NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 2

BAB 2

Maya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara dingin bernada datar itu.

"Aku tidak mengagumi musuhku, Rendra. Aku mengagumi karyanya," balas Maya dingin, akhirnya berpaling dari panggung dan menatap tajam pria di sampingnya. "Sesuatu yang sulit kau pahami, mengingat karya-karyamu selalu terasa kaku seperti ornamen museum yang ditinggal juru kuncinya."

Rendra berdiri tegap membelakangi pendar lampu panggung, dengan kemeja tenun berlapis rompi kulit gelap buatan tangan. Di leher dan tangannya melekat beberapa aksesori perhiasan dari logam tempaan—spesialisasi utamanya sebagai desainer aksesori dan perhiasan etnik. Berbeda jauh dari sosok Ren di panggung yang klimis, Rendra dikenal di kalangan pelaku industri sebagai sosok yang keras, berwajah dingin, dan terlalu terpaku pada aturan presisi material. Baginya, tidak ada toleransi untuk kesalahan seperseribu milimeter pun dalam sebuah desain.

Rendra tidak menunjukkan riak emosi pada wajahnya. Pandangannya menatap Maya tanpa kedip, seolah sedang menilai setiap detail gaun yang melekat di tubuh wanita itu.

"Seni tanpa presisi hanyalah kekacauan emosional yang dibungkus kain mahal," ujar Rendra santai. Suaranya terdengar berat dan menusuk. "Gaun rancanganmu untuk babak ini terlalu sentimental. Terlalu banyak lipatan halus yang tidak memiliki fungsi struktural. Kau beruntung juri masih menyukai narasi romantic yang dibawa gaunmu."

"Sensitivitas emosional dalam gaun adalah jiwa, Rendra!" potong Maya cepat dengan nada suara yang meninggi. Darahnya seketika mendidih mendengarkan penilaian sepihak itu. "Bukan sekadar hitungan milimeter logam dingin seperti yang kau tempelkan pada model-modelmu. Kau pikir perhiasan kerasmu itu bisa bernapas saat dipakai berjalan di runway?"

"Perhiasan yang bagus tidak perlu 'bernapas' untuk membuktikan keberadaannya," jawab Rendra tenang sambil melangkah lebih dekat. Setapak langkahnya membuat jarak di antara mereka terkikis, memancarkan dominasi yang sulit diabaikan.  "Dia hanya perlu berdiri kokoh dan melindungi busana di bawahnya agar tidak terlihat rapuh."

Maya mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kali berbicara dengan Rendra, tensinya selalu naik. Sejak pertama kali bertemu di ajang pameran kerajinan tangan dua tahun lalu, Rendra selalu menjadi sosok yang paling rajin memprotes pendekatannya dalam merancang busana. Pria itu selalu memandang desain Maya terlalu mengandalkan perasaan, sementara Maya menganggap Rendra tak ubahnya robot tanpa hati yang hanya tahu soal hitungan teknis.

Sementara itu di panggung, sosok Ren tampak melambaikan tangan secara profesional ke arah jepretan kamera sebelum melangkah turun didampingi tim manajemennya.

Layar raksasa di belakang panggung menampilkan sketsa busana milik Ren—sebuah gaun berstruktur tegas dengan aksen kerajinan tembaga yang menjulur halus membentuk siluet bersayap.

Maya menatap layar itu dengan binar mata yang campur aduk: kekaguman mendalam atas jeniusnya eksekusi tekstil tersebut, sekaligus rasa penasaran yang membakar.

"Dia hebat," bisik Maya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Dia tahu cara memadukan kain dan logam tanpa membuat salah satunya terlihat kaku."

Di sebelah Maya, Rendra menyembunyikan tangannya di dalam saku celana. Matanya sekilas melirik ke arah gaun di layar, lalu beralih menatap leher Maya yang jenjang tanpa perhiasan. Ada guratan tak kasatmata di matanya—sebuah kilatan emosi rapuh yang lewat terlalu cepat sebelum akhirnya tertutup kembali oleh topeng dinginnya.

"Mungkin sosok Ren yang kau pandangi itu tidak seperti yang kau lihat," kata Rendra pelan, suaranya hampir tersapu riuh tepuk tangan pengunjung. "Mungkin yang kau lihat hanyalah lapisan luar yang pandai menyembunyikan kenyataan."

Maya menoleh, mengernyitkan dahi. Rasa penasarannya yang tadinya tertuju pada Ren seketika beralih pada pria di sampingnya ini.

