Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Pukul 19.30
Al baru sampai di rumah. Jonas dan Arza heboh lihat tentengan di tangan Al.
"Bang... Wah dapat kiriman yah!" ucap Arza.
"Apa kubilang! Pasti ada sesuatu!" Jonas berkata dengan bangga.
"Nah! Jangan rebutan!" ucap Al sambil nyodorin kantong berisi cookies-nya Rin. Tapi dia ngambil satu toples berisi cookies full coklat dengan taburan kacang.
"Bang, yang itu spesial banget ya?" tanya Arza.
"Hmm..."
Duo Jonas dan Arza heboh berdua. Bahkan Bima ikut tersenyum.
Sejak kejadian di bukit tempo hari, soal dagangan Rin juga ejekan-ejakan dari Jonas dan Arza setiap hari. Hidup Al sedikit berwarna. Dunianya tak lagi soal kerjaan, musik dan menjauhi Jonas. Tapi ada satu tempat yang wajib ia kunjungi. Bukit.
Setiap Al merasa pusing dengan kerjaaan Al akan datang kesana. Dan seperti biasa di sana selalu ada Rin. Tanpa membuat janji, mengalir aja seperti sudah ada keharusan untuk setiap hari datang ke sana.
Rin banyak bertanya soal dagangan ke Al. Disana mereka diskusi soal apa aja. Dan sekarang Al sudah punya nomor ponsel Rin. Meski masih gengsi untuk chat duluan.
"Halo...?" suatu malam Al menyingkir dari ketiga temannya saat menerima telepon.
"pesanan gue numpuk! Dan gue kehabisan box. Udah cari kemana-mana nggak dapet!" Rin mengadu. Al menyambar jaketnya dan meraih kunci motor.
"Dimana sekarang?"
"Di Roemah Roti!"
"Tunggu disana! Nanti dijemput!" Al bergegas keluar tanpa mengatakan apapun.
"Siapa yang bisa bikin dia malam-malam keluyuran?" tanya Bima.
"Siapa lagi hehehehe... Tinggal kita cari siapa orangnya," ucap Jonas terkekeh diikuti Arza.
"Jangan bikin ulah! Biarin Al menemukan kebahagiaannya dulu!"
"Sok puitis lo bang!" ucap Arza pada Bima.
Al melarikan motornya ke Roemah Roti. Rin selesai memanggang cookies. Malam hari Roemah roti selesai produksi. Jadi Rin bisa leluasa memakain dapur atas ijin nenek. Sebagian cookies-nya terpajang di etalase dengan berbagai paket.
"Al? Kapan datang?" tanya nenek.
"Barusan bu," jawab Al.
"Ayo!" ajak Rin. Nenek menatap Rin dan Al bergantian.
"Kalian....?"
"Nggak nek, Al yang bantuin Rin soal cookies," ucap Rin kikuk.
"Ooooh... Iya... Iya, pergilah! Dilamain juga gak apa Al," ucap nenek.
"Neeek!" protes Rin.
"Ayo! Nek kami pergi dulu, nyari box..."
"Ya... Ya sana cepat!" usir nenek dengan tersenyum. Rin cemberut!
"Pegangan!" ucap Al saat motor semakin melaju. Ini bukan kali pertama Rin dibonceng Al, tapi rasanya masih ragu. Mau pegangan dimana? di pinggang? Dih... Di bahu? Ya ampuuun... Rin hanya berani megang ujung jaket Al.
Al sengaja memasukkan persneling gigi hingga motornya melompat maju. Rin menabrak punggung Al, dan dengan cepat dia memeluk pinggang Al.
"Pelan-pelan kenapa sih! Kalo jatuh gimana?" teriak Rin. Al hanya diam dan kembali melajukan motornya. Motor berhenti di sebuah ruko yang agak sepi.
"Emang di sini ada?" tanya Rin. Al diam aja tapi ngajak Rin masuk. Rin menjelaskan ukuran box yang dia mau. Dia juga membeli toples berbagai ukuran. Meski terlihat kecil tapi di sana lengkap.
"Terimakasih Koh! Nanti belanjanya di sini terus deh, biar sekalian," ucap Rin.
"Ya boleh... Boleh... Datang aja lagi nanti ya," ucap si kokoh pemilik yang ramah.
Al menggantung belanjaan Rin di motornya. Sebagian Rin pegang.
