NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: Bubble🫧

Pout for Me, Little Mouse.

Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta Karun

Julian menarik Lana ke dalam ciuman yang lama dan menuntut. Satu tangan berada di tengkuknya dan lainnya menahan pinggangnya agar tetap menempel padanya.

Mereka akhirnya berpisah, Lana terengah-engah sementara Julian menciumnya di leher dan rahang.

"Katakan padaku, Lana. Apakah bisa disebut bertunangan saat kau kabur dengan pria lain saat bertunangan?"

Gumamnya sambil menciumnya. Meninggalkan jejak panas di kulit Lana yang memerah dan bingung.

Pria lain? apakah otaknya tidak bisa mendeteksi jenis kelamin berdasarkan nama...

Lana mendorong tubuhnya yang kokoh dan tidak mau bergeser sedikit pun. Ruangan itu dipenuhi suara kecupan dan nafas Lana.

"Katakan padaku sesuatu, Lana - apakah 'kesetiaan'mu mencakup menjaga kakimu tetap tertutup selama liburan kecil ini?"

"Aku punya lebih banyak kesetiaan di jari-jari ku dibanding di seluruh tubuhmu, Julian." Lana terus mendorong kepala dan tubuhnya. "Ugh, bajingan brengsek."

Julian mendongak untuk menatap mata Lana dengan senyum yang menjengkelkan. "Benarkah?" Tanpa peringatan memegang kedua sisi pinggang Lana dan mengangkatnya ke meja terdekat membuat gadis itu terkesiap.

"Benarkah begitu, Sayangku?" Gumamnya di telinganya, Meletakkan tangan di samping pinggulnya mendudukkan lana di meja dan tubuhnya.

"Jika kamu begitu setia," Menggenggam pergelangan tangan Lana dan menariknya ke dadanya. "Lalu buktikan. Tunjukkan padaku seberapa besar kesetiaan yang ada di tangan cantikmu ini."

Tangannya lainnya membelai pinggul lana ke bawah untuk menangkup ****** Lana, meremasnya cukup kuat hingga membuatnya terkesiap. "Atau mungkin," Suaranya semakin rendah di telinganya.

"Mungkin kesetiaanmu terletak di antara kedua kakimu."

Percakapan mereka mendadak kosong dan sunyi karena pernyataan Julian yang penuh arti.

"A–APA KAU BILANG?!"

Lana meronta dan mendorong wajah Julian menjauh dari wajahnya hingga kepala pria itu menoleh sambil tertawa rendah karena geli.

Dorongan Lana bukan penghalang yang sulit baginya. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Lana lalu menjepitnya di atas kepalanya membuat gadis itu menempel di atas meja.

"Berhentilah berjuang," Tangan lainnya membelai pinggang dan rusuknya. "Kau hanya mempersulit dirimu sendiri."

"Lepaskan aku!" Lana menuntut, "Kau mau apa?!" Lana meronta-ronta dengan suara melengkingnya.

"Aku mau kau ingat istri siapakah kau di masa depan." Julian mulai menyelipkan tangannya di bawah rok Lana, Membuatnya terkesiap.

"Julian! Kau pikir dimana kau Meletakkan tanganmu?!"

"Tanganku berada persis di tempatnya." katanya santai sambil mencondongkan wajah hingga jaraknya dengan wajah lana hanya beberapa inci.

"Berhentilah meronta," perintah Julian dengan senyum kejam sambil mulai melonggarkan dasinya dengan satu tangan. "Kita belum selesai mendiskusikan 'pertunangan' kita."

Lana menggunakan kesempatan itu untuk mendorong Julian dengan satu tangan lainnya memegang tangan Julian, berusaha melepaskan tangannya dari balik roknya

"Kamu sudah? Aku yakin jika aku menyentuhmu sekarang, kamu akan langsung hancur." katanya tidak terpengaruh dengan pemberontakan lana.

"Tepat seperti yang kukira," gumamnya saat menemukannya.

Lana menjambak rambut Julian. "Perjuangan yang sia-sia," komentar Julian datar sambil melanjutkan penjelajahannya di balik gaun Lana.

"Dan kamu berani menyuruhku berhenti?"

"Sebutkan nama saya," perintahnya, nafasnya menjadi lebih berat.

Lana tidak mematuhinya, mencubit bibir Julian dengan penuh dendam.

Tawa kecil kelam keluar dari bibir Julian melihat penolakan Lana. "Baik," dia berbisik di lehernya. "Tapi setiap kali kamu melawanku, aku akan menambahkan satu jari."

Tanpa ragu, Julian menambahkan dua jarinya. Gangguan yang tiba-tiba itu membuatnya tersentak dan nafasnya tercekat.

"Sekarang sudah dua jari." Julian mengingatkannya dengan kejam. "Masih tidak mau menyebutkan nama ku?"

Udara sejuk di ruangan itu tidak lagi seperti sebelumnya. Hanya panas dan bingung yang bisa dirasakan lana.

"Keras kepala sekali," gumam Julian

Jam di tangannya sudah menunjukkan lewat waktu makan malam saat tangannya bergerak berirama. Wajah Julian berubah menjadi merah dengan senyum puas dan kejam melihat lana.

Akhirnya Julian melepaskan lana dan mengambil sapu tangan di sakunya. Menyeka jari-jarinya dengan efisien sambil memikirkan penerbangan kembali ke Jerman.

"Kamu akan tetap di Munich selama akhir pekan. Setidaknya ayahmu akan mengetahui tingkah lakumu itu secara langsung." Melirik lana yang tidak beraturan sedang merapikan pakaian sambil menyelipkan kembali saputangannya ke dalam saku.

Julian kembali memasang dasi dan mansetnya.

"Ayo, makan malam sudah menunggu kita. Dua jam lagi kita kembali ke Jerman." Katanya mengulurkan tangan dengan jasnya tersampir di tangan lain.

Lana mendapatkan tenaganya kembali dan hal pertama yang ia lakukan adalah memprotes.

"Beraninya kau melakukan ini padaku! aku akan mengadu—"

"Cerewet sekali." Julian menghampirinya dalam dua langkah lebar dan tanpa peringatan menyampirkan tubuh kecil Lana ke pundaknya yang lebar seolah tanpa usaha.

"Turunkan aku! Dasar brengsek!"

Lana menjerit, dengan sia-sia menggedor punggung Julian yang lebar saat dia menggendongnya keluar. Julian hanya tertawa kecil mendengar protesnya.

"Teriak terus," sarannya dengan santai sambil membuka pintu dengan satu tangan. Tangan lainnya memegang Lana seperti sebuah karung berisi beras.

"Aku yakin seluruh Resort akan senang mengetahui betapa nakalnya dirimu saat ini."

Julian membawa lana menyusuri lobby, membuat orang-orang menoleh. Lana yang menyadari dirinya telah menarik perhatian dengan cara yang sangat memalukan segera diam sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah di punggung Julian.

Dengan tanpa bersusah payah, Julian membuang Lana begitu saja ke kursi penumpang belakang Sedan hitam yang sudah menunggu mereka di trotoar. Lana terpental sekali sebelum bergegas mundur ke ujung kursi.

"Tetap di sana."

Julian menunjuk Lana dengan wajah serius sambil menundukkan kepalanya untuk masuk ke dalam mobil. Mark segera menutup pintu untuk mereka setelah Julian duduk disana.

Perjalanan kembali ke negara asal benar-benar menguras energi mereka. Setelah makan malam di restoran lokal, Mereka terbang ke Munich. Lana tertidur pulas di dalam jet pribadi sementara Julian fokus pada laptopnya sepanjang perjalanan, pekerjaannya tidak bisa ditunda lagi.

Sampai di Munich, Sedan hitam yang menjemput mereka merayap di jalanan saat dini hari berikutnya. Lana terselip di dalam mantel Julian yang terlalu besar. tubuhnya terkulai bersandar di lengan Julian.

Hamparan Mansion Reinhardt mulai terlihat. Julian meletakkan elektroniknya dan merenggangkan kedua lengannya ke depan perlahan agar tidak mengganggu Lana.

Sedan itu berenti di dekat jalan batu. Penjaga yang mengenali plat nomor Julian segera mendekat.

"Herr Donnersmarck," katanya memegang topi dengan penuh hormat saat kaca diturunkan.

"Fraülein sudah tidur."

Penjaga itu segera diam dan membuka pintu untuk mereka.

Julian perlahan menggeser Lana ke arahnya, Meletakkan lengan di belakang punggung dan bawah lututnya. Mengangkatnya saat dirinya sendiri dengan hati-hati turun dari mobil.

Julian membawanya menyusuri jalanan yang melintasi halaman luas dengan rumput yang terawat, Gemericik air mancur membuat lana sedikit berkerut tapi tidak sampai terbangun.

Di dalam Mansion, Butler turun dari tangga yang meliuk. baru selesai melakukan patroli terakhir.

"Herr Donnersmarck? Anda datang tanpa pemberitahuan dan di jam ini?" Butler Keluarga bernama Tobias saat melihat Julian muncul dari pintu menggendong Keylana.

"Kecilkan suaramu."

"Apakah Fraülein Reinhardt baik-baik saja?"

Nadanya berwibawa tapi menuntut penjelasan. Menyingkir sedikit saat Julian mulai naik tangga.

"Tidak, Dia keras kepala."

"Saya serius, Tuan."

"Dia pergi liburan tanpa izin. Aku barusaja mengejarnya melintasi lautan seperti pria yang tidak punya pekerjaan."

Tobias tidak berkomentar, mengikuti Julian yang membawanya naik.

"Panggil beberapa Maid, bersihkan tubuhnya dan pakaikan piama kesukaannya." Katanya menoleh saat salah satu kakinya di ujung tangga dan lantai dua.

"Baik, Apakah anda butuh sesuatu? Mungkin menginap malam ini?" Tobias mengikuti saat Julian melangkah lagi.

"Tidak. Dimanakah Raynor?"

"Tuan besar sudah tidur sekarang." Tobias membukakan pintu untuk mereka lalu menyalakan lampu.

Julian mendengkus, Meletakkan Lana ke tempat tidurnya perlahan lalu menarik selimut sampai ke dagunya.

"Sudah? Sepertinya terlalu lelah untuk mendengar kabar bahwa putrinya menjadi buronan?" Julian mengenakan kembali mantelnya.

"Perayaan ulang tahun Kakek ku adalah senin. Fraülein akan tetap disini selama hari libur, Pastikan dia kembali ke Berlin hanya bersama seluruh keluarga."

Julian memeriksa Arlojinya, Pukul Tiga pagi.

"Aku sudah menyiapkan villa untuk seluruh keluarga ketika mereka tiba di berlin. Mengerti?"

"Tentu saja, Herr Donnersmarck. " Tobias melangkah pintu. "Saya akan memanggil pelayan sekarang."

Julian menatap punggung pria tua itu, rambut peraknya sudah lebih berantakan dibanding biasanya.

Julian kembali menatap Lana yang tertidur di bawah selimut. Julian duduk di tepi tempat tidur, Jemarinya menyingkirkan helai rambut hitam lembut dan lurus yang menutupi wajahnya. Ekspresinya lebih sejuk saat tidur, Bulu matanya yang lentik membuat bayangan di pipinya yang putih pucat.

Julian menundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya ke dahinya dengan lembut.

"Selamat malam, Schatz." Bisiknya dengan ungkapan kasih sayang Jerman.

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!