Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kebenaran yang Menusuk Hati
Tangan Gu Shiyu gemetar hebat saat kertas itu terbuka sepenuhnya. Tinta tulisan tangan ayahnya yang sudah menguning tampak samar namun jelas, seolah ditulis kemarin saja. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu mulai membaca dengan suara bergetar yang perlahan menguat:
"Untuk putriku, Shiyu yang kucintai lebih dari apa pun di dunia ini,
Jika kau membuka surat ini, berarti aku sudah pergi. Dan berarti takdir telah membawa kau kembali pada hal yang paling aku takutkan — kebenaran yang mungkin akan mematahkan hatimu.
Dua puluh tahun lalu, aku dan ayah Muchen, Lin Zhen, bersahabat baik. Kami bermimpi membangun sesuatu bersama — perusahaan yang jujur, tempat orang-orang bekerja dengan tenang. Kami berjanji: apa pun terjadi, kami akan melindungi keluarga satu sama lain.
Namun dunia tidak seindah mimpi. Zhang Hua, orang yang kami percaya sebagai saudara sendiri, menginginkan segalanya untuk dirinya sendiri. Ia menggelapkan uang, memalsukan tanda tangan, dan menuduh ayah Muchen sebagai pelakunya. Bukti-bukti ia susun sedemikian rupa hingga tak ada yang percaya pada pembelaan kami.
Ayah Muchen datang kepadaku, memohon agar aku membantunya membuktikan ketidakbersalahannya. Namun aku takut. Zhang Hua mengancam akan mencelakai kau dan ibumu jika aku membela dia. Aku berdiri di persimpangan jalan — menyelamatkan sahabatku, atau melindungi keluargaku yang paling berharga.
Dan aku milih dengan pengecut. Aku diam."
Suara Gu Shiyu pecah di kalimat itu. Air mata menetes deras membasahi kertas usang di tangannya. Ia menatap Lin Muchen yang berdiri kaku di sampingnya, wajahnya pucat tanpa darah.
"Ayahku..." bisiknya, "dia tahu... dia tahu ayahmu tidak bersalah... tapi dia diam saja..."
Lin Muchen menelan ludah, dadanya sesak seakan dihimpit batu besar. Ia teringat wajah ayahnya yang pulang dengan mata merah, bertanya-tanya mengapa sahabat yang paling dipercayanya justru berpaling. Rasa sakit itu kembali, lebih tajam dari sebelumnya. "Lanjutkan..." suaranya parau.
Gu Shiyu mengangguk pelan, menyeka air mata dengan punggung tangan, lalu melanjutkan:
"Aku membiarkan ayah Muchen dihancurkan. Aku membiarkan dia diusir, dihina, jatuh miskin, dan akhirnya sakit karena beban yang tak seharusnya ia pikul. Aku pindahkan keluargaku ke tempat lain, menjauhkanmu dari Muchen, bukan karena membencinya, melainkan karena takut Zhang Hua akan mencelakai kalian berdua jika tetap bersama.
Aku berpikir — dengan mengorbankan satu orang, aku menyelamatkan banyak nyawa. Tapi aku salah. Keheningan itu memakan diriku hidup-hidup. Setiap malam aku terbangun, mendengar suara sahabatku memanggil namaku, bertanya mengapa aku mengkhianatinya.
Beberapa hari sebelum ayah Muchen meninggal, aku diam-diam menemuinya. Ia tidak memarahiku. Ia hanya tersenyum sedih dan berkata: 'Aku tahu kau tak jahat. Tapi ketakutan membuat orang melakukan hal buruk.' Ia berpesan agar aku tidak membiarkan Zhang Hua menang. Ia berpesan agar aku melindungimu — dan Muchen.
Saat itulah aku sadar: ketakutan telah menjadikan aku bagian dari kejahatan itu sendiri. Aku mulai mengumpulkan bukti, menyusun jejak kesalahan Zhang Hua. Namun ia lebih cepat. Ia mengetahui rencanaku, dan sejak saat itu aku tahu — nyawaku tak lama lagi.
Shiyu, jika kau membaca ini, carilah Muchen. Minta maaflah darinya atas nama ayahmu. Ia berhak membenci kita. Tapi tolong — lindungilah dia, sebagaimana ayahnya dulu melindungimu tanpa kau ketahui.
