Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Genangan air di aspal pecah memercik ke lutut celana Sora yang sudah robek. Hujan di Zona Selatan tidak pernah turun dengan bersih. Airnya membawa jelaga cerobong kapal dan aroma karat dari bengkel-bengkel kontainer di tepi kanal. Setiap kali kakinya menginjak lumpur, rasa nyeri dari pangkal kelingkingnya menyengat hingga ke tengkuk.
Sora merobek bagian bawah kemejanya yang basah kuyup dengan gigi, lalu melilitkannya kuat-kuat ke telapak tangan kirinya. Kain katun kasar itu berubah warna dalam hitungan detik menjadi merah padam dan hangat. Tekanan lilitan itu membuat tulang tangannya serasa diremas tang catut, tetapi setidaknya aliran darahnya tidak lagi memancar deras ke jalanan becek.
Di sudut mata kirinya, deretan aksara neon hijau yang muncul di gang comberan tadi masih berkedip redup dengan keterangan peluang bertahan hidup tersisa nol koma nol delapan persen. Angka itu terus bergoyang seirama dengan denyut nadinya yang melemah. Sora tidak mempedulikannya. Ia mengira saraf otaknya yang sekarat sedang mengalami korsleting ilusi sebelum ajal menjemput.
Di depan matanya, plang seng berkarat bertuliskan Rumah Sakit Rakyat Tiram tampak miring diterpa angin laut. Bangunan beton tiga lantai itu kusam, cat kremnya mengelupas dimakan jamur hitam dan uap garam. Lampu neon panjang di atas lobi masuk berkedip dengan dengung listrik tegangan rendah yang menyakitkan telinga.
Sora mendorong pintu kaca geser yang macet separuh. Udara di dalam lobi langsung menghantam wajahnya, membawa bau karbol murahan yang pekat bercampur aroma nanah dan obat-obatan bangsal kelas tiga.
Lantai ubin kuning kusam itu penuh jejak sepatu basah bercampur lumpur. Beberapa keluarga pasien duduk terlelap di kursi plastik panjang, meringkuk di bawah jaket tipis karena kipas angin gantung terus berputar tanpa henti meniupkan angin lembap yang dingin.
Sora menyeret kakinya menuju meja administrasi di sudut lobi. Seorang perawat paruh baya dengan kacamata berbingkai mika tebal sedang mengetik laporan di komputer tabung lama. Suara ketukan tombol kibor berpadu dengan dengung kipas prosesor yang kepanasan.
“Mila,” kata Sora. Suaranya pecah, tercekat di pangkal tenggorokan.
Perawat itu tidak langsung mengangkat kepala. Tangannya masih menekan tombol enter beberapa kali sebelum akhirnya melirik ke arah meja konter. Pandangannya sempat terhenti pada perban darurat berlumur darah di tangan kiri Sora, lalu naik ke wajahnya yang pucat pasi bercampur lumpur comberan.
“Siapa namanya?” tanya perawat itu datar tanpa nada terkejut. Di rumah sakit pesisir seperti ini, orang-orang bersimbah darah masuk dan keluar setiap malam. Kekerasan adalah bagian dari rutinitas harian yang membosankan.
“Mila. Kamar dua ratus empat. Bangsal anak,” bisik Sora. Dadanya sesak seperti dihimpit lempengan batu. “Adikku.”
Perawat itu menghela napas pendek, lalu menggeser tetikus komputernya. Matanya memindai layar monitor cembung yang berkedip-kedip hijau. Jarinya berhenti di baris ketujuh.
“Pasien Mila binti Abdullah?”
“Bukan. Mila saja. Pasien rujukan ginjal.”
Perawat itu menyandarkan punggungnya ke kursi busa yang robek. Ia melepas kacamatanya, meletakkannya di atas tumpukan map rekam medis, lalu menatap Sora dengan sorot mata lelah yang tidak menunjukkan simpati berlebihan. Sora pernah melihat tatapan seperti itu di meja kasino, tatapan seorang bandar yang sudah tahu hasil kartu sebelum dibuka.
“Pukul berapa sekarang?” tanya perawat itu.
Sora melirik jam dinding di atas meja konter. Jarumnya menunjukkan pukul 04.20 pagi.
“Jam empat lewat,” sahut Sora pelan.
“Batas administrasi untuk perpanjangan ventilator dan ruang perawatan intensif itu jam dua belas malam,” kata perawat itu, nadanya tetap datar dan tenang, seolah sedang membaca daftar harga obat generik. “Dokter jaga sudah menelepon nomor penanggung jawab tiga kali. Tidak ada yang angkat. Deposit lima puluh juta untuk cuci darah darurat juga belum masuk.”
Jantung Sora mencelos. Tenggorokannya tercekat pasir kering. Jerry telah menyita ponselnya sebelum membawanya ke gudang basah.
“Di mana dia sekarang?” desak Sora. Kedua telapak tangannya mencengkeram tepi meja konter, meninggalkan noda darah merah pekat di atas formika putih. “Bawa aku ke kamarnya. Sekarang.”
Perawat itu tidak beranjak. Ia hanya menunjuk dengan pulpennya ke arah lorong samping lobi yang gelap dan menurun.
“Kamar dua ratus empat sudah kosong dari tadi subuh,” ucap perawat itu pelan. “Pasien mengalami gagal napas pukul tiga lewat lima belas menit. Jenazahnya sudah dipindahkan ke ruang bawah tanah.”
...****************...
Koridor menuju ruang bawah tanah tidak memiliki jendela. Dindingnya hanya plesteran semen kasar yang basah oleh rembesan air tanah. Lampu tabung di langit-langitnya pecah di dua titik, menyisakan keremangan panjang yang hanya diterangi cahaya remang dari ujung tangga.
