NovelToon NovelToon
Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:25.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.

Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.

Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.

Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Tahu Malu

Suara benda pecah terdengar nyaring dari dalam kamar Shania. Sebuah kotak rias mahal tergeletak di lantai bersama beberapa perlengkapan make-up yang berserakan, sementara gadis itu berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah.

Pintu kamar terbuka dan Nyonya Meylan segera masuk setelah mendengar keributan tersebut. Ia buru-buru menghampiri putrinya, lalu memegang kedua bahunya dengan penuh kekhawatiran.

“Shania, Sayang, kamu kenapa?” tanyanya cemas. “Siapa yang membuatmu marah sampai seperti ini?”

Shania langsung menoleh dengan mata berkaca-kaca karena kesal. “Ma, kenapa harus Kirana yang mendapatkan semua hadiah mewah itu? Kenapa bukan aku?”

Meylan menghela napas panjang. Ia sudah mendengar kejadian di ruang tamu dari salah seorang pelayan, termasuk bagaimana Shania mempermalukan dirinya sendiri karena mengira hadiah dari Kendra adalah kiriman Julian.

“Kalau kamu memang menginginkan semua hadiah itu, kenapa tidak sekalian menggantikan posisi Kirana?” ujar Meylan hati-hati. “Bukankah itu jauh lebih menguntungkan untukmu?”

“Apa?” Shania langsung membelalak. “Mama menyuruhku menikahi pria cacat itu?”

Meylan mengerutkan kening. “Shania, jaga ucapanmu. Kendra memang mengalami kecelakaan, tetapi dia tetap berasal dari keluarga Wu yang berpengaruh.”

“Aku tidak sudi menikah dengannya!” potong Shania dengan wajah jijik. “Aku sudah punya Julian, Ma. Aku tidak mungkin meninggalkan pria yang kucintai hanya untuk menikahi seseorang yang bahkan tidak kuinginkan.”

Meylan kembali menghela napas. “Lalu, sebenarnya kamu mau apa?”

Shania menggertakkan giginya. “Aku hanya tidak mau Kirana mendapatkan hal-hal bagus dalam hidupnya. Seharusnya semua hadiah itu menjadi milikku, bukan miliknya!”

Meylan terdiam.

Ia mulai merasa bingung menghadapi sikap putrinya sendiri. Shania menginginkan kemewahan yang dimiliki Kendra, tetapi menolak menikah dengannya, sementara Kirana yang bahkan baru kembali ke keluarga Lin justru menjadi pusat perhatian.

“Shania, Mama rasa kamu terlalu berlebihan,” ucap Meylan akhirnya.

Wajah Shania langsung berubah masam. “Jadi mama membela Kirana? Apa Mama sudah tidak sayang aku lagi?”

Meylan segera menggeleng. “Tentu saja Mama sayang kamu, Sayang. Jangan berpikir macam-macam.”

“Kalau Mama memang sayang aku, seharusnya Mama membantuku!” seru Shania. Ia kemudian mendekati ibunya dengan tatapan penuh tuntutan. “Aku tidak mau tahu, hadiah-hadiah itu harus menjadi milikku.”

Meylan terkejut mendengar nada bicara putrinya. “Tapi, Sayang, hadiah itu diberikan Kendra kepada Kirana. Mama tidak bisa begitu saja memaksanya menyerahkan barang-barang tersebut.”

“Kenapa tidak bisa?” Shania langsung menyela. “Mama hanya perlu membujuknya. Bilang saja kalau aku lebih pantas memilikinya, atau gunakan alasan apa pun supaya dia mau menyerahkannya kepadaku!”

“Shania, jangan seperti ini. Kirana juga anak Mama, biarkan dia menikmati sedikit kebahagiaan setelah sekian lama hidup jauh dari keluarga.”

Namun, ucapan Meylan justru membuat Shania semakin marah. Gadis itu menatap ibunya lekat-lekat sebelum mengucapkan kalimat yang membuat wajah Meylan seketika berubah.

“Tapi aku juga anak Mama!” bentaknya. “Mama tidak boleh pilih kasih hanya karena Kirana baru kembali!”

Meylan terdiam.

Shania kemudian mendekat dan merendahkan suaranya. “Apa Mama mau semua keluarga Lin tahu rahasia Mama?”

Wajah Meylan langsung memucat. Ia menatap putrinya dengan mata membesar, seolah tidak menyangka Shania akan menggunakan rahasia tersebut untuk menekannya.

“Shania, jangan bicara sembarangan,” ucap Meylan pelan.

“Aku tidak sedang bercanda, Ma.” Shania menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Mama tahu aku bisa saja menceritakan semuanya kepada Papa, Kak Sean, dan Kak Arthur, bukan?”

Meylan menelan ludah. Ia tahu putrinya tidak sedang menggertak, dan rahasia yang selama ini mereka simpan bisa membawa masalah besar apabila sampai diketahui keluarga Lin.

“Baiklah,” jawab Meylan akhirnya dengan suara berat. “Mama akan mencoba membujuk Kirana.”

Senyum puas langsung muncul di wajah Shania. “Bagus. Aku tahu Mama pasti lebih menyayangiku.”

Meylan hanya bisa mengangguk meskipun hatinya terasa tidak tenang. Ia tidak menyangka putri yang selama ini selalu ia bela kini justru berani mengancamnya sendiri.

Sementara itu, Shania berjalan menuju meja riasnya dan mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Tatapannya kembali dipenuhi rasa iri ketika teringat hadiah-hadiah mewah yang kini berada di kamar Kirana.

“Lihat saja, Kak Kirana,” gumamnya pelan. “Aku tidak akan membiarkanmu menikmati semuanya semudah itu.”

***

Malam itu, seluruh anggota keluarga Lin berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama. Suasana awalnya cukup tenang, hanya terdengar suara peralatan makan yang sesekali beradu dengan piring.

Kirana duduk di salah satu kursi dengan sikap tenang, menikmati makanannya tanpa banyak memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Sementara itu, Shania beberapa kali melirik ke arah ibunya, seolah sedang menunggu sesuatu yang telah mereka sepakati sebelumnya.

Setelah selesai makan, Nyonya Meylan meletakkan sumpitnya dan mengambil serbet untuk mengelap bibir. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Kirana yang masih duduk dengan tenang.

“Kirana, Mama perlu bicara sebentar denganmu.”

Kirana mengangkat wajahnya. Alisnya sedikit berkerut ketika melihat ekspresi Meylan yang tampak serius, seolah pembicaraan tersebut bukan sesuatu yang bisa ditunda.

Tuan Leo Lin yang duduk di ujung meja ikut mengangkat pandangan. Arthur dan Sean juga menghentikan aktivitas makan mereka, sementara Shania diam-diam tersenyum karena mengetahui apa yang akan dibicarakan ibunya.

“Ada apa, Ma?” tanya Arthur.

Meylan mengabaikan pertanyaan putranya dan kembali menatap Kirana. “Begini, mengenai hadiah-hadiah yang dikirim Tuan Kendra tadi pagi, Mama pikir lebih baik Mama saja yang menyimpannya.”

Kirana berhenti menggerakkan sumpitnya.

Meylan segera melanjutkan penjelasannya. “Mama bisa menjaga semua pemberian itu dengan baik. Kalau disimpan olehmu, Mama khawatir nanti barang-barang mahal tersebut malah rusak atau tidak terawat.”

Shania langsung mengambil kesempatan untuk ikut berbicara. “Benar, Kak. Kakak kan baru pulang dari desa, jadi mungkin belum terbiasa merawat barang-barang seperti itu.”

Ia memasang ekspresi penuh perhatian, seolah benar-benar mengkhawatirkan kakaknya. “Kalau sampai barang pemberian Tuan Kendra rusak, bagaimana? Keluarga Wu bisa tersinggung dan menganggap keluarga Lin tidak menghargai pemberian mereka.”

Kirana menatap Shania cukup lama.

Kemudian, ia meletakkan sumpitnya dan mengambil buku kecil yang selalu dibawanya. Dengan gerakan tenang, ia menulis beberapa kalimat sebelum mengangkat kertas tersebut ke arah Meylan.

“Mama yakin ingin menyimpannya? Aku pikir Mama ingin memberikannya kepada Shania.”

Wajah Meylan seketika berubah.

Ia tidak menyangka Kirana bisa menebak maksud sebenarnya dengan begitu mudah. Bahkan sebelum sempat menjawab, Shania sudah lebih dulu memasang wajah sedih.

“Kak , kenapa Kakak menuduh kami seperti itu?” ucapnya lirih. “Mama hanya ingin membantu, bukan mengambil barang-barang Kakak.”

Shania menundukkan kepalanya, seolah berusaha menahan kesedihan. “Aku juga tidak pernah meminta hadiah itu, Kak. Aku hanya khawatir Kakak belum terbiasa dengan barang mahal dan akhirnya merusaknya.”

Kirana hanya menatapnya datar.

Namun, sikap diamnya justru membuat Arthur semakin kesal. Pria itu tiba-tiba menggebrak meja hingga beberapa peralatan makan bergetar.

“Cukup, Kirana!”

