Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Istana dari Batu dan Sebuah Tawa yang Hilang
Di bawah pendar redup lampu minyak yang berkedip lemah, Clara memberikan sebuah perintah yang tanpa sengaja membuka pintu surga kecil bagi Maya.
" Hari Sabtu Ibu ada urusan di luar dari pagi buta sampai sore," kata Clara dingin, suaranya membelah keheningan malam sambil ia menghitung sisa uang belanjanya. "Kau jaga rumah. Kunci pintu rapat-rapat dan jangan berani-beraninya keluyuran. Mengerti?"
Maya hanya mengangguk patuh, menunduk menatap jari-jari kakinya. Namun, alih-alih merasa terkurung, perintah itu justru menyalakan sebuah percikan harapan di dalam hatinya.
Keesokan harinya di sekolah, Maya mengendap-endap menemui Elena di dekat pagar belakang. Wajahnya tampak sedih, karena ia tahu esok hari libur dan ia benar-benar terkurung di rumah.
"Besok aku tidak bisa keluar sama sekali, Elena. Ibuku menyuruhku menjaga rumah seharian penuh," lapor Maya sambil meremas ujung seragamnya yang kusam.
Namun Elena, dengan spontanitas dan semangat khas anak-anak, justru membelalakkan matanya penuh kegembiraan. "Kalau begitu, aku yang akan datang ke rumahmu! Ibuku besok pergi arisan dari siang, aku bisa minta Bi Asuh mengantarku ke sana!"
Awalnya kepanikan menyergap Maya. Ia membayangkan kemarahan ibunya yang meledak-ledak. Namun, kesadaran bahwa Clara benar-benar tidak akan menginjakkan kaki di rumah hingga matahari terbenam perlahan mengalahkan ketakutannya. Rasa rindunya untuk bermain layaknya anak normal memenangkan pertarungan batin itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maya mengangguk setuju dan memberikan alamatnya.
Malam harinya, Maya menahan senyum kecil di dalam kegelapan kamarnya. Ia tidak berani menunjukkannya di hadapan Clara, tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia memiliki sesuatu yang sangat ia tunggu-tunggu.
Keesokan paginya, Maya terbangun dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Bukan perasaan cemas karena takut ibunya marah, bukan pula rasa lapar yang biasanya meremas perutnya sebelum ayam berkokok. Perasaan itu ringan, meluap-luap, dan membuat sudut bibirnya terus tertarik ke atas bahkan saat ia sedang menyikat gigi dengan sikat yang bulunya sudah mekar.
Hari ini, sesuai janji, Elena akan datang ke rumahnya.
Bagi seorang anak berusia tujuh tahun yang seluruh hidupnya dihabiskan di bawah bayang-bayang sapu lidi dan lantai kotor, menerima seorang tamu adalah sebuah keajaiban. Sejak matahari terbit dan setelah memastikan ibunya benar-benar sudah pergi, Maya mengubah dirinya menjadi nyonya rumah yang paling sibuk di dunia. Ia memegang sapu lidi yang ukurannya lebih tinggi dari tubuhnya, menyapu lantai semen rumah petak itu berulang kali hingga tidak ada satu pun debu yang tersisa. Ia mengambil kain lap basah, membersihkan meja kayu reyot yang kakinya sudah dimakan rayap, dan menyusun dua buah kursi plastik yang warnanya sudah memudar agar terlihat saling berhadapan.
Maya berdiri di tengah ruangan selebar tiga kali tiga meter itu. Matanya yang besar dan jernih menyapu seluruh penjuru. Rumah itu sangat miskin. Dindingnya kusam dengan bercak jamur akibat rembesan hujan. Tidak ada karpet empuk, tidak ada televisi layar datar, tidak ada sofa, bahkan tidak ada satu pun mainan yang tergeletak di sana. Namun di mata Maya hari ini, rumah petaknya adalah sebuah istana yang siap menyambut seorang putri.
Menjelang siang, suara deru mesin mobil mewah memecah keheningan gang sempit yang becek itu.
Maya yang sedang duduk menanti di ambang pintu langsung melompat berdiri. Jantungnya berdebar kencang. Dari dalam mobil sedan hitam yang mengilap itu, turunlah Elena dengan gaun terusan berwarna kuning cerah, dihiasi jepit rambut senada. Namun Elena tidak sendirian. Seorang wanita paruh baya berpakaian seragam rapi—pengasuh Elena—turun mendampinginya.
"Maya!" teriak Elena riang, berlari kecil tanpa memedulikan sepatu pantofel mahalnya yang menginjak genangan air kotor.
"Elena! Kamu benar-benar datang!" Maya tersenyum sangat lebar, menyambut hangat uluran tangan sahabatnya.
Pengasuh itu menyusul di belakang. Langkah wanita itu pelan dan ragu. Matanya yang tajam langsung memindai lingkungan sekitar. Ia melihat selokan yang mampat, jemuran pakaian yang berdesakan, dan akhirnya tatapannya jatuh pada dinding rumah kontrakan Maya yang tampak rapuh. Ada kilat keterkejutan dan rasa iba yang tak bisa disembunyikan di mata pengasuh itu saat ia melihat Maya—gadis kecil kurus yang mengenakan kaus kebesaran yang kerahnya sudah melar.
"Jadi... ini rumah temanmu, Non Elena?" tanya pengasuh itu pelan, suaranya mengandung nada prihatin yang kental.
Elena mengangguk antusias. "Iya, Bi! Bagus, kan? Maya bilang dia sudah menyiapkan kejutan di dalam!"
Pengasuh itu menghela napas tipis, menatap nanar pada rumah yang lebih mirip gudang penyimpanan itu. "Baiklah. Jangan main di luar, nanti bajumu kotor."
Mereka melangkah masuk. Maya mempersilakan pengasuh itu duduk di salah satu kursi plastik yang sudah ia lap bersih pagi tadi. Sementara itu, Maya menarik tangan Elena untuk duduk bersila di atas lantai semen yang dingin.
"Aku sudah menyiapkan permainan restoran!" seru Maya dengan mata berbinar-binar, seolah ia baru saja menyajikan taman hiburan paling megah.
Elena memiringkan kepalanya. "Restoran? Mana piringnya? Mana makanannya?"
Maya berbalik, merogoh bagian bawah tempat tidurnya, lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik kresek. Dari dalam kantong itu, ia menuangkan belasan batu kerikil beraneka ukuran yang sudah ia cuci bersih semalaman.
"Ini makanannya!" Maya menunjuk batu-batu itu dengan bangga.
Pengasuh yang duduk di kursi tertegun. Hatinya terasa dicubit melihat kepolosan yang begitu menyayat hati. Anak-anak majikannya di rumah memiliki ratusan mainan impor, masak-masakan dari kayu mahoni, dan boneka porselen. Sementara gadis kecil di depannya ini mengumpulkan batu dari jalanan untuk dijadikan mainan.
Elena mengambil sebuah batu pipih berwarna putih. "Ini apa?"
Maya mengatur posisi duduknya menjadi sangat tegak, meniru gaya seorang pelayan restoran kelas atas. "Selamat datang di restoran Maya. Itu adalah telur mata sapi, Nyonya."
Elena terkikik, menempelkan batu itu ke dekat mulutnya dan berpura-pura menggigitnya. "Aduh! Telurnya keras sekali! Gigiku bisa rontok!"
"Tentu saja keras," jawab Maya dengan wajah sangat serius yang sengaja dibuat-buat, "karena telur itu ditetaskan oleh ayam besi!"
Elena meledak dalam tawa, memegangi perutnya. "Ayam besi?! Kalau begitu aku mau pesan daging saja. Mana dagingnya?"
Maya memilih batu berwarna agak gelap dan bergerigi, lalu menyodorkannya ke tangan Elena. "Ini daging sapi lada hitam. Hati-hati, masih panas."
Elena berpura-pura mengunyah batu itu, lalu kembali merengut jenaka. "Ini juga keras, Maya! Sapinya pasti belum direbus!"
"Bukan belum direbus," timpal Maya cepat, "tapi sapinya rajin olahraga setiap pagi, jadi ototnya sangat kuat!"
Tawa Elena semakin menggelegar memenuhi ruangan kecil itu. Bahkan sang pengasuh yang sejak tadi mencoba menjaga wibawanya tidak sanggup lagi menahan senyum. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya, menahan tawa melihat kepintaran dan keceriaan Maya yang berhasil mengubah batu kerikil menjadi bahan komedi yang begitu hidup.
"Kakak Pengasuh mau pesan apa?" tawar Maya tiba-tiba, menyodorkan batu berbentuk bulat sempurna. "Ini sup bakso. Sangat enak."
Pengasuh itu terkesiap, lalu tersenyum lembut. Ia menunduk, menerima batu itu dengan kedua tangan seolah itu adalah mangkuk porselen asli peninggalan dinasti. "Terima kasih, Maya. Tapi... kenapa supnya tidak ada kuahnya?"
Maya menggelengkan kepalanya dengan bijak. "Kalau supnya ada airnya, nanti restoran saya banjir, Kak. Atap saya kan tidak menahan air dengan baik."
Jawaban polos itu kembali memancing tawa Elena, namun bagi sang pengasuh, ada rasa perih yang menyelip di balik lelucon itu. Anak ini tahu persis kondisi rumahnya yang bocor, dan ia mengubah penderitaan itu menjadi sebuah candaan agar tidak ada yang merasa sedih.
Setelah puas bermain restoran, Elena membuka tas punggungnya. Ia mengeluarkan sekotak pensil warna baru berisi dua puluh empat warna yang sangat cerah, dan sebuah buku gambar tebal.
Mata Maya terpaku pada pensil warna itu. Seumur hidupnya, ia hanya pernah menulis dengan pensil grafit pendek yang ujungnya tumpul. Melihat warna merah, biru, emas, dan hijau berjejer rapi di depannya terasa seperti melihat pelangi yang jatuh ke pangkuannya.
"Ini untukmu," kata Elena, mendorong kotak itu ke arah Maya.
Maya mundur sedikit, tangannya menyembunyikan diri di balik punggung. "Jangan, Elena. Kata Ibu, aku tidak boleh menerima barang dari orang lain."
"Ini bukan menerima, kita akan menggambar bersama!" paksa Elena, meletakkan sebatang pensil merah ke tangan Maya. "Ayo, gambar rumahmu!"
Maya akhirnya luluh. Dengan tangan bergetar antusias, ia mulai menggoreskan pensil cokelat di atas kertas putih. Ia menggambar sebuah kotak kecil, atap segitiga, dan sebuah pintu. Sangat sederhana.
Di sebelahnya, Elena menggambar sebuah bangunan besar dengan pilar-pilar, jendela yang banyak, dan pagar yang tinggi. "Ini rumahku," kata Elena bangga.
Maya memandangi gambar Elena, lalu memandangi gambarnya sendiri. Rumahnya terlihat sangat sepi dan kecil.
Tiba-tiba, Elena mengambil pensil hijau, lalu menggambar sebuah pohon rindang yang sangat besar tepat di samping rumah kecil yang digambar Maya.
"Kenapa rumahku digambar pohon?" tanya Maya bingung.
"Supaya rumahmu tidak kepanasan, dan supaya rumahmu tidak merasa sendirian," jawab Elena dengan senyum yang sangat tulus.
Dada Maya terasa penuh. Ia mengambil pensil hijaunya, beralih ke gambar rumah megah milik Elena, dan menggambar sebuah pohon yang sama persis di sebelahnya.
"Sekarang," bisik Maya, matanya berkaca-kaca menatap sahabatnya, "rumah kita berdua sama-sama tidak sendirian."
Sore itu, sebelum Elena pulang, ia memeluk Maya dengan sangat erat. Pengasuh Elena berdiri di ambang pintu, menatap Maya dalam diam. Wanita itu menyadari sesuatu yang sangat mendalam: di rumah yang nyaris tidak memiliki apa-apa ini, ia mendengar tawa Elena yang paling keras dan paling lepas. Maya tidak memiliki harta untuk diberikan, tetapi anak itu memberikan seluruh hatinya untuk membuat temannya bahagia.
Ketika mobil sedan hitam itu perlahan menghilang dari pandangan, Maya masuk kembali ke dalam rumahnya yang kini kembali sepi. Ia duduk di lantai, mengumpulkan batu-batu yang tadi mereka mainkan.
"Telur... daging... sup..." bisik Maya sendirian, tertawa pelan. Ia menyusun batu-batu itu di sudut ruangan, menyimpannya seolah itu adalah mainan paling mahal di dunia.
Ia memeluk buku gambar yang ditinggalkan Elena ke dadanya.