NovelToon NovelToon
BUKAN ISTRI LEMAH MU LAGI

BUKAN ISTRI LEMAH MU LAGI

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.

Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."

"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."

Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.

Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"

Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.

Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"

Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Fajar baru saja menyingsing, menyisakan warna kelabu di ufuk timur, namun Miska sudah bangun. Matanya terasa berat dan perih — sisa semalam yang ia lalui tanpa tidur sedikit pun. Di sampingnya, Askar masih terlelap, napasnya teratur dan tenang, seolah tidak ada kata-kata tajam yang pernah terucap darinya beberapa jam sebelumnya. Miska menatap wajah suaminya itu lama sekali. Hatinya berdenyut perih, namun ia menelan segala rasa sakit itu kembali. Ia tidak boleh terlihat lemah dan rapuh. Karena di rumah ini, kelemahan hanya akan menjadi alasan baru bagi mereka untuk semakin merendahkannya.

Dengan langkah berhati-hati, ia turun dari tempat tidur, merapikan selimut dengan sempurna, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur. Udara pagi masih dingin, menyusup melalui celah jendela yang belum tertutup rapat. Miska memeluk tubuhnya sendiri, berusaha mencari kehangatan yang tak ada di rumah ini. Sejak hari itu, setelah kata-kata tajam yang terucap dari mulut Askar, ia memutuskan sesuatu — ia tak akan lagi mengadu. Tak akan lagi bercerita. Tak akan lagi berharap bahwa suaminya akan percaya padanya. Karena ternyata, berharap pada hal yang mustahil hanya melukai diri sendiri berulang kali.

Ia mulai menyalakan kompor. hingga Air mendidih berbunyi pelan, satu-satunya suara yang mengisi kesunyian pagi itu. Tangan Miska bergerak lincah, memotong sayuran, mengaduk bumbu, menata peralatan makan di meja makan. Semuanya dilakukan dengan cermat, tanpa suara, tanpa keluhan. Ia tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun yang bisa dijadikan alasan untuk dimaki lagi hari ini.

Belum lama berlalu, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Bu Surya muncul di ambang pintu dapur, wajahnya tampak kusut, matanya menatap tajam ke arah Miska. Belum ada sapaan ucapan selamat pagi — yang ada hanyalah tatapan penuh penghakiman yang sudah menjadi rutinitas pagi baginya.

"ternyata Kamu sudah bangun dari tadi, tapi kenapa dapur masih berantakan begitu?" Suara Bu Surya memecah keheningan, tajam dan penuh ketidakpuasan. Ia melangkah masuk, menatap panci di atas kompor dengan jijik. "Bau apa ini? Bau nya nggak banget! kamu masak sih pagi-pagi begini?"

"Ini bubur kacang hijau, Bu," jawab Miska lembut, tanpa menoleh. "Aku pikir mungkin ibu mau makan yang hangat hangat "

"Bubur kacang hijau? Kamu mau bikin perutku kembung hah?!" Bu Surya menepis sendok yang ada di meja hingga jatuh berdentang di lantai. "Selera orang miskin memang rendah ya! Makanan kasar begitu kamu suguhkan di meja rumah keluarga terhormat? Kamu memang nggak punya selera, nggak punya etika, dan nggak punya apa-apa yang bisa dibanggakan!"

Miska berhenti mengaduk sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan pekerjaannya seolah tak ada kata-kata yang melukai itu. "kalau gitu aku bikin kan yang lain saja bu, Nasi goreng saja ya?"

"Nasi goreng? kamu yakin kamu bisa bikin nasi goreng yang enak! Jangan sampai hambar, jangan sampai berminyak berlebih, jangan sampai terlalu matang!" Bu Surya berdiri tegak, menatap punggung Miska dengan tatapan merendahkan. "Kamu tau, kadang aku heran bagaimana bisa anakku yang begitu cerdas, begitu berwawasan luas, memilih wanita sepertimu. Lihatlah dirimu — nggak ada satu pun yang menonjol. Cantik nggak, pintar nggak, apalagi kaya . Kamu hanya istri yang kebetulan ada, itu saja."

Kata-kata itu menembus dada Miska lebih tajam dari biasanya, namun ia tetap diam. Ia tak lagi membela diri. Ia tahu, kata-kata pembelaan hanya akan menjadi bahan bakar baru. Lebih baik diam, lebih baik sabar, setidaknya itu yang ia yakini saat ini.

"Dan satu hal lagi," lanjut Bu Surya, mendekat hingga suaranya terdengar berbisik namun penuh racun tepat di telinga Miska. "Jangan pikir aku nggak tau apa yang kamu lakukan di belakangku. Kamu pasti sudah mengeluh sama Askar kemarin,?kamu bilang aku jahat sama kamu? Kamu pikir dia akan membelamu? Dia itu anakku, dan dia tahu siapa yang benar. Kamu hanya istri yang dicintainya sebentar, tapi aku ibunya. nggak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisiku, dan nggak akan pernah ada yang bisa membuatnya memihak padamu."

Miska menggenggam sendok erat-erat hingga buku jarinya memutih. Jadi, Bu Surya tahu. Entah bagaimana caranya, ia tahu bahwa Miska pernah mengadu. Dan itu berarti, mulai hari ini, perlakuan buruknya pasti akan menjadi dua kali lipat.

"Kamu diam saja?bagus lah kalau kamu tau diri!!" cibir Bu Surya, lalu berbalik duduk di kursi makan, menunggu makanan disajikan seolah ia adalah nyonya besar dan Miska hanyalah pelayan rendahan. "Cepat! Jangan bikin aku menunggu lama. Waktuku sangat berharga, nggak seperti kamu yang hanya tau makan dan tidur di rumah orang."

Miska menyiapkan nasi goreng itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menata piring dengan rapi, meletakkannya di depan Bu Surya, lalu berdiri di samping menunggu perintah berikutnya. Bu Surya mencicipi sedikit, lalu meletakkan sendoknya dengan kasar.

"Hm, lumayanlah. Setidaknya tidak seburuk yang kubayangkan. Tapi tetap saja, kurang garam. ambilkan aku kecap!"

Miska segera mengambilkan kecap. Lalu teh hangat. Lalu tisu. Lalu kembali mengambil piring buah yang disuruhnya ganti karena warnanya kurang cerah. Satu perintah demi satu perintah datang tanpa henti, seolah-olah Miska adalah mesin yang harus bergerak tanpa henti tanpa butuh istirahat sedikit pun.

Saat jam menunjukkan pukul delapan pagi, Askar keluar dari kamar. Wajahnya tampak segar, seolah tak ada yang terjadi semalam. Ia menatap Miska sebentar, lalu tersenyum tipis — senyum yang tak lagi sampai ke matanya. Ada jarak yang mulai tercipta di antara mereka, jarak yang diciptakan oleh kata-kata tajam dan ketidakpercayaan itu.

"Pagi, Bu. Pagi, Sayang," sapa Askar, duduk di kursinya.

"Pagi, Nak!" Bu Surya langsung berubah menjadi malaikat penyayang. "Lihat, Miska sudah menyiapkan semuanya pagi-pagi sekali. Dia sangat perhatian padaku. Tadi pagi dia buatkan bubur kacang hijau, cuma karena ibu kurang selera, dia buatkan nasi goreng yang sangat enak ini. Benar-benar menantu yang berbakti."

Askar menoleh pada Miska. "Benarkah? Terima kasih ya Miska."

"Sama-sama, Mas," jawab Miska pelan, menunduk agar suaminya tak melihat betapa matanya mulai berkaca-kaca.

"Lihat kan?" Bu Surya menepuk tangan anaknya pelan. "Miska ini sangat baik. Kalau saja semua orang bisa saling menghargai seperti itu, pasti rumah tangga akan damai ya, bak? nggak perlu ada yang berbohong atau mengarang cerita yang tidak-tidak hanya untuk mencari perhatian suami."

Kalimat itu diucapkan dengan nada santai, namun Miska tahu — itu adalah pesan untuknya. Sebuah peringatan agar ia tak pernah mencoba membongkar kebencian itu lagi. Dan tatapan yang diberikan Bu Surya padanya sejenak kemudian, penuh kemenangan dan ancaman, membuat Miska semakin sadar bahwa di rumah ini, ia sendirian. Sepenuhnya sendirian.

Sarapan itu berjalan dalam kepura-puraan yang begitu tebal hingga rasanya sulit bernapas. Miska menelan makanan yang terasa hambar di mulutnya, mendengarkan percakapan ibu dan anak itu yang hangat dan penuh tawa, sementara ia sendiri berada di pinggir, tak pernah benar-benar menjadi bagian dari mereka.

Setelah Askar berangkat kerja, hari itu berulang seperti hari-hari sebelumnya — namun dengan satu perbedaan. Hinaan Bu Surya kini menjadi lebih tajam, lebih sering, dan lebih kejam. Ia tahu Miska tak berani lagi mengadu. Ia tahu Miska sudah dibungkam oleh ketidakpercayaan suaminya. Dan ia memanfaatkannya sepenuhnya.

"Kamu ini lambat banget sih menyapunya! kaki kamu itu berjalan atau menyeret ?"

"Lihat ini baju yang kamu setrika! Belum rapi sudah kamu anggap selesai? Dasar malas!"

"Orang tuamu nggak pernah mengajarimu sopan santun ya? Berdiri saja nggak tahu cara yang benar!"

Miska mendengarkan semuanya. Ia bekerja tanpa henti — menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, memasak, membersihkan setiap sudut rumah itu hingga bersih tak berdebu. Kakinya terasa pegal, punggungnya sakit, tangannya kasar karena terus terkena air dan sabun, namun hatinya jauh lebih sakit. Setiap kata hinaan itu seperti pukulan yang bertubi-tubi mendarat di dadanya, dan ia tak punya siapa-siapa untuk berlindung.

