Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Perjodohan dan Bayangan yang Semakin Dekat
Telepon terputus. Reza berdiri diam beberapa detik dengan ponsel masih di tangan. Lalu dia berbalik. Raka dan Keenan menatapnya tanpa berkedip.
“Perjodohan,” kata Raka pelan. Bukan pertanyaan. Reza tidak menjawab. Keenan menyeberangkan kaki. “Dan dia tahu tentang Aira.”
“Kakek punya telinga di mana-mana,” kata Reza akhirnya. Suaranya serak. “Saya tidak memberi konfirmasi.”
Raka tertawa pendek, tanpa humor. “Tidak memberi konfirmasi. Tapi wajahmu sudah menjawab.”
Aira muncul di ambang pintu kamar. Dia berdiri dengan selimut masih tersampir di bahu, wajah datar, tapi matanya tajam. “Saya dengar kata perjodohan dan nama saya.”
Ketiga pria itu menoleh serentak. Reza menghela napas. “Kakek saya. Urusan keluarga.”
“Urusan keluarga yang melibatkan saya.” Aira melangkah masuk ke ruang tamu. “Dia menyuruhmu menangkap atau menetralkan saya.”
Reza tidak membantah. Aira mengangguk pelan seolah sudah menduga. “Masuk akal. Saya mantan pembunuh, gadis yang merepotkan. Dan sekarang saya membuat letnan berencana batal menikah.”
“Saya tidak pernah bilang batal,” kata Reza cepat.
“Tapi kamu juga tidak bilang akan datang ke acara itu.” Aira duduk di tepi sofa, menekan sisi tubuhnya. “Berapa mahar yang sudah dibicarakan? Kalau besar, saya bisa mengerti kenapa kakekmu marah.”
Raka menyeringai tipis. “Aira…”
“Saya serius. Kalau maharnya besar, berarti keluarga calon juga kuat. Berarti tekanan ke Reza lebih besar. Berarti saya semakin berbahaya untuk dia.”
Reza berjalan mendekat, berhenti di depan Aira. “Ini bukan soal mahar.”
“Lalu soal apa?”
“Soal kamu.” Suaranya rendah. “Saya belum memberi jawaban pasti pada kakek karena saya sendiri belum punya jawaban.”
Aira menatapnya lama. “Jawaban tentang apa? Menangkap saya atau melindungi saya?”
Reza tidak menjawab. Keenan memecah keheningan. “Kalau kakekmu sudah tahu lokasi kasar, berarti kebocoran informasi lebih parah dari yang kita kira. Kita harus pindah sebelum matahari terbit.”
Raka mengangguk. “Setuju. Malam ini terlalu quiet. Saya tidak suka.”
Aira berdiri. “Sebelum pindah, saya mau tahu satu hal.” Dia menatap Reza. “Kalau suatu hari kamu harus memilih antara perintah keluarga dan saya… kamu pilih yang mana?”
Reza membuka mulut. Menutup lagi. Akhirnya bilang, “Saya belum tahu.”
Aira mengangguk sekali. “Jujur. Lebih baik daripada janji kosong.” Dia berbalik menuju kamar. “Saya ambil barang. Lima menit.”
Begitu Aira menghilang di balik pintu, Raka menatap Reza tajam. “Kamu membuatnya terdengar seperti beban.”
“Dia memang beban,” balas Reza pelan. “Beban yang tidak bisa saya taruh.”
Keenan berdiri, merapikan tas medis. “Kita bahas beban nanti. Sekarang siapkan kendaraan. Saya tidak ingin terjebak di sini kalau tim mereka datang lebih cepat.”
Reza mengangguk. Dia mengeluarkan radio dan memberi perintah singkat pada dua orang di luar. Raka masuk ke kamar Aira tanpa ketuk.
Aira sedang memasukkan pisau lipat ke saku. “Aturan. Ketuk dulu.”
“Situasi darurat.” Raka menutup pintu di belakangnya. “Kamu baik-baik saja?”
“Saya selalu baik-baik saja.”
“Bohong.” Dia mendekat. “Tadi kamu bilang beban. Kamu tidak suka jadi beban.”
Aira mengencangkan tali sepatu bot. “Tidak ada orang yang suka jadi beban. Apalagi beban yang membuat orang lain batal menikah dengan mahar besar.”
Raka memegang pergelangan tangannya. “Saya tidak peduli mahar siapa pun.”
“Kamu bukan Reza.”
“Saya lebih baik.”
Aira mengangkat wajah. “Bohong.”
“Jujur.” Raka menunduk sedikit. “Kalau Reza harus memilih keluarga, saya tidak akan memilih apa-apa selain kamu.”
Aira menarik tangannya pelan. “Jangan bilang seperti itu. Nanti saya tagih kalau kamu berubah pikiran.”
“Tagih saja.”
Pintu dibuka dari luar. Keenan berdiri di sana dengan wajah tegang. “Mobil sudah siap. Kita keluar lewat belakang. Sekarang.”
Mereka bergerak cepat. Aira di tengah, Raka di kanan, Keenan di kiri, Reza memimpin di depan. Pintu belakang dibuka. Udara malam langsung terasa lebih dingin. Begitu langkah pertama mereka menyentuh tanah di halaman belakang, lampu jalan di ujung gang tiba-tiba mati.
Semua berhenti. Reza mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Radio di pinggangnya berbunyi pelan, lalu mati total. Gangguan.
Aira merasakan instingnya berteriak. “Mereka sudah di sini.”
Raka mengeluarkan pistol. Keenan mendorong Aira ke balik tembok rumah. Reza memberi kode pada dua anak buah yang seharusnya ada di depan—tidak ada jawaban.
Dari arah atap rumah tetangga, bayangan bergerak. Kemudian dari belakang pohon. Kemudian dari mobil yang parkir di kejauhan dengan lampu mati. Lebih banyak dari yang mereka duga.
Reza berbisik, “Mundur ke dalam. Sekarang.”
Terlambat. Suara tembakan pertama memecah malam. Bukan ke arah mereka. Ke arah ban mobil yang sudah disiapkan. Ban kempes dengan cepat. Aira menekan tubuhnya ke tembok. Nyeri rusuknya menghilang digantikan adrenalin. Dia memegang pisau. “Berapa perkiraan?”
Reza menghitung cepat dari bayangan. “Minimal delapan. Mungkin dua belas.”
Raka menatap Aira. “Tetap di belakang saya.”
“Saya tidak biasa di belakang.”
“Kali ini biasakan.”
Keenan mengeluarkan pistol kecil dari tas medis—ternyata dia juga membawa senjata. “Saya jaga kiri.”
Tembakan kedua datang. Lebih dekat. Serpihan tembok beterbangan di dekat kepala Aira.
Reza membalas tembakan. Satu bayangan jatuh. “Masuk rumah! Bertahan di dalam!”
Mereka mundur cepat. Pintu belakang ditutup dan dikunci. Aira langsung mendorong lemari kayu untuk menghalangi. Raka membantu. Keenan mematikan semua lampu. Gelap. Hanya napas mereka yang terdengar. Di luar, langkah kaki semakin banyak. Rapi. Terlatih.
Aira berbisik di gelap, “Reza.”
“Ya.”
“Kalau kita tidak selamat malam ini… bilang pada kakekmu terima kasih sudah mengingatkan soal perjodohan. Minimal dia peduli.”
Reza terdiam. Lalu menjawab serak, “Kita akan selamat. Saya belum menjawab dia. Saya tidak akan menjawab sambil mati.”
Raka memegang tangan Aira di gelap. “Tidak ada yang mati.”
Keenan memeriksa magasin. “Fokus. Mereka akan masuk dari dua arah.”
Bunyi kaca jendela depan pecah. Kemudian pintu belakang digedor dengan keras. Aira menarik napas dalam. Pisau siap. Malam yang tadi sepi sekarang berubah menjadi medan tempur. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak menghitung uang di kepala. Dia menghitung nyawa—punya sendiri, dan punya tiga pria merepotkan di sekelilingnya.
Pintu belakang jebol pada pukulan ketiga. Kayu retak. Engsel lepas. Asap dari granat kejut masuk lebih dulu sebelum tubuh-tubuh berpakaian hitam menyusul. Aira sudah menunggu di balik sofa yang dibalik. Dia tidak melempar pisau. Dia menunggu sampai kaki pertama masuk, lalu menusuk pergelangan tangan yang memegang senjata. Bunyi tulang patah terdengar jelas meski di tengah tembakan.
Raka menembak dari sudut dapur. Satu orang jatuh. Reza dari dekat jendela, dua tembakan tepat. Keenan—yang ternyata bisa menembak lurus—mengambil posisi di koridor kamar, menutup sudut mati.
“Kiri!” teriak Reza.