NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Kevin

"Kenapa dilihatin terus? Mulai terpesona ya sama kegantengan gue?" sindir Kevin yang masih sibuk memeriksa kaki Valen.

"Idiiih... PD amat sih jadi orang!" bantah Valen yang langsung menyembunyikan wajahnya dengan berpaling menatap hamparan malam.

Kevin hanya tersenyum melihat gadis didepannya yang sedang salah tingkah. Kemudian, suasana di balkon lantai dua malam itu mendadak hening, hanya diselingi desir angin malam yang membawa aroma samar kayu manis dan ketukan pelan dedaunan dari taman belakang. Cahaya lampu balkon yang temaram menimpa garis wajah Kevin yang tampak begitu fokus. Jemari tangannya yang panjang dan hangat bergerak cekatan namun ekstra hati-hati, memoleskan salep pereda memar tipis-tipis di atas kulit pergelangan kaki Valen.

"Masih nyeri pas gua tekan di bagian sini?" tanya Kevin pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki Valen.

"Sedikit," bisik Valen jujur. Matanya tak sanggup bergeming dari raut serius Kevin. Hilang sudah cengiran jahil dan aura godaannya yang biasanya memancing emosi yang tersisa hanyalah kepiawaian seorang dokter bedah yang benar-benar memprioritaskan keselamatan pasiennya. "Tapi... jauh mendingan dibanding malam pertama."

"Baguslah. Artinya ligamen kamu responsif sama penanganan awal," gumam Kevin. Ia lalu mengambil gulungan elastic bandage yang baru, mulai membalutnya kembali dengan teknik angka delapan yang presisi. "Tapi tetap ingat, jangan dipake manjat-manjat tangga atau sok kuat jalan cepat dulu. Kamu itu calon dokter, harusnya paham fase pemulihan jaringan."

"Tahu, kok. Cuma bosen banget di kamar terus, terus gue persiapan untuk wisuda, juga kan" keluh Valen, mencoba mengalihkan rasa gugup yang menjalar tiap kali ujung jemari Kevin menyentuh kulitnya.

Kevin terkekeh pelan, mengikat ujung perban dengan rapi lalu menepuk pelan paha Valen. "Bosan itu bagian dari terapi. Nih, dimakan martabaknya sebelum dingin. Gua tahu anak kedokteran kalau lagi stres butuh asupan gula berlebih."

Valen meraih kotak martabak manis yang disodorkan Kevin, lalu membukanya. Aroma keju dan cokelat lumer langsung menyeruak, membuat perutnya yang belum terisi makan malam berbunyi pelan.

"Gengsi boleh tinggi, tapi perut emang nggak bisa bohong ya," ledek Kevin seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Valen dengan binar jenaka di matanya.

"Ih, Kevin! Diam nggak!" pekik Valen menahan malu, langsung menyuapkan sepotong martabak ke mulutnya untuk menyumbat kekesalannya sendiri.

Kevin menyunggingkan senyum tipis, memperhatikan bagaimana pipi Valen mengembung saat mengunyah. Ada rasa hangat yang tak biasa mengaliri dadanya tiap kali melihat kepolosan dan ekspresi blak-blakan gadis di depannya ini. Sangat kontras dengan rutinitas dingin dan kaku yang sehari-hari ia jalani di meja operasi.

"Sebenarnya... ngapain loe malam-malam ke sini, Kev?" tanya Valen akhirnya setelah menelan makanannya, menatap Kevin dengan tatapan penuh selidik namun ada guratan penasaran di sana. "Maksud gue, loe kan dokter spesialis bedah yang jadwalnya padat banget. Masa sempat-sempatnya mampir cuma buat nganterin martabak dan gantiin perban cewek yang baru loe kenal?"

Kevin memiringkan posisinya, menopang dagu dengan satu tangan sembari mengunci pandangan Valen. "Kalau gua bilang gua datang karena kepikiran terus dari kemarin, percaya nggak?"

Jantung Valen rasanya seperti melompat satu kali. Ia terdiam, memegangi kotak martabak di pangkuannya dengan pegangan yang makin erat. "Ngaco. Loe pasti cuma mau ngetes mental gue, kan?"

"Gua serius, Valen," potong Kevin dengan nada suara yang mendadak dalam dan pelan, membuat suasana bercanda di antara mereka menguap begitu saja. "Loe beda dari cewek-cewek atau junior lain yang pernah gua temui di rumah sakit. Loe berani, galak, tapi jujur banget sama perasaan loe sendiri. Dan jujur aja... gua suka itu."

Ruang di balkon itu mendadak terasa begitu sempit. Valen bisa merasakan degup jantungnya sendiri bergemuruh hebat di dalam dada. Wajahnya dipastikan sudah memerah sempurna di bawah pendar lampu balkon.

Sebelum Valen sempat menyusun kata-kata untuk membalas, suara langkah kaki dari dalam kamar mengejutkannya. Pintu kaca balkon diketuk pelan dari dalam, lalu tergeser terbuka. Ibunda Valen berdiri di sana dengan mengulum senyum penuh arti sembari memegang nampan berisi dua cangkir teh hangat.

"Tante bawa teh manis hangat buat Nak Kevin," ujar Ibunda Valen ramah. "Gimana kondisi kaki Valen, Dokter? Sudah aman, kan?"

Kevin langsung berdiri dengan sopan dan menyapa hangat. "Sangat bagus, Tante. Pembengkakannya sudah jauh berkurang. Tiga atau empat hari lagi sudah bisa beraktivitas normal, asal tetap hati-hati."

"Duh, terima kasih banyak ya, Nak Kevin. Sampai repot-repot malam begini datang periksa," ucap Ibunda Valen sembari meletakkan cangkir di meja kecil balkon, lalu melirik putrinya yang masih salah tingkah. "Valen ini memang dari kecil batu banget kalau dibilangin. Harusnya Dokter Kevin sering-sering sidak begini biar dia nurut."

"Bunda...!" protes Valen dengan nada merajuk, makin memperjelas rona merah di pipinya.

Kevin dan Ibunda Valen tertawa bersama. "Siap, Tante. Saya dengan senang hati bakal rutin sidak," sahut Kevin melirik Valen dengan kedipan mata yang penuh makna ganda.

Setelah mengobrol sebentar dengan Ibunda Valen yang kemudian pamit turun kembali ke lantai bawah, Kevin meraih cangkir tehnya, menyesapnya perlahan, lalu melirik jam tangan peraknya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.

"Gua harus balik ke rumah sakit, ada jadwal operasi darurat jam sebelas nanti," pamit Kevin seraya merapikan peralatan medis kecil yang dibawanya.

Valen ikut berdiri, walau masih agak bertumpu pada satu kaki. "Loe... mau langsung ke RS? Maksud gue, loe nggak capek?"

Kevin menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Valen dengan ukiran senyum paling hangat yang pernah Valen lihat dari pria itu. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi maskulinnya menyergap indra penciuman Valen.

"Tadinya capek," bisik Kevin pelan, mengusap puncak kepala Valen dengan lembut hingga helai-helai rambut gadis itu sedikit berantakan. "Tapi setelah lihat muka merah kamu dan mastiin kamu baik-baik saja, energi gua rasanya balik seratus persen."

Valen mematung di tempatnya, tak sanggup menepis usapan tangan Kevin di kepalanya.

"Besok malam gua telfon," lanjut Kevin seraya melangkah mundur menuju tangga balkon. "Awas kalau nggak diangkat, Pasien."

Dengan gerakan lincah dan santai, Kevin menuruni tangga besi balkon menuju taman belakang, meninggalkan Valen yang masih berdiri terpaku di tepi pagar balkon. Valen memegangi dadanya yang berdegup kencang, menatap punggung jangkung Kevin yang menghilang di balik kegelapan taman malam itu dengan senyuman yang kini tak bisa lagi ia sembunyikan.

Hening malam di balkon lantai dua itu terasa makin riuh oleh detak jantung Valen yang belum juga reda. Jemarinya meraba puncaknya sendiri, seolah bekas usapan lembut Kevin masih tertinggal di helai-helai rambutnya.

"Gila... dokter itu beneran gila," gumam Valen pelan, berusaha mengontrol deru napasnya.

Ia memandangi kotak martabak manis di atas meja kecil yang kini sudah tak lagi utuh. Potongan keju-cokelat yang tadi terasa sangat lezat, kini berubah jadi pengingat betapa mahirnya Kevin membuat pertahanannya runtuh hanya dalam hitungan menit.

Dengan melangkah pelan dan hati-hati, Valen menyeret kakinya kembali masuk ke dalam kamar. Pintu kaca balkon ia geser rapat-rapat, mengunci udara dingin luar yang seolah masih menyimpan aroma parfum maskulin Kevin. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, suara ketukan pintu kamar membuatnya menoleh.

Ibunda Valen masuk membawa nampan berisi cangkir teh yang sudah kosong, matanya memancarkan binar menggoda yang sangat familiar.

"Masih kerasa sakit kakinya, atau..." sang Bunda sengaja menggantung kalimatnya, jalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang, "...hati kamu yang lagi cenat-cenut?"

"Bunda, please deh," keluh Valen sembari menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. "Kevin itu cuma kasihan sama Valen. Dia kan dokter, udah kewajibannya nanganin pasien."

"Dokter spesialis bedah mana yang rela menerobos macet cuma buat nganterin martabak dan gantiin perban cewek yang baru dikenal di luar jam dinas, Nak?" goda Ibunda seraya mengusap dahi putrinya. "Bunda ini pernah muda, Valen. Tatapan mata Dokter Kevin tadi itu bukan tatapan dokter ke pasiennya."

Valen tidak membalas. Ia memilih makin menyembunyikan wajahnya di balik selimut, meski tidak bisa memungkiri kalau perkataan Bundanya menusuk tepat di sasaran.

Keesokan harinya berjalan sangat lambat bagi Valen. Seharian ia hanya berkutat dengan laptopnya. Setiap kali ponselnya bergetar notification, matanya refleks menyambar layar, berharap menemukan nama tertentu di sana.

Hingga malam kembali menyapa. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.

Bzzzt... Bzzzt...

Layar ponsel Valen menyala. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang belum tersimpan, namun nomor belakangnya sangat mudah dihafal.

Valen menarik napas panjang, menepuk-nepuk kedua pipinya agar tidak terdengar terlalu antusias, lalu menggeser tombol hijau.

"Halo?" sapanya sebisa mungkin dipasang nada seformal mungkin.

Suara helaan napas lega terdengar di seberang telepon, diselingi bunyi samar monitor medis dan pengumuman intercom rumah sakit di latar belakang.

"Lagi apa, Pasien? Nggak lupa minum obatnya, kan?" suara Kevin menyapa, terdengar agak serak dan lelah, namun tetap menyelipkan nada jahil yang khas.

"Baru selesai ngetik laporan," jawab Valen seraya menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Loe... baru selesai operasi?"

"Yoyoi. Operasi laparoskopi tiga jam penuh baru beres. Otak gua rasanya mau pecah," sahut Kevin. Dengar dari suaranya, sepertinya pria itu sedang berjalan menuju ruang istirahat dokter. "Tapi gua udah janji kan mau telfon malam ini? Lagian gua nggak mau dicap pemberi harapan palsu."

Valen terkekeh pelan, rasa canggung yang sempat menggebu perlahan terkikis oleh suara hangat Kevin. "Siapa juga yang berharap? Dasar PD."

"Buktinya telfon gua langsung diangkat dalam hitungan detik. Udah nungguin dari tadi ya?"

"Gua cuma lagi pegang HP, Kev! Jangan mulai deh," semprot Valen, walau wajahnya kembali memerah sendirian di dalam kamar.

Di seberang sana, Kevin tertawa renyah suara tawa yang perlahan berubah menjadi kekehan lembut. "Gua kangen, Len."

Kata-kata singkat itu terlontar begitu saja, lugas dan tanpa basa-basi. Menyapu bersih argumen Valen yang baru saja hendak disusun.

Suasana di saluran telepon itu mendadak hening sejenak. Hanya ada deru napas halus dari kedua belah pihak.

"Kev... loe lagi cape banget ya makanya ngomongnya sembarangan?" bisik Valen pelan, dadanya kembali berdegup kencang.

"Gua serius," potong Kevin mantap, hilangnya nada bercanda dari suaranya. "Gua capek habis berdiri jam-jaman di kamar operasi, tapi pikiran gua dari tadi sore cuma tertuju ke satu tempat. Ke balkon lantai dua rumah loe. Gua mau mastiin keadaan loe, Len."

Valen menggigit bibir bawahnya, meremas ujung sprei tempat tidurnya. "Gue... gue baik-baik aja. Kaki gue udah nggak terlalu nyeri."

"Bukan cuma soal kaki loe," lanjut Kevin, terdengar suara pintu ditutup pelan, menandakan pria itu sudah berada di ruangan yang lebih tenang. "Soal ucapan gua semalam. Gua nggak main-main pas bilang gua suka sama keberanian dan kejujuran loe. Besok malam gua libur jaga. Gua mau ajak loe jalan, bukan sebagai dokter dan pasien, tapi sebagai Kevin dan Valen. Loe mau?"

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!