Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Vivian
Mansion Keluarga Wei
Vivian dan Tom akhirnya tiba di depan mansion keluarga Wei.
Di depan rumah mewah itu, Mike Wei, ayah Vivian, berdiri bersama June Wu, istrinya, serta Vivi, saudara kembar Vivian.
Begitu melihat Vivian turun dari mobil, ekspresi Vivi berubah seketika.
"Beruntung sekali... ternyata dia masih hidup dan kembali dengan selamat."
Vivi mengepalkan tangannya diam-diam.
Sementara itu, Vivian membawa tas pakaiannya dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
“Vivian, bagaimana keadaanmu? Kau terlihat jauh lebih kurus,” ujar June dengan nada khawatir.
Vivian tersenyum tipis.
“Tidak bisa makan makanan lezat selama di penjara. Tentu saja aku menjadi kurus.”
June tampak terdiam.
“Mereka pasti memperlakukanmu dengan buruk.”
“Hanya satu tahun di penjara. Tidak perlu membesar-besarkan masalah,” sela Tom.
Vivian langsung menoleh kepadanya.
“Hanya satu tahun?”
Tatapannya menjadi dingin.
“Kalau begitu, kenapa bukan Kakak saja yang menggantikan kesalahan adik kesayanganmu?”
“Kau...” Tom langsung terdiam.
Vivi segera melangkah maju dengan wajah memelas.
“Adik, aku tahu kau pasti membenciku. Aku berjanji akan berubah dan menebus kesalahanku.”
Vivian menatapnya tanpa ekspresi.
“Menebus kesalahan?”
Ia tertawa kecil.
“Kenapa ketika aku berada di penjara, tidak satu pun dari kalian datang melihatku?”
Tidak ada yang menjawab.
“Apakah kalian lupa kenapa aku sampai tidak bisa melanjutkan pendidikanku dan harus masuk penjara?”
Suasana seketika menjadi hening.
Mike akhirnya angkat bicara.
“Vivian, sekarang kau sudah pulang. Pergilah beristirahat. Besok kau harus mulai kembali ke universitas karena sebentar lagi ada ujian penentuan.”
Vivi kemudian berkata dengan suara lembut,
“Papa, kalau Vivian mulai belajar lagi, bagaimana kalau ada orang yang mengetahui bahwa dia pernah dipenjara?”
Mike mengerutkan kening.
Sebelum Mike menjawab, Tom sudah lebih dulu mencibir.
“Vivian, jangan membuat malu keluarga. Jangan sampai ada yang tahu. Lagi pula, sejak kecil kau memang tidak pernah sepintar Vivi. Nilaimu selalu berada di bawahnya. Mengikuti ujian juga percuma.”
Vivian menatap Tom dengan tenang.
“Kalau sampai ada yang mengetahui bahwa aku adalah mantan narapidana, maka saat itu juga aku akan memberitahu mereka apa alasan sebenarnya aku sampai masuk penjara.”
Wajah Vivi langsung berubah pucat.
“Vivian!” seru Vivi panik.
Namun Vivian tidak memedulikannya.
“Aku tidak ingin membuang waktu bersama kalian. Membosankan.”
Vivian berbalik dan melangkah masuk ke dalam mansion sambil membawa tas pakaiannya.
Tom menatap kepergian Vivian dengan kesal.
“Lihatlah sifatnya. Semakin keterlaluan saja.”
June justru menghela napas.
“Tom, biarkan adikmu beristirahat dulu. Dia benar. Selama satu tahun berada di penjara, kita tidak pernah sekalipun pergi menjenguknya. Pantas kalau dia menyalahkan kita.”
“Mama,” sela Vivi dengan lembut, “jangan menyalahkan diri sendiri.”
Ia menatap June.
“Kalau Mama pergi menjenguk Vivian dan sampai ada orang yang mengetahuinya, bukankah keluarga Wei akan menjadi bahan pembicaraan? Pada saat itu, bukankah reputasi keluarga dan bisnis kita juga akan terpengaruh?”
June terdiam.
Mike mengangguk pelan.
“Yang dikatakan Vivi ada benarnya.”
Ia menatap ke arah pintu tempat Vivian menghilang.
“Jadi, kita tidak sepenuhnya salah karena tidak pergi menjenguknya. Seharusnya dia bisa memahami keadaan keluarga, bukan malah bersikap egois.”
Vivi menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.
Sementara di lantai atas, Vivian berhenti sejenak di depan kamarnya.
Ia mendengar setiap perkataan mereka.
Tangannya perlahan mengepal.
Tidak apa-apa.
“Mike, June, Tom, Vivi… sebutan keluarga hanya berlaku bagi orang yang tidak tahu apa-apa. Bagiku, kalian semua sudah mati.”
Vivian tersenyum sinis. Tatapannya dipenuhi rasa percaya diri.
“Aku sudah tidak sabar menunggu pengumuman hasil penilaian setelah ujian. Di saat itu juga aku akan membuat putri kebanggaan kalian menanggung malu dan dikeluarkan dari Universitas Hua Qing,” gumam Vivian dengan senyum nakal.