NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22: Rasa Penasaran akan Fakta Sebenarnya

Siang terasa berjalan pelan sekali. Jarum jam seperti sengaja memperlambat lajunya. Di ruang tengah, hanya ada kami berdua, aku dan Shinta. Televisi menyala menampilkan acara sitkom yang tak menghibur sama sekali buatku.

Shinta duduk rebah pada sandaran sofa, wajahnya sudah lebih segar meski rambut agak berantakan. Mata sesekali menutup, lalu terbuka lagi, seperti takut tertidur.

“Mas Bagas,” suara pelan, hampir berbisik. “Kenapa kita belum bisa pergi dari sini?” ia masih penasaