Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Keputusasaan Sang Putri Es
Fajar menyingsing di atas lautan awan Sekte Bintang Jatuh, tetapi kehangatan matahari pagi tak mampu mencairkan suasana di Aula Pelataran Dalam.
Ribuan murid elit telah berkumpul sejak pagi, bersama para tetua dan diaken sekte yang turut hadir. Lonceng Pemanggilan bahkan telah dibunyikan lebih awal dari biasanya. Jelas bahwa pengumuman hari ini bukan perkara kecil.
Di atas panggung utama, Su Yuhan berdiri dengan jubah biru gelap yang berkibar pelan tertiup angin. Di belakangnya berdiri Mu Qingxue yang masih mengenakan cadar.
Namun, ketenangan yang biasanya menghiasi tatapan gadis itu telah lenyap. Ada kegelisahan yang sulit disembunyikan di balik matanya.
Di sisi lain panggung, Jian Nantian duduk di atas singgasana tulang naga emas. Sebagai Ketua Sekte Bintang Jatuh, auranya dalam dan berat, membuat tak seorang pun berani meremehkannya.
Di antara para murid elit, Jian Chen berdiri dengan tenang. Senyum tipis masih menghiasi wajah tampannya. Sebagai jenius nomor satu Pelataran Dalam sekaligus putra kebanggaan Jian Nantian, ia telah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Su Yuhan melangkah maju dan menyapu seluruh aula dengan tatapan dingin.
"Semua yang hadir hari ini akan menjadi saksi."
Suaranya menggema ke seluruh aula hingga percakapan para murid perlahan mereda.
"Selama ini beredar kabar tentang hubungan antara muridku, Mu Qingxue, dan Jian Chen."
Tatapannya langsung tertuju kepada pemuda itu.
"Mulai hari ini, hubungan tersebut berakhir."
Aula seketika sunyi.
Su Yuhan tidak memberi Jian Chen kesempatan untuk bereaksi. Ia melanjutkan dengan suara yang semakin tegas.
"Puncak Teratai Salju tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga Jian."
Senyum Jian Chen membeku.
Namun, itu baru permulaan.
Su Yuhan mengangkat dagunya sebelum mengucapkan kalimat berikutnya.
"Mu Qingxue telah kutunangkan."
Suasana aula langsung berubah. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai penjuru, tetapi semuanya kembali terdiam ketika Su Yuhan melanjutkan.
"Calon pendamping Dao-nya adalah Murid Langsung Kakak Senior Sikong Jian."
Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan nama itu dengan jelas.
"Shen Luo."
Boom!
Aula langsung gempar.
"Shen Luo?"
"Bukankah itu Tukang sapu Puncak Hantu Kesunyian?"
"Sampah Sembilan Akar itu?"
"Bagaimana mungkin?"
Suara-suara terkejut memenuhi aula. Tak seorang pun menyangka pemuda yang selama ini menjadi bahan ejekan Pelataran Luar tiba-tiba disebut sebagai murid langsung Wakil Ketua Sikong Jian, terlebih lagi menjadi calon pendamping Dao Mu Qingxue.
Wajah Jian Chen perlahan berubah pucat sebelum memerah karena amarah. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku menembus telapak. Darah pun menetes ke lantai.
"Shen Luo...Berani kau merebut Qingxue dariku?"
Niat membunuh bergejolak dari tubuhnya. Namun, ia segera menekannya dan memaksa dirinya tetap tenang di hadapan semua orang.
Di atas singgasana, Jian Nantian juga tidak menunjukkan reaksi berarti. Ia tetap duduk dengan tenang, tetapi hawa dingin perlahan menyebar dari tubuhnya.
Ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Su Yuhan.
Wanita itu sengaja menggunakan murid lain untuk menantangnya di hadapan seluruh sekte.
Tak lama kemudian, sebuah transmisi suara masuk ke benak Jian Chen.
"Tenangkan dirimu, Chen'er." Suara Jian Nantian terdengar dingin.
"Jangan kehilangan kendali di depan semua orang. Jika Shen Luo memang Murid Sikong Jian, singkirkan dia."
Jian Nantian berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang lebih dingin.
"Jangan tinggalkan jejak."
Jian Chen menarik napas panjang. Perlahan, kemarahan di matanya menghilang, digantikan oleh senyum tipis yang jauh lebih dingin.
***
Malam harinya, awan gelap menutupi langit Sekte Bintang Jatuh. Angin dingin berembus melewati Puncak Hantu Kesunyian, menggoyangkan dedaunan hutan pinus yang mengelilingi gunung.
Sesosok bayangan putih melesat menembus pepohonan sebelum akhirnya mendarat di halaman depan air terjun yang telah lama mengering.
Mu Qingxue datang sendirian.
