Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Wajah di Balik Bayangan
Mereka bergegas naik ke permukaan, dan begitu keluar dari reruntuhan bangunan utama, langit di atas lembah sudah berubah gelap sepenuhnya—bukan oleh malam yang belum tiba waktunya, tapi oleh sesosok makhluk raksasa yang melayang di udara, sayapnya yang lebar terbuat dari ratusan potongan tulang dan kayu hitam yang saling terkait, menutupi cahaya matahari sore seperti gerhana buatan.
"Itu bukan gagak biasa," Tetua Feng berkata, suaranya bergetar antara marah dan takut. "Itu konstruksi boneka jiwa skala besar. Teknik semacam ini membutuhkan pengorbanan jiwa dalam jumlah besar untuk diciptakan—teknik yang sama seperti yang digunakan Mo Yan dulu."
Makhluk raksasa itu turun perlahan ke tanah lembah, mendarat dengan getaran yang membuat reruntuhan di sekitarnya berderak, dan dari punggungnya, sesosok figur berjubah hitam melompat turun dengan anggun, jubahnya berkibar menampilkan sulaman benang perak yang membentuk lambang yang sangat familiar bagi Ji Ming—lambang Puncak Elang Hitam, meski kini dihiasi tambahan simbol-simbol gelap yang tak pernah ia lihat sebelumnya di sekte manapun.
Sosok itu menurunkan tudung jubahnya, dan Ji Ming merasakan darahnya membeku.
"Tetua Kang," ia berbisik, tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Wajah Tetua Kang, meski masih dikenali, tampak berbeda dari yang Ji Ming ingat—lebih pucat, dengan urat-urat gelap tipis yang menjalar samar di sekitar matanya, seperti bayangan yang enggan sepenuhnya bersembunyi di bawah kulit.
"Meridian Kosong," Tetua Kang berkata, suaranya kini terdengar lebih dalam, lebih berat, seolah ada sesuatu yang lain berbicara bersamaan dengan suaranya sendiri. "Aku harus akui, aku tidak menyangka kau akan membawaku langsung ke tempat yang kucari selama tiga puluh tahun terakhir."
"Kau," Su Mei melangkah maju, wajahnya dipenuhi kemarahan yang telah lama terpendam, "kau yang menciptakan Mata Bayangan itu. Kau yang telah membiarkan sisa Mo Yan menginfeksimu selama ini."
Tetua Kang tersenyum tipis, senyum yang terasa salah, seolah bukan sepenuhnya miliknya sendiri. "'Menginfeksi' adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang terjadi tiga puluh tahun lalu, Su Mei. Saat sebelas rekanku tewas oleh formasi pelindung yang runtuh di ruang tersegel itu, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar relik—aku menemukan fragmen kesadaran Mo Yan sendiri, tersisa dalam pecahan wadah yang rusak, cukup untuk berbisik padaku, mengajariku, membimbingku diam-diam selama tiga dekade terakhir sementara aku membangun reputasi sebagai tetua sekte yang dihormati."
"Kau membiarkan dirimu dikendalikan," Ji Ming berkata, suaranya bergetar antara marah dan ngeri.
"Dikendalikan?" Tetua Kang tertawa pelan, suara yang terdengar mengerikan karena bercampur dengan gema suara lain di baliknya. "Tidak, Nak. Aku memilih ini. Mo Yan menawarkan kekuatan yang tak pernah bisa kudapatkan lewat jalur kultivasi biasa, dan sebagai balasannya, aku hanya perlu membantunya perlahan membangun kembali kekuatannya sendiri, sedikit demi sedikit, tanpa seorang pun menyadari selama tiga puluh tahun." Matanya yang berurat gelap tertuju pada kotak besi yang kini dibawa Tetua Feng dengan hati-hati. "Dan sekarang, kalian telah menuntunku tepat ke bagian terakhir yang kubutuhkan—wadah utama yang menyimpan sisa terbesar kesadarannya."
"Kau tidak akan mendapatkannya," Tetua Feng berkata tegas, mendekap kotak besi itu lebih erat.
"Aku tidak butuh persetujuanmu, Tetua tua." Tetua Kang mengangkat tangannya, dan dari balik jubahnya, sebuah dahan hitam panjang meluncur keluar seperti cambuk, berkedut hidup dengan kekuatan jiwa gelap yang jauh berbeda dari kehangatan yang selama ini Ji Ming rasakan dari Xiao Mu. "Makhluk yang membawaku ke sini hanya salah satu dari banyak yang telah kubuat selama tiga puluh tahun bersembunyi. Kalian berlima, betapapun berbakatnya, tidak akan cukup untuk menghentikanku."
Yun Xia sudah mencabut pedangnya sepenuhnya, berdiri di posisi bertarung. "Kita akan lihat soal itu."
"Ji Ming," Su Mei berbisik cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari Tetua Kang, "bawa Tetua Feng dan wadah itu masuk kembali ke ruang bawah tanah. Kunci pintunya kalau perlu. Kami akan menahannya selama mungkin."
"Aku tidak akan meninggalkan kalian—"
"Kau adalah satu-satunya yang bisa membantu menyelesaikan ritual penyucian nantinya," Su Mei memotong tegas, matanya tak pernah lepas dari Tetua Kang yang kini melangkah maju perlahan, dahan hitamnya berkelebat siap menyerang. "Kalau kau jatuh di sini, harapan untuk benar-benar mengakhiri semua ini jatuh bersamamu. Pergi. Sekarang."
Xiao Mu, seolah memahami situasi, menarik lengan jubah Ji Ming, mendorongnya mundur ke arah pintu masuk bangunan utama dengan tekad yang tak terbantahkan.
Dengan berat hati, Ji Ming akhirnya berbalik, menuntun Tetua Feng yang masih memegang kotak besi itu erat-erat, berlari kembali menuju tangga bawah tanah sementara di belakang mereka, suara benturan kekuatan jiwa gelap dan qi pedang mulai bergema memenuhi lembah.