NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Keputusan untuk pergi

"Jangan berbicara omong kosong!" bentak Ayden frustrasi, jemarinya mencengkeram sisi kusen pintu hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau adalah istriku! Keberadaanmu ada di sisiku, apapun yang terjadi, suka maupun duka, di dalam maupun di luar rumah ini!"

"Kau salah, Ayden," sahut Aisyah, suaranya mengalun sangat tenang, kontras dengan badai emosi yang berkecamuk di dada suaminya. "Kau mungkin berhasil mengurung ragaku di sini, dan kau bisa melakukan apa saja terhadap cangkang kosong ini. Tapi jiwaku... jiwaku sudah lama terbang meninggalkan tempat ini."

Ayden menggelengkan kepalanya panik, napasnya mulai memburu tidak beraturan. "Tidak... kau tidak boleh pergi. Kalau kau melangkah keluar dari pintu itu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada diriku sendiri atau pada orang-orang di sekitarmu!"

"Apakah ancaman itu masih mempan padaku?" tanya Aisyah hambar, menatap tangan Ayden yang mulai gemetar. "Kau sudah mengambil semuanya, Ayden. Perusahaan ayahku hancur, keluargaku musnah, dan hidupku telah kau ratakan dengan tanah. Tidak ada lagi hal tersisa di dunia ini yang bisa kau ancam dariku."

"Aku tidak ingin mengancammu!" rintih Ayden, pertahanannya runtuh seketika di hadapan ketenangan mutlak sang istri. Pria itu melangkah lebih dekat, mencoba meraih koper di tangan Aisyah. "Aku hanya ingin kau tetap tinggal... kumohon, Aisyah. Katakan apa yang harus kulakukan agar kau mau membatalkan niat gilamu ini."

Aisyah menarik koper kecilnya sedikit menjauh dari jangkauan Ayden, lalu menatap pria itu dengan pandangan penuh belas kasihan yang justru terasa lebih menyiksa daripada tetesan air keras. "Waktu tidak bisa diputar kembali, Ayden. Kau tidak bisa menghidupkan abu yang sudah menjadi arang, begitu pula dengan pernikahan kita yang dibangun di atas fondasi dendam kesumat."

"Aku mencintaimu!" teriak Ayden putus asa, suaranya pecah di ujung kalimat, membiarkan pengakuan terbesarnya tumpah begitu saja di lorong yang sunyi. "Sialan, aku mencintaimu, Aisyah! Aku terperangkap dalam kebencianku sendiri, tapi perasaanku padamu adalah nyata!"

Aisyah terdiam sejenak mendengar pengakuan itu. Namun, ekspresinya tidak sedikit pun melunak. "Cinta yang lahir dari keinginan untuk menghancurkan bukanlah cinta, Ayden. Itu adalah bentuk kepemilikan yang egois. Dan aku... aku sudah lelah menjadi boneka di etalase duniamu."

"Lalu kemana kau akan pergi?!" seru Ayden histeris, kedua tangannya mencengkeram kedua bahu Aisyah dengan erat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi udara begitu saja. "Di luar sana dunia luar sangat kejam! Kau tidak punya siapa-siapa lagi!"

"Aku ingin mencari jiwaku yang hilang," jawab Aisyah tegas, menatap lurus menembus manik mata suaminya yang basah oleh air mata. "Aku ingin pergi ke suatu tempat di mana kebencianmu, penyesalanmu, dan bayangan masa lalu tidak akan pernah bisa menjangkauku lagi."

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi!" bisik Ayden dengan suara parau penuh ancaman sekaligus keputusasaan. "Aku lebih baik melihatmu tinggal di sini sebagai patung es daripada membiarkanmu melangkah keluar dari sisiku!"

"Lakukanlah," tantang Aisyah tanpa rasa takut sedikit pun. "Bunuh aku di sini, di atas lantai ini, jika itu satu-satunya cara bagimu untuk memastikan aku tidak pergi. Tapi ketahuilah, bahkan dalam kematian sekalipun, aku tidak akan pernah menjadi milikmu sepenuhnya."

Kalimat itu menjadi tikaman pamungkas yang meremukkan seluruh sisa kewarasan Ayden. Pria itu terhuyung mundur, melepaskan cengkeramannya dari bahu Aisyah seolah tubuh wanita itu baru saja membakar tangannya. Napas Ayden tersengal-sengal, dadanya sesak oleh penyesalan yang membakar lambungnya hingga terasa seperti racun.

Aisyah melihat suaminya terdiam membeku dalam keputusasaan yang absolut. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengangkat kembali koper kecilnya, melangkah melewati sisi tubuh Ayden yang terpaku di ambang pintu, dan berjalan menyusuri lorong menuju tangga utama.

"Aisyah..." panggil Ayden dengan suara berbisik yang sangat lemah, nyaris tak terdengar di antara deru napasnya sendiri.

Aisyah menghentikan langkahnya sejenak di dekat anak tangga pertama, namun ia tidak menoleh ke belakang. "Selamat tinggal, Ayden. Semoga suatu hari nanti, kau bisa memaafkan dirimu sendiri atas semua rantai yang kau ciptakan."

Tanpa menunggu balasan, Aisyah melanjutkan langkahnya menuruni tangga satu per satu, meninggalkan Ayden seorang diri di ambang pintu kamar utama.

Di tengah sunyinya malam dan megahnya istana yang ia bangun dengan cucuran air mata dendam, Ayden menyadari bahwa kemenangan atas kehancuran musuhnya kini berbuah menjadi kekalahan paling telak, di mana ia harus menyaksikan kepergian satu-satunya wanita yang paling ia cintai tanpa mampu berbuat apa-apa lagi untuk menghentikannya.

***

Deru napas Ayden memburu di ambang pintu kamar utama, berpadu dengan keheningan malam yang terasa semakin mencekam. Pria itu menatap koper kecil berwarna hitam di tangan Aisyah dengan sorot mata yang menggelap, menyimpan perpaduan antara kepanikan instan dan amarah posesif yang membara.

"Kau tidak akan pernah bisa pergi dari sisiku, Aisyah," desis Ayden dengan suara berat yang bergetar tertahan. Sebelum wanita itu sempat merespons, Ayden melangkah maju dengan gerakan kilat, menyambar koper dari tangan Aisyah, dan melemparkannya begitu saja ke sudut ruangan hingga membentur dinding dengan suara debaman keras.

Aisyah tidak sedikit pun menunjukkan keterkejutan atau rasa gentar. Ia menatap koper kecilnya yang tergeletak di lantai, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Tindakanmu tidak akan mengubah apa pun, Ayden. Kau hanya bisa mengurung raga, bukan jiwaku."

"Aku tidak peduli!" sergah Ayden dengan nada tinggi yang tertahan di tenggorokan, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. "Kau adalah istriku! Satu-satunya tempat yang pantas bagimu adalah di sisiku, hidup atau mati, di dalam maupun di luar rumah ini!"

Aisyah tersenyum tipis, sebuah senyuman hampa tanpa secercah kehangatan yang justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah makian kasar. "Hidup atau mati? Tidakkah kau sadar bahwa kau sudah membunuhku sejak lama, Ayden?"

"Jangan bicara omong kosong!" bentak Ayden frustrasi, langkahnya kembali mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak bersisa. "Aku melakukan semua ini karena aku tidak sanggup membayangkan dunia tanpa dirimu! Apakah kau tidak mengerti itu?!"

"Cinta macam apa yang kau tunjukkan dengan cara menghancurkan?" tanya Aisyah lisan hambar, suaranya mengalun tenang tanpa intonasi kemarahan. "Kau merenggut segalanya dariku, keluargaku, perusahaanku, dan kini kau ingin merampas sisa-sisa kewarasanku di tempat ini."

Ayden menggelengkan kepalanya panik, napasnya semakin memburu tidak beraturan. "Aku tidak ingin merampas apa pun lagi! Aku hanya ingin kau tetap tinggal... kumohon, Aisyah. Katakan apa yang harus kulakukan agar kau mengurungkan niat gilamu ini."

"Waktu tidak bisa diputar kembali, Ayden," jawab Aisyah tegas, menatap lurus menembus manik mata suaminya yang basah oleh sisa keputusasaan. "Kau tidak bisa menghidupkan abu yang sudah menjadi arang, begitu pula dengan pernikahan kita yang dibangun di atas fondasi dendam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!