"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Adik yang Membenci
Mangkuk tanah liat itu pecah di kusen pintu, sejengkal dari pelipis Dyah Ayu.
Kepingannya berhamburan ke lantai batu. Sisa bubur nasi yang sudah dingin menciprat ke ujung kain jariknya, kental dan kekuningan. Penjaga Sayap Dalam di belakangnya langsung mencabut pedang setengah dari sarungnya.
Dyah Ayu mengangkat tangan tanpa menoleh. Penjaga itu berhenti.
"Keluar!" Suara di dalam bilik itu pecah di tengah, separuh suara anak-anak, separuh suara yang mulai memberat. "Aku tidak mau makan bubur kalian! Aku tidak mau melihat orang Kagendra!"
"Aku bukan orang Kagendra, Le."
Hening. Lalu bunyi tikar pandan yang bergesek, seperti seseorang yang tiba-tiba berdiri terlalu cepat.
***
Raja memberinya izin pagi tadi, di serambi Kedaton, ketika mayat Wening baru saja diangkat dari lorong bawah tanah.
Hayam Vira tidak bertanya apakah Dyah Ayu ingin menemui adiknya. Ia hanya berdiri lama di serambi, menatap tandu bambu yang membawa tubuh gadis itu pergi, lalu berkata pelan, "Siapa pun yang bisa masuk ke bilik tahanan Kedaton tanpa membuka palang pintu, bisa masuk ke Balai Wiyata."
Lalu ia menyerahkan cincin matahari bersudut delapan itu lagi ke tangan Dyah Ayu. Cincin yang sama yang pernah membuka pintu Perpustakaan Lontar.
"Tunjukkan pada penjaga. Dan ganti semua penjaga Balai Wiyata dengan orang-orang Lembu Peteng sebelum matahari terbenam. Katakan itu perintahku."
Dyah Ayu menatap cincin itu di telapak tangannya. Selama satu bulan ia menghitung hari-hari tanpa pernah melihat wajah adiknya. Selama satu bulan ia menukar racun, panah, dan tidurnya sendiri untuk membeli keselamatan anak itu.
Dan sekarang, ketika pintu itu akhirnya terbuka untuknya, kakinya terasa berat untuk melangkah.
***
Bilik tahanan Arya berada di sayap timur Balai Wiyata, di ujung selasar yang dulu dipakai untuk menampung utusan dari kadipaten-kadipaten kecil. Ada jendela berjeruji yang menghadap ke halaman berumput. Ada kasur kapuk dan kendi air bersih. Raja menepati janjinya.
Tetapi anak lelaki yang berdiri di tengah ruangan itu tidak terlihat seperti anak yang tidur di kasur kapuk.
Arya Sadewa lebih tinggi dari yang Dyah Ayu ingat. Sejengkal lebih tinggi, mungkin. Tetapi tubuhnya kurus, tulang selangkanya menonjol di bawah kain lurik yang sudah kebesaran, dan pergelangan tangannya sekecil ranting. Rambutnya yang dulu selalu dipotong pendek oleh ibu mereka kini panjang sampai bahu, kusut menggumpal di beberapa tempat. Kuku-kukunya hitam oleh kotoran.
Di sudut ruangan, tiga mangkuk bubur lain masih utuh, sudah berjamur di permukaannya.
"Kau tidak makan," ucap Dyah Ayu.
"Aku makan." Arya mengangkat dagunya. Gerakan itu, persis gerakan ayah mereka saat menolak utusan Kagendra di balai kadipaten. "Aku makan sekali sehari. Cukup untuk tidak mati. Aku tidak mau mereka mengira aku berterima kasih."
"Siapa yang mengajarimu itu?"
"Kakak." Matanya yang hitam dan besar menatap lurus. "Kakak yang bilang, waktu Ki Patih Rangga Wesi mengirim manisan dari Kepatihan setelah ayah memarahinya. Jangan makan pemberian orang yang ingin kau benci. Nanti lidahmu lupa caranya membenci."
Dyah Ayu tidak ingat pernah mengatakan itu. Tetapi ia percaya ia mengatakannya. Itu terdengar seperti dirinya sendiri, dua tahun lalu, sebelum segalanya.
***
"Para penjaga bicara," lanjut Arya. Suaranya kini lebih pelan, dan justru karena itu lebih tajam. "Setiap malam mereka bicara di luar pintu. Mereka pikir aku tidur."
Dyah Ayu tidak bergerak.
"Mereka bilang putri Watugaluh tidur di ranjang Raja sejak malam pertama. Mereka bilang ia dipindahkan ke paviliun megah. Mereka bilang Raja memberinya kalung yang lebih mahal dari seluruh kadipaten kita." Matanya bergerak ke batu merah di leher Dyah Ayu. Lalu kembali ke wajahnya. "Semalam mereka bilang Raja menggendongnya di depan seluruh alun-alun."
"Le..."
"Ia membakar rumah kita, Kak." Suara Arya pecah lagi, lebih keras kali ini. "Ia membakar Ibu. Aku melihat asapnya dari atas pedati. Kakak juga melihatnya!"
"Aku melihatnya."
"Lalu kenapa Kakak tidur dengannya?"
Kalimat itu menggantung di udara bilik yang pengap.
Dyah Ayu membuka mulutnya. Ia sudah menyiapkan seribu jawaban selama satu bulan ini. Tentang tiga ratus orang di alun-alun selatan. Tentang transaksi di atas ranjang Candrakirana. Tentang bubur dua kali sehari dan jendela yang menghadap halaman berumput.
Tidak satu pun keluar.
Ia hanya berdiri di sana, dengan sisa bubur dingin di ujung kainnya, menatap adiknya yang berusia dua belas tahun dan bertanya kepadanya pertanyaan yang tidak pernah berani ia tanyakan pada dirinya sendiri.
***
Arya menunggu. Napasnya keras. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
Ketika kakaknya tidak menjawab, wajah anak itu berubah. Amarahnya goyah, seperti nyala pelita yang tertiup angin. Ia menunggu bentakan. Ia menunggu tamparan. Ia menunggu sesuatu yang bisa ia lawan.
Dyah Ayu berjalan melewatinya. Ia mengambil kendi air bersih dari sudut ruangan, mencelupkan ujung selendangnya ke dalamnya, dan memerasnya. Lalu ia duduk bersila di atas tikar pandan, dan menepuk tempat di depannya.
"Duduk."
"Aku tidak mau..."
"Duduk, Arya. Rambutmu bau seperti kandang kambing. Ibu akan memukul kepalaku kalau melihatmu begini."
Anak itu berdiri kaku. Lalu, sangat perlahan, seperti tidak yakin kakinya sendiri sedang bergerak, ia duduk di depan kakaknya. Membelakanginya. Persis seperti dulu, di serambi belakang kadipaten, setiap sore sebelum mandi.
Dyah Ayu mulai mengurai rambutnya.
Gumpalan-gumpalan kusut itu keras dan lengket. Ia memisahkannya dengan ujung-ujung jari, helai demi helai, dari ujung ke pangkal, seperti yang diajarkan ibunya. Tidak menarik. Tidak menyentak. Sesekali ia membasahi gumpalan yang terlalu keras dengan ujung selendang yang basah.
Arya diam. Bahunya yang kurus menegang di bawah sentuhan kakaknya, lalu perlahan mulai turun.
***
"Ibu tidak mau keluar," gumam anak itu setelah lama sekali. Ia berbicara ke arah dinding, tidak menoleh. "Prajurit itu sudah membuka pintu belakang balai. Ki Lurah Jagabaya menariknya. Tapi Ibu menepis tangannya dan duduk lagi di depan lumpang."
Jemari Dyah Ayu berhenti di tengah sebuah gumpalan rambut.
"Aku berteriak memanggilnya dari halaman. Ibu melihatku. Ibu tersenyum." Suara Arya bergetar. "Lalu Ibu terus menumbuk. Seperti tidak ada apa-apa."
Dyah Ayu tidak tahu itu. Ia sudah dinaikkan ke pedati yang lain, diikat ke tiang yang lain, sebelum pintu belakang balai itu dibuka. Ia hanya tahu ibunya tidak keluar.
Ia tidak tahu ibunya sempat tersenyum.
"Apa Ibu kesakitan, Kak?" Arya menoleh sedikit, hanya separuh wajahnya yang terlihat. "Waktu apinya masuk. Apa rasanya sakit?"
Dyah Ayu membuka mulut untuk menjawab.
Suaranya tidak keluar.
Ia mencoba lagi. Tenggorokannya terasa seperti dicekik dari dalam, seperti tali ijuk yang dulu mengikat pergelangan tangannya ke tiang pedati. Ia menelan, dan menelan lagi, dan matanya tiba-tiba panas. Ia menunduk ke rambut adiknya. Jemarinya kembali bergerak, mengurai gumpalan yang tadi terhenti, lebih cepat dari seharusnya.
Setetes air jatuh ke rambut Arya yang hitam. Lalu setetes lagi.
Anak itu merasakannya. Bahunya tersentak sedikit. Tetapi ia tidak menoleh. Ia hanya duduk diam, dan membiarkan kakaknya terus menyisir rambutnya dengan jari-jari yang gemetar.