"Apa maksudmu?" tanya Maya bingung.Rendra tidak menjawab. Ia memperbaiki posisi jam tangan rantai kuningan buatan tangannya sendiri, lalu berbalik pergi meninggalkan area kompetisi tanpa mengoper pandangan lagi.

"Dasar pria aneh," gumam Maya, menatap punggung Rendra yang perlahan menghilang di antara kerumunan penonton.

Maya tetap berdiri mematung di tengah kerumunan yang mulai bergerak riuh. Langkah kaki Rendra yang menjauh melintasi lantai marmer meninggalkan ketegangan asing yang menggantung di udara. Pria itu selalu seperti itu—datang membawa kritikan pedas yang merobek kepercayaan diri, lalu pergi meninggalkan teka-teki yang mengusik pikiran.

Maya menyentuh pangkal lehernya yang polos. Kulitnya mendadak terasa hangat, seolah-olah sisa getaran dari tatapan Rendra tadi masih tertinggal di sana. Ada sesuatu dari cara pria menjengkelkan itu memandangnya—sebuah tatapan yang tidak hanya menilai busananya, tetapi seolah menembus melampaui waktu dan lapisan ego yang mereka bangun. Seolah pria itu tahu persis kerapuhan yang berusaha Maya sembunyikan rapat-rapat di balik gaun hitamnya.

Maya menarik napas Panjang untuk menata kembali denyut jantungnya yang tidak beraturan. Ia teringat kembali pada alasan utamanya berdiri di tempat ini—obsesinya untuk menjadi salah satu pengusaha wanita paling berpengaruh di bidang fashion dan aksesori. Maya tidak ingin mengekor jejak sukses kakaknya yang bergerak di bidang bisnis lain. Ia ingin membangun kerajaannya sendiri, mengukir jalan dengan estetika dan emosi yang ia tuangkan dalam tiap helai kain hingga diakui dunia. Ia butuh modal dari investor lewat kemenangan dalam tiap tahapan kompetisi ini, dan ia tidak boleh membiarkan gangguan kecil—seperti Rendra atau Clarissa—merusak fokusnya.

Malam ini, pertempuran di panggung utama resmi dimulai. Maya tahu ia tidak hanya sedang bertarung melawan angka evaluasi para juri, melainkan tersedot ke dalam pusaran takdir yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan.

Tepat saat ia hendak berbalik menuju ruang rias, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Maya membuka pesan singkat itu. Hanya ada satu baris kalimat yang membuat dadanya seketika berdesir dingin:

“Jangan biarkan gaunmu di atas manekin berjarak lebih dari 10 meter dari pandanganmu, kalau kamu tidak ingin gaunmu hancur.”

Maya membeku. Tulisan di layar ponselnya seolah menjelma menjadi cengkeraman dingin yang meremas dada, menghentikan aliran udaranya seketika. Refleks, matanya melebar dan bergulir liar menembus kerumunan orang, mengarah lurus ke lorong backstage tempat manekin gaun utamanya dipajang—posisi yang kini jelas berada jauh lebih dari sepuluh meter dari tempatnya berdiri.

Di remang sudut lorong itu, gaunnya masih berdiri utuh tanpa cela. Namun, bayangan para pekerja panggung yang sibuk berlalu-lalang di sekitarnya mendadak terasa seperti ancaman yang tak kasatmata. Pesan itu bukan sekadar gertakan, melainkan sebentuk teror mental yang sengaja dilemparkan untuk merobohkan fokusnya tepat di malam pembukaan kompetisi.

Maya setengah berlari menembus kerumunan, memotong deretan tamu VIP yang sedang berbincang, dengan napas tersengal dan jantung berdegup kencang. Setibanya di depan manekin, matanya menyapu kain sutra hitam itu dengan teliti. Selamat. Gaunnya masih utuh. Namun saat ia berbalik hendak mengambil napas lega, matanya menangkap selembar kertas kecil yang terselip di balik lipatan pinggang gaun tersebut—sebuah kertas yang beberapa detik lalu jelas tidak ada di sana.

Dengan tangan gemetar, Maya mencabut kertas itu. Di atasnya tertulis kalimat dengan tinta merah yang masih basah:

"Ini baru peringatan pertama, Maya Kirana."

Seketika, bulu kuduk Maya berdiri. Seseorang baru saja menyentuh gaunnya saat ia sedang berdiri di tengah ballroom tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!