja masing-masing. Tidak ada yang berani berurusan dengan Alana jika sedang dalam mode serius.

Suara paduan heels tinggi Alana yang beradu tajam dengan lantai marmer bergema tangkas. Shiren, sekretaris pribadi sekaligus sahabatnya sejak masa sekolah, langsung sigap menghampiri dan menyamakan langkah kaki di samping Alana.

"Muka kamu tegang banget, Al. Baru nyampe kantor padahal," tegur Shiren pelan, melirik wajah sahabatnya yang tertekuk sempurna.

"Gara-gara Mama," sahut Alana singkat, matanya menatap lurus ke depan.

"Gak pernah suka kalau harus bertengkar dulu sama Mama sebelum berangkat ke kantor. Mood aku hancur seharian."

Alana menghela napas kasar lalu beralih ke hal profesional.

"Jadwal aku hari ini apa aja?"

Shiren langsung membuka tablet di tangannya dan membaca daftar panjang tanpa jeda.

"Jam sembilan evaluasi campaign produk baru sama tim marketing. Jam sepuluh lanjut meeting dengan vendor bahan baku dari Prancis via Zoom. Jam satu siang makan siang formal sama jajaran direksi Bank, lanjut jam tiga peninjauan sampel ke laboratorium utama, dan jam lima sore ketemu calon investor baru dari Singapura. Malamnya—"

"Stop, stop!" Alana mendengus frustrasi, memotong ucapan sekretarisnya.

"Kamu niat menyiksa aku atau gimana? Padat banget, gak ada jeda sama sekali!"

Shiren terkekeh pelan sembari menyuntikkan nada godaan.

"Sengaja. Biar kamu ketemu relasi bisnis terus seharian. Kali aja di antara jajaran investor atau direksi itu ada yang jomblo, terus langsung ngajak kamu buru-buru nikah."

Alana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift eksekutif, menatap Shiren dengan alis berkerut tajam.

"Siapa yang mau nikah?"

Pintu lift eksekutif terbuka, lalu tertutup rapat begitu mereka berdua melangkah masuk. Alana menyandarkan punggungnya ke dinding logam lift yang dingin, memejamkan mata sejenak sambil menghela napas berat.

"Mama udah nyariin calon suami buat aku," gumam Alana, memecah keheningan di dalam ruang tertutup itu.

Shiren membelalak kaget, tapi sedetik kemudian cengirannya muncul.

"Ya kalau ganteng, terima ajalah, Al! Pilihan Tante Dwi kan pasti tajir-tajir. Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui."

"Nggak suka dan nggak mau, Shiren," potong Alana cepat, menatap sahabatnya itu tajam.

"Mau ganteng, mau kaya raya tujuh turunan, aku tetap nggak suka dijodohkan. Aku bisa pilih calon suamiku sendiri!"

Shiren menaikkan satu alisnya, menatap Alana dari atas ke bawah.

"Ya masalahnya ... sampai sekarang mana ada laki-laki yang berani dekat sama kamu? Aura CEO dinginmu itu kental banget, Al. Orang baru ngeliat kamu dari jarak lima meter aja udah keder duluan."

"Aku bilang ke Mama kalau aku udah punya pacar," aku Alana lirih.

Sontak Shiren menahan napas, matanya membulat sempurna.

"Hah?! Siapa?!"

"Nggak tahu," sahut Alana asal sambil memutar bola matanya frustrasi.

"Tadi tuh aku asal ngomong aja biar Mama diam dan berhenti nakut-nakutin soal posisi direktur. Eh, bukannya diam, Mama malah ngerocos makin kemana-mana sampai ngancam bakal nyabut jabatan aku!"

Ting!

Suara denting lift menandakan mereka telah sampai di lantai area eksekutif. Pintu berdenting terbuka, dan Alana melangkah keluar lebih dulu dengan raut wajah yang masih diliputi kekesalan.

Bruk!

"Auw!"

Tanpa sempat dicegah, seorang pria berseragam Office Boy (OB) yang sedang terburu-buru membawa nampan berbelok dari arah lorong dan langsung menabrak tubuh Alana.

Cairan hitam pekat beraroma pekat menyiram bagian depan kemeja putih mahal yang dikenakan Alana. Kopi panas itu meresap cepat ke serat kain, meninggalkan noda cokelat gelap yang mencolok dan rasa hangat yang mengejutkan di kulitnya.

Shiren menjerit kecil di belakangnya, sementara OB itu panik setengah mati. Nampan kayu di tangannya bergetar hebat, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.

"Ma--maaf, Bu! Maaf banget! Saya benar-benar enggak sengaja!" seru pria itu panik, buru-buru merogoh saku celananya untuk mengambil tisu dan mencoba mengusap baju Alana tanpa berani menyentuhnya secara langsung.

1
dibyanto byl
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!