Untuk waktu yang lama, tidak ada suara di dalam bilik itu kecuali napas Dyah Ayu yang tidak teratur, dan bunyi helai-helai rambut yang terlepas dari kusutnya.
***
"Kakak tidak pernah menangis," ucap Arya akhirnya. Sangat pelan. "Waktu Ayah pergi ke Jembatan Kali Gending, Kakak tidak menangis. Waktu kita diikat ke pedati, Kakak juga tidak."
"Aku sibuk menghitung panji."
"Aku tahu. Aku melihat bibir Kakak bergerak-gerak." Anak itu menarik lututnya ke dada. "Aku kira Kakak sedang berdoa."
Dyah Ayu tertawa. Tawa yang basah, setengah isakan. Ia menyeka matanya dengan punggung tangan dan meraih selendang basah itu lagi, mulai menyeka tengkuk adiknya yang hitam oleh debu.
"Ia tidak menyentuhku pada malam pertama, Le," ucapnya pelan. "Aku mencoba membunuhnya dengan cundhuk Ibu. Ia merebutnya, lalu pergi."
Arya membeku.
"Setelah itu, setiap hal yang kulakukan di keraton ini, aku lakukan supaya kau bisa tidur di kasur kapuk dengan jendela, dan tiga ratus orang kita tidak lagi tidur di kandang." Ia membasuh telinga anak itu, belakang lehernya, seperti yang dilakukan ibu mereka dulu. "Aku tidak akan berbohong padamu dan berkata semuanya terpaksa. Tidak semuanya."
Anak itu diam lama sekali.
"Apa Kakak mencintainya?"
Dyah Ayu meletakkan selendang basah itu di pangkuannya.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Aku tahu ia melompat dari kuda di depan panah beracun untukku. Aku tahu aku menyeretnya menuruni tebing, dan aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Itu saja yang kutahu."
***
Arya berbalik. Untuk pertama kalinya sejak pintu terbuka, ia menatap kakaknya bukan dengan amarah. Matanya basah, merah, dan sangat muda.
Lalu ia menyeret dirinya maju dan membenturkan dahinya ke bahu Dyah Ayu. Keras. Seperti anak kambing yang menanduk induknya. Ia tidak memeluk. Ia hanya diam di sana, dahi di bahu kakaknya, napasnya tersengal.
Dyah Ayu melingkarkan lengannya di punggung kurus itu. Ia bisa merasakan setiap ruas tulang belakangnya di bawah kain lurik.
"Kau harus makan," bisiknya ke rambut adiknya. "Dua kali sehari. Itu perintah dari kakakmu, bukan dari Raja."
"Bubur mereka hambar."
"Besok aku akan menyuruh Mbok Sumi memasak untukmu. Ia ada di dapur Kedaton sekarang."
Arya mengangkat kepalanya, terkejut. "Mbok Sumi masih hidup?"
"Mbok Sumi, Pak Karto, Mbok Darmi. Banyak dari mereka." Dyah Ayu merapikan rambut anak itu yang kini sudah terurai rapi di bahunya. "Mereka semua menabuh lesung untukku semalam."
Anak itu menatapnya. Lalu wajahnya berubah lagi. Kali ini bukan sedih. Ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang ragu-ragu, seperti seseorang yang menyimpan batu di dalam kantongnya dan tidak tahu harus melemparnya ke mana.
"Kak," ucapnya. "Malam waktu orang-orang istana berburu. Waktu Raja dan semua orang pergi ke hutan."
Dyah Ayu menegakkan tubuhnya.
"Ada yang masuk ke sini. Sebelum kasim tua yang bungkuk itu datang lewat lantai." Arya menelan ludah. "Aku pura-pura tidur. Ia membawa pelita yang ditutup tempurung. Ia memakai topeng hitam dan sepatu Bhayangkara. Ia membuka peti kain di sudut itu dan memasukkan sesuatu ke dalamnya. Lalu ia berdiri di samping tikarku lama sekali."
"Ia bicara?"
"Sedikit." Anak itu menunduk ke tangannya sendiri. "Ia berjongkok di sampingku. Ia menyentuh kepalaku. Lalu ia berbisik, tidurlah, Le, sebentar lagi kau pulang."
Darah di wajah Dyah Ayu terasa surut ke kakinya.
Le. Hanya tiga orang di dunia yang memanggil Arya seperti itu. Ayah mereka. Ibu mereka.
Dan seorang pemuda yang dulu mengajarinya memanjat pohon jambu di belakang kadipaten.
Arya mengangkat wajahnya. Suaranya kecil dan pasti.
"Aku kenal suaranya, Kak. Itu Kangmas Mahisa."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..