NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:114
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN DI BALIK KEBUN CENGKEH: AWAL MULA LANGKAH ARYA ARSYAD SIKUMBANG

Udara Pande Sikek pada pagi hari selalu membawa aroma yang khas: gabungan antara embun pegunungan yang membeku di ujung daun ilalang, aroma tanah vulkanik yang subur dari lereng Gunung Singgalang, dan bau harum sisa kayu manis serta getah pinus yang terbawa angin lembah. Di sebuah rumah gadang beratap seng yang mulai berkarat di beberapa bagian, kesibukan harian telah dimulai bahkan sebelum kabut putih tipis beranjak dari pucuk-pucuk pohon kelapa. Rumah itu bukan sekadar tempat bernaung bagi keluarga Abdullah bin Rais Payobadar dan Siti Aminah Sikumbang, melainkan sebuah bengkel kehidupan tempat keringat, seni, dan ketekunan berpadu menjadi satu.

Di sudut serambi belakang yang menghadap langsung ke arah barisan bukit barisan, Abdullah duduk bersila di atas tikar pandan usang. Di hadapannya terbentang sebilah papan kayu surian pilihan yang telah dikeringkan selama berbulan-bulan di bawah terik matahari. Dengan menggunakan pahat kecil bergagang kayu nangka dan sebuah palu kayu kecil, tangannya yang penuh dengan bekas luka goresan dan kapalan tebal bergerak dengan sangat teliti. Setiap ketukan palu terdengar berirama, tak... tak... tak..., menciptakan alunan sunyi yang mengukir motif ukiran Minangkabau tradisional: Kaluak Paku dan Aua Duri. Motif-motif itu melengkung anggun, menggambarkan filosofi hidup orang Minang yang kuat berakar namun fleksibel menghadapi terpaan angin zaman.

Tidak jauh dari tempat Abdullah duduk, di ruang tengah yang agak terbuka menghadap halaman samping, istrinya—Siti Aminah—tengah duduk di depan sebuah alat tenun tradisional kayu atau yang biasa disebut panta. Suara bangkak alat tenun yang ditarik dan dihentakkan berirama konstan, menemani ketukan pahat suaminya. Di atas panta itu, benang-benang kapas berwarna merah tua, hitam, dan benang emas perlahan-lahan berubah menjadi sehelai kain tenun pandai sikek yang megah. Jemari Siti Aminah yang lincah menyisipkan karap untuk merapatkan benang, menciptakan motif geometris dan flora yang rumit dengan ketelitian luar biasa. Di rumah ini, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia; setiap anggota keluarga bekerja dengan tangan mereka untuk bertahan hidup dan merajut masa depan.

Namun, di balik suara ketukan pahat dan dentuman alat tenun, ada satu sudut sunyi di balik kebun cengkeh di belakang rumah yang menyimpan cerita lain. Di sanalah Arya Arsyad Sikumbang, anak bungsu keluarga itu yang baru berusia sepuluh tahun, menghabiskan sebagian besar waktunya dengan cara yang sangat berbeda dari anak-anak sebayanya. Arya bukanlah anak biasa. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah duduk di kelas akhir sekolah dasar karena kecerdasannya yang melompati beberapa tingkat. Akan tetapi, di balik otaknya yang tajam dalam menyerap pelajaran ilmu pasti dan bahasa, tersimpan sebuah ketertarikan yang mendalam pada dunia yang jauh lebih keras dan mistis: dunia Silek Tuo—bela diri tradisional leluhur Minangkabau.

Sejak pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar naik meninggi, Arya sering diam-diam menyelinap ke balik rimbunnya pohon cengkeh dan rumpun bambu di belakang kebun. Di atas tanah gembur yang tertutup serasah daun kering, ia mulai bergerak sendiri. Tanpa instruksi langsung dari guru pada saat itu, ia mengamati, mengingat, dan mencoba menirukan setiap gerakan dasar Silek Tuo Harimau yang pernah ia saksikan saat latihan bersama kakak-kakaknya di Pos Satu di bawah didikan sang mamak, Usman Bin Rauf Sikumbang.

Arya menyadari bahwa dirinya diperlakukan sedikit berbeda oleh Mamak Usman. Ketika kedua kakak laki-lakinya—Andi Rajo Alam dan Arlan Rasyad—serta sepupu-sepupunya dilatih bersama dalam kelompok besar di lereng bukit dengan terompah kayu, Arya justru sering kali diminta untuk berlatih mandiri di tempat terpisah. Bukan karena ia dibeda-bedakan dalam hal kasih sayang, melainkan karena sang mamak melihat sesuatu yang unik dalam diri anak bungsu itu: ketenangan mental yang tidak biasa, daya tangkap visual yang tajam, serta struktur tubuh yang masih kecil namun memiliki kelenturan luar biasa. Mamak Usman tahu betul bahwa Silek Tuo bukan sekadar tentang memukul dan menendang, melainkan tentang memahami keseimbangan alam, gravitasi bumi, dan kepekaan rasa. Dan Arya, dengan segala kejeniusannya, dianggap mampu mencerna latihan-latihan berat itu dengan caranya sendiri yang sunyi.

Di balik kebun cengkeh itu, Arya memulai ritual latihannya seorang diri. Angin lembah yang dingin menerpa kulitnya yang hanya mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek kain katun kasar. Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah, merendahkan pusat gravitasinya hingga pahanya sejajar dengan tanah, meniru gerakan harimau yang mengintai mangsanya di dalam belukar. Tangannya yang kecil mengepal di pinggang, sementara pandangannya tajam menatap bayangannya sendiri di atas tanah. Ia melatih langkah Silek secara berulang-ulang: langkah Ampek (empat penjuru angin), geseran kaki yang menyeret lembut tanpa menimbulkan suara berisik di atas daun kering, serta tangkisan cepat yang memotong arah serangan khayalan dari depan.

Di saat ia sedang serius melatih pernafasannya, langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari arah jalan setapak kebun. Suara ranting patah di bawah sepatu sandal karet langsung dikenali oleh Arya. Itu adalah Mamak Usman Bin Rauf Sikumbang. Pria paruh baya berbadan tegap dengan otot lengan yang menonjol akibat bertahun-tahun mencangkul sawah dan melatih silek itu berdiri di tepi batas kebun cengkeh, menyilang kedua tangannya di dada sambil memperhatikan keponakannya dari kejauhan.

Usman mengamati bagaimana bocah sepuluh tahun itu tidak membuang-buang tenaga. Setiap gerakan Arya terlihat bersih, terkontrol, dan penuh kesadaran. Meskipun usianya masih sangat muda dan tubuhnya belum sebesar kakaknya Arlan, ketepatan posisi tubuh Arya menunjukkan bahwa ia benar-benar meresapi setiap pelajaran yang pernah dilihatnya. Dalam hati, Usman merasa kagum sekaligus bangga. Darah seni ukir dari Abdullah dan darah ketekunan tenun dari Siti Aminah, berpadu dengan garis keturunan pejuang adat di keluarga Sikumbang, seolah menyatu sempurna di dalam diri anak bungsu ini.

Usman melangkah mendekat, bayangan tubuh tingginya menutupi sinar matahari pagi yang menyelinap di antara dedaunan cengkeh. Arya yang menyadari kehadiran sang mamak langsung menghentikan gerakannya, berdiri tegak, lalu mengangkat kedua tangan di depan dada memberi salam hormat khas pesilat Minang—menyembah dengan takzim.

“Alah sampai mano latihan ang, Arya(Latihanmu sudah sampai mana, Arya)?” suara Usman terdengar berat, tegas, namun menyimpan kehangatan kebapakan yang dalam.

“Langkah dasar ampek penjuru jo tangkisan bawah, Mamak,” jawab Arya dengan nada sopan, napasnya sedikit memburu namun suaranya tetap jernih. Ia berdiri tegak, menatap mata sang mamak tanpa rasa takut atau canggung, sebuah sikap mental yang jarang dimiliki anak seumurannya.

Usman tersenyum tipis, memperlihatkan garis-garis kerut di ujung matanya yang sering diterpa angin gunung. Ia tahu bahwa memisahkan Arya dari latihan kelompok utama bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah ujian khusus. Ia melihat potensi besar pada diri keponakannya itu, potensi yang jika diasah dengan metode yang tepat, akan melahirkan seorang pesilat dengan kecerdasan taktis yang mematikan.

““Mamak mancaliak, ang baraja surang di siko satiok hari, sasudah manolong ayah ang di rumah.(Paman perhatikan, kau berlatih sendiri di sini setiap hari setelah membantu ayahmu di rumah),” kata Usman sambil berjalan pelan mengitari tempat latihan Arya di atas tanah berumput tipis itu. Ia menendang kecil sebuah ranting kayu dengan ujung jarinya. “Kau tahu dek apo Mamak indak manyatukan latihan kau jo kakak-kakak kau di lereng bawah satiok hari?(Kau tahu kenapa Paman tidak menyatukan latihanmu bersama kakak-kakakmu di lereng bawah setiap hari)?”

Arya menggeleng pelan. “Indak tahu, Mamak. Apo dek badan ambo masih ketek?(Tidak tahu, Paman. Apakah karena badan saya masih kecil)?”

Usman berhenti melangkah, lalu menoleh menatap tajam ke arah bocah itu. ““Bukan dek badan ang ketek, Arya. Badan tu bisa gadang sakaligus maso bajalan. Tapi isi kapalo jo tahan hati, itu nan paralu dibantuak dahulu.

Kakak-kakak ang baraja silek untuak mambangun kakuaikan badan jo kakompakan basamo. Tapi ang... ang punyo caro bapikia nan lain.

Otak ang bakarajo labiah capek dari anak-anak lain nan saumur jo ang. Kalau ang disatukan taruih dalam latihan basamo, ang samo sajo akan manuruik aruih mereka, indak akan manamui watak ang surang dalam basilek.(Bukan karena badanmu kecil, Arya. Badan bisa besar seiring waktu berjalan. Tapi isi kepala dan ketahanan hati, itu yang harus dibentuk lebih dulu. Kakak-kakakmu berlatih untuk membangun kekuatan fisik dan kekompakan kelompok. Tapi kau... kau punya cara berpikir yang berbeda. Otakmu bekerja lebih cepat dari anak-anak lain seusiamu. Kalau kau disatukan dalam latihan umum terus-menerus, kau hanya akan mengikuti arus mereka tanpa menemukan karaktermu sendiri dalam bersilek).”

Usman mendekati Arya, lalu meletakkan telapak tangannya yang kasar dan hangat di atas pundak anak itu. “Silek Tuo Harimau indak sakadar ilmu untuak manjatuhkan lawan di galanggang. Silek ko adolah ilmu untuak bar tahan dalam hiduik, mambaco niat urang dari satiok gerak nan ketek, jo mamaliaro diri supayo amarah indak mangalahkan aka sehat. Mamak nampak bakat tu dalam diri ang. Dek karano itu, mulai hari ko, Mamak akan mambari ang latihan nan khusus. Latihan tu musti ang jalani surang-suruang, satiok hari, di lua jam sakolah jo di lua waktu ang manolong ayah jo mande di rumah.(Silek Tuo Harimau bukan sekadar ilmu untuk menjatuhkan lawan di gelanggang. Itu adalah ilmu tentang bagaimana bertahan hidup, membaca niat seseorang dari gerak gerik sekecil apa pun, dan mengendalikan diri agar amarah tidak menguasai akal sehat. Mamak melihat bakat itu padamu. Dan karena itu, mulai hari ini, Mamak akan memberikan latihan khusus yang harus kau selesaikan sendiri setiap hari, di luar jam sekolahmu dan di luar jam membantumu di rumah.)”

Mata Arya langsung berbinar mendengar kata-kata itu. Ada semangat yang menyala di balik dadanya yang kecil. Menjadi bagian dari lingkaran rahasia Silek Tuo di bawah didikan langsung sang mamak adalah impian setiap anak muda di Pande Sikek, apalagi bagi seorang anak berusia sepuluh tahun yang haus akan tantangan fisik dan mental.

“Apo parintah Mamak? Ambo akan manuruik sagalo nan Mamak suruah, indak akan ambo bantah.(Apa perintah Paman? Saya akan lakukan semuanya tanpa membantah,)” ucap Arya dengan penuh antusias, suaranya mantap menunjukkan kesungguhan yang luar biasa.

Usman mengangguk puas melihat tekad di mata keponakannya. Ia tahu anak ini tidak sedang main-main. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil berisi instruksi latihan keras yang dirancang khusus untuk menguji daya tahan fisik, kelenturan, dan cengkeraman tangan seorang calon pendekar.

“Danga elok-elok parentah Mamak.(Dengar baik-baik perintah Mamak),” ucap Usman dengan nada yang mulai serius, mencerminkan wibawa seorang guru silat tua. “Mulai dari kini, satiok hari sasudah pulang sakolah jo sudah manolong ayahmu mangukia kayu, kau harus manjalankan latihan tambahan nan barat ko surang-surang. Indak buliah ado urang manolong, indak buliah ado urang manamani. Sadonyo harus kau salasaiakan jo usahamu surang.(Mulai hari ini, setiap hari sepulang sekolah dan setelah membantu ayahmu mengukir kayu, kau harus melakukan latihan tambahan yang berat ini sendirian. Tidak boleh ada yang membantu, tidak boleh ada yang menemani. Semua harus kau selesaikan dengan usahamu sendiri.)”

Arya mendengarkan dengan seksama, setiap kata dari mulut sang mamak direkam kuat-kuat di dalam kepalanya yang cerdas.

“Partamo(Pertama,)” lanjut Usman sambil mengangkat satu jarinya. ““Ang harus balari manyusuri pematang sawah pusako di lurah bawah tu, limo kali sahari. Langkahnyo jan baranti di tangah jalan, jago pulo tempo larinyo supayo tatap samo.

Pematang sawah tu licin jo sampik, di sabalah kanan ado lumpua dalam. Kalau ang lalai jo indak hati-hati, ang bisa tajatuah.

Latihan ko untuak malatih kasaimbangan kaki, mangatur napas dari dado, jo mamacik tahan jantuang ang, supayo indak capek mudah waktu baraguah jo barantiak cepat.Jan cuma kuat badan sajo, Arya. Ang harus bisa manahan badan, napas, jo pikiran ang basamo-samo.”Kau harus berlari mengitari pematang sawah pusako di lembah bawah sebanyak lima kali sehari penuh, dengan tempo konstan tanpa boleh berhenti di tengah jalan. Pematang sawah itu licin, sempit, dan di sisi kanannya adalah lumpur dalam. Kalau kau tidak fokus, kau akan jatuh. Latihan ini untuk melatih keseimbangan kaki, pernapasan dada, dan ketahanan jantungmu agar tidak mudah lelah saat bergerak cepat.”

““Iyo, Mamak. Limo kali putaran pematang sawah satiok ari.(Baik, Paman. Lima kali putaran pematang sawah setiap hari),” ulang Arya menegaskan instruksi tersebut agar tidak ada yang terlewat.

“Kaduo(Kedua),” Usman mengangkat jari kedua. “Sudah salasai ang balari, ang harus malatih kakuatan jari-jari ang. Di suduik gudang balakang rumah, ado sabuah guci basi ketek tingga-tingga dari niniak ang. Guci tu harus ang isi jo aia saparuah, sudah tu bagian muko aia tu ang lumuri jo minyak kalapa murni supayo licin.

Tugas ang, mancangkam bibia guci basi nan licin tu jo ujuang-ujuang jari ang—jan jo tapak tangan sacaro panuah—lalu angkek sampai tinggi dada salamo sapuluah hitungan panuah. Ulang sabanyak sapuluah kali, paliang kurang satiok patang.

Latihan ko akan mambuek jari-jari ang jadi kuat bak basi. Ang akan mampu mancangkam baju lawan, mamatahkan sandi, atau manotok titik nan mamatehkan dalam batamu jarak dakek.(Setelah selesai berlari, kau harus melatih kekuatan jari-jemarimu. Di sudut gudang belakang rumah, ada sebuah guci besi kecil peninggalan kakekmu. Guci itu harus kau isi dengan air setengah penuh, lalu bagian permukaannya kau lumuri dengan minyak kelapa murni supaya licin. Tugasmu adalah mencengkeram bibir guci besi yang licin itu dengan ujung-ujung jarimu—bukan dengan telapak tangan penuh—lalu mengangkatnya setinggi dada selama sepuluh hitungan penuh, diulang sebanyak sepuluh kali setidaknya setiap sore. Latihan ini akan membuat jari-jemarimu sekuat baja, mampu mencengkeram pakaian lawan, mematahkan sendi, atau menotok titik mematikan dalam pertarungan jarak dekat.)”

Arya membayangkan guci besi kecil yang licin itu. Bayangan tentang bagaimana jari-jemarinya harus bekerja ekstra keras untuk mencengkeram permukaan berminyak membuatnya sedikit bergidik, namun semangatnya justru semakin membara. Ia tahu latihan itu pasti sangat menyakitkan bagi jari-jari anak kecil seusianya, tetapi ia tidak sedikit pun berniat mundur.

“Katigo(Ketiga,)” ucap Usman sambil mengangkat jari ketiga dengan pandangan yang semakin tajam. ““Manjalo kaki. Urang silek harimau indak akan bisa malompek tinggi atau manendang tepat ka sasaran kalau urek pahonyo kareh. Sasudah barlari jo mancakuik guci, ang harus manjalo kaki bana-bana, supayo kaki ang bisa marentang luruih ka sampiang jo ka muko. Caronyo: sasudah barlari, satukan kaduo tapak kaki ang di muko dado, duduak dalam posisi basila taraliak. Lalu, takan kaduo lutut ang perlahan-lahan ka bawah sampai manyantuah tanah, jo tanago kaki ang surang, indak buliah dibantu dek tangan urang lain. Lakukan itu sampai urek paha jo pangkal paha ang taraso angek jo luntuah.(Peregangan kaki. Seorang pesilat harimau tidak akan bisa melompat tinggi atau menendang tepat sasaran jika otot pahanya kaku. Selepas latihan lari dan cengkeraman guci, kau harus melakukan peregangan kaki secara sempurna supaya bisa merentang lurus sejajar ke samping dan ke depan. Caranya: seusai berlari, satukan kedua telapak kaki bagian bawahmu di depan dada dalam posisi duduk bersila terbalik, lalu tekan kedua dengkulmu perlahan-lahan ke bawah hingga menyentuh permukaan tanah dengan kekuatan kakimu sendiri tanpa bantuan tangan orang lain. Lakukan itu sampai otot paha dan pangkal paha terasa panas dan lentur.)”

Usman menatap wajah Arya untuk melihat reaksi anak itu. Instruksi ketiga ini dikenal sebagai salah satu latihan paling menyiksa bagi pemula karena memaksa sendi panggul dan otot paha untuk membuka secara maksimal. Banyak pemuda berumur belasan tahun yang menangis kesakitan saat pertama kali mencoba latihan peregangan tersebut.

Namun, Arya sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Wajahnya tetap tenang, bahkan seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia tahu bahwa tubuhnya yang masih anak-anak adalah masa emas untuk membentuk kelenturan yang tidak akan bisa dicapai jika ia menunggu sampai dewasa.

“Saya akan lakukan semuanya, Mamak,” jawab Arya dengan suara yang sangat yakin. ““Ambo akan barari di pematang sawah, mangangkek guci basi nan barminyak tu, jo malatih pamanjangan kaki sampai lutut ambo bisa manyium tanah di kabun ko(Saya akan berlari di pematang sawah, mengangkat guci besi berminyak itu, dan melatih peregangan kaki sampai dengkul saya bisa mencium tanah di kebun ini.)”

Paman Usman tertawa kecil mendengar jawaban mantap dari keponakannya. Tawa yang jarang ia lepaskan di depan orang banyak, tawa yang penuh dengan rasa bangga seorang guru yang menemukan murid sejati. Ia menepuk-nepuk pundak Arya dengan agak kuat, membuat bocah itu sedikit terhuyung namun tetap tegak berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh.

““Bagus! Itulah baru anak dari darah Sikumbang jo Payobadar!(Bagus! Itulah baru anak dari darah Sikumbang dan Payobadar,)” puji Usman dengan suara berwibawa. ““Mamak tahu, ang anak nan cadiak di sakolah. Raport ang salalu nomor ciek, guru ang di sakolah salalu mamuji kapandaiannyo ang. Tapi ingek, Arya, di nagari ko, urang nan cadiak sajo indak cukuik untuak malinduangi diri jo keluarga. Ang paralu badan nan kuat, hati nan tahan diuji, jo paham akan harga diri sarato adat istiadat. Ilmu nan umum mambuek ang tahu dunia, tapi ilmu silek mambuek dunia manghargoi kamanadaan ang.(Paman tahu kau anak yang cerdas di sekolah. Raportmu selalu nomor satu, gurumu di sekolah selalu memuji kepintaran otakmu. Tapi ingat, Arya, di nagari ini, orang cerdas saja tidak cukup untuk melindungi diri dan keluarganya. Kau butuh fisik yang kuat, mental yang tahan banting, dan pemahaman tentang harga diri serta adat istiadat. Ilmu pengetahuan umum membuatmu tahu dunia, tapi ilmu silek membuat dunia menghormati keberadaanmu.)”

Setelah percakapan singkat itu, Usman berpesan agar Arya mulai menjalankan rutinitas barunya esok hari selepas matahari terbit, dan berpesan pula agar Arya tidak menceritakan detail latihan keras ini kepada siapapun—bahkan kepada kedua kakak laki-lakinya—untuk menjaga konsentrasi dan fokus mental sang anak bungsu. Usman lantas meninggalkan kebun cengkeh itu, berjalan kembali menuruni jalan setapak menuju sawah tempat Abdullah menanti untuk mencangkul bersama.

Tinggallah Arya seorang diri di balik rimbunnya pohon cengkeh. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin pegunungan yang masuk memenuhi rongga dadanya, lalu menghembuskannya perlahan melalui hidung. Di kejauhan, dari arah rumah, samar-samar masih terdengar suara ketukan pahat kayu ayahnya yang berirama konstan dan suara hentakan alat tenun ibunya yang tidak pernah lelah. Suara-suara itu menjadi latar musik alami bagi kehidupannya sehari-hari—kehidupan yang ditempa di atas tanah vulkanik Pande Sikek, di antara kerja keras keluarga petani, ketulusan seni tradisional, dan warisan leluhur berupa ilmu bela diri yang mematikan namun penuh keindahan.

Hari-hari berikutnya di Pande Sikek berjalan dengan kecepatan yang menakjubkan bagi Arya. Sesuai janjinya kepada sang mamak, ia membagi waktunya dengan disiplin yang luar biasa ketat. Pagi hari hingga siang ia habiskan di ruang kelas sekolah dasar, menyerap pelajaran hitungan, sejarah, dan tata bahasa Indonesia dengan mudah. Pulang sekolah, ia tidak langsung bermain bersama teman-temannya di lapangan kampung. Ia bergegas pulang ke rumah, mengga

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!