Sejak pengumuman pagi tadi, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Tatapan para murid, bisikan di belakangnya, serta rasa kasihan dan ejekan yang tersembunyi di balik sikap mereka semuanya membuatnya muak.
Namun, bukan itu yang paling ia takutkan.
Jian Chen.
Jika pemuda itu benar-benar berniat membunuh Shen Luo, murid berjubah tambalan tersebut mungkin tidak akan bertahan lama. Bagaimanapun, di belakang Jian Chen berdiri keluarga Jian dan bahkan Ketua Sekte sendiri.
Tatapan Qingxue menyapu halaman. Tak lama kemudian, ia menemukan sosok yang dicarinya.
Shen Luo sedang duduk bersila di atas sebuah batu di tepi jurang. Ia bermeditasi dalam diam, sementara tak sedikit pun Qi bocor dari tubuhnya. Sikapnya begitu tenang hingga seolah-olah telah menyatu dengan malam dan angin gunung.
Melihatnya, Qingxue justru semakin kesal.
Ia segera mengerahkan aura esnya. Tekanan kultivasi Tahap Pembentukan Fondasi puncak langsung memenuhi halaman dan membuat udara di sekitarnya terasa dingin.
"Bangun."
Shen Luo tetap diam.
Beberapa tarikan napas berlalu sebelum akhirnya ia membuka mata. Tatapannya tetap tenang, seolah tekanan aura Qingxue sama sekali tidak memengaruhinya.
"Aku sudah bilang." Suaranya datar. "Jangan bawa urusanmu ke gunungku."
Qingxue menggertakkan gigi lalu melangkah maju.
"Kau pikir aku ingin datang ke tempat ini?" Ia menatap Shen Luo dengan tajam. "Besok pagi, batalkan pertunangan itu di hadapan guruku."
Shen Luo mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena kau tidak layak menjadi pendampingku." Qingxue menatapnya dingin. "Jika perlu, berlututlah di hadapan guruku dan katakan sendiri bahwa kau menolak pertunangan ini!"
Shen Luo menatapnya selama beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Memintaku berlutut?" Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Sepertinya harga dirimu benar-benar terluka."
"Kau..."
Qingxue menggertakkan gigi. Ia berusaha menahan amarahnya, tetapi sikap Shen Luo yang begitu santai membuatnya semakin kesal.
"Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi."
Ia melangkah semakin dekat.
"Kakak Senior Jian Chen bukan orang yang bisa kau lawan. Di belakangnya ada Ketua Sekte. Jika mereka benar-benar ingin membunuhmu, kau bahkan tidak akan sempat melarikan diri."
Tatapan Qingxue sedikit bergetar.
"Jika kau tidak membatalkan pertunangan ini, kau akan mati."
Angin malam berembus melewati halaman, membuat jubah Shen Luo berkibar. Namun, pemuda itu justru tersenyum.
Ia turun dari batu dan berjalan perlahan mendekati Qingxue.
Mu Qingxue tanpa sadar mundur selangkah.
Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti mengapa tubuhnya bereaksi seperti itu. Jelas kultivasi Shen Luo jauh di bawahnya, tetapi saat pemuda itu mendekat, Hati Dao-nya justru merasakan tekanan samar yang tak dapat dijelaskan.
Shen Luo berhenti tepat di hadapannya.
"Pertama, aku sudah menolak pertunangan itu kemarin."
Tatapannya tetap tenang.
"Jika gurumu masih memaksakannya, itu urusan kalian. Jangan seret aku ke dalamnya."
Qingxue terdiam.
Shen Luo kemudian mengalihkan pandangan ke arah Pelataran Dalam yang tersembunyi di balik pegunungan.
"Kedua, mengenai Jian Chen. Jika dia ingin membalas dendam, biarkan dia datang. Kalau dia hanya ingin mengancamku, aku tak peduli."
Tatapannya kembali kepada Qingxue.
"Tapi jika dia berani datang ke gunung ini..." Senyum di wajah Shen Luo perlahan menghilang. "...aku akan membunuhnya."
Mata Qingxue melebar.
Untuk sesaat, ia merasakan hawa dingin yang berbeda dari aura es miliknya sendiri. Seutas Qi Iblis keluar dari tubuh Shen Luo. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat napasnya tercekat.
Shen Luo berbalik tanpa memedulikannya lagi.
"Jadi, pulanglah. Aku tidak punya waktu untuk urusan kalian."
Ia kembali menuju batu tempatnya bermeditasi.
Mu Qingxue berdiri terpaku di tempat.
Ia benar-benar tidak menyangka pemuda yang selama ini dianggap sampah justru berani berbicara seperti itu. Bahkan ketika berhadapan dengan Jian Chen dan Ketua Sekte, Shen Luo sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Untuk pertama kalinya, keraguan muncul di hati sang Putri Es.
Mungkin...
Pemuda ini benar-benar bukan orang yang bisa mereka remehkan.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/