Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
Suara deru mesin berkaliber tinggi yang meraung rendah memecah keheningan dini hari di kawasan industri Cypress Flats. Kegelapan malam yang pekat membungkus deretan gudang tua beratap seng yang membisu. Di dalam gudang logistik amunisi, atmosfer terasa begitu kaku dan tegang. Tidak ada musik, tidak ada tawa konyol seperti malam sebelumnya. Hanya ada aroma minyak senapan, bau keringat, dan keheningan mencekam dari tiga pria yang sedang menunggu badai.
Andika duduk bersandar di samping Chopper Scorpio hitam mengkilat miliknya. Jemari tangannya yang bertato dengan tenang mengusap laras dingin ganda Micro Uzi di pangkuannya. Di sebelahnya, Franklin berdiri membelakangi dinding beton, matanya yang tajam menatap layar monitor kecil yang terhubung dengan dua kamera pengawas rahasia di luar gerbang. Sementara Lamar, dengan napas menderu pelan, mengunyah batang korek api sambil mencengkeram erat detonator jarak jauh di tangan kanannya.
"Mereka datang," bisik Franklin pendek. Suaranya serak namun penuh dengan ketenangan yang mematikan.
Di layar monitor hitam-putih yang berkedip-kedip, empat unit SUV Gresley berwarna hitam legam bergerak perlahan tanpa menyalakan lampu utama. Mereka meluncur merayap di atas jalanan aspal Cypress Flats yang sepi, berhenti memutari area halaman depan gudang dengan formasi mengepung. Lee Dong tidak membuang waktu. Pesan anak ayam bersayat leher tadi pagi hanyalah pengalih perhatian, sementara dua puluh anggota kelompok eksekutor terbaik Ying Long yang tersisa dikirim untuk meratakan tempat ini sampai ke tanah.
Pintu-pintu SUV terbuka secara serentak tanpa suara. Dua puluh pria berjas hitam dengan topeng taktis melompat keluar. Mereka memegang senapan serbu AK-47 dan senapan sebar taktis, bergerak cepat menyebar dalam formasi tempur standar militer. Dua orang anggota memimpin di depan, merayap mendekati gerbang besi utama yang sedikit terbuka, sementara sisanya bersiap mengambil posisi berlindung di balik bangkai kontainer dan deretan tiang listrik beton.
Mereka tidak menyadari bahwa tanah yang sedang mereka pijak telah berubah menjadi ladang pembantaian.
Lamar menyeringai lebar di dalam kegelapan gudang, memamerkan giginya. "Selamat datang di neraka, bajingan Tionghoa."
KLIK!
Lamar memencet tombol merah pada remot detonator di tangannya.
BOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat pertama meletus tepat di bawah kaki empat prajurit Ying Long yang sedang merayap di dekat pintu depan! Dua paket sticky bomb yang ditanam Franklin dan Lamar di dalam kaleng cat bekas melipat udara malam dengan gelombang tekanan yang luar biasa. Kilatan api oranye raksasa membumbung tinggi menyapu kegelapan, melemparkan tubuh keempat prajurit itu ke udara bersama pecahan semen, batu, dan serpihan logam!
Belum sempat jeritan kesakitan para korban mereda, ledakan kedua kembali membahana dari sudut kiri halaman!
BOOOOMMMM!
Satu unit SUV Gresley milik musuh terangkat ke udara setinggi dua meter setelah bom tempel yang dipasang di bawah tumpukan ban bekas terpelanting meledak hebat. Tangki bensin mobil itu tersulut seketika, menciptakan bola api raksasa yang membakar tiga anggota Ying Long di sekitarnya hidup-hidup!
Jeritan histeris dan teriakan panik pecah di tengah pekatnya asap hitam yang membumbung tinggi. Sembilan orang anggota Ying Long tewas seketika dalam hitungan detik pertama sebelum mereka sempat melepaskan satu tembakan pun!
"SEKARANG! RATAKAN MEREKA!" jerit Franklin memecah keheningan.
Franklin menendang pintu besi kecil di lantai dua hingga terbuka lebar, langsung memuntahkan badai peluru dari senapan serbu AK-47 miliknya ke arah sisa-sisa pasukan musuh yang sedang kocar-kacir!
DADA-DADA-DADA-DADA-DAT!
Peluru-peluru berkaliber berat menghantam kaca-kaca SUV tersisa, menembus bodi logam dan menumbangkan dua anggota Ying Long yang mencoba berlindung di balik pintu mobil. Pecahan kaca dan goresan api memantul liar di dalam kegelapan malam.
Dari arah pintu bawah, Andika menerjang keluar bagaikan iblis yang lepas dari rantai. Dengan dua pucuk Micro Uzi di kedua tangannya, pria asal Makassar itu menembak secara membabi buta sembari bergerak lincah merayap dari balik kontainer ke kontainer.
RATATATATATATATAT!
Suara letusan ganda Micro Uzi milik Andika menderu bagaikan gergaji mesin menembus udara. Dua prajurit Ying Long yang mencoba mengarahkan senapan ke arah lantai dua mendadak tersentak-sentak saat puluhan peluru 9mm menembus dada dan leher mereka dari samping. Darah segar menyemprot membasahi dinding kontainer tua saat tubuh mereka roboh bergelimpangan di atas aspal.
"Maju terus, bajingan! Ini balasan buat L.J.!" raung Lamar yang menyusul keluar dari gerbang utama sambil memegang senapan sebar Pump Shotgun.
