Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Kontak Senjata
Laki-laki gagah dengan postur tegap berusia 52 tahun itu berjalan mendekati Sagara. Sosok jenderal bintang 3 yang hanya Sagara lihat di layar televisi. Kini berdiri di depannya. Sosok itu adalah Konjen Pol. Faza Idam Manggala. Sosok yang menaruhkan luka di relung hatinya, kini berdiri tegak di hadapannya. Wajah yang selalu Sagara ingat mulai sejak kecil.
"TNI AD, Satgas Pamtas RI-Malaysia, Jenderal!" seru Sagara tegas, suaranya baritonnya memecah keheningan malam. namun dengan volume yang terjaga agar tidak bocor ke luar perimeter.
"Kapten Sagara Danendra?" tanya Faza dengan suara dan tatapan penuh intimidasi, yang sanggup membuat lutut perwira biasa gemetar.
"Siap, betul, Jenderal!" Sagara memberikan hormat tegak yang sempurna. Yang dibalas dengan hormat dan anggukan kaku oleh sang Komjen.
“Bagaimana bisa satu regu Satgas perbatasan berada di zona merah sedalam ini pada malam hari, Kapten?" tanya Faza tanpa basa-basi sambil mengawasi sekitar.
Sagara masih terdiam di tempat sama. Tubuhnya yang tegap dan gagah kini harus berhadapan langsung dengan jenderal bintang tiga kepolisian.
"Tim taktis Bareskrim saya sudah mengintai jalur tikus di punggungan bukit sebelah selama dua hari,” ucap Faza menekan suaranya.
“Kelompok penyelundup internasional yang kami buru dari Jakarta sedang bergerak ke arah hulu ini untuk melarikan diri melintasi batas negara. Dan seluruh komunikasi di sektor ini sengaja mereka matikan dengan signal jammer,” jelas Faza tentang apa yang terjadi saat ini sesuai dengan dugaan Sagara.
“Dan lebih gilanya lagi saya menemukan keberadaan dokter perempuan berada di zona berbahaya.”
"Saya sedang mengobati Ketua Adat yang tengah kritis, Yah. Ini tugas kemanusiaan,” potong cepat Alunar agar kesalahan yang terjadi tidak ditumpukan pada Sagara.
Kini, senyum Faza terangkat saat mendengar penuturan putri tercintanya yang terang-terangan membela pemuda di hadapannya. Jika sudah urusan dengan putrinya. Maka, Faza harus menekan emosi. Meskipun saat ini emosinya hampir meledak saat keselamatan putrinya terancam.
"Kapten Sagara, dengarkan saya baik!”
“Siap, Jenderal.”
"Kelompok kriminal internasional yang kami kejar bersenjata lengkap dan mereka sedang menuju ke titik koordinat ini. Saya sudah menitipkan keselamatan putri saya ke markas pos Anda melalui perintah komando pusat karena saya tahu sektor ini rawan. Dan sekarang, dia berada di tengah pusaran operasi baku tembak karena Anda mengizinkannya masuk ke hutan malam-malam tanpa koordinasi!”
“Ayah…” Suara Alunar tertahan saat tangan Faza terangkat menahan dirinya.
Sagara tidak mundur satu senti pun. Ia menegakkan bahunya, membalas tatapan Kabareskrim itu dengan ketegasan mutlak seorang Danki Satgas yang memegang hukum tertinggi di lapangan operasi.
"Siap, salah, Jenderal. Saya tidak mengizinkan dokter Alunar berjalan sendiri. Kami memberikan pengawalan dan juga tim," jawab Sagara tegas tanpa keraguan sedikitpun.
"Warga pedalaman membutuhkan pertolongan medis darurat dan itu adalah hak mereka sebagai warga negara di garis batas. Tugas pasukan saya adalah membuka jalan dan melindungi dokter Alunar,” jawab Sagara.
“Jika kelompok internasional itu berani menginjakkan kaki di wilayah taktis Kotis saya. Maka mereka tidak hanya berurusan dengan Bareskrim, tapi mereka harus melewati barisan senapan serbu kompi saya terlebih dahulu!” jelas cepat Sagara pada Faza.
Mendengar jawaban berani dari perwira muda berusia 28 tahun di depannya, membuat Faza tertegun sejenak. Keberanian dan rasa tanggung jawab Sagara yang tanpa kompromi membuat sudut bibir sang Jenderal senior terangkat tipis. Sebuah pengakuan dan rasa hormat yang sangat langka dari seorang Kabareskrim kepada nyali baja seorang Kapten Infanteri.
Darr…! Darr..!
Namun, momen ketegangan itu pecah berantakan saat suara tembakan menyalak membelah kegelapan hutan dari arah bukit belakang desa.
"Kapten Sagara! Operasi ini di bawah wewenang Bareskrim! Amankan putri saya dan mundur!" seru Faza di sela suara desingan peluru.
Bukannya mundur mengikuti perintah dari Faza. Sagara memilih mengganti magasin senapannya dengan bunyi klik yang tegas, lalu menatap sang Jenderal.
"Izin, Jenderal! Musuh sudah menginjakkan kaki dan menembak di sektor hukum Poskotis saya! Sesuai Protap Satgas Pamtas, wilayah ini adalah tanggung jawab komando saya. Detik ini juga, pasukan saya bergabung dengan Anda.”
