Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ini Terakhir Kalinya Aku Memanggilmu Adik.
Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, hari yang dinantikan sekaligus menjadi awal dari rencana Raya akhirnya tiba.
Raya berdiri di ambang pintu, menatap dingin ke arah Rara yang kini sedang dirias oleh seorang MUA.
Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Kling.
Suara notifikasi membuat pandangannya turun kebawah.
Ia mengangkat ponsel yang digenggamnya. Layar yang sempat meredup kembali menyala. Sebuah balon percakapan muncul dengan nama atasannya.
{Saya ada di luar.}
Raya hanya membaca pesan tersebut melalui pratinjau notifikasi. Ia tidak berniat membuka percakapan itu, apalagi membalasnya.
Setelah beberapa detik, tangannya kembali turun.
Sebelum pergi, Raya kembali melirik Rara yang masih sibuk dirias. Tatapannya bertahan sejenak, kemudian ia berbalik.
Langkahnya membawa Raya keluar dari ruangan menuju keluar rumah untuk menemui atasannya yang katanya telah tiba.
. . .
Setibanya di luar rumah, Raya langsung disambut oleh keramaian. Banyak orang berlalu-lalang di halaman, sebagian sibuk mempersiapkan kursi, sementara yang lain mulai berdatangan untuk menghadiri acara.
Pandangan Raya menyapu kerumunan, mencari sosok atasannya diantara kerumunan tersebut.
Hingga akhirnya, ia menemukan Kansa yang berdiri tidak jauh dari halaman depan.
Tanpa membuang waktu, Raya berjalan menghampirinya. Namun, baru beberapa langkah, ia memperlambat saat jaraknya sudah beberapa meter dari Kansa.
“Ternyata acaranya besar-besaran, ya.”
Raya tersenyum tipis. “Iya, kan, Pak? Adikku dan suamiku itu benar-benar nggak tahu malu.”
Kansa mengembuskan napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada keramaian di depan mereka.
“Terus, apa yang akan terjadi setelah ini?” tanya Raya.
“Lihat saja,” jawab Kansa singkat.
Raya mengangguk. Namun, ketika kembali memperhatikan Kansa, barulah ia menyadari ada yang berbeda dari penampilan atasannya itu.
Setelah diteliti lagi, ternyata Pria tersebut mengenakan pakaian batik lengkap dengan kopiah.
Raya mengerutkan kening. “Anda dapat pakaian ini dari mana?”
Kansa menatapnya, pandangannya turun kebawah.
“Oh, minjam sama sopir,” jawab Kansa santai. Ia kemudian merapikan sedikit bagian depan bajunya. “Bagus, ya? Apa saya mirip Gus?”
Raya menatapnya dari atas sampai bawah, lalu menggeleng pelan.
“Mirip bapak-bapak bawa berkat.”
Ekspresi Kansa seketika berubah.
Raya yang melihatnya justru tak mampu menahan tawa. Kekehannya semakin lepas ketika melihat wajah Kansa yang tampak kesal.
“Kenapa ketawa?” tanya Kansa datar.
Raya menutup mulutnya, berusaha menghentikan tawa yang masih tersisa.
“Maaf, Pak... tapi memang mirip.”
Kansa hanya mendengus.
. . .
Tak lama kemudian, suara pembawa acara akhirnya memecah riuh bisik-bisik para tamu yang sejak tadi memenuhi halaman.
“Mohon perhatian. Terimakasih sudah hadir di acara siraman tujuh bulan. Jadi kita langsung saja kepada calon ibu yang sebentar lagi akan melahirkan anak pertamanya, dipersilakan untuk duduk di tempat yang telah disediakan.”
Raya terdiam.
Tatapannya tetap tertuju ke arah tempat acara berlangsung. Ia hanya berdiri di antara kerumunan.
Tak lama kemudian, seorang wanita dengan perut yang membesar datang perlahan dengan dituntun oleh ibunya dan ibu mertuanya.
Bisik-bisik para tamu kembali terdengar di belakang Raya.
“Loh, suaminya Mbak Raya nikah lagi to?”
Raya menoleh ke arah suara ibu-ibu yang sedari tadi berbisik. Raya kemudian mengangguk. “Iya, Bu.”
“Kapan nikahnya, kok nggak ngundang kami?”
Raya tersenyum tipis. “Saya aja baru tahu, kalau Mas Zevan nikahin adik saya, karena hari itu tepat saya baru pulang dari luar kota, Bu.”
“Wah, pasti mereka main di belakangmu, Mbak Raya.”
Raya menunduk. “Nggak papa, anggap saja saya sial, Bu.”
Tatapan Raya kini kembali ke Rara, yang kini telah duduk di tempat yang disediakan.
Senyum yang tak merasa bersalah atas apa yang wanita itu perbuat itu, terbit dan menghiasi wajah yang di polesan oleh makeup.
Beberapa saat kemudian, acara siraman pun dimulai.
Raya menyaksikan ketika ibunya maju terlebih dahulu. Dengan gerakan lembut, wanita itu menyiramkan air ke kepala lalu ke tubuh Rara.
Tak lama kemudian, giliran ibu mertuanya. Tatapannya justru begitu lembut.
Kemudian, ayah mertuanya turut melakukan hal yang sama.
Raya tetap berdiri di tempatnya, menyaksikan semuanya dalam diam, meski dadanya menjalar panas melihatnya.
Tak lama kemudian, namanya akhirnya dipanggil.
“Mbak Raya, selaku istri pertama Pak Zevan. Silakan menyirami adik kandung sekaligus madu Anda.”
Bisik-bisik kembali terdengar di belakangnya.
Namun Raya tidak langsung melangkah maju. Pandangannya justru beralih kepada Kansa yang berdiri disampingnya.
Pria itu hanya mengangguk pelan.
Raya menarik napas, kemudian berjalan mendekati Rara. Tak peduli dengan bisik-bisik yang tak terdengar jelas. Namun ia bisa menangkap, apa yang mereka bicarakan. Tentang dirinya dan Rara.
Setibanya, ia meraih gayung yang terbuat dari batok kelapa. Namun ia tak langsung mengambil air itu. Sesaat, ia menatap wajah Rara yang kini duduk menunduk menanti prosesi berikutnya.
Raya lalu melangkah lebih dekat. Kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Rara.
“Apa kamu tahu, Ra. Kalau para tamu sedang membicarakanmu yang enggak-enggak di sana.”
Lalu Raya menjauh, untuk melihat tatapan Rara yang terbelalak.
“Apa maksud, Mbak Raya?”
Raya tersenyum tipis. “Pikirkan saja sendiri, Ra. Bagaimana dengan nggak tahu malunya kamu menggelar acara begini di acara di rumah istri pertama, padahal statusmu hanya istri siri." Raya menyunggingkan senyum sinis. "Bukannya menutup aib malah mengumbar aib mu sendiri di acara ini.”
“Tapi aku sudah sah jadi istri Mas Zevan secara agama, Mbak.”
“Itu kan secara agama, tapi nggak menutupi aib mu.” Raya menggeleng pelan sembari berdecak beberapa kali. “Kasihan sekali anakmu kelak. Nggak bisa dapat apapun dari Mas Zevan, apalagi status wali nikah nanti, siapa yang akan mewakili kalau bukan wali hakim.”
“Kenapa Mbak Raya jahat begitu sama Rara?” tanyanya lirih.
“Kamu yang memulainya, Ra. Aku nggak begini kalau nggak ada masalahnya.”
Tanpa memperdulikan ekspresi Rara, kembali Raya mulai menciduk air yang telah ditaburi kembang tujuh rupa, lalu perlahan menyiramkannya ke kepala Rara kemudian tubuh Rara.
‘Setiap siraman yang ku tuangkan ke tubuhmu, wahai adikku sekaligus maduku, kuharap hidupmu selalu bahagia. Semoga segala kejahatan yang menyelimuti hatimu dijauhkan, begitu pula rasa iri dan dengki dari pikiranmu.’
Raya kembali menciduk air untuk siraman kedua.
Dengan gerakan lembut, ia menyiramkannya kembali ke tubuh Rara.
‘Hari ini terakhir kalinya aku memanggilmu adik. Setelah ini, kita hanyalah dua orang asing.’
Gayung ketiga diambilnya.
Raya kembali menciduk air, kemudian mengangkat gayung itu perlahan.
‘Jika suatu saat nanti kamu mengalami masalah, Mbak harap jangan menyalahkan semua ini kepada Mbakmu. Salahkan dirimu sendiri karena kamu telah menaburkan garam di atas luka yang kamu buat sendiri.’
Setelah siraman ketiga selesai, Raya menyerahkan gayung tersebut kepada ibunya.
Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah turun dari tempat prosesi. Ia tidak ingin lagi berada di dalam lingkaran itu.
Prosesi terus berlangsung hingga akhirnya tiba giliran Zevan melakukan siraman terakhir.
Raya hanya diam. Menyaksikan suaminya menyiramkan air ke tubuh adiknya sebagai seorang istri.
Bahkan dititik ini hatinya tidak lagi terasa sesakit sebelumnya.
Tak terasa kecewa saat ia telah di hianati.
Entah hati ini mulai menyerah atau lelah.
“Apa kamu berat untuk bercerai dengan suami, Ray.”
Mendengar pertanyaan itu, Raya menoleh ke arah Kansa. Namun, sesaat kemudian, pandangannya kembali lurus ke depan.
“Tidak, Pak.”
“Tapi tatapanmu tadi seperti—”
“Cukup.” Raya memotong ucapannya. “Tatapan ini tidak seperti yang Bapak pikirkan, oke.”
Kansa hanya mengangguk kecil.
“Oh, oke saya percaya. Dan ini...” Ia kemudian mengulurkan sebuah dokumen kepada Raya. “Suratnya. Harus ditandatangani hari ini, agar bisa di setujui.”
Raya menoleh. Pandangannya jatuh pada beberapa lembar kertas yang disodorkan kepadanya.
Ia menerimanya, lalu membuka dokumen tersebut.
Sekilas, Raya langsung mengenali isinya. Semua poin yang tertulis di sana merupakan permintaan yang sebelumnya ia sampaikan kepada pengacara.
Raya mengangguk pelan.
“Akan saya usahakan hari ini saya mendapatkan tanda tangan dari Mas Zevan.”
Setelah mengatakan itu. Namun, belum sempat ia mengalihkan pandangan, suara yang cukup familiar terdengar dari sampingnya.
“Loh, Mbak Raya...”
Raya menoleh dan mendapati seorang wanita berdiri tidak jauh darinya.
Bu Sri.
Sudut bibir Raya terangkat tipis. ‘Kebetulan. Bu Sri yang suka menyebarkan gosip.’
Ekspresi Raya berubah sendu. “Iya, Bu Sri.”
“Aduh, saya baru datang karena belanjaan dulu ke pasar.”
“Nggak papa, Bu.”
“Oh ya, itu wanita hamil yang lagi di siram itu adiknya sampean to?”
Rata mengangguk. “Iya, Bu Sri. Itu adek saya, Rara, sekaligus madu saya.”
“Eh, kok gitu? Apa boleh suami nikahin adik iparnya?” tanya Bu Sri.
Raya mengangkat bahunya. “Ya namanya sudah keduluan, Bu. Nggak bisa di cegah lagi.”
Mata Raya berkaca-kaca, ia mengusap pipinya sembari tersenyum tipis.
“Apa salah saya, ya Bu Sri…” ia mengusap pipinya yang padahal tak ada yang keluar.
Hanya air mata palsu.
“Padahal saya ini sudah jadi wanita yang menurut sama suami dan juga sudah baik sama adik kandung saya sendiri, tapi mereka tega hianati saya begini.”
“Yang sabar Mbak Raya,” ucap Bur Sri.
Raya menunduk. ‘Maafkan aku ya Mas, Rara. Ini sebenarnya buka kemauanku. Karena kalian yang membuatku begini.’
Ia lalu menatap ke arah depan, di mana adiknya dan suaminya tertawa setelah prosesi penyiraman.
“Tapi saya sudah mendoakan yang terbaik buat mereka, Bu. Semoga mereka bahagia.”
“Jangan terlalu baik, Mbak Raya. Nanti mereka nggak tahu diri, mending ceraikan saja suami sampean.”
Raya mengangguk samar.
“Bagus, saya suka akting kamu,” bisik Kansa.
Raya menoleh.
“Lanjutkan, Raya,” ucap Kansa lagi.
Raya mengangguk sembari tersenyum tipis. Lalu ia menunduk.
‘Maafkan aku ya Mas, Rara. Ini sebenarnya buka kemauanku. Karena kalian yang membuatku begini.’
. . .
Tak lama kemudian, seluruh rangkaian prosesi siraman akhirnya selesai.
Para tamu mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing. Suasana yang semula khidmat perlahan kembali ramai oleh percakapan dan langkah kaki para undangan.
Pembawa acara pun kembali mengambil alih suasana.
“Ibu-ibu, Bapak-bapak, silakan menikmati makanan yang telah disiapkan di meja prasmanan.”
Beberapa tamu mulai berjalan menuju meja makanan.
Kansa kemudian menoleh kepada Raya.
“Raya, bersiaplah.”
Raya mengernyitkan kening. ‘Sebenarnya apa yang Pak Kansa rencanakan?’
“Loh, kok kosong?”
Pandangan Raya tiba-tiba tertuju pada meja prasmanan.
Raya mengerutkan kening.