6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - SUMUR BELAKANG BALAI DESA
Gelap total.
Listrik genset padam. Hanya cahaya dari enam senter HP kami yang bergetar karena tangan kami gemetar.
Di dalam balai desa yang sempit ini, kami baru sadar, kami tidak sendirian. Di setiap sudut ruangan, ada bayangan hitam tinggi besar berdiri diam. Mata mereka menyala merah.
"Jangan ada yang gerak!" bisik gue pelan.
Tapi Sinta yang panik malah menjerit dan senternya jatuh ke lantai. Cahaya senternya mengarah ke atas, menyorot langit-langit kayu balai desa.
Dan di langit-langit itu, ada puluhan wajah pucat menempel, menatap kami dari atas dengan mulut menganga lebar.
"AAAKHHH!"
Kami semua lari ke tengah ruangan, saling berpelukan.
Dari luar, suara ketukan di kaca semakin keras. TOK! TOK! TOK! Nenek Jum masih menempel di jendela, tapi sekarang di belakangnya sudah ada puluhan warga desa lain. Semua menempelkan wajah pucat mereka di semua jendela balai desa.
Mereka mengepung kami.
Jam dinding yang tadi berhenti di jam 9 malam tiba-tiba berbunyi lagi. Detik jam terdengar sangat keras di ruangan sunyi. Tik... tok... tik... tok...
Tiba-tiba, dari arah belakang balai desa, terdengar suara air ditimba. Suara ember kayu yang berderit. Srokkk... srokkk...
Bima yang paling dekat dengan pintu belakang menoleh, "Di belakang ada sumur. Gue lihat tadi siang waktu kita datang."
Gue ingat pesan Pak Dosen pagi tadi: "Jangan pernah masuk ke hutan belakang balai desa."
Sumur itu ada di belakang balai desa, persis di batas hutan jati yang dilarang.
Suara timba air semakin keras, seperti ada yang sedang mengambil air tengah malam.
Maya yang peka sama hal gaib tiba-tiba berbisik dengan air mata mengalir, "Sel, gue denger suara anak kecil nangis dari sumur itu. Katanya... katanya dia kedinginan. Dia minta tolong."
Kami semua merinding. Tidak ada yang berani bergerak.
Tapi Riko, dengan jiwa kontennya, malah mengangkat kamera, "Gue harus rekam ini. Ini bukti. Kalau kita selamat, video ini bisa viral."
"Riko jangan!" gue larang.
Tapi Riko sudah membuka pintu belakang balai desa sedikit. Angin dingin dari hutan langsung masuk. Bau tanah basah dan bunga kamboja busuk menyengat.
Di luar, 10 meter dari balai desa, ada sebuah sumur tua dari batu bata merah yang ditumbuhi lumut. Di atas sumur ada kayu penyangga yang sudah lapuk. Dan ada seorang anak kecil perempuan, pakai baju putih lusuh, duduk di bibir sumur sambil menangis, kakinya menggantung di dalam sumur.
Anak itu menoleh ke arah kami. Wajahnya pucat, bibirnya biru. Dia melambaikan tangan ke Riko.
"Kak... tolong aku... dingin..."
Riko seperti terhipnotis, dia melangkah keluar, mendekati sumur. Kameranya masih merekam.
"Riko! Jangan keluar!" teriak Farhan.
Tapi Riko sudah sampai di bibir sumur. Dia mengulurkan tangan ke anak kecil itu.
Saat tangan Riko menyentuh tangan anak itu, tangan anak itu berubah menjadi tangan hitam keriput yang penuh tanah. Anak kecil itu tertawa melengking, suaranya berubah menjadi suara nenek-nenek.
Wajah anak itu berubah menjadi wajah Nek Jum yang menyeramkan.
"Akhirnya dapat satu," bisiknya.
Tangan hitam itu menarik Riko dengan kuat. Riko berteriak, "TOLONG GUE!"
Bima dan Farhan langsung lari keluar menarik Riko. Gue ikut menarik.
Tarik menarik terjadi di bibir sumur. Dari dalam sumur yang gelap itu, kami melihat ke bawah, ada puluhan tangan lain di dalam sumur yang ikut menarik kaki Riko ke dalam.
Sumur itu tidak berisi air. Sumur itu berisi tumpukan tulang dan tengkorak manusia yang sudah lama.
Dan di dinding sumur, ada tulisan yang diukir dengan kuku: JANGAN PERCAYA WARGA DESA KALIJATI - KKN 1978.
KKN 1978? Itu tahun yang sama dengan foto di dinding balai desa tadi. Foto yang wajahnya adalah wajah kami.
Tiba-tiba, dari arah hutan belakang sumur, terdengar suara gamelan Jawa dimainkan pelan. Suara gamelan kematian.
Dan puluhan obor menyala di dalam hutan yang gelap, bergerak mendekati kami.
Warga desa yang sebenarnya baru datang sekarang.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