Bau menyengat larutan formalin murahan dan lelehan balok es menyambutnya di anak tangga terakhir. Ruang bawah tanah itu pengap, lembap oleh uap air tanah yang merembes di sela dinding berlumut. Tidak ada lemari pendingin baja kedap udara; rumah sakit subsidi ini hanya menyediakan meja-meja seng berkarat yang dijajari balok es kelapa, dinaungi kipas angin gantung berderit yang meniupkan hawa apak ke setiap sudut.
Seorang petugas pemulasaran tua dengan celemek karet kuning sedang mencuci baskom aluminium di bak cuci. Pria itu menoleh saat mendengar langkah kaki Sora yang terseret.
“Keluarga pasien perempuan dari bangsal dua?” tanya pria tua itu tanpa menunggu Sora bicara.
Sora tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk kaku.
Pria tua itu mengelap tangannya ke kain lap kotor, lalu berjalan ke sudut terjauh ruangan. Di sana, di bawah lampu pijar tunggal yang tergantung rendah, terbaring sebuah ranjang dorong besi. Di atasnya, sesosok tubuh kurus tertutup selembar kain seprai putih tipis yang sudah berlubang di beberapa bagian.
“Dokter sudah tanda tangan surat kematian,” kata petugas tua itu dengan suara serak. “Pukul nol tiga lewat lima belas. Gagal ginjal terminal disusul henti jantung. Kami harus memindahkan jenazah sebelum siang karena tempatnya terbatas.”
Petugas itu menarik ujung seprai putih ke bawah, memperlihatkan wajah yang terbaring kaku di atas bantal busa tanpa sarung.
Wajah Mila menyusut kuyu. Kulit pipinya yang biasanya kuning langsat karena racun urea kini kelabu menyerupai semen basah, dengan lingkar kebiruan pekat di bawah kelopak matanya yang terpejam. Bibirnya pecah-pecah kering, mengelupas meninggalkan bintik darah beku. Sehelai rambut ikal tipis menempel melintang di keningnya yang sedingin ubin basah.
Gadis berusia sembilan belas tahun itu tampak seperti sedang tidur pulas, seandainya dadanya tidak sediam batu karang.
Sora berdiri terdiam kaku di sisi ranjang dorong. Lututnya gemetar hebat, menghantam rangka besi ranjang hingga menimbulkan bunyi dering logam yang memekakkan telinga. Tangannya yang buntung tergantung kaku di samping paha. Denyut nyerinya lenyap, tertelan kehampaan raksasa yang mendadak memenuhi seluruh rongga dadanya.
Lima tahun.
Lima tahun ia berdiri di belakang meja hijau karpet beludru ruko Jerry. Menghisap racun asap rokok para pejudi, menelan makian para pecundang yang kehilangan rumah, dan memastikan roda rolet selalu memihak kasino. Ia menutup mata dari segala tipu muslihat kotor kota ini hanya demi satu tujuan, yaitu mengumpulkan lembar demi lembar uang agar Mila bisa mendapatkan ginjal baru dan hidup normal seperti orang lain.
Ia sudah mengumpulkan delapan puluh lima juta rupiah. Angka itu cukup untuk deposit dan operasi pertama. Tinggal selangkah lagi.
Dan semua itu dihancurkan Jerry dalam satu malam hanya karena keserakahan sang bos.
Pandangan Sora beralih ke nakas besi berkarat di samping ranjang dorong. Di atas meja kecil itu, tergeletak sebuah gulungan wol biru kusam dengan sepasang jarum rajut plastik tertancap di tengahnya. Syal wol itu baru selesai separuh, ujung benangnya terurai berantakan di lantai semen.
Mila telah merajutnya selama dua minggu terakhir di sela-sela rasa sakit tusukan jarum infus, berniat memberikannya kepada Sora sebagai hadiah musim hujan.
Sora mengulurkan tangan kanannya yang bergetar. Jarinya yang kasar dan berlumur debu menyentuh rajutan wol itu. Seratnya terasa lembut di kulitnya, kontras dengan dinginnya udara kamar mayat.
Ia mengangkat rajutan yang belum selesai itu, mendekapkannya erat-erat ke dadanya. Bau sisa minyak kayu putih dan bedak yang biasa dipakai Mila masih tertinggal samar di antara benang rajut tersebut.
Rongga matanya terlalu kering untuk menangis, dibakar amarah yang membeku di dalam dada.
Di bawah perban kotor tangan kirinya, darah segar kembali merembes keluar, menembus lilitan kain katun dan menetes lambat ke atas ubin semen kamar jenazah. Bunyi tetesan darahnya bergema pelan di ruangan sunyi itu.
Ia menatap wajah beku adiknya untuk terakhir kali sebelum menarik kembali seprai putih menutupi wajah pucat tersebut.
“Jerry,” gumam Sora ke arah kegelapan lorong tangga. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar, tetapi terasa sangat berat. “Satu jari. Satu nyawa. Seluruh kasinomu tidak akan cukup untuk membayarnya.”
Petugas tua di sudut ruangan menoleh, sedikit terkejut oleh perubahan hawa di sekitar pemuda itu. Sora tidak menangis ataupun melontarkan kutukan keras. Sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan ketegaran yang dingin.
Sora memasukkan gulungan syal biru Mila ke dalam saku dalam jaket parkanya, tepat di atas dada kirinya. Lalu, tanpa menoleh lagi ke belakang, ia melangkah keluar dari kamar jenazah, menaiki tangga semen yang basah menuju badai yang menunggunya di luar.