Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dia baru tinggal di apartemen ini selama kurang dari dua puluh empat jam.
Tanpa sadar, Jiang Chen melewati pintu kamarnya sendiri dan berhenti tepat di depan pintu kamar Chu Mengqi yang berada di sebelahnya.
Tangan kanannya meraba kenop pintu tersebut dan memutarnya perlahan.
Cklek.
Pintu itu tidak terkunci dan terbuka dengan sangat mulus tanpa mengeluarkan suara derit sedikit pun.
Jiang Chen melangkah masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi oleh cahaya lampu tidur remang-remang tersebut.
Namun baru tiga langkah dia masuk, hidungnya langsung mencium aroma wangi bunga lili yang sangat khas.
Itu bukanlah aroma kamar tidurnya yang apek dan berbau pria.
Mata Jiang Chen perlahan terbuka lebar untuk menyesuaikan diri dengan pencahayaan ruangan.
Dan apa yang dia lihat tepat di tengah ruangan itu sukses membuat seluruh rasa kantuknya hilang menguap ke udara.
Chu Mengqi sedang berdiri membelakangi pintu, tepat di depan lemari pakaiannya yang terbuka lebar.
Gadis itu baru saja melepaskan piyama panjangnya yang tebal karena merasa kegerahan di tengah malam.
Saat ini, Mengqi hanya mengenakan pakaian dalam berenda warna hitam tipis yang sangat kontras dengan kulit putih mulusnya.
Gadis itu sedang menaikkan kedua tangannya ke atas, bersiap untuk memakai kaus tipis tanpa lengan sebagai baju ganti.
Pemandangan lekuk tubuh yang terpampang sangat jelas dari arah belakang itu benar-benar menguji iman pria mana pun.
Jiang Chen mematung di tempatnya berdiri seperti patung batu, otaknya mendadak mengalami korsleting ringan.
'Kenapa dia tidak mengunci pintunya di malam hari? Dan sejak kapan wanita barbar ini punya lekukan sebagus itu?' batin Jiang Chen bodoh.
Insting medisnya tiba-tiba mati total, digantikan oleh insting murni seorang pria normal yang sedang melihat pemandangan indah.
Namun keheningan di dalam kamar itu tidak berlangsung lama.
Mengqi rupanya merasakan ada hembusan angin dingin yang masuk dari arah pintu kamarnya yang terbuka.
Gadis itu perlahan menoleh ke belakang sambil memegang kaus tipis yang belum sempat dia pakai.
Mata mereka berdua saling bertatapan tepat di tengah keheningan malam yang mencekam.
Waktu seolah kembali berhenti berdetak, mengulang kejadian mengerikan di kamar mandi tadi pagi.
Wajah Mengqi langsung berubah sepucat kertas putih sebelum akhirnya memerah hebat seperti gunung berapi yang akan meledak.
Jiang Chen buru-buru mengangkat tangannya dan mencoba menjelaskan situasi dengan suara bergetar.
"Ini, ini bukan salahku, Nona. Aku hanya salah masuk kamar karena pintunya tidak kau kunci," elak Jiang Chen panik.
Mendengar suara pria itu, kesadaran Mengqi langsung kembali sepenuhnya.
Kyaaaaa!
Jeritan yang jauh lebih keras dan melengking dari tadi pagi meledak mengguncang seluruh penjuru apartemen.
Mengqi langsung melemparkan kaus di tangannya tepat ke arah wajah Jiang Chen dengan sekuat tenaga.
Bruk.
Kaus tipis itu menutupi wajah Jiang Chen, membawa aroma wangi tubuh gadis itu yang sangat menyengat.
"Keluar dari kamarku sekarang juga, kau monster mesum keparat!" raung Mengqi sambil meraih bantal guling dari atas kasur.
Wusss bugh.
Bantal guling itu melayang cepat dan menghantam perut Jiang Chen dengan telak hingga pemuda itu terhuyung mundur.
"Aku sungguh-sungguh salah kamar! Lagipula kenapa kau ganti baju di tengah ruangan tanpa mengunci pintu, hah?!" protes Jiang Chen dari balik kaus yang menutupi wajahnya.
"Ini adalah kamarku sendiri! Terserah aku mau ganti baju di mana saja!" balas Mengqi histeris sambil melemparkan bantal tidur keduanya.