Operasi gabungan darurat TNI-Polri di tengah malam Nunukan resmi dimulai dengan desingan peluru.
Dar! Dar!
Tar-tar-tar!
Suara tembakan beruntun membelah kegelapan. Tidak hanya fokus ke serangan. Melainkan juga keselamatan warga dan tentunya Alunar yang kini terjebak di area tengah serangan.
"Tiaraap!" teriak Sagara menggelegar memotong suara desingan peluru.
Tanpa ragu Sagara menyambar bahu Alunar dan menekannya jatuh ke lantai. Tubuh tegap Sagara merapat menjadikan tameng hidup tepat di atas tubuh Alunar.
Alunar memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Kedua tangannya meremas kuat seragam loreng yang dikenakan Sagara. Untuk pertama kalinya, Alunar mendengar detak jantungnya sendiri berpacu hebat dengan suara desiran peluru di sekitarnya.
Saat kedua matanya kembali terbuka sempurna. Dirinya menatap sosok laki-laki selain ayah dan kedua adik laki-lakinya dalam jarak dekat. Sangking dekatnya hingga membuat Alunar mampu menghirup nafas milik Sagara.
“Sertu Oka! Amankan dokter Alunar ke sudut kamar paling dalam! Jangan ada yang keluar sampai saya beri perintah!" instruksi Sagara menyadarkan Alunar dari fokusnya terhadap laki-laki itu.
"Siap, laksanakan, Komandan!" Oka merangkak cepat, menarik lengan Alunar yang masih fokus pada Sagara untuk masuk kembali ke dalam rumah kepala desa.
Setelah Alunar aman di dalam rumah kepala desa. Sagara langsung membalikkan tubuhnya, melompat turun dari undakan tangga kayu dan mengambil posisi tiarap di balik batang pohon raksasa di halaman.
“Ambil alih sayap kanan! Tim taktis Bareskrim saya akan mengunci sektor kiri dan memotong jalur pelarian mereka ke perbatasan!" perintah Faza memberikan komando operasi gabungan darurat kepada Sagara.
“Siap, dimengerti, Jenderal!”
Saat ini Sagara mengenyampingkan dendam dan rasa bencinya pada Faza. Dirinya fokus dengan tugas dan juga tanggung jawab. Karena saat ini ada nyawa yang harus dirinya lindungi.
“Regu satu, dengar perintah! Ubah formasi menjadi taktis menjepit! Sektor kanan adalah milik kita. Pratu Maruli tekan musuh dengan tembakan perlindungan! Serma Bambang bawa sisa personel lambung kiri musuh dari belakang bukit!"
“Siap, dimengerti, Ndan! Bergerak!” jawab Maruli dan Bambang secara bersamaan.
Pertempuran malam itu berubah menjadi serangan taktis. Sindikat internasional yang mengira hanya akan berhadapan dengan tim pengejar Bareskrim. Kini justru terkejut karena harus terbentur barisan pertahanan gerilya satu regu TNI AD yang sudah menguasai medan hutan Nunukan.
Maruli melepaskan tembakan bertubi-tubi, mengalihkan perhatian musuh. Di saat bersamaan Faza bersama tim taktis hitamnya bergerak maju dengan menyerbu jarak dekat yang sangat rapi.
Menembak mati dua orang penembak depan musuh yang mencoba mendekati rumah ketua adat.
Sagara mengintip dari balik bidikan optik senapan. Di bawah pendaran peluru yang sesekali membelah malam, ia melihat seorang musuh mencoba melempar granat asap untuk mengaburkan pandangan aparat.
“Tembak!” Sagara menarik pelatuknya. Menjatuhkan target sebelum granat itu sempat terlepas dari tangan musuh.
Dari arah belakang bukit, kejutan meluncur. Bambang yang sebelumnya terpencar setelah mendapat perintah dari Sagara. Bersama sisa regu muncul seperti hantu dari kegelapan belukar, melepaskan tembakan mendadak yang langsung memecah formasi bertahan sindikat internasional tersebut.
Musuh yang terjepit di antara barisan senapan TNI AD dan serbuan bersih Bareskrim mulai kocar-kacir. Mereka terpaksa mundur ke dalam kegelapan hutan yang lebih dalam. Meninggalkan beberapa rekannya yang telah terkapar. Sebagian lagi tertangkap oleh tim gabungan.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti berjam-jam. Akhirnya intensitas tembakan perlahan berkurang. Meninggalkan kepulan asap mesiu yang berbau menyengat.
"Sektor kanan bersih, Jenderal," lapor Sagara tegas sambil menurunkan senjatanya kepada Faza yang tengah mengecek musuh yang terkapar dan berhasil dilumpuhkan.
Faza menatap Sagara dengan pandangan yang kini sepenuhnya dipenuhi rasa hormat yang mendalam. Perwira muda di depannya ini baru saja membuktikan bahwa pangkat tiga balok berlis merah di kerahnya bukan sekadar hiasan, melainkan simbol dari kepemimpinan.
"Kerja bagus, Kapten. Korps infanteri pasti sangat bangga memiliki perwira seperti Anda," ucap Faza sambil menepuk pundak Sagara lalu menatap anak buahnya.
“Amankan mereka semua!”
“Siap, Jenderal.”
Setelah memberikan perintah pada anak buahnya. Faza tersadar jika di tempat itu ada Alunar. Sehingga dirinya bergegas masuk ke rumah kepala desa.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi