Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan selalu datang terlambat
Revan terpaku. Kata-kata Nara yang meluncur dengan tegas namun sarat luka itu menghantam kesadarannya, meninggalkannya dalam keterkejutan yang tak bersuara.
Di sekeliling mereka, hening yang menyiksa seketika membungkus suasana.
Semua warga yang hadir mendadak bungkam, seolah udara di tempat itu tiba-tiba tersedot habis.
Nara tak mengucap sepatah kata pun lagi.
Ia membalikkan badan dan berjalan keluar dengan langkah mantap meski bayang-bayang kelelahan batin terpancar dari bahunya yang bergetar tipis.
Revan segera melangkah cepat mengikutinya dari belakang, membiarkan keheningan mengiringi jejak kaki mereka.
"Kak Nara... Maafkan kami..."
Isak tangis Nisa akhirnya pecah, memecah kesunyian yang mencekam.
Gadis itu terisak hebat, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, tenggelam dalam rasa bersalah yang teramat sangat.
Pak Kades hanya bisa tertunduk lesu. Wajah tua yang biasanya tenang itu kini gundah, digariskan oleh penyesalan yang dalam.
Ia meratapi betapa cepat warga pedesaan itu terhasut hingga membalas kebaikan dengan prasangka jahat.
Padahal... Bidan Nara adalah malaikat tanpa sayap bagi desa mereka.
Sebelum Nara datang, sudah tak terhitung berapa banyak tenaga medis yang menolak ditempatkan di pelosok Bejowangi hanya karena jalurnya yang ekstrem dan terisolasi
Namun Nara dengan senyum tulus dan semangat yang tak pernah padam hadir merawat siapapun yang sakit tanpa pernah mengeluh sedikit pun.
Dengan suara bergetar dan parau, Pak Kades bersuara menembus keheningan warga yang membatu:
"Lihat... lihat apa yang sudah kita lakukan padanya..." desah Pak Kades, dadanya naik turun menahan kepedihan. "Betapa buta dan tulinya kita... Saat desa ini dibuang dan ditakuti orang luar karena jalurnya yang berbahaya, siapakah yang mau datang dan bertaruh nyawa merawat anak cucu kita? Bidan Nara! Dia yang memeluk desa ini saat tak ada seorang pun yang peduli..."
Pak Kades mengedarkan pandangan pada warga yang kini merunduk penuh rasa malu, suara bahagianya kini pecah menjadi tangisan pilu.
"Tapi apa balasan kita? Hanya karena berita yang tidak tau kebenaran nya serta ego prasangka busuk, kita merobek hatinya. Kita mengusir malaikat yang selama ini menyembuhkan luka-luka kita... Tuhan, dosa apa yang baru saja kita ukir hari ini?"
Ucapan Pak Kades menusuk tepat di dada setiap warga. Penyesalan terlambat kini merayapi tempat itu bak racun dingin
Sementara itu, Revan tak tinggal diam. Dengan keteguhan hati seorang komandan, ia bergerak menyelamatkan nama baik wanita yang ia cintai.
Rekaman video saat pertarungan mematikan dipolindes detik detik Nara menyelamatkan pasienya menghajar pemberontak Tampa Ampun disebar luaskan sebuah bukti tak terbantahkan bahwa Nara sama sekali tidak ternoda dan sepenuhnya suci.
Nara adalah pahlawan, bukan korban yang layak dicemooh.
Ponsel Pak Kades bergetar. Dengan jemari gemetar, ia membuka kiriman video itu. Muka Pak Kades seketika pucat pasi, matanya menatap tak percaya.
Di layar ponsel itu, terlihat jelas detik-detik mencekam saat para pemberontak menyerbu. Bidan Nara wanita lembut yang selama ini mereka hakimi berdiri di barisan paling depan tanpa rasa takut. Dengan kesigapan dan keberanian yang luar biasa, Nara bertaruh nyawa pasang badan demi melindungi warga dari ancaman senjata. Tak satu pun tangan jahat pemberontak berhasil menyentuh atau merenggut kehormatan Nara. Video itu menunjukkan bukti tak terbantahkan: Bidan Nara sepenuhnya murni, suci, dan seorang pahlawan sejati.
Tubuh Pak Kades bergetar hebat. Penyesalan yang luar biasa menghantam dadanya hingga ia hampir tak sanggup bernapas.
"Gusti Allah... Lihat... lihat apa yang sudah kita lakukan padanya..." desah Pak Kades dengan suara parau menyayat hati, air matanya menetes keras membentur layar ponsel. "Dia mempertaruhkan nyawanya demi melindungi kita! Dia tidak ternoda sedikit pun... Dia suci! Dan kita... kita malah menikam hatinya dengan fitnah busuk!"
Dengan tangan gemetar dan napas tersengal karena tangis, Pak Kades langsung membagikan rekaman CCTV tersebut ke Grup Yasinan warga, Grup WhatsApp Kantor Desa, hingga ke seluruh grup jejaring instansi pemerintahan. Ia ingin seluruh warga, aparat, dan pejabat tahu betapa mulianya Bidan Nara dan betapa besarnya dosa prasangka mereka.
Seketika, dentingan notifikasi di ponsel para warga berbunyi serentak. Begitu mereka menyaksikan rekaman itu, suasana desa berubah menjadi keheningan yang penuh dengan kehancuran batin dan rasa malu yang mendalam.
Sementara itu, Revan menghargai setiap keputusan yang diambil oleh idaman hatinya.
Meski ada guratan kesedihan mendalam di matanya saat melihat Nara melangkah pergi meninggalkan desa, Revan memilih untuk berdiri kokoh di sampingnya. Apapun jalan yang dipilih Nara untuk menyembuhkan lukanya, Revan akan tetap menjadi pelindung dan pendukung utamanya sepenuh jiwa.
"Dek, besok Abang antar kamu ke rumah ya biar kamu aman. Jangan ditolak ya... please," pinta Revan melalui pesan singkat, nada khawatirnya menyeruak di antara barisan kata.
Nara menatap layar ponselnya datar. Tidak ada lagi rasa hangat atau getaran di dadanya. Hanya kekosongan yang tersisa.
"Terserah," balas Nara singkat dan dingin. "Nara mau tidur."
Setelah mengirim pesan itu, Nara meletakkan ponselnya di meja. Ia tidak benar-benar tidur. Dalam hening malam Polindes, jemarinya bergerak cekatan merapikan pakaian, melipatnya satu per satu, dan memasukkannya ke dalam koper. Tempat yang dulu ia anggap rumah kedua itu kini terasa begitu asing dan menyakitkan.
******
Pagi-pagi sekali, Revan sudah tiba di Polindes. Langkah kakinya terhenti saat melihat kerumunan warga desa yang sudah memadati halaman depan. Suasana yang biasanya bising oleh selentingan fitnah kini berubah menjadi keheningan yang mencekam dan serba canggung.
"Ada apa ini, Pak Kades?" tanya Revan menyibak kerumunan, menatap Pak Kades yang berdiri paling depan.
Pak Kades menatap Revan dengan mata yang sembap dan wajah lesu. "Orang-orang desa mau minta maaf sama Bidan Nara, Kapten..."
Revan menghela napas panjang. Ia maju mendekati pintu Polindes lalu mengetuknya pelan.
"Nara... ini Abang," sapa Revan lembut, berusaha menetralkan ketegangan di dadanya.
"Bentar..." suara dari dalam menyahut.
Tak lama kemudian, pintu kayu itu terbuka. Nara berdiri di sana, tampil rapi dengan pakaian bepergiannya, siap untuk melangkah pergi. Di belakangnya, Aris sudah bersiap membantu membawakan barang-barang Nara.
Nara menatap sosok di luarnya, lalu pandangannya beralih pada sosok tua di depan kerumunan. "Pak Kades," sapa Nara ramah,kelewat ramah untuk seseorang yang baru saja disakiti begitu dalam.
Pak Kades seketika tertunduk lesu. Wajahnya merah padam ditimpa rasa malu yang teramat sangat. Rasa bersalah menindih dadanya hingga ia tak sanggup menatap mata bening bidan muda itu.
"Saya... mewakili seluruh warga desa... mau minta maaf yang sebesar-besarnya, Bu Bidan..." ucap Pak Kades dengan suara gemetar. Tubuhnya mendadak membungkuk dalam-dalam, hendak menyembah dan memohon ampun atas kebiadaban prasangka warganya.
"Eh, Pak Kades!" Nara langsung maju satu langkah, menahan bahu Pak Kades agar tidak membungkuk lebih jauh.
"Nara udah maafin semuanya, Pak. Cuma Nara lelah... mau istirahat aja di rumah," lanjut Nara, mengumbar senyum paling ikhlas yang ia miliki.
Namun, justru senyum ikhlas itulah yang mangkin menikam dada setiap warga yang hadir. Tidak ada amarah, tidak ada makian, tidak ada pembalasan. Ketulusan Nara membuat penyesalan warga kian menggunung hingga membakar batin mereka sendiri.
"Bu Bidan..." pak kusno Ayah Iduy maju dari barisan warga, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia memohon dengan suara serak, "Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu... Kalau gak ada Ibu, bagaimana kami mau berobat? Bagaimana kami dapat semangat lagi? Desa ini butuh Ibu..."
Nara menggeleng pelan, senyumnya tidak pudar sedikit pun. "Udah gak masalah, Pak.nanti pasti ada bidan yang lebih hebat dari saya "
Iduy, berjalan kearah Naya memohon maaf atas kekacauan yang dibuat nya.
"Kak Nara... Iduy minta maaf... Iduy tulus minta maaf, Kak..." Iduy dengan merendah, dengan wajah yang penuh lebam lebam.
Nara tetap tersenyum....
" sudah diobati... ,saya juga minta maaf ya...sudah Buat kamu babak belur " Nara dengan BB nada lembut ..kepada iduy
Nisa dan ibu sudah berdiri dengan penuh haru kesedihan.....yang tak bisa ia jelaskan.
Nara mendekati ibu dan Nisa ,lalu berbisik lembut...
"ibu ...jangan sedih .Nara membawa Abang untuk dikenalin orang tua nara dikota".....
ibu dan Nisa tersenyum....