Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Udara malam di area rooftop restoran hotel berbintang lima itu terasa dingin,
namun bagi Bagas, hawa panas justru menjalar hingga ke belakang lehernya.
Ia beberapa kali membetulkan letak dasinya yang terasa terlalu mencekik, sembari sesekali melirik jam tangan pintarnya.
Acara perayaan ulang tahun perusahaan malam ini dihadiri oleh jajaran direksi, klien kelas atas, serta para kolega divisi yang tampil necis dengan setelan jas mahal dan gaun malam berupaya menawan.
Di sebelah Bagas, berdiri Maya.
Maya mengenakan gaun terusan kain katun berwarna krem polos di bawah lutut dengan paduan blus luaran yang rapi—pakaian terbaik yang ia miliki untuk acara formal.
Wajahnya polos tanpa polesan riasan tebal, hanya lipstik tipis berwarna natural. Rambutnya diikat rapi ke belakang.
Sederhana, bersih, dan hangat. Tapi di mata Bagas malam ini, penampilan itu terasa bagaikan sebuah ketimpangan yang mencolok.
"Bagas, kamu kedinginan? Kenapa dari tadi gelisah begitu?" tanya Maya pelan.
Tangan kanannya mengusap lengan jas Bagas dengan lembut.
Bagas menoleh singkat, lalu dengan halus menarik lengannya bergeming. "Enggak, May. Cuma... ramai banget ya malam ini."
"Iya, tempatnya megah sekali. Aku agak canggung sebenarnya, takut salah bawa diri,"
aku Maya jujur sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Tapi aku senang bisa menemani kamu."
"Harusnya kamu dandan agak tebal sedikit, May," cetus Bagas tanpa sadar. Suaranya agak tertahan di tenggorokan.
Maya terpaku, menatap wajah kekasihnya. "Maksud kamu?"
"Ya... maksudku, kamu kan tahu ini acara kantor besar. Atasan aku datang semua. Lihat deh, rekan-rekan cewek yang lain,
" bisik Bagas seraya menunjuk halus ke arah kerumunan staf pemasaran yang sedang tertawa lebar.
"Mereka pakai gaun malam, perhiasan, ke salon dulu tadi sore. Kamu malah tampil seadanya begini."
Kata-kata itu mendarat mulus di hati Maya, meninggalkan rasa nyeri yang tiba-tiba.
Maya menunduk sebentar, melihat gaun krem kesayangannya yang terasa tiba-tiba mengecil dan serba salah.
"Aku pikir baju ini sudah cukup rapi dan sopan untuk acara kantor kamu, Gas," kata Maya lirih, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar.
"Rapi dan sopan itu cukup kalau cuma makan di rumah makan biasa, May.
Di sini itu beda," tekan Bagas dengan nada yang mulai kesal.
"Tadi waktu masuk, Pak Hendra sempat ngelihatin kamu dari atas sampai bawah.
Aku rasanya mati gaya, bingung mau ngenalin kamu sebagai siapa."
Maya menatap Bagas tak percaya. Ada kilat kekecewaan yang mendalam di matanya. "Jadi kamu malu bawa aku ke sini?"
Sebelum Bagas sempat menjawab, sebuah suara lantang memotong percakapan dingin mereka.
"Wah, Bagas! Di sini kamu rupanya!"
Riko, rekan satu tim Bagas yang terkenal dengan gaya pakaiannya yang selalu bermerek, berjalan mendekat bersama pasangannya yang mengenakan gaun merah menyala.
"Eh, Riko. Iya nih," balas Bagas dengan senyum yang dipaksakan.
"Kenalin dong, siapa nih cewek manis di sebelah kamu?" tanya Riko ramah, sembari melirik penampilan Maya yang sangat kontras dengan tamu lainnya.
Bagas sempat terdiam sejenak. Ada jeda dua detik yang terasa sangat panjang bagi Maya.
"Ini... Maya, temanku," jawab Bagas cepat.
Mata Maya membelalak. Teman? Hatinya hancur dalam sekejap.
"Oh, halo Maya. Saya Riko," sapa Riko tanpa curiga, mengulurkan tangan.
Maya menelan ludah yang terasa pahit. Ia mengukir senyum tipis di bibirnya yang gemetar, menahan air mata yang mendesak keluar. "Halo, Riko. Saya Maya."
Setelah berbasa-basi sebentar, Riko dan pasangannya pamit menuju meja makanan utama. Begitu mereka menjauh, Maya membalikkan badan menghadap Bagas sepenuhnya.
"Teman, Gas? Setelah tiga tahun kita pacaran, aku cuma dianggap teman di depan teman-teman kamu?" suara Maya berbisik, namun sarat akan luka.
Bagas mendesah kencang, memegang kedua pelipisnya.
"May, tolong jangan bikin drama di sini. Aku cuma nggak mau diserbu pertanyaan aneh-aneh sama mereka.
Penampilan kamu malam ini beneran bikin aku serba salah!"
Maya tersenyum getir. Ia mengangguk perlahan, akhirnya mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi.
"Maaf kalau penampilan sederhanaku ini bikin kamu malu, Bagas," ucap Maya tegas,
tidak ada lagi keraguan di suaranya. "Aku pulang duluan. Selamat menikmati acaramu."
Tanpa menunggu balasan dari Bagas, Maya membalikkan badan dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
Bagas terpaku di tempatnya, berdiri sendirian di tengah kemewahan pesta yang mendadak terasa hampa.