NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 3

di malam hari setelah perbincangan tentang mengenai kematian pak Sucipto Eveline menyuruh mereka berdua menunggu di depan untuk mereka menjemputnya, sepuluh menit kemudian Johan tiba menjemput Mereka dengan mengendarai mobilnya.

johan membuka jendela mobilnya

"apakah kalian Eva dan Nathan?" (tanya Johan)

"iya" (jawab Eva)

"Oke. ayo masuk kalian berdua"

Mereka berdua segera masuk kedalam mobil milik johan, sementara Eva duduk di belakang bersama Nathan. beberapa menit berlalu dalam keheningan hingga akhirnya Eva membuka percakapan untuk menanyakan sesuatu.

"Johan..."

"Iya? Ada apa?"

"Apakah kamu tahu seseorang bernama Sucipto?"

Johan mengernyitkan dahi.

"Sucipto yang mana? Orang bernama Sucipto itu banyak."

"Yang pria paruh baya. Yang dibunuh oleh Anomali setelah berhasil melarikan diri dari daerah Strate."

"Oh..." Johan akhirnya memahami maksud Eva. "Yang itu."

Tatapannya tetap fokus ke jalan.

"Setelah kabur dari Strate, Sucipto memang sempat menjadi buronan. Sebelum dibunuh, dia mendapat ancaman dari salah satu petinggi bernama Lucas."

Eva memperhatikan Johan dari kursi belakang.

"Ancaman seperti apa?"

"Dia diperintahkan untuk kembali ke Strate dan tidak menyebarkan informasi mengenai eksploitasi yang dilakukan para petinggi terhadap warga di sana."

"Tapi ternyata ada seseorang yang berhasil merekam pembicaraan mereka."

"Dan rekamannya masih ada? " (ujar Eva.)

Johan merogoh sakunya dan mengambil ponsel lalu membuka ponsel lalu segera mengarahkannya ke sebuah rekaman suara kemudian memberikan ponsel itu ke Eva.

"Orang yang merekamnya adalah salah satu dari mereka yang berhasil kabur. Dia meninggalkan ponselnya di tempat yang sulit ditemukan."

Eva mengambil ponsel itu kemudian ia menatap ponsel tersebut walaupun rekaman suara tersebut belum di putar

"Rekaman eksploitasi?"

Johan mengangguk.

"Dengarkan sendiri."

Eva kemudian memutar rekaman suara itu untuk mendengarkan dan Nathan pun ikut mendengarkan

percakapan rekaman suara

di dalam rekaman suara itu terdengar dua orang dewasa yang sedang bercakap-cakap namun suara mereka cukup samar-samar

"Kamu tahu warga Strate itu begitu polos. Mereka bahkan nggak sadar kalau sebenarnya kita cuma mengincar hasil hutannya."

Terdengar tawa dari salah satu pria.

"Hahaha... benar. Enak juga bekerja sama dengan orang-orang polos. Mereka mengira ini menguntungkan mereka, padahal sebenarnya ini cuma bentuk pembodohan massal."

"Iya. Pada akhirnya kita yang akan untung."

Rekaman itu selesai

...****************...

"Tega banget..."

"Memang benar. Kalau manusia dasarnya serakah dan egois, mereka bisa melakukan apa saja demi mengenyangkan perutnya sendiri" (ujar Nathan)

Johan mengangkat kedua bahu.

"Sayangnya, hal seperti itu sudah biasa, Mas."

Eva mengembalikan ponselnya ke Johan. Johan pun mengambil ponselnya seketika di benak Eva bertanya dirinya dan Nathan akan di bawah kemana

"Lalu... Johan kita ini kamu mau membawa kami kemana? (tanya Eva)

"aku ingin membawa kalian berdua menuju rumah dua orang strate yang berhasil kabur"

"kabur?" (tanya Eva)

"iya... Kan yang merekam percakapan ini adalah tiga orang tersebut dan mereka berhasil melarikan diri namun salah satu mereka berhasil di bunuh yaitu Sucipto. dan dua nya lagi yang selamat kini Mereka bersembunyi di sebuah perumahan"

"untuk apa kita menuju sana?" (tanya Eva)

"Aku ingin menanyai mereka secara langsung. Salah satu dari mereka memiliki rekaman lanjutan."

"Rekaman lanjutan?" (tanya Nathan)

"Iya. Rekaman yang tersebar hanya sebagian. Ada bagian lain yang belum diketahui publik."

"Kalau rekaman itu memang sudah tersebar, kenapa banyak orang nggak tahu?"

Johan tersenyum miring.

"Kamu tahu sendiri bagaimana polisi siber di sini bekerja kalau menyangkut informasi seperti ini."

Tak lama kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana.

"Kita sampai."

Johan mematikan mesin Ketiganya turun dari mobil.

Johan berjalan menuju pintu rumah tersebut lalu mengetuknya.

tok,tok,tok!!!

Mereka bertiga menunggu Eva berdiri di samping Johan, sedangkan Nathan berjalan beberapa langkah menjauh sambil memperhatikan lingkungan sekitar.

Namun saat Nathan melihat pemandangan halaman rumah sekeliling dengan santai tiba-tiba pandangan Nathan berfokus di atas sebuah atap yang berada cukup jauh dari mereka, berdiri seseorang.

Tubuhnya pendek Sosok itu hanya terlihat sebagai bayangan hitam karena minimnya cahaya Nathan menyipitkan mata ia mencoba memfokuskan pandangannya.

Saat itu, awan yang sejak tadi menutupi bulan purnama perlahan bergeser, Cahaya bulan menerangi atap ia melihat sesosok yang langsung membuatnya membeku. Sosok tersebut mengenakan topeng kucing putih polos dan jaket berjubah hitam yang menjuntai lebar.

Nathan mengenal sosok itu yaitu the luna Legenda pembunuh berantai yang selama ini hanya mereka dengar melalui berbagai cerita Kini, sosok itu berdiri tidak jauh dari mereka dan sedang mengawasi mereka.

*i-itu the Luna.... apa yang dia lakukan disini*

Glup... nathan menelan ludah

*Gawat... tamatlah riwayatku.*

Nathan ingin memperingatkan Eva dan Johan namun ia mengurungkan niatnya entah kenapa, instingnya mengatakan bahwa satu kesalahan kecil bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih buruk. Nathan memilih diam.Sementara itu, pintu rumah akhirnya terbuka.

Seorang wanita muncul dengan wajah kebingungan.

"Selamat malam, Maaf mengganggu...

Mbak, apa benar namanya Shiva?" (tanya Johan)

"Iya, benar kalian bertiga ini siapa ya?"

Shiva memandang ketiganya bergantian.

Alih-alih menjawab, Johan justru langsung melangkah masuk melewati Shiva.Ia berjalan menuju ruang tamu lalu duduk santai di sofa.

"Maaf kalau agak kurang sopan," (ujar Johan sambil bersandar di sofa)

"Aku lebih nyaman kalau ngobrolnya sambil duduk."

"APA-APAAN INI?!"

Johan menghela napa tampak terlihat tidak ingin membuat keributan. Johan kemudian mengambil dompet dari sakunya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu mengulurkannya kepada Shiva.

"Udah, jangan berisik."

Shiva menatap uang tersebut dengan rasa ingin uang tersebut

"Ambil. Terus panggil satu orang lagi yang kabur bersamamu dari Strate. Aku perlu bicara dengan kalian berdua."

Shiva masih menatap uang itu beberapa detik. Akhirnya ia mengambilnya Ia memasukkan uang tersebut ke sakunya.

"Makasih. Maaf tadi sempat teriak." (tersenyum canggung)

"Saya panggilkan sekarang."

Shiva segera masuk ke dalam rumah Johan menoleh kepada Eva dan Nathan.

"Eva, Nathan. Ayo masuk. Jangan bengong kayak orang hilang."

Keduanya akhirnya masuk dan duduk di sofa, masing-masing di sisi Johan. Di dalam sebuah kamar, Shiva menghampiri seseorang yang sedang tertidur lelap.

Seorang pria bernama Dika.

"Kak..."

Shiva menggoyangkan bahunya.

"Kak... Kak! Mas Dika!"

"Mmm... apaan sih? Gangguin orang baru tidur."

Ia membalikkan badan dan kembali tidur membuat Shiva memandangnya kesal.

"Mas Dika..."

Dika yang menghiraukan adiknya kembali tertidur lelap. Shiva akhirnya mengambil sebuah guling.

"Bangun nggak?"

BUK!!!

Guling itu menghantam tubuh Dika.

BUK,BUK!!!

"Bangun!"

Dika akhirnya terbangun lalu duduk dan wajah kesal.

"Apa sih, Shiva?! Ganggu banget!"

Shiva memasang wajah polos.

"Ada tiga orang di luar."

"Tiga orang?"

"Iya. Mereka mau tanya-tanya kita soal orang-orang yang kabur dari Strate."

"APA?!"

dika turun dari kasur karena panik

"Kamu gila, Shiva?! Jangan biarkan mereka masuk!"

"Bagaimana kalau mereka orang suruhannya Pak Lucas?"

"bukan Kak. Aku yakin mereka bukan orang suruhannya Pak Lucas."

"Kamu yakin?"

Shiva mengangguk mantap. Anggukkan shiba membuat rasa percaya Dika kembali muncul

"Oke..."

"Aku percaya sama kamu, Shiva."

Dika turun dari ranjang dan segera berjalan keluar kamar Shiva mengikuti di belakangnya Mereka kembali ke ruang tamu. Johan langsung berdiri ketika melihat Dika.

"Apakah kamu Dika?"

"Iya, aku Dika... e... ada keperluan apa ya malam-malam seperti ini"

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!