BANG! BUK! BANG!
Setiap kali Lamar menekan pemicu, dentuman keras shotgun-nya melempar tubuh musuh ke belakang. Efek tembakan jarak dekat membuat sisa-sisa pasukan Ying Long yang bertahan di halaman mengalami kepanikan massal.
Namun, sebagai pasukan khusus bentukan Lee Dong, sisa anggota Ying Long yang masih hidup mencoba bertahan dengan kegigihan penuh amarah. Komandan pasukan mereka, seorang pria tinggi bertato naga di lehernya, berteriak keras menembus keriuhan suara ledakan dan tembakan.
"TAHAN POSISI! LINDUNGI AREA BELAKANG! BUKAN TEMBAKAN BALASAN!" teriak sang komandan dalam bahasa Mandarin yang kental.
Enam anggota Ying Long tersisa berhasil merapatkan barisan di balik dua SUV yang belum hancur. Mereka mulai membalas tembakan secara masif dan teratur. Tembakan gencar dari senapan AK-47 musuh mulai menyapu posisi Andika dan Lamar, memaksa keduanya melompat berlindung di balik tumpukan besi tua.
RATATATATAT! BANG! BANG! BANG!
Hujan peluru balasan menghantam tumpukan besi dan beton, memercikkan bunga api yang menyengat mata. Serpihan semen dan baja beterbangan menggores pipi Andika. Asap mesiu yang sangat tebal berpadu dengan bau bensin terbakar dan bau amis darah, menciptakan atmosfer pertempuran paling berdarah di kawasan industri tersebut.
Pertempuran sengit berkecamuk hebat selama lebih dari dua puluh menit. Suara letusan senjata saling bersahutan tanpa henti, menggema liar di antara bangunan-bangunan pabrik Cypress Flats yang sepi.
"Andika! Amunisi saya hampir habis!" teriak Lamar dari balik tiang beton, mengocok magazin shotgun-nya yang mulai kosong.
"Tahan, Mar! Saya putar dari sisi kanan!" balas Andika menembus bisingnya deru peluru.
Andika merayap cepat di dalam kegelapan gang sempit di samping gudang, memanfaatkan celah-celah bayangan hitam. Dengan gerakan yang sangat tenang dan presisi, ia merogoh tas taktis di pinggangnya dan mengeluarkan satu granat nanas. Ia menarik pin pengaman dengan giginya, menahan kaitnya selama dua detik, lalu melemparkannya membusur tinggi melintasi kap SUV musuh.
"Awas! Granat!" jerit salah satu anak buah Ying Long.
BOOMMM!
Ledakan granat tepat di tengah-tengah posisi bertahan musuh mengakhiri perlawanan terorganisir mereka! Dua orang musuh terlempar hancur menghantam dinding, sementara sang komandan bertato naga terhempas ke tanah dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.
Tiga anggota Ying Long terakhir yang masih selamat dan terluka ringan mendadak kehilangan seluruh keberanian mereka. Pemandangan belasan rekan mereka yang tewas mengenaskan dalam kobaran api dan gempuran tanpa ampun dari tiga orang ini menghancurkan mental bertarung mereka hingga ke dasar.
"KABUR! MEREKA BUKAN MANUSIA!" teriak salah seorang anggota musuh sambil melemparkan senjatanya ke tanah.
Ketiga anggota tersisa itu berbalik dan berlari ketakutan menembus kegelapan lorong Cypress Flats, meninggalkan area pertempuran tanpa memedulikan rekan-rekannya yang sekarat. Mereka berlari seperti anjing ketakutan yang diburu bayang-bayang kematian.
Franklin berjalan perlahan turun dari lantai dua, menyandarkan senapannya di bahu sambil meniup asap tipis yang keluar dari ujung laras senjatanya. Lamar melangkah mendekati komandan Ying Long yang terkapar di tanah, menyepak senjatanya jauh-jauh. Sementara Andika berjalan dingin, mengisi ulang magazin Micro Uzi-nya yang kosong dengan bunyi klik yang renyah.
Lamar menatap sekeliling halaman gudang yang kini hancur berantakan. Empat mobil SUV musuh hancur terbakar, belasan jasad anggota Ying Long bergelimpangan bersimbah darah di atas aspal, dan api kecil masih menyala membakar sisa-sisa ban bekas.
"Dua puluh orang..." gumam Lamar sambil mengusap darah di dahinya, lalu terkekeh pelan. "Lee Dong benar-benar kehabisan prajurit sekarang."
Andika melangkah mendekati sang komandan musuh yang terkapar sekarat di tanah, menatap pria itu dengan mata hitamnya yang dingin tanpa belas kasihan.
"Katakan pada Lee Dong," bisik Andika datar, suaranya menusuk ke dalam dada sang komandan yang tersengal-sengal. "Lain kali kalau dia mau kirim pesan... suruh dia datang sendiri."
BANG!
Satu tembakan presisi dari pistol Andika mengakhiri napas komandan pasukan tersebut.
Asap mesiu perlahan membumbung tinggi terbawa angin malam yang berembus dingin di atas kawasan Cypress Flats. Kebijakan jebakan dan ketangguhan mental mereka bertiga sekali lagi membuktikan bahwa gertakan geng Ying Long tidak ada artinya. Lee Dong mungkin masih bersembunyi di balik bentengnya, tetapi malam ini, separuh dari sisa pasukannya telah dibantai habis di jalanan keras Los Santos.