Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkit kembali
“Selamat pagi!”
Vara menyapa seluruh karyawan restoran yang sudah berkumpul. Hari ini, ia sengaja tidak pergi ke perusahaan karena ingin fokus membenahi restoran yang diwariskan oleh kedua orang tuanya.
“Pagi, Bu Vara!” jawab para karyawan serempak. Wajah mereka tampak antusias melihat Vara kembali memimpin restoran.
Vara tersenyum lembut. Ia memandang satu per satu karyawan yang selama ini harus menghadapi berbagai tekanan selama Diana mengelola restoran tersebut.
“Pertama-tama, saya ingin meminta maaf kepada kalian karena selama ini kalian harus bekerja di bawah tekanan akibat perlakuan Ibu mertua saya.” Vara menundukkan kepalanya dengan hormat. “Saya tahu kalian sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi kalian justru sering dimarahi dan disalahkan. Saya benar-benar minta maaf karena kalian harus mengalami semua itu.”
Para karyawan saling pandang. Beberapa dari mereka tampak terharu mendengar permintaan maaf Vara.
“Tapi, kalian tenang saja. Saya sudah mengambil alih kembali pengelolaan restoran ini. Mulai sekarang, saya sendiri yang akan mengurusnya.”
“Yeay!”
Seruan gembira langsung terdengar dari para karyawan.
Vara tersenyum melihat antusiasme mereka.
“Terima kasih atas semangat kalian. Saya juga berterima kasih karena kalian tetap bertahan meskipun menghadapi banyak kesulitan. Saya tahu tidak mudah bekerja dalam keadaan seperti itu.”
Vara berhenti sejenak sebelum kembali berbicara.
“Baiklah, mulai hari ini kita akan bekerja sama untuk menghidupkan kembali restoran ini. Saya ingin mengembalikan kualitas makanan dan pelayanan seperti sebelumnya. Saya juga ingin pelanggan yang datang ke sini kembali merasa puas.”
“Siap, Bu Vara!” jawab mereka serempak.
Vara mengangguk dengan puas.
“Sekarang, saya ingin semua kepala bagian berkumpul untuk membahas kondisi restoran. Kita harus mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki sebelum kembali menerima pelanggan.”
Ia kemudian menoleh kepada Azka.
“Azka, bagaimana kondisi persediaan bahan makanan kita sekarang?”
Azka segera menjawab, “Sebagian bahan masih tersedia, Bu. Tapi untuk bahan premium, stoknya sudah banyak berkurang. Beberapa bahan yang dibeli sebelumnya juga tidak bisa digunakan karena kualitasnya tidak sesuai standar restoran kita.”
Vara mengerutkan kening.
“Kalau begitu, segera periksa semua persediaan. Pisahkan bahan yang masih layak digunakan dan singkirkan bahan yang sudah tidak memenuhi standar. Jangan sampai kita mengorbankan kualitas makanan hanya demi menghemat biaya.”
“Baik, Bu.”
“Untuk bahan yang kurang, buat daftar kebutuhan lengkap. Saya ingin kita kembali menggunakan bahan premium seperti sebelumnya. Kalau ada kendala soal anggaran, langsung laporkan kepada saya.”
“Baik, Bu Vara. Saya akan mengurusnya.”
Vara kemudian menoleh kepada Kania.
“Kania, bagaimana dengan para chef?”
“Mereka siap kembali bekerja sesuai standar sebelumnya, Bu. Mereka juga sudah membuat daftar bahan yang dibutuhkan untuk mengembalikan menu andalan restoran.”
“Bagus. Tolong koordinasikan dengan Azka supaya semua kebutuhan mereka terpenuhi.”
“Siap, Bu!”
Setelah membahas persediaan bahan makanan, Vara meminta Sonya menjelaskan kondisi keuangan restoran.
Sonya membuka dokumen yang dibawanya.
“Pendapatan restoran menurun cukup drastis dalam beberapa waktu terakhir, Bu. Banyak pelanggan tetap yang mulai berkurang, sementara keluhan tentang kualitas makanan terus bertambah.”
Vara menghela napas pelan.
“Baik. Kita akan memperbaikinya secara bertahap. Untuk sekarang, saya ingin memusatkan perhatian pada kualitas makanan dan pelayanan. Setelah itu, kita perlu membuat pelanggan tahu bahwa restoran ini kembali dikelola seperti semula.”
Vara kemudian mengambil ponselnya dan membuka akun media sosial restoran.
“Kita juga perlu melakukan promosi.”
Ia menatap salah satu karyawan yang bertanggung jawab atas media sosial.
“Saya ingin kalian membuat konten promosi untuk memperkenalkan kembali restoran ini. Tampilkan hidangan andalan kita, bahan-bahan berkualitas yang digunakan, serta suasana restoran. Pastikan foto dan videonya menarik, tetapi tetap sesuai dengan kondisi sebenarnya.”
“Baik, Bu Vara. Kami akan menyiapkannya.”
“Unggah pengumuman bahwa besok restoran akan kembali dibuka. Kita juga akan memberikan diskon besar untuk menyambut pelanggan.”
Mendengar itu, beberapa karyawan langsung terlihat bersemangat.
“Diskon berapa, Bu?” tanya salah satu dari mereka.
Vara berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Kita berikan diskon lima puluh persen untuk menu-menu pilihan selama hari pembukaan kembali. Buat ketentuannya dengan jelas supaya pelanggan mudah memahaminya. Pastikan juga kita sudah menghitung biayanya agar promosi ini tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kualitas bahan makanan.”
“Baik, Bu!”
“Jangan lupa sertakan informasi bahwa pelanggan bisa kembali menikmati hidangan dengan kualitas seperti sebelumnya. Saya ingin mereka punya alasan untuk datang kembali, bukan sekadar karena diskon.”
Vara lalu memandang seluruh karyawan.
“Namun, sebelum itu, hari ini restoran akan kita tutup sementara. Saya ingin semua bagian punya waktu untuk membereskan masalah yang ada. Kita periksa dapur, persediaan bahan, kebersihan, pelayanan, sampai kesiapan setiap menu.”
Ia berbicara dengan tegas, tetapi tetap tenang.
“Saya tidak ingin kita terburu-buru membuka restoran hanya demi mendapatkan pemasukan. Besok, saat pelanggan kembali datang, saya ingin mereka merasakan perbedaannya.”
“Baik, Bu Vara!” jawab para karyawan serempak.
Vara tersenyum puas.
“Kalau begitu, mari kita mulai bekerja. Azka, urus persediaan bahan. Kania, koordinasikan dengan para chef dan pelayan. Sonya, pastikan anggaran untuk kebutuhan hari ini sudah diperhitungkan. Tim promosi, segera siapkan konten dan pengumuman pembukaan kembali.”
“Siap, Bu!”
Para karyawan langsung bergerak menjalankan tugas masing-masing. Suasana restoran yang sebelumnya dipenuhi kecemasan kini perlahan berubah menjadi sibuk dan penuh semangat.
Vara berdiri di tengah restoran, memperhatikan setiap sudut tempat yang begitu berarti baginya.
Restoran ini bukan sekadar bisnis. Tempat ini merupakan salah satu peninggalan kedua orang tuanya, sesuatu yang harus ia jaga dengan tangannya sendiri.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya lagi.
“Daddy, Mommy," gumam Vara dalam hati, menatap sekeliling dengan tekad yang semakin kuat. “Aku akan mengembalikan restoran ini seperti semula. Aku nggak akan membiarkan warisan kalian hancur begitu saja.”