"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
datangnya persimpangan
Devan menatap lurus ke dalam mata Naya, mencoba menyampaikan kejujuran yang paling murni dari balik masa lalunya yang kelam. Ia memegang kedua bahu Naya yang masih bergetar hebat.
"Pria itu cuma mencoba mengacaukan pikiranmu, Naya," bisik Devan dengan suara bariton yang dalam dan tenang, berusaha meredakan badai ketakutan di dada gadis itu. "Dia warga lokal di pulau ini. Dia adalah suruhan dari pesaing bisnis ayahmu dari daratan utama."
Naya mengerpalkan jemarinya, mencoba mencerna setiap patah kata yang keluar dari bibir Devan.
"Lalu... kenapa dia panggil Abang 'Kapten'?" tanya Naya pelan, suaranya parau menahan tangis.
Devan menarik napas panjang, menatap lurus ke arah garis pantai yang membentang di depan mereka. Ada rasa bersalah yang teramat sangat yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
"Dulu... sebelum saya mengelola penginapan ini, saya pernah bekerja bersama kelompok mereka," aku Devan jujur, tanpa ada yang ditutupi lagi. "Mereka memanggil saya Kapten karena saya yang memimpin pergerakan lapangan mereka. Saat itu, saya butuh uang... saya terdesak untuk biaya hidup dan pengobatan keluarga."
Devan beralih menatap Naya, matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam.
"Tapi saya cepat sadar... kehidupan gelap itu tidak ada tepinya. Semakin dalam masuk, semakin banyak hal kotor yang harus dilakukan. Akhirnya saya memutuskan keluar total dari dunia itu dan pergi ke pulau ini."
Devan melangkah satu tapak lebih dekat, merengkuh tangan Naya yang dingin dan menggenggamnya erat di atas dadanya—tepat di mana jantungnya berdetak kencang.
"Saat pesaing bisnis ayahmu menyewa kelompok itu untuk mengincarmu, saya tahu saya tidak bisa tinggal diam. Saya bersumpah akan melindungimu, Naya. Bukan sebagai bagian dari kelompok itu lagi... tapi sebagai Devan yang berdiri di depanmu sekarang."
Naya merasakan kehangatan dari genggaman Devan merambat ke tubuhnya. Bayangan bahaya yang mengintai dan kenyataan tentang masa lalu Devan bercampur aduk, namun sorot mata Devan yang jujur dan protektif membuat ketakutan Naya perlahan berganti menjadi rasa percaya yang tak tergoyahkan.
----
Kata-kata Devan barusan membuat ketegangan di antara mereka perlahan meleleh. Naya menghembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa rasa takut yang sempat mencekik dadanya. Pria di depannya ini—terlepas dari masa lalunya yang kelam—adalah sosok yang sama yang selalu pasang badan untuk melindunginya.
Naya menyapu air mata di pipinya, lalu tersenyum tipis, mencoba mengembalikan suasana.
"Sudah, tak usah dipikirin lagi," ujar Naya pelan sambil menepuk pelan dada Devan, mencoba mencairkan kecanggokannya sendiri. "Kita bersiap-siap merapikan meja kafe, sebentar lagi anak-anak staf datang."
Devan terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang sangat langka keluar dari bibirnya. Ketegangan di wajahnya sirna, berganti dengan tatapan hangat yang membuat jantung Naya kembali berdebar, kali ini bukan karena takut, melainkan karena getaran yang lain.
"Kamu ini... baru saja lolos dari bahaya, tapi yang dipikirkan malah meja kafe," bisik Devan seraya mengusap lembut puncak kepala Naya sebelum melepaskan genggaman tangannya.
Mereka berdua berjalan kembali ke dalam area kafe penginapan. Cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk lewat jendela-jendela kaca besar, memantulkan kilau bersih di atas lantai kayu. Devan mulai mengangkat kursi-kursi yang terbalik di atas meja, sementara Naya mengambil kain lap dan menyapu permukaan meja kayu hingga mengkilap.
Sembari mengelap meja, mata Naya sesekali mencuri pandang ke arah Devan yang sedang memindahkan beberapa dus minuman di dekat kaunter. Otot-otot lengannya terlihat jelas di balik gulungan kemeja basahnya, dan ingatan tentang sensasi bibir mereka yang saling menempel tak sengaja di sofa tadi mendadak berputar ulang di kepala Naya.
Pipi Naya kembali panas membara. Ia dengan cepat menunduk dan mengelap meja dengan lebih bersemangat untuk menutupi rasa malunya.
