Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Di interogasi orang tua.
Aletha terbangun dengan kepala yang agak pening dan jantung yang mendadak mencelos ketika matanya melirik jam dinding di kamarnya. Baru pukul enam pagi. Namun, ketukan pintu kamarnya yang terdengar sangat beruntun dan keras tidak memberikan kesempatan baginya untuk mengumpulkan nyawa.
Tok! Tok! Tok!
"Aletha! Bangun sekarang dan langsung turun ke ruang tamu! Cepat!"
Suara Mama Hanna dari balik pintu tidak terdengar selembut biasanya. Ada nada tinggi yang sarat akan kemarahan terpendam di sana.
Aletha menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang. Perasaannya mendadak tidak enak. Dengan langkah terburu-buru, ia menyambar kemeja seragam putihnya yang belum dikancingkan sempurna, memakainya asal, lalu bergegas turun ke lantai satu dengan dada yang bergemuruh cemas.
Ya Tuhan, jangan bilang rahasia semalam bocor... batin Aletha berdoa panik.
Namun, doa Aletha tidak dikabulkan. Begitu kakinya menapak di anak tangga terakhir menuju ruang tamu utama, pemandangan di depannya sukses membuat pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika.
Di atas sofa beludru mewah, Papa Baskara dan Mama Hanna sudah duduk dengan wajah yang teramat tegang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, di sofa seberang, Om Wirawan dan Tante Karina, orang tua Langit, juga sudah hadir di sana sepagi ini. Di sebelah mereka, duduk Langit dengan tenang.
Cowok itu sudah mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, namun wajah datarnya tampak sedikit kaku. Sudut bibirnya yang lebam karena pukulan Tommy kemarin terlihat kian jelas di bawah sorotan lampu ruang tamu.
"Duduk, Aletha," perintah Baskara. Suaranya rendah, berat, dan sama sekali tidak menerima bantahan.
Aletha melangkah kaku, lalu memilih duduk di sofa tunggal yang agak jauh dari Langit. Pandangannya sempat beradu dengan sepasang mata hazel milik Langit selama setengah detik. Cowok itu hanya memberikan kerlingan minimalis, sebuah isyarat bahwa situasi saat ini sedang berada di level siaga satu.
Baskara meletakkan sebuah tablet digital di atas meja kaca dengan bunyi klak yang cukup keras. Di layarnya, terpampang sebuah video amatir berdurasi pendek yang diambil dari kamera ponsel.
Jantung Aletha serasa berhenti berdetak. Video itu menampilkan siluet motor Ducati hitam milik Langit yang sedang melesat membelah lintasan lurus Jalan Baru tadi malam, disaksikan oleh ratusan anak muda di pinggir jalan. Meskipun wajah pembalapnya tertutup helm, plat nomor cantik motor mewah itu terpampang sangat nyata di bagian belakang.
"Bisa kamu jelaskan ke Papa, Letha... apa yang kamu lakukan di Jalan Baru jam sebelas malam bersama calon suami kamu?" tanya Baskara dengan nada suara yang teramat tenang, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada bentakan.
Aletha bungkam, lidahnya mendadak kelu. Ia melirik Mama Hanna yang hanya bisa menggelengkan kepala penuh kekecewaan.
"Bukan cuma Aletha, Baskara. Langit juga punya andil besar di sini," potong Wirawan, papa Langit, dengan helaan napas berat. Ia menoleh tajam ke arah putranya.
“Langit, Papa belikan motor itu untuk keperluan kamu pergi ke tempat pemotretan atau sekolah kalau mendesak. Bukan untuk taruhan nyawa di jalanan umum dengan berandalan!"
Langit membetulkan posisi duduknya. Wajah tripleksnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, meski sudut bibirnya yang lebam sedikit berdenyut nyeri saat ia berbicara.
"Maaf, Papa. Tapi saya tidak sedang balapan tanpa alasan."
"Alasan apa yang membenarkan kamu balapan liar sampai wajah kamu bonyok begitu, Langit?!" seru Tante Karina, mamanya, dengan mata yang mulai berkaca-kaca cemas.
“Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Kamu itu aset keluarga!"
"Saya sedang melindungi apa yang menjadi hak saya," jawab Langit dengan nada suara yang teramat datar namun tegas. Matanya bergerak sekilas melirik Aletha, membuat gadis itu refleks menahan napas.
"Ada cowok nggak tahu aturan yang mengganggu Aletha di sekolah. Dia menantang saya. Sebagai laki-laki yang sudah terikat komitmen perjodohan dengan Aletha, saya tidak mungkin mundur dan membiarkan harga diri keluarga kita diinjak-injak."
Mendengar penjelasan Langit, keempat orang tua di ruangan itu mendadak terdiam. Baskara dan Wirawan saling melempar pandang. Kemarahan di wajah Baskara perlahan sedikit melunak, digantikan oleh binar penasaran.
"Mengganggu Aletha? Maksud kamu mantan pacar Aletha yang ketua geng motor itu?" tanya Baskara memastikan, matanya kini menatap tajam ke arah putrinya.
Aletha menunduk dalam-dalam, meremas ujung kemeja seragamnya. Aduh, mampus gue! Habis ini giliran gue yang diinterogasi soal Tommy! pekik batin Aletha frustrasi.
"Iya, Om," Langit yang kembali mengambil alih pembicaraan, menyelamatkan Aletha dari pertanyaan maut sang papa.
“Tapi urusannya sudah selesai tadi malam. Dia sudah berjanji tidak akan mendekati Aletha lagi setelah kalah balapan. Jadi, saya jamin Aletha aman sekarang."
Wirawan menghembuskan napas panjang, bersandar di sofa sambil memijat pelipisnya.
“Papa menghargai tanggung jawab kamu sebagai laki-laki untuk menjaga Aletha, Langit. Tapi cara yang kamu pilih itu salah besar! Kamu bisa saja kecelakaan atau ditangkap polisi!"
"Betul kata Om Wirawan, Letha, Langit," Hanna ikut menimpali, menatap kedua remaja itu bergantian.
"Kalian berdua ini sudah bertunangan. Tindakan nekat kalian semalam itu egois. Kalau sampai gosip ini sampai ke telinga keluarga besar yang lain sebelum acara resmi bulan depan, mau ditaruh di mana muka orang tua kalian?"
"Karena itu," Baskara mengetuk meja kaca dengan jarinya, menarik perhatian penuh dari semua orang di ruangan.
“Papa dan Om Wirawan sudah mengambil keputusan bulat pagi ini." Aletha mendongak cepat, perasaan was-wasnya kembali memuncak.
"Keputusan apa, Pa?"
Baskoro menatap Aletha dan Langit secara bergantian dengan senyum tegas yang tidak bisa diganggu gugat.
“Mulai hari ini, fasilitas motor Ducati milik Langit disita oleh Papa Wirawan selama satu bulan penuh.
“Yes! Rasain lo, tiang listrik! batin Aletha sempat bersorak girang di tengah kepanikannya.
"Dan untuk kamu, Aletha..." Baskoro menggantung kalimatnya, membuat senyum batin Aletha lenyap seketika. "...karena kamu terbukti keluyuran malam dan terlibat lingkungan yang tidak benar, mulai hari ini sampai hari pertunangan bulan depan, kamu wajib berangkat dan pulang sekolah bersama Langit. Sopir pribadi Langit yang akan menjemput dan mengantar kalian berdua setiap hari. Tidak ada bantahan, tidak ada naik angkutan umum sendiri."
"Apa?!" Aletha langsung berdiri dari sofanya, matanya melotot sempurna. "Pa! Berangkat-pulang bareng dia?! Yang benar aja! Satu sekolah bisa makin heboh!"
"Ini hukuman sekaligus perlindungan buat kamu, Aletha. Biar cowok berandalan itu tahu kalau kamu benar-benar sudah ada yang menjaga," tutur Baskara mutlak.
Aletha beralih menatap Langit, berharap cowok itu ikut memprotes keputusan gila ini. Namun, harapan Aletha kembali pupus. Langit justru menatapnya dengan seringai tipis sarat kemenangan yang sangat menyebalkan di sudut bibirnya yang lebam.
"Saya menerima keputusannya, Om. Mulai hari ini, saya yang akan memastikan Aletha selalu berada di bawah pengawasan saya," ucap Langit dengan nada suara sedingin es yang kembali normal.
Aletha hanya bisa menjatuhkan kembali tubuhnya ke sofa dengan lemas. Rencana kerja sama rahasia mereka untuk pura-pura di depan orang tua kini justru berbalik menjadi bumerang yang mengunci kebebasannya sepenuhnya. Mulai hari ini, hidupnya di sekolah resmi akan dikontrol penuh oleh sang musuh bebuyutan.