Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 : ujian si pangeran es
Suasana di dalam kamar mendadak hening mencengkam. Xie Yufei masih mempertahankan senyum manis nan lugu di wajahnya, meskipun otot pipinya sudah mulai terasa kaku karena terlalu lama berakting.
Di depannya, Pangeran Mo Cheng bersedekah dada di atas kursi kayu. Sepasang mata elangnya menatap Yufei lurus-lurus, seolah ingin menguliti isi kepala gadis itu hidup-hidup. Sementara itu, Xie Jian sang kakak berdiri di belakang Pangeran dengan wajah yang masih linglung, memandangi adiknya dengan tatapan penuh selidik.
(Aduh, ini dua cowok ganteng kenapa malah bengong sih? Ngeliatin gue nya biasa aja dong, berasa kayak lagi diinterogasi polisi gara-gara gak pakai helm. Pegel nih punggung gue berdiri mulu dari tadi!)
Uhuk. Xie Jian berdeham pelan, berusaha mengalihkan perhatian agar tawanya tidak menyembur. Dia sekarang seratus persen yakin bahwa suara berisik itu adalah isi pikiran adiknya. Tapi, istilah apa lagi itu? Polisi? Helm? Pemuda itu benar-benar dibuat sakit kepala oleh kosakata asing dari kepala adiknya.
Pangeran Mo Cheng mengetukkan jari panjangnya ke atas meja kayu, menciptakan ketukan ritmis yang mengintimidasi.
"Nona Xie," suara Mo Cheng terdengar berat dan dingin, menggema di ruangan. "Kau baru saja tersadar dari pingsan setelah tenggelam di kolam istana. Apakah kau ingat siapa yang mendorongmu?"
Yufei langsung memasang ekspresi sedih dan ketakutan. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membuat tubuhnya sedikit bergetar agar terlihat rapuh.
"Menjawab Yang Mulia Pangeran... Yufei tidak ingat jelas. Saat itu ingatan Yufei sangat kabur, dan kepala Yufei masih terasa sangat sakit saat mencoba mengingatnya," ucap Yufei dengan nada suara yang bergetar penuh drama. Akting gue sepuluh per sepuluh! Pasti mereka kasihan, pikirnya percaya diri.
Namun, di dalam kepala Pangeran Mo Cheng, Xie Jian, dan Xiao Mei, suara asli Yufei justru sedang berteriak dengan nada menggebu-gebu:
(Ya kali gue bilang kalau yang dorong itu Putri Mahkota kesayangan Kaisar! Gue kan anak baru di zaman ini, belum punya bekingan! Kalau gue cepu sekarang, yang ada besok pagi kepala gue udah menggelinding di pasar. Main aman dulu, Bos! Tarik ulur sampai gue nemu cara buat bales dendam diam-diam!)
Mendengar frasa "anak baru", "cepu", dan "bekingan", alis Pangeran Mo Cheng bertaut. Walau dia tidak paham kata-kata aneh itu, dia menangkap maksud intinya: Yufei tahu siapa pelakunya, tetapi gadis ini sengaja berbohong demi melindungi lehernya sendiri.
Sudut bibir Pangeran Mo Cheng sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang terlihat sangat berbahaya bagi siapa pun yang melihatnya. Dia memutuskan untuk mempermainkan gadis kecil ini.
"Oh? Kau tidak ingat?" Mo Cheng bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mendekati ranjang Yufei. Jubah hitamnya berkibar rendah, membawa hawa dingin yang pekat. "Sayang sekali. Padahal, aku berniat memberikan hukuman mati bagi siapa saja yang berani menyentuh anggota keluarga Jenderal Xie. Karena kau tidak ingat, mari kita lupakan saja masalah ini."
Wajah luar Yufei tampak pasrah dan mengangguk patuh. "Yufei berterima kasih atas kebaikan Yang Mulia."
Tetapi di dalam kepalanya, jeritan Yufei langsung meledak frustrasi:
(HEH! KOK GITU SIHH?! Gak ada niatan buat selidiki kek, pasang CCTV kek, atau minimal kasih gue kompensasi duit gitu?! Gila ya, katanya jenderal perang nomor satu, masa dapet jawaban 'nggak tahu' langsung nyerah?! Payah banget ini Pangeran Es! Muka aja yang sangar, aslinya males gerak! Padahal kalau dia mau selidiki sedikit aja, bakal ketahuan tuh busuknya si lampir istana itu!)