Dan ingatlah: kebenaran tidak membenarkan kejahatan. Namun dendam tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Pilihlah jalan yang benar, bukan jalan yang mudah.
Maafkan ayahmu yang pengecut ini.
Ayahmu yang selalu mencintaimu,
Gu Yuan
Keheningan yang berat menyelimuti ruangan itu setelah kata terakhir dibacakan. Hanya suara napas mereka yang terdengar — berat, tersengal, penuh kepedihan yang tak terkatakan. Lin Muchen berdiri mematung, matanya menatap lurus ke depan tanpa melihat apa-apa. Selama bertahun-tahun ia membenci keluarga Gu, mengira mereka yang meninggalkannya, mengira mereka yang merampas masa depannya. Namun kenyataannya lebih pahit — bukan kebencian yang memisahkan mereka, melainkan ketakutan dan pengkhianatan orang ketiga. Ayahnya dikhianati, dan ayahnya Gu Shiyu pun dikhianati oleh kelemahannya sendiri.
Zhang Hua bertepuk tangan pelan, senyum sinis tak lepas dari wajahnya. "Sangat menyentuh, bukan? Dua keluarga hancur hanya karena satu orang berani mengambil keputusan yang benar. Sayang sekali ketakutan menguasai segalanya." Ia melangkah maju perlahan. "Dan sekarang, bukti itu ada di tangan kalian. Bukti yang bisa mengirimku ke penjara — jika kalian hidup cukup lama untuk menyerahkannya."
"Kau..." Lin Muchen mengepal tangannya erat, amarah meluap menutupi kesedihan sesaat. "Kau yang memulai semuanya. Kau yang menghancurkan dua keluarga demi kekayaan sendiri."
"Benar," Zhang Hua mengakui tanpa ragu, seolah membanggakannya. "Kesempatan tidak datang dua kali. Mereka terlalu lemah, terlalu jujur, terlalu takut berbuat dosa. Dunia ini milik mereka yang berani mengambil apa yang diinginkannya." Ia memberi isyarat pada dua orang yang berdiri di pintu. "Ambil surat itu. Dan pastikan mereka tidak bisa bicara pada siapa pun lagi."
Dua pria itu melangkah maju. Lin Muchen mendorong Gu Shiyu ke belakang dirinya. "Lari," bisiknya cepat. "Keluar dari jendela samping. Panggil bantuan."
"Tidak!" Gu Shiyu mencengkeram lengan bajunya. "Aku tidak akan pergi tanpamu!"
"Kau harus hidup untuk menyampaikan kebenaran ini!" Lin Muchen mendorongnya pelan namun tegas. "Pergi! Sekarang!"
Salah satu pria itu menerjang. Lin Muchen menghindar, menendang perutnya hingga ia jatuh terjerembab. Pria kedua mengayunkan tangan ke arahnya, namun ia menangkis dengan cepat, membalas dengan pukulan tajam ke arah bahu. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Saat ia sibuk menangkis serangan di depan, seseorang menyergap dari samping, menahan lengannya erat. Lin Muchen berjuang sekuat tenaga — melepaskan diri, menendang, memukul — namun mereka berdua bersatu menghempaskannya ke lantai. Kepalanya membentur tepi meja, rasa sakit tajam menyusul, pandangannya seketika kabur.
"Berhenti!" teriak Gu Shiyu berusaha mendekat, namun salah satu pria itu menghadangnya, menahan di tempat.
Zhang Hua mendekati Lin Muchen yang terbaring lemah di lantai, tersenyum dingin. "Kau mirip sekali dengan ayahmu. Sama keras kepala, sama bodohnya. Dia juga berpikir kekuatan bisa mengalahkan segala sesuatu." Ia berjongkok di sampingnya, berbisik pelan. "Tapi kau tahu apa bedanya? Dia pergi tanpa sempat melihat kebenaran. Sedangkan kau... kau tahu segalanya, namun tetap tidak bisa melakukan apa-apa."
