NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Ciuman Pertama, Kebohongan Kedua

Gerald kembali dari Palermo dengan suasana hati yang berat — perjalanan bisnisnya berakhir dengan negosiasi yang tegang dan ancaman tersirat dari keluarga Russo, salah satu klan saingan yang mulai menunjukkan tanda-tanda agresi terhadap wilayah Moretti.

Perjalanan pulang dari Palermo memakan waktu lebih lama dari biasanya karena cuaca buruk yang menunda penerbangannya selama berjam-jam, memberi Gerald cukup waktu untuk merenungkan hal-hal yang jarang ia izinkan dirinya renungkan — tentang betapa lelahnya ia dengan seluruh dunia yang telah diwariskan padanya, tentang betapa jarangnya ia merasakan kedamaian sejati, dan tentang bagaimana, entah kenapa, memikirkan Yao selalu berhasil meredakan sedikit dari kelelahan itu.

Ia menemukan Yao menunggunya di teras belakang mansion, duduk sendirian menatap kolam renang yang tenang di bawah cahaya bulan. Untuk sesaat, melihatnya membuat seluruh beban di pundak Gerald terasa sedikit lebih ringan.

"Kau menungguku," katanya, duduk di sebelahnya, suaranya lebih lelah dari biasanya.

"Saya khawatir," jawab Yao jujur — meski ia tahu kekhawatirannya lebih rumit dari yang bisa ia ungkapkan.

Gerald menatapnya lama, matanya menyipit seperti sedang membaca sesuatu di wajah Yao yang tersembunyi. Ia tidak langsung bertanya; ia menunggu, membiarkan keheningan itu sendiri menekan Yao untuk bicara lebih dulu. Ketika Yao tidak kunjung membuka mulut, barulah ia berkata, pelan, "Kau menjauh sejak makan malam bersama Enzo. Apa yang dia katakan padamu?"

Yao ragu sejenak, mempertimbangkan seberapa banyak yang bisa ia ungkapkan tanpa membongkar penyamarannya sepenuhnya. "Dia... memperingatkan saya," katanya hati-hati. "Tentang bermain dekat dengan api."

Rahang Gerald mengeras. "Enzo terlalu banyak bicara untuk seseorang yang tugasnya melindungi keluarga ini, bukan menginterogasi tamuku." Ia mengambil tangan Yao, menggenggamnya erat, tidak melepaskannya. "Abaikan apa pun yang ia katakan. Aku yang memutuskan siapa yang kupercaya, Yao. Bukan dia."

"Kau selalu begitu yakin tentang segala hal," kata Yao, mencoba mengalihkan pembicaraan dari topik yang terlalu berbahaya untuk dijelajahi lebih jauh. "Apakah kau pernah ragu, Gerald? Tentang keputusan-keputusan yang kau buat, tentang dunia yang kau warisi?"

Gerald terdiam sejenak, matanya menerawang ke arah kolam renang yang tenang. "Setiap hari," jawabnya jujur, sebuah pengakuan langka dari seorang pria yang dibesarkan untuk tidak pernah menunjukkan keraguan. "Tapi keraguan adalah kemewahan yang tidak mampu dimiliki seorang Don. Anak buahku membutuhkan kepastian, bahkan ketika aku sendiri tidak yakin."

"Itu terdengar melelahkan," kata Yao lembut.

"Memang," jawab Gerald, "tapi malam ini, duduk di sini bersamamu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama aku tidak merasa lelah sama sekali."

"Bagaimana jika dia benar?" tanya Yao pelan, suara yang lebih jujur dari yang ia inginkan. "Bagaimana jika saya bukan orang baik seperti yang Anda kira?"

Gerald tersenyum, senyum yang penuh dengan sesuatu yang terlalu berbahaya untuk disebut kepolosan. "Tidak ada orang baik di dunia saya, Yao. Saya berhenti mencari kebaikan sejak lama. Saya hanya mencari yang nyata." Ia mengangkat tangan, menyentuh pipinya lembut, tidak menjelaskan lebih jauh apa yang ia maksud dengan "nyata" — membiarkan Yao sendiri yang mengisi kekosongan itu dengan ketakutannya sendiri.

Kata-kata itu menghantam Yao lebih keras dari yang seharusnya. Sebelum ia sempat berpikir jernih, Gerald mencondongkan tubuhnya dan mencium bibirnya — ciuman pertama mereka, lembut pada awalnya, lalu semakin dalam saat Yao tanpa sadar membalasnya dengan intensitas yang sama.

Untuk sesaat, dunia mafia, dendam, dan kebohongan menghilang, digantikan oleh sensasi murni dari dua orang yang terlalu lama hidup dalam kesendirian dan kekejaman, menemukan kehangatan yang tidak terduga dalam diri satu sama lain. Cahaya bulan yang memantul di permukaan kolam renang menciptakan kilauan lembut di sekeliling mereka, dan untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada Yao Conti yang haus dendam maupun Gerald Moretti yang dingin dan berbahaya — hanya dua jiwa yang telah lama merindukan sesuatu yang nyata di tengah dunia yang penuh kepalsuan.

Saat mereka akhirnya berpisah, napas keduanya memburu, Gerald menyandarkan dahinya ke dahi Yao, matanya terpejam sejenak seolah mencoba mengingat setiap detik ini. Ia tidak bertanya apa yang sedang Yao sembunyikan — ia hanya menggenggam tangannya lebih erat, sebuah jawaban tanpa kata bahwa ia akan tetap tinggal, apa pun yang akan terungkap nanti.

Yao menutup matanya, merasakan air mata yang tidak ia duga akan muncul menggenang di sudut matanya. Karena saat itu, ia menyadari sesuatu yang mengerikan: ia tidak lagi yakin apakah misinya adalah menghancurkan keluarga Moretti, atau melindungi pria yang kini menggenggam hatinya dengan cara yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya.

Jauh di dalam sakunya, sepotong kain lusuh dari boneka masa kecilnya terasa seperti membakar kulitnya melalui lapisan kain gaun. Untuk pertama kalinya sejak malam pembantaian itu, Yao tidak menyentuhnya untuk mencari kekuatan. Ia justru menghindarinya, seolah takut jimat itu akan menuduhnya atas sesuatu yang tidak sanggup ia hadapi malam ini.

"Saya juga tidak tahu," bisiknya jujur, untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Milan. "Saya benar-benar tidak tahu lagi."

Di kejauhan, tersembunyi dalam bayangan balkon lantai dua, Enzo Bastiani menyaksikan ciuman itu dengan rahang mengeras dan mata yang berkilat penuh perhitungan berbahaya.

Ia sudah cukup lama curiga. Sekarang, ia yakin.

Gadis itu adalah Yao Conti — dan ia harus disingkirkan sebelum ia menghancurkan segala sesuatu yang telah Enzo bangun selama tujuh belas tahun terakhir.

Ia mundur perlahan dari balkon, pikirannya sudah mulai menyusun rencana. Bertahun-tahun bertahan di dunia yang paling kejam sekalipun telah mengajarkannya satu prinsip yang tidak pernah gagal: singkirkan ancaman sebelum ancaman itu sempat menyadari bahwa dirinya sudah terlihat. Malam itu, sebelum kembali ke kamarnya, Enzo membuat satu panggilan telepon singkat yang akan menjadi awal dari rangkaian kejadian yang tidak seorang pun di mansion itu bisa duga.

Di ruang kerjanya, dengan tirai tertutup rapat dan lampu meja sebagai satu-satunya penerangan, Enzo membuka laptop pribadinya dan mulai menulis catatan-catatan yang telah lama ia simpan dalam ingatannya — nama-nama kontak lama di jaringan bawah tanah Eropa, orang-orang yang berutang budi padanya, orang-orang yang bisa ia manfaatkan untuk memastikan Yao Conti tidak akan pernah sempat membalas dendam yang telah ia rencanakan.

"Tujuh belas tahun aku menunggu momen ini berlalu tanpa konsekuensi," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, jarinya mengetik dengan presisi seorang pria yang telah lama menguasai seni menyembunyikan kejahatan di balik kesopanan. "Aku tidak akan membiarkan seorang gadis, sekuat apa pun tekadnya, menghancurkan semua yang telah kubangun."

Ia menutup laptopnya setelah mengirim beberapa pesan terenkripsi, bersandar di kursinya dengan mata tertutup, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri yang, meski ia tidak ingin mengakuinya, mulai berdegup lebih cepat memikirkan kemungkinan bahwa kebenaran yang telah lama ia kubur akhirnya bisa terungkap.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!