NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan di Balik Lembar Ujian

Udara pagi di pelataran Rexanswood Academy berhembus sejuk menyapu langkah para murid yang berduyun-duyun melintasi gerbang megah berukir emas. Begitu mobil hitam milik Charles Rexander berhenti sempurna di drop zone lobi utama, dua gadis di kursi belakang langsung bergerak turun.

Tidak ada obrolan hangat, tidak ada pamitan layaknya saudara pada umumnya. Claire melangkah anggun mendahului dengan senyum manis terpasang rapi di wajahnya, membalas sapaan para siswi populer yang berpapasan di lorong. Clyrine turun menyusul beberapa langkah di belakang, membetulkan letak ransel hitamnya tanpa peduli pada tatapan sekeliling. Keduanya langsung berpisah arah di persimpangan koridor lantai dua tanpa sepatah kata pun.

Begitu tiba di dalam kelasnya, Clyrine segera menuju meja sudut belakang dekat jendela. Zerin dan Rebecca sudah duduk rapi di sana, sibuk menata alat tulis.

"Tumben banget lo datang sepagi ini, Cly," celetuk Rebecca sambil menatap heran pada seragam Clyrine yang hari ini terpasang rapi, lengkap dengan dasi tersimpul pas. "Nggak kesiangan, nggak cemberut, malah kayak orang habis menang undian."

"Gue mau fokus hari ini," jawab Clyrine datar seraya mengeluarkan buku catatan bersampul tebal dan kotak pensilnya. "Nanti jam tiga sore gue ada jadwal les privat. Gue nggak mau ada alasan buat Pak Antonio nahan gue di sekolah atau bikin masalah baru."

Zerin menyenggol lengan Rebecca, lalu tersenyum geli. "Les privat sama Kak Damien Vance, kan? Pantas aja aura lo mendadak jadi murid teladan begini. Keajaiban cinta emang nyata ya."

"Berisik, Zerin," potong Clyrine cepat, meski pipinya sempat merona tipis sebelum ia memalingkan wajah ke depan.

Tak lama berselang, pintu kelas berderit terbuka lebar. Sosok pria paruh baya bertubuh jangkung dengan kacamata bertengger di pangkal hidungnya melangkah masuk. Pak Antonio Roberto—guru mata pelajaran Sejarah Peradaban sekaligus kepala bimbingan konseling (BK) yang paling disegani seantero sekolah—membawa map cokelat tebal di bawah lengannya.

Suasana kelas yang tadinya riuh rendah seketika senyap.

"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Antonio dengan suara bariton berwibawa. "Simpan semua buku dan catatan kalian di dalam laci. Sesuai agenda yang tertunda minggu lalu, pagi ini kita akan mengadakan ujian harian Sejarah Politik."

Desahan kecewa tertahan dari seisi kelas, namun tak ada satu pun yang berani membantah. Pak Antonio membagikan lembar soal dan kertas jawaban secara berantai dari meja barisan depan ke belakang.

Di barisan tengah, Claire menerima lembar ujiannya dengan tangan sedikit gemetar. Matanya diam-diam melirik ke arah sudut belakang, menatap Clyrine yang mulai membaca lembar soal dengan kening berkerut serius. Gadis itu tidak tampak panik sama sekali. Jemari Clyrine justru bergerak lincah menuliskan poin-poin jawaban di atas kertas buram.

Ketakutan mendalam mendadak merayap di dada Claire.

Kalau Clyrine benar-benar mulai serius belajar... kalau nilainya merangkak naik dan menyusul nilai gue... Daddy bakal ngasih hadiah besar ke dia, batin Claire kalut. Tangannya meremas kuat pena mahalnya. Nggak. Gue anak tiri di rumah itu. Satu-satunya alasan Daddy bangga sama gue cuma karena prestasi akademis gue selalu sempurna. Kalau sampai posisi gue digeser sama anak kandung pembuat onar itu, gue bakal kehilangan segalanya.

Rasa iri, panik, dan dendam yang menumpuk sejak kejadian di kantin kemarin bergolak hebat di kepalanya. Claire tidak boleh membiarkan Clyrine bersinar. Ia harus menghancurkan reputasi Clyrine sekarang juga, sebelum jam tiga sore tiba—sebelum Damien Vance menginjakkan kaki di rumah mereka.

Claire melirik Genevieve yang duduk tepat di seberang lorong mejanya. Melalui tatapan mata yang penuh arti, Genevieve mengangguk paham. Rencana busuk yang sudah mereka bicarakan samar-samar tadi pagi harus dieksekusi detik ini juga.

Waktu ujian berjalan selama empat puluh menit dalam keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara gesekan pena di atas kertas dan detak jarum jam dinding. Clyrine larut dalam konsentrasinya, menuangkan seluruh pemikiran logis dan analisis sejarah yang sempat ia baca semalam.

Hingga tiba-tiba, sebuah suara gedebuk nyaring memecah keheningan.

"Aduh!"

Claire tiba-tiba tersentak dari kursinya, membuat botol minum berbahan kaca miliknya terjatuh ke lantai dan menggelinding ke arah lorong belakang, tepat berhenti di dekat kolong meja Clyrine.

Seluruh pasang mata, termasuk Pak Antonio yang sedang memeriksa berkas di meja guru, langsung mendongak menatap Claire.

"Ada apa di sana, Claire?" tegur Pak Antonio dengan nada datar namun tegas.

Claire memasang wajah serba salah, menggigit bibirnya dengan ekspresi panik yang tampak sangat polos dan natural. "M-maaf, Pak Antonio... botol minum saya terjatuh ke belakang. Boleh saya ambil sebentar?"

"Cepat ambil dan jangan buat keributan lagi," izin Pak Antonio singkat.

Claire beranjak dari duduknya, berjalan membungkuk pelan menyusuri lorong bangku menuju meja Clyrine. Saat ia berjongkok tepat di samping meja saudara tirinya untuk meraih botol minum tersebut, jemari Claire dengan gerakan secepat kilat menyelipkan sebuah sobekan kertas kecil berlipat rapat ke dalam celah saku luar ransel Clyrine yang tergeletak di lantai.

Gerakan itu tertutup sempurna oleh tubuh Claire yang membungkuk. Namun, saat bangkit berdiri, Claire sengaja membelalakkan matanya lebar-lebar ke arah kolong meja Clyrine, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil memekik tertahan.

"Ya ampun... Clyrine!" pekik Claire cukup nyaring hingga membuat seisi kelas tersentak kaget.

Clyrine yang sedang fokus menulis langsung mendongak kaget, menatap Claire dengan tatapan jengkel. "Apaan sih lo? Berisik banget!"

"P-Pak Antonio!" panggil Claire dengan suara bergetar drama, wajahnya mendadak pucat seolah baru saja memergoki tindakan kriminal besar. "Pak... tolong ke sini sebentar!"

Pak Antonio mengerutkan dahi, meletakkan pulpennya di meja lalu melangkah cepat menghampiri barisan belakang. Kerutan di dahinya makin dalam melihat ketegangan yang tiba-tiba meletup di antara dua saudari itu.

"Ada apa, Claire? Jangan mengganggu jalannya ujian," tegur sang guru BK dingin.

"Pak... saya nggak bermaksud nuduh saudara saya sendiri," ucap Claire terbata-bata, matanya berkaca-kaca sempurna memperlihatkan betapa ia merasa 'tertekan' harus membongkar aib keluarganya sendiri. "Tapi waktu saya ambil botol tadi... saya lihat ada kertas rangkuman kunci jawaban keluar dari saku tas Clyrine. Di bawah mejanya juga ada catatan kecil!"

Deg.

Clyrine tertegun. Darahnya berdesir panas seketika. "Lo ngomong apa sih, Claire?! Jangan asal fitnah!"

"Saya nggak fitnah, Clyrine! Pak Antonio bisa cek sendiri saku tas kamu sekarang!" balas Claire histeris, menunjuk langsung ke arah saku ransel hitam Clyrine.

Suasana kelas langsung meledak dalam kegaduhan bisik-bisik. Beberapa murid mulai melongokkan kepala, saling bertukar pandang penuh rasa ingin tahu.

"Gila, nyontek pas ujian Pak Antonio?"

"Pantesan dari tadi nulisnya lancar banget..."

"Dasar pembuat onar, nggak kapok-kapok juga."

Pak Antonio mengangkat tangannya ke udara, meminta seisi kelas diam. Tanpa berkata apa-apa, pria itu membungkuk dan merogoh saku luar tas ransel Clyrine. Tepat seperti yang dikatakan Claire, sebuah kertas lipat kecil berhasil ditarik keluar. Begitu lipatannya dibuka di hadapan semua orang, terpampang deretan tanggal, nama tokoh peradaban, dan ringkasan persis materi ujian pagi ini dengan tulisan tangan rapi.

"Clyrine Elamora Rexander," suara Pak Antonio berubah dingin membeku, tatapannya menghujam tajam ke arah gadis di hadapannya. "Bisa kamu jelaskan apa maksud dari secarik kertas ini di dalam tasmu saat ujian sedang berlangsung?"

Clyrine berdiri tegak dari kursinya, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membakar dadanya nyaris membuat akal sehatnya meledak. Ia menatap Claire yang kini berdiri di samping Pak Antonio dengan tatapan penuh rasa bersalah palsu—namun di sudut bibir gadis itu, Clyrine melihat seulas seringai tipis penuh kemenangan yang memuakkan.

"Itu bukan tulisan saya, Pak!" seru Clyrine tegas, berusaha sekuat tenaga menahan getaran di suaranya agar tidak terdengar panik. "Bukan saya yang taruh kertas itu di sana! Dia yang baru aja nyelipin waktu pura-pura ngambil botol!"

"Bohong!" potong Genevieve lantang dari kursinya, ikut memperkeruh suasana sesuai skenario. "Dari tadi Claire cuma ngambil botolnya kok, Pak! Masa iya Claire repot-repot nyelipin kertas? Jelas-jelas Clyrine yang panik karena ketahuan curang!"

"Diam kalian semua!" bentak Pak Antonio tegas, membuat seisi ruangan membisu total. Pria paruh baya itu meremas kertas bukti di tangannya, lalu menatap Clyrine dengan raut wajah sangat kecewa.

Sebagai guru BK, Pak Antonio sudah berkali-kali menangani kasus Clyrine. Kali ini, bukti fisik ditemukan tepat di dalam barang pribadinya saat ujian resmi berlangsung.

"Ikut saya ke ruang BK sekarang juga, Clyrine," titah Pak Antonio tanpa ampun. "Dan serahkan kertas ujianmu. Nilai kamu untuk mata pelajaran ini saya nyatakan nol."

"Pak, dengarkan penjelasan saya dulu—"

"Saya bilang ke ruang BK sekarang!" potong Pak Antonio keras, tidak memberi ruang sedikit pun untuk membela diri.

Clyrine mematung di tempatnya. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh rasa ketidakadilan yang menghimpit begitu kejam. Di depannya, Claire menundukkan kepala pura-pura prihatin, padahal di dalam hatinya, anak tiri keluarga Rexander itu tengah bersorak gembira. Dengan nilai nol dan catatan kecurangan resmi di ruang BK, impian Clyrine untuk mendapatkan hadiah dari Charles Rexander hancur lebur, dan bimbingan belajar bersama Damien Vance sore nanti terancam batal total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!