NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 03

Karina baru saja keluar dari minimarket dekat kosnya sambil membawa sekantong plastik berisi roti tawar dan telur, bekal seadanya untuk sarapan besok.

Ketika ia melihat sosok yang familiar berjalan pelan di seberang jalan, memikul tas sekolah yang tampak lebih berat dari biasanya karena ditumpangi kantong belanja lain di tangan satunya.

Karina menyeberang tanpa berpikir dua kali. "Eh, kamu tinggal di sekitar sini juga?"

Bram menoleh, lalu dengan sedikit terkejut buru buru memindahkan kantong belanjaannya ke tangannya yang lain, seolah ingin menyembunyikannya meskipun Karina sempat melihat isinya.

Terdapat beberapa bungkus mi instan, sebotol minyak goreng kecil, dan sekotak obat yang labelnya tidak terlalu jelas terbaca dari jarak itu.

"Nggak jauh dari sini." Jawabnya singkat, nada suaranya kembali seperti hari pertama mereka bertemu, berjaga jaga seolah setiap pertanyaan adalah pintu yang bisa dibuka orang lain untuk masuk terlalu dalam.

"Aku juga kos dideket sini, kebetulan banget ya." Ucap Karina mencoba terdengar santai.

Mereka berjalan searah untuk beberapa saat dalam diam, hanya suara langkah kaki dan deru motor yang lewat sesekali mengisi jeda di antara mereka.

Karina sengaja tidak memaksakan percakapan, ia belajar dari pengalaman singkatnya di dunia ini bahwa Bram bukan tipe orang yang bisa didekati dengan terburu-buru.

"Kamu masak sendiri?" Tanyanya sambil melirik kantong belanjaan di tangan Bram.

"Kadang." Jawabnya. Lalu entah kenapa ia menambahkan, "Nyokap kerja di luar kota. Jadi kalo lagi enggak kirim uang tepat waktu, ya masak seadanya aja."

Kalimat itu diucapkan begitu ringan, seolah sudah menjadi bagian dari rutinitas yang tidak perlu dikeluhkan lagi.

Tapi bagi Karina yang pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya harus menghitung setiap rupiah untuk bertahan hidup, seperti ada sesuatu yang menyayat di balik nada datar itu.

"Bokap?" tanya Karina hati-hati.

Bram terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Nggak ada."

Jawaban itu singkat, tapi cukup jelas maksudnya sehingga Karina tidak melanjutkan pertanyaan.

Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah gang kecil yang di ujungnya berdiri deretan rumah petak sederhana yang catnya sudah pudar dimakan usia.

"Gue di sini," Kata Bram, berhenti di depan salah satu rumah paling ujung dan rumah paling kecil di antara semuanya, dengan pagar besi yang sedikit berkarat dan lampu teras yang menyala redup meski hari belum sepenuhnya gelap.

"Oh." Karina mengangguk. "Kalo gitu aku duluan ya…. Hati-hati."

Ia sudah hendak berbalik ketika suara batuk dari dalam rumah membuat Bram tersentak, buru-buru membuka pintu pagar.

"Nenek?" Panggilnya, suaranya berubah drastis lebih cemas, lebih hidup dari nada datar yang biasa ia gunakan.

Karina, tanpa berpikir panjang, ikut mendekat. "Ada yang sakit?"

Bram tidak menjawab, langsung berlari masuk ke dalam rumah.

Karina mengikuti sampai ke ambang pintu dan di sana ia melihat seorang perempuan tua duduk di kursi kayu tua, terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya.

"Nenek kenapa?" Tanya Bram sambil berlutut di samping kursi dan memegangi kedua bahu perempuan itu.

"Nggak papa." Jawab si nenek dengan suara serak, meski wajahnya tampak pucat. "Cuma batuk biasa, kelamaan duduk nunggu kamu pulang."

"Udah minum obat?"

"Obatnya abis dari kemarin." Jawab neneknya sambil tersenyum tipis seolah mencoba menenangkan cucunya sendiri. "Enggak papa kok, cuma capek aja."

Karina berdiri di pintu, ragu apakah harus masuk lebih jauh atau membiarkan momen itu sepenuhnya privat.

Tapi begitu melihat Bram yang tampak kebingungan dengan satu tangan memegangi neneknya, satu tangan lagi mengaduk-aduk kantong belanjaan mencari obat yang jelas tidak ada di sana, ia akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk.

"Aku ada obat batuk di tas." Ucapnya sambil mengeluarkan sebotol kecil obat batuk herbal yang selalu ia bawa sejak kebiasaan lamanya bukan Alya.

Sisa sisa hidup sebagai anak panti yang harus siap sedia untuk anak-anak lain yang sering sakit mendadak. "Ini bisa dicoba dulu, sementara nanti cari yang lebih cocok di apotek."

Bram menoleh, tampak terkejut melihat Karina sudah berada di dalam rumah. "Lo... ngapain masuk?"

"Bantu." Jawab Karina simpel sambil menyodorkan botol obat itu. "Nggak papa kan?"

Untuk sesaat, Bram tampak ingin menolak yang terlihat dari garis wajahnya mengeras, seperti bagian dari dirinya masih enggan membiarkan orang lain melihat sisi hidupnya yang seperti ini.

Tapi tatapannya kembali kepada neneknya yang masih terbatuk batuk dan akhirnya ia menerima botol itu tanpa berkata apa apa lagi.

Malam itu, setelah memastikan nenek Bram sudah lebih tenang dan tertidur di kamarnya, Karina dan Bram duduk berhadapan di ruang tamu sederhana itu yang hanya diterangi satu bohlam yang cahayanya agak kekuningan.

"Thanks." Kata Bram yang akhirnya memecah keheningan. Suaranya lebih kecil dari biasanya, seperti kata itu jarang sekali ia ucapkan hingga terasa asing di lidahnya sendiri.

"Sama-sama." Jawab Karina sambil tersenyum. "Nenek kamu tinggal sendirian sama kamu di sini?"

Bram mengangguk. "Nyokap kerja jadi ART di Jakarta, pulangnya paling cuma pas lebaran. Bokap... gue nggak pernah kenal dia. Kata Nenek, dia pergi pas gue masih bayi."

"Berat juga ya" Gumam Karina, lebih pada dirinya sendiri.

"Nggak seberat yang orang-orang di sekolah pikir." Bram tertawa kecil, tapi tawa itu getir.

"Mereka pikir gue ini anak berandalan yang emang dari sananya suka bikin masalah. Nggak ada yang tau atau mungkin nggak ada yang mau tau, kalo tiap malem gue harus mikirin gimana caranya bayar listrik sama beliin obat buat Nenek."

"Kenapa kamu nggak pernah cerita ke orang lain?" Tanya Karina.

"Buat apa?" Bram balik bertanya dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. "Dulu gue pernah coba cerita waktu SMP. Malah dikasianin sama guru di depan kelas, terus jadi bahan omongan seisi sekolah. Sejak itu gue mikir mendingan diem aja. Orang boleh mikir gue jahat, daripada mikir gue kasian."

Kalimat itu menghantam Karina lebih keras dari yang seharusnya. Ia teringat masa-masa awal di panti, saat setiap kali seseorang tau kondisinya, tatapan mereka berubah.

Bukan lagi menatapnya sebagai Karina, melainkan sebagai "anak yatim piatu yang malang", seolah identitasnya menyusut menjadi satu label saja.

"Aku ngerti." Ucap Karina pelan.

"Ngerti gimana?" Bram menatapnya, ada sedikit nada skeptis di suaranya.

"Orang tuaku juga udah enggak ada." Jawab Karina, memilih untuk jujur meski ia tahu itu bukan sepenuhnya tentang tubuh Alya yang sekarang ia tempati, melainkan tentang dirinya sendiri, Karina yang asli.

"Aku besar di panti asuhan. Dan iya, aku juga pernah ngerasain gimana rasanya orang-orang mulai ngeliat aku bukan sebagai diri aku sendiri lagi, tapi sebagai orang yang harus dikasiani."

Bram terdiam, menatapnya dengan ekspresi yang berubah, bukan lagi curiga atau defensif, melainkan sesuatu yang lebih dekat pada pengakuan bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar mengerti tanpa perlu penjelasan panjang lebar.

"Mangkannya lo nggak kayak yang lain." Gumamnya. "Nggak nanya-nanya buat kasian. Tapi karna emang mau tau."

"Karna aku emang mau tau." Ulang Karina sambil tersenyum tulus.

Mereka duduk dalam diam sejenak, tapi kali ini keheningan itu terasa berbeda, bukan lagi jarak yang canggung, melainkan semacam kenyamanan kecil yang baru pertama kali dirasakan Bram sejak entah kapan.

"Lo harus pulang." Kata Bram sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan. "Kos lo jauh nggak dari sini?"

"Nggak terlalu kok." Jawab Karina sambil berdiri.

"Besok kamu bawa obat yang lebih lengkap buat Nenek ya. Kalo butuh, aku bisa bantu cariin info apotek yang jual obat generik lebih murah, dulu aku juga sering bantu-bantu orang panti belanja obat."

Bram menatapnya sesaat, lalu mengangguk pelan. "Thanks Al."

Nama itu nama yang bukan sepenuhnya milik Karina itu terdengar aneh di telinganya sendiri, tapi ia hanya tersenyum dan melambai sebelum keluar dari rumah kecil itu.

Meninggalkan Bram yang masih berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya menjauh dengan ekspresi yang tidak lagi sepenuhnya dingin.

Sesampainya di kamar kos, Karina merebahkan diri di kasur tipisnya, menatap langit-langit yang berbekas rembesan air hujan. Layar tembus pandang kecil muncul lagi di sudut penglihatannya.

[Pembaruan status.]

[Poin Kehidupan: 340 / 100.000.]

[Poin signifikan diberikan atas tindakan yang membuka kepercayaan mendalam subjek untuk pertama kalinya sejak insiden traumatis di masa lalunya.]

[Catatan tambahan: kedekatan emosional antara subjek dan pengguna mulai terbentuk. Disarankan untuk tetap menjaga keseimbangan antara membantu dan tidak menggantikan seluruh peran orang-orang penting dalam hidup subjek.]

Karina membaca catatan tambahan itu dengan alis terangkat. "Maksudnya gimana tem? Kayak lagi dikasih warning."

Tidak ada jawaban. Sistem seperti biasa, hanya muncul saat diperlukan dan menghilang tanpa basa-basi setelahnya.

Karina menghela napas panjang lalu memejamkan mata. Memikirkan wajah nenek Bram yang pucat, memikirkan botol obat batuk yang mungkin tidak akan cukup untuk waktu yang lama, dan memikirkan Bram yang duduk sendirian tiap malam menghitung uang yang tidak pernah cukup.

“Kalo cuma ngasih obat batuk doang jelas enggak bakal cukup buat bikin hidup dia beneran berubah.” Pikirnya dalam hati.

Dengan pikiran itu dan bilah poin keemasan yang masih jauh dari kata cukup, Karina akhirnya tertidur, tidak menyadari bahwa esok hari akan membawa masalah baru yang jauh lebih besar dari sekadar gosip dan kesalahpahaman kecil di sekolah.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!