Kring!
Suara kerincingan pintu kafe berbunyi, memecah keheningan. Langkah-langkah kaki yang ramai dan riang terdengar masuk dari pintu depan.
"Pagi, Bang Devan! Pagi, Naya!" seru Budi, salah satu staf kafe termuda, masuk sambil membawa kantong plastik besar berisi roti hangat, diikuti oleh dua staf lainnya yang tampak segar dan bersemangat.
"Pagi," jawab Devan singkat seperti biasa, kembali ke mode bosnya yang dingin dan berwibawa, namun kali ini ada sedikit kelembutan di sudut matanya.
"Wah, rajin banget jam segini sudah rapi-rapi! Eh... Naya, kok muka kamu merah banget gitu? Kena angin laut ya?" goda Budi sambil meletakkan roti di atas meja kaunter.
Naya tersentak pelan, hampir menjatuhkan kain lapnya. "E-eh? Enggak kok! Cuma panas aja!" sahut Naya cepat-cepat sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
Dari balik kaunter, Devan hanya melirik Naya dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat di bibirnya, membuat Naya makin salah tingkah dan buru-buru bersembunyi di balik mesin pembuat kopi. Hari yang penuh bahaya itu akhirnya dibuka dengan riak kehidupan normal yang hangat di Pulau Sane.
Baru saja Devan dan Naya hendak melangkah mendekati deretan kursi kayu, suara deru mobil yang berhenti di pelataran depan penginapan memecah keheningan pagi. Tak lama kemudian, pintu kaca kafe terdorong terbuka, menghentikan aktivitas mereka berdua.
Seorang wanita tua berpenampilan anggun dengan selendang batik melangkah masuk dengan senyum hangat—Nenek Devan. Namun, yang menyita perhatian bukan hanya kepulangan beliau dari kunjungan tempat saudaranya, melainkan sosok gadis muda yang berjalan tepat di sampingnya.
Gadis itu tampil modis dengan kacamata hitam tertengger di kepalanya dan gaun pantai bernuansa cerah. Ia memegang lengan Nenek dengan manja seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kafe, sebelum matanya tertuju penuh pada sosok Devan.
"penginapan neNek sekarang bagus banget " celoteh gadis itu dengan nada suara yang manja rna takjub
Namun, begitu pandangannya mengunci Devan yang berdiri tegap di dekat meja utama, raut wajahnya mendadak berubah cerah seketika.
"Abang Devan!" serunya gembira, langsung melepaskan rangkulan tangannya dari Nenek dan berlari kecil mendekati Devan.
"Clarissa?" Devan menyipitkan mata, sedikit terkejut melihat kehadiran sepupunya itu. "Kenapa kamu ikut Nenek ke sini?"
"Ih, kok nanyanya gitu sih? Aku kan kangen sama Abang! Lagian Nenek yang ajak aku biar bisa bantu abang" ujar Clarissa tanpa ragu menyambar lengan Devan, menyandarkan kepalanya dengan erat di bahu pria itu tanpa memedulikan jarak.
Nenek berjalan mendekat dengan senyum tipis, menatap cucu laki-lakinya dan Naya bergantian. "Nenek sengaja bawa Clarissa. Katanya dia mau main ke penginapan, sekalian bantuin kalian ."
Naya yang berdiri tak jauh dari sana mematung. Matanya menatap jari-jari Clarissa yang menggenggam erat lengan Devan. Ada rasa aneh yang mendadak mencubit dadanya—sebuah rasa tidak nyaman yang asing dan datang tanpa diundang.
Clarissa kemudian beralih melirik ke arah Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang dingin.
"Nek, ini staf baru kafe Abang?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Kok bajunya agak kusut gitu? Nanti kalau wisatawan dateng besok, bisa ngerusak pemandangan kafe, lho."
Suasana kafe yang tadinya hangat perlahan mengencang kembali. Devan dengan halus melepaskan cengkeraman tangan Clarissa dari lengannya, lalu mengambil satu langkah mundur hingga berdiri sejajar dengan Naya.
"Dia Naya," potong Devan dengan suara berat dan dingin, memotong ucapan Clarissa. "Dan dia bukan cuma sekadar staf di sini."
" dia yang telah merubah penginapan nenek menjadi sebagus dan seindah ini" tegas Devan...
Akankah Clarisa menjadi penghalang atau akan membuat hubungan Devan dan Naya menjadi lebih dekat.....