Siang itu, saat ia sedang beristirahat sejenak di teras belakang, menatap langit yang biru namun terasa jauh, ia menyadari satu hal yang pahit. Kesabarannya bukanlah tanda ketabahan semata — itu juga tanda keputusasaan. Ia sabar bukan karena ia kuat, tapi karena ia tak punya pilihan lain. Tak ada tempat untuk pulang, tak ada tempat untuk berlindung, tak ada bahu untuk bersandar. Semua jalan seolah tertutup rapat.

Namun jauh di dasar hatinya, di balik rasa sakit dan kelelahan itu, ada satu benih kecil yang mulai tumbuh — bukan benih kebencian, tapi benih kesadaran. Bahwa kesabaran itu ada batasnya. Bahwa seorang istri bukan berarti harus diinjak-injak demi keutuhan rumah tangga. Bahwa ia adalah manusia yang juga punya harga diri, yang suatu saat nanti mungkin tak akan sanggup lagi dikubur begitu dalam.

Hari itu berakhir dengan kelelahan yang merasuk ke tulang. Saat matahari terbenam dan bayangan mulai memanjang, Miska berdiri di jendela kamar, menunggu kedatangan suaminya — bukan dengan harapan pelukan hangat, tapi dengan persiapan hati untuk kembali memakai topeng istri yang baik dan bahagia, seolah tak ada luka yang berdarah di dalamnya.

1
Ilfa Yarni
Happy ending aku suka
Ilfa Yarni
asyiiiiiiik miska mau menikah dgn arrangements syukuri kau askar hancur kay skr hahahah
Nuna_Pena: 😭😭😭🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
akhirnya,,,,,,, happy ending 😍😍😍
Nuna_Pena: hehhe.. makasi sudah selalu mampir say.
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
lihat Miska tersenyum sama laki-laki lain kamu marah,apa kabar kamu yg udah tidur dgn Rara di hotel berkali-kali, waras kau Askar??
Ilfa Yarni
semangat miska trus maju menggapai sukses
Nuna_Pena: semangat miska, semangat author smangat para pembaca hihihi..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
Nuna_Pena: aamiin...
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
setuju bu Diti 👍👍
Nuna_Pena: alhamdulillah..
total 7 replies
Ilfa Yarni
bersenang2lah dulu kalian skr sebelum karma menghampiri apa yg kau tanam itu yg akan kalian tuai tunggu aja jika Saat itu dtg aku akan tertawa
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭... setiap perbuatan pasti akan ada hasil mau itu baik atau buruk... di tunggu bab bab berikutnya..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
gk sabar lihat keberhasilan Miska, buat nampar wajah Askar dan ibunya
Nuna_Pena: sabar lah. kalau langsung berhasil cerita nya pendek dong.. 🤭..
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
good job Miska 👍👍👍
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Nuna_Pena: aamiin,,, makasi sudah selalu mampir
total 1 replies
Ilfa Yarni
bagus aku Kira km msh terap bertahan drmh neraka itu mulai skr bahagia kan dirimu sendiri giatlah ber usaha Tuhan pasti akan ksh km Jln yg terbaik menuju kesuksesan awali harimu dgn bismillahTuhan tidak tidur apa yg ditanam itu yg akan kita tuai
Nuna_Pena: aamiin.. 🤭🤭..
total 1 replies
Ilfa Yarni
lah KNP msh tinggal Disana sin. KNP ga pergi AJ miska km kan udah. bisa usaha sendiri cari kosan kek.knp jg msh tinggal disitu
Nuna_Pena: balas dendam nya dengan cara lain🤭🤭🤭
total 3 replies
Heni Setiyaningsih
kpn up lg Thor
Nuna_Pena: udah up dua bab say.. hehe makasi sudah bertahan
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
maaf Thor,klo bisa Up nya setiap hari
Ade Chubi
awal cerita yg bagus walaupun tema cerita nya hampir sama dg cerita lain nya yg bertemakan perselingkuhan, tp cerita ini ada sisi yg bikin penasaran
Heny
Nama nya bisa suryati jd ratih
Ilfa Yarni
bagus miska truslah kembangkan dirimu sampe km sukses dari kehidupan askar dan rara di bawahmu buktikan km bis berdiri diatas kakimu sendiri mulai skr jgn lg km kerja kan pekerjaan rmh
Ade Chubi: readers itu lengah bangeut jika tokoh utama perempuan nya tidak menye menye😁
total 2 replies
Ilfa Yarni
wah lega skali Thor puas aku nah gitu dong miskajadilah wanita just Dan hebat aku suka miska yg begini lanjut
Nuna_Pena: kasihan askar bisa2 masa depannya metong
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt 😍💪
Nuna_Pena: aamiin... makasi selalu setia mengikuti 😁😁
total 1 replies
Ilfa Yarni
hadeh msh berharap aja semoga dgn kau melihat perbuatan suami km km sadarvtidak lg jadi perempuan bodoh jgn lupa kn foto in a tau videoin apa yg suami km lakukan udah beli hp bars blom km miska itu nanti buat bukti km lho
Ade Chubi: harap maklum readers kebanyakan gak sabaran 😁😂
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!