Lin Muchen mengangkat kepalanya dengan susah payah, darah menetes dari sudut bibirnya. Ia menatap Zhang Hua dengan tatapan yang belum pernah dilihat siapa pun — bukan amarah yang membabi buta, melainkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
"Kau salah..." suaranya parau namun tegas. "Kau menang hari ini... tapi kau tidak akan pernah tenang. Setiap detik... kau akan takut ketahuan. Setiap malam... kau akan melihat bayangan mereka yang kau hancurkan. Itu hukumanmu... jauh lebih berat daripada penjara mana pun."
Wajah Zhang Hua mengeras. Ia berdiri, menarik napas kasar. "Bawa mereka ke tempat yang sudah disiapkan. Pastikan tidak ada jejak yang tertinggal."
Pria yang menahan Gu Shiyu menyeretnya menjauh. Ia berjuang, memanggil nama Lin Muchen berulang-ulang, namun mulutnya akhirnya dibungkam. Lin Muchen mencoba bangkit, namun kakinya terasa lemas, kepalanya berputar hebat. Ia melihat Gu Shiyu dibawa pergi, melihat pintu ruangan tertutup perlahan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah. Bukan karena kekuatan lawan, melainkan karena ia gagal menepati janji — gagal melindungi wanita yang paling berharga baginya.
Maafkan aku, Shiyu... batinnya perlahan tenggelam dalam kegelapan yang menyelimuti kesadarannya. Aku berjanji akan selalu melindungimu... dan aku akan menepatinya. Apa pun harganya.
Ketika Lin Muchen terbangun, udara di sekelilingnya dingin dan berbau lembap. Ia terbaring di lantai batu yang keras, di dalam ruangan sempit tanpa jendela. Cahaya masuk hanya dari celah kecil di pintu besi yang kokoh. Tubuhnya terasa nyeri di mana-mana, kepalanya masih berdenyut sakit. Ia bangkit perlahan, menopang tubuh ke dinding batu, menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.
Ia tidak tahu di mana ini. Ia tidak tahu ke mana Gu Shiyu dibawa. Yang ia tahu — ia tidak boleh menyerah. Ayahnya tidak menyerah sampai akhir hayatnya. Ayahnya Gu Shiyu menyimpan kebenaran selama bertahun-tahun meski ketakutan menguasainya. Dan ia, Lin Muchen, tidak akan membiarkan pengkhianatan menang.
Di saku bajunya, terselip sesuatu yang kecil dan keras. Ia meraba, mengeluarkannya — foto tua yang sudah kusut, foto dua keluarga yang berdiri bersama, tersenyum di masa lalu yang belum retak. Ia mengusap wajah ayahnya, lalu wajah ayahnya Gu Shiyu, lalu dua anak kecil yang berpegangan tangan.
"Aku akan menyelesaikan apa yang kalian mulai," janjinya dalam hati. "Aku akan menemukan Shiyu. Dan aku akan memastikan keadilan ditegakkan."
Dari luar pintu terdengar langkah kaki mendekat. Lin Muchen segera menyembunyikan foto itu kembali, duduk tegak, menata napasnya. Pintu terbuka sedikit, menyisakan celah cahaya. Wajah seseorang terlihat samar — bukan Zhang Hua, bukan pula anak buahnya.
"Kau masih hidup," suara itu berbisik, gemetar namun berhati-hati. "Cepat... dengarkan aku sebelum mereka kembali."
Lin Muchen menatapnya tajam. "Siapa kau?"
"Seseorang yang terlambat menyadari kesalahannya," jawab orang itu. "Aku kenal ayahmu. Dan aku tahu apa yang dilakukan Zhang Hua. Dia berniat membuang kalian berdua malam ini, di tepi tebing di sisi utara kota. Jika kalian ingin selamat... kau harus pergi sekarang."
Orang itu melemparkan sepotong kunci ke arahnya. "Pintu belakang sudah dibuka. Tapi cepat — waktu tidak banyak."
Pintu tertutup kembali. Lin Muchen menggenggam kunci itu erat. Ia tidak tahu siapa yang menolongnya, dan tidak ada waktu untuk bertanya. Ia berdiri, meski kakinya masih terasa berat, melangkah menuju kebebasan yang belum tentu aman. Namun ia tahu satu hal — ia tidak sendirian dalam pertarungan ini. Dan ia tidak akan berhenti sampai Gu Shiyu kembali di sisinya.
Di luar, malam masih pekat, namun di ufuk timur, cahaya fajar mulai menyelinap perlahan. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.