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

Arthur menatap adiknya dengan wajah tidak senang. “Kau ini terlalu perhitungan dengan keluarga sendiri. Apa susahnya memberikan hadiah-hadiah itu kepada Shania?”

Kirana mengangkat alisnya.

Arthur melanjutkan dengan nada menghakimi, “Shania sudah lama tinggal di keluarga ini dan dia lebih memahami tata krama seorang nona muda. Jadi, menurutku dia memang lebih pantas menggunakan barang-barang tersebut.”

Sean yang duduk di samping Arthur langsung mengangguk setuju. “Kak Arthur benar. Sekalipun Shania ingin mengambilnya, kau tidak punya alasan untuk menolak.”

“Lagipula, harga barang-barang itu memang mahal, tetapi bukan berarti kau harus bersikap serakah,” tambah Sean. “Kau baru saja kembali ke keluarga Lin, seharusnya kau belajar berbagi dengan saudara sendiri.”

Kirana tediam. Ia memandang Arthur, kemudian Sean, sebelum mengalihkan tatapannya kepada Meylan dan Shania. Dalam hati, ia benar-benar merasa muak melihat bagaimana keluarga ini begitu mudah membela seseorang tanpa mau mengetahui siapa yang sebenarnya bersalah.

Mereka bahkan tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sejak awal, mereka hanya ingin mengambil sesuatu darinya, lalu membungkus keserakahan tersebut dengan alasan keluarga.

Kirana meletakkan buku kecilnya di atas meja.

Brak!

Suara gebrakan meja membuat seluruh orang terkejut. Kirana kemudian mengambil kertas yang telah ditulisnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang dapat membaca dengan jelas.

“Kalau kalian berdua sanggup membelinya, silakan beli sendiri. Tidak perlu memaksa, untuk apalagi mengemis barang milik orang lain.”

Wajah Arthur langsung menggelap.

“Apa katamu?!”

Sean bahkan sampai berdiri dari kursinya. “Kirana, jaga ucapanmu!”

Kirana sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya menatap keduanya dengan dingin, kemudian mengambil kembali buku kecilnya dan memasukkannya ke tempat penyimpanan yang tergantung di leher.

Meylan segera berdiri. “Kirana! Mama belum selesai bicara!”

Kirana tidak menoleh. Ia berjalan meninggalkan ruang makan dengan langkah mantap, seolah tidak ingin membuang satu detik pun untuk berdebat dengan orang-orang yang sejak awal tidak pernah berniat memperlakukannya secara adil.

1
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
aq suka aku Suak gaya lor deh Kirana
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
apa iya mama nya s diri yg membuatnya
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
MataPanda?_
semangat trus kak lanjut terus 💪😄😄
Patrish
waahh...sadis juga ya Kirana
Patrish
aku sudah menebak...jarum perak beraksi
Patrish
lhaaahhhh...dasar serigala busuk
Tiara Bella
aku suka cerita nya bangus bngt.....
Tiara Bella
wow thor 6 bab sehari ini aku pdmu pkknya..../Kiss//Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Maria Lina
mksihhh bnyķk"thor ud up double"🙏🙏🙏😘😘
syh 03
seperti biasa selalu bagus novel authornya
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Kak bantu Komen yang plagiat Guo Mei. Judul plagiat itu "Balas dendam sang Putri"
total 1 replies
Hary Nengsih
wah kirana 👍👍👍ternyata
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
wahhh, merindingnya nih pembalasan dari Kirana🤭, tapi tapi, kalian cocok banget, semoga nanti gak ada kata cerai di antara mereka /Determined/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Nah kan, fix ini, si Meylan bukan ibu kandungnya kan? eh atau... Meylan ini ibu kandungnya, namun sepertinya dia tidak menyukai keberadaan Kirana karena ia merasa akan menjadi penghalang bagi Shania🤔
mama_im
iblis wanita mulai beraksi 😈😈😈🤣🤣🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kendra dan Kirana cocok karna mereka sama" kuat dan tegas jngn lupa cerdas 😏☺️
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kok saya curiga kl yg ngasih racun itu Meylan ibu nya Kirana sendiri 😏😏
teh tubruk
nah kan bener ternyata sudah tidak bisa di pakai lagi,sudah impoten kau julian😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
si minyak goreng emang stres dia sendiri yg cari masalah tp malah nyalahin Kirana ampun dah 🤦😏😡
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
ahh bilang saja mau mangku kirana kan wekkk gitu aja repot Kendra
🤭🤭🤭🤭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
malukan kan kalian gara" si minyak goreng 😏😏 jd jngn trus nyalahin Kirana dan bilang pembawa sial karna faktanya si minyak goreng itu yg pembawa sial 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!