Bugh.
Bantal itu mendarat tepat di wajah Jiang Chen, membuatnya hampir terjatuh ke belakang.
Jiang Chen akhirnya menyadari bahwa berdebat dengan wanita yang sedang setengah telanjang adalah tindakan bunuh diri.
Dia segera melepaskan kaus itu dari wajahnya dan melemparnya sembarangan ke lantai kamar.
"Oke, oke! Aku keluar! Jangan lempar lampu mejamu itu!" teriak Jiang Chen ketakutan saat melihat Mengqi meraih lampu tidur besi.
Jiang Chen langsung berbalik arah dan melesat keluar dari kamar itu dengan kecepatan maksimal menggunakan tenaga Qi-nya.
Blam.
Pintu kamar itu langsung dibanting tertutup oleh Mengqi dari dalam dengan sangat keras.
Cetek cetek.
Terdengar suara kunci pintu yang diputar hingga dua kali berturut-turut dari arah dalam.
Jiang Chen berdiri bersandar di dinding lorong sambil memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang.
Jantungnya berdebar bukan karena takut dengan lemparan bantal gadis itu.
Jantungnya berdebar karena pemandangan indah yang baru saja terekam jelas di otaknya.
"Gadis barbar itu ternyata menyembunyikan berlian di balik piyamanya yang tebal," gumam Jiang Chen tanpa sadar sambil menelan ludah.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan masuk ke kamarnya sendiri dengan cepat.
Jiang Chen memastikan pintu kamarnya juga terkunci rapat dari dalam.
Malam itu, butuh waktu lebih dari dua jam bagi Jiang Chen untuk bisa menenangkan pikirannya dan kembali tertidur.
Keesokan paginya, suasana di area dapur dan ruang tamu terasa luar biasa canggung dan kaku.
Jiang Chen sedang menggoreng telur dan sosis di atas kompor dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati.
Dia sengaja menghindari kontak mata apa pun sejak keluar dari kamarnya sepuluh menit yang lalu.
Chu Mengqi duduk di meja makan dengan wajah yang masih sedikit sembab karena kurang tidur.
Gadis itu menatap punggung Jiang Chen dengan tatapan tajam yang siap membunuh kapan saja.
Tak tak.
Jiang Chen meletakkan piring berisi sarapan hangat itu tepat di depan Mengqi dengan sangat perlahan.
"Sarapanmu sudah siap, Nona Chu," ucap Jiang Chen pelan sambil mengambil piringnya sendiri dan duduk di seberang meja.
Mengqi mengambil garpu dan menusuk sosis goreng itu dengan tenaga yang sangat berlebihan.
Klak.
Suara garpu yang beradu dengan piring kaca membuat Jiang Chen sedikit berjengit ngeri.
"Kalau kau sampai berani menceritakan kejadian semalam pada siapa pun, aku akan memotong lidahmu," ancam Mengqi dengan suara pelan namun mematikan.
"Dan kalau kau sampai lupa mengetuk pintu lagi, aku akan mencungkil kedua bola matamu itu pakai sendok ini."
Jiang Chen menelan ludahnya dan menganggukkan kepalanya dengan patuh seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
"Aku berjanji, sumpah demi ilmu medisku. Tadi malam itu murni karena aku mengantuk berat," janji Jiang Chen jujur.
Mengqi mendengus pelan dan mulai memakan sarapannya dengan wajah cemberut.
Namun di balik wajah marahnya itu, sebenarnya ada perasaan malu yang sangat besar yang sedang dia sembunyikan.
Meskipun dia sangat marah karena privasinya dilanggar dua kali dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Entah kenapa dia tidak merasa setakut saat diganggu oleh pria hidung belang seperti Zhao Tianyu.
'Mungkin karena pria bodoh ini selalu membuat alasan konyol setiap kali tertangkap basah,' batin Mengqi mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Jiang Chen mengunyah telurnya dalam diam, merasa bersyukur karena nyawanya masih selamat pagi ini.
Hidup satu atap dengan seorang wanita ternyata memiliki risiko kematian yang setara dengan melawan ratusan pembunuh bayaran tingkat elit.
Dan Jiang Chen harus segera membiasakan dirinya dengan kehidupan komedi romantis yang berbahaya ini.