Pfftt....
Xie Jian buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Wajah sang kakak sudah memerah padam karena menahan tawa yang luar biasa hebat.
CCTV? Lampir istana? Sungguh, dia tidak tahu dari mana adiknya mendapatkan kata-kata sekocak ini, tetapi mendengar adiknya mengatai Pangeran Mo Cheng yang ditakuti seluruh negeri sebagai 'Pangeran Es yang males gerak' benar-benar ujian terberat bagi ketahanan mentalnya sebagai seorang prajurit.
Pangeran Mo Cheng menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Yufei. Rahangnya mengeras. "Berani sekali gadis ini mengataiku payah dan males gerak?!"
Mo Cheng sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Yufei, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat hingga Yufei bisa mencium aroma kayu cendana yang maskulin dari tubuh sang Pangeran.
"Nona Xie, wajahmu terlihat sangat merah. Apakah kau sedang mengumpat di dalam hatimu?" bisik Mo Cheng dengan nada mengancam yang teramat rendah.
Yufei tersentak kaget, matanya membelalak menatap wajah tampan Mo Cheng yang berada begitu dekat dengannya. Jantungnya mendadak berdegup kencang, bukan karena romantis, melainkan karena takut ditebas di tempat.
"Y-Yang Mulia salah paham... Yufei tidak berani," jawab Yufei terbata-bata, mencoba mundur selangkah dengan sopan.
Namun hatinya langsung histeris tak terkontrol:
(ANJIRRR!! Kok dia bisa tahu?! Ini pangeran punya ilmu kuno pembaca pikiran apa gimana?! Gila, mukanya deket banget, gantengnya makin gak masuk akal! Bulu matanya lentik banget, kalah bulu mata palsu cewek-cewek Citayam Fashion Week! Jantung gue mau copot, tolong!! Kakak... tolongin gue, Kak! Pangerannya mau mangsa adikmu yang imut ini!!)
Xie Jian yang mendengar namanya dipanggil di dalam hati Yufei, langsung tersadar dari aksi menahan tawanya. Dia buru-buru maju dan berdiri di antara Mo Cheng dan Yufei, mencoba menyelamatkan adiknya sebelum Pangeran Mo Cheng benar-benar meledak karena kesal terus-menerus dikomentari di dalam hati.
"Yang Mulia Pangeran, adik hamba baru saja sadar dan kondisinya masih sangat lemah. Mohon ampuni kelancangannya jika sikapnya kurang berkenan," ucap Xie Jian sambil membungkuk memberi hormat, matanya memberi kode memohon kepada Mo Cheng.
Pangeran Mo Cheng perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Dia melirik Xie Jian, lalu beralih menatap Yufei yang sekarang sedang menunduk sambil meremas ujung bajunya, memasang tampang paling tertindas sedunia.
Imut? Cewek Citayam? Mo Cheng menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan sarafnya yang mendadak kacau karena suara batin Yufei.
"Baiklah. Karena Wakil Jenderal Xie sudah memohon, aku akan membiarkanmu beristirahat hari ini," ujar Mo Cheng dingin. Dia berbalik, bersiap untuk pergi. Namun sebelum melangkah keluar pintu, dia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Nona Xie, jaga kesehatanmu. Istana ini penuh dengan 'psikopat', kau harus berhati-hati."
Setelah mengucapkan kalimat aneh itu, Pangeran Mo Cheng melangkah pergi diikuti oleh Xie Jian yang buru-buru menyusul di belakangnya.
Di dalam kamar, Yufei masih mematung di tempatnya. Otak modernnya mendadak blank.
(Tunggu... barusan dia bilang apa? Psikopat?! Kok dia bisa tahu kata psikopat?!) batin Yufei berteriak bingung, sementara Xiao Mei yang berada di sudut kamar hanya bisa memandangi nonanya dengan tatapan penuh rasa kasihan bercampur ngeri.