"Jangan ngebut lagi! Gue gak bisa reflek pegangan!" pesan Rin.
"Makanya pegangan! kalo lo gelinding ke jalan gue gak tau!" ucap Al cuek memasang helm. Rin memukul pelan helm sebelum ia naik.
Mereka menuju jalan pulang dan buru-buru Rin memakai apronnya. Mengabaikan neneknya yang terus menggoda. Roemah Roti sudah sepi dan pintu depannya sudah tertutup.
"Lo ngapain?" Rin melihat Al memakai apron dan berjalan mendekat.
"Gue bantuin!" dia meraih toples dan mulai menyusun cookies.
"Nggak gitu..."
"Cookies nya yang sebelah sana...!"
"Al! Nggak rapi!" nada protes mengisi dapur Roemah Roti. Rin meraih toples yang dipegang Al dan menata ulang sebagian cookiesnya.
"Lo nggak capek?" tanya Al.
"Capek! Tapi puas!"
"Kuliah lo gimana?" tanya Al.
"Baik, kadang ada tugas dan gue harus mundurin jadwal pesanan kalau lagi banyak tugas. Nah waktu senggang gini sengaja bikin banyak dan dipajang aja. Kalau butuh banget biar mereka caru ke sini!" Rin menjelaskan sambil menutup toples terakhir malam itu.
Rin membuka sarung tangan dan membuka apronnya lalu di gantung. Rin duduk di sebelah Al yang memainkan ponselnya.
"Makasih ya Al," ucap Rin.
"Hmmmm..."
"Maaf udah ngerepotin," ucap Rin.
"Nggak repot,"
"Aaah leganya, pesanan kelar! Eh ya ini buat lo sama temen-temen di rumah!" Rin menyodorkan cookies sebesar telapak tangan dengan berbagai macam emoticon lucu.
"Nggak usah!"
"Gue belum bisa bayar pelajaran soal keuntungan kemarin, juga bantu cari box malam ini. Jadi, ini hadiah kecil!" ucap Rin. Al mengangguk.
"Ya udah, ini udah malam. Gue pulang dulu!"
Rin meraih kantong dan memasukkan satu per satu cookies berbentuk emoticon itu. Dan menyerahkannya ke Al. Al meraih kantong dan tangan Al tidak sengaja bergesekan dengan tangan Rin. Sesaat rasanya ada sesuatu di perut Al. Seperti sesuatu akan keluar tapi bukan mual. Lalu lonjakan perasaan yang tiba-tiba datang. Jantungnya berdegup kencang. Al menatap Rin yang menunggu kantong di jarinya berpindah ke Al.
Al menatap Rin tanpa berkedip.
"Kenapa? Ada sesuatu di muka gue?" tanya Rin saat kantong itu sudah berpindah tangan. Rin bergeser ke arah cermin. Dan merasa tidak ada yang aneh.
"Kenapa muka lo merah?" tanya Rin.
"Nggak! Gue... Pulang! Thanks!" Al buru-buru keluar menstarter motornya dan melaju cepat meninggalkan Roemah Roti yang selalu berbau manis.
Rin kembali ke dalam rumah setelah memastikan Roemah Roti sudah terkunci. Sementara itu di jalan Al memukul helmnya.
"Gue lupa ngasih gelangnya lagi!" Al merutuk dan meraba sakunya. Gelang itu masih di sana. Mungkin besok kalau ke bukit lagi, dia akan memberikan gelang itu.
"Pulang nge-date bang?" Arza masih mengetik di teras rumah.
"Berisik!"
Al masuk ke kamarnya. Masih terdengar jantungnya berdegup kencang hanya karena bersentuhan dengan Rin.
"Ada yang salah ini!" gumamnya sambil mengacak rambutnya.
Al membuka jaketnya dan gelang ungu itu diletakkan kembali ke laci meja kerjanya untuk ke sekian kalinya dia lupa mengembalikan gelang itu!
Al membuka bungkusan cookies emoticon. Dan tersenyum melihat aneka emoticon senyum di sana. Dan cookies terakhir ada emoticon dengan kedua mata diubah menjadi love. Al tertawa. Benar-benar tertawa. Bukan sekedar tersenyum.
Seketika kuping Arza yang udah pindah ngetik ke dalam karena digigitin nyamuk di luar mendengar tawa samar dari dalam kamar Al.
"Beneran ini sih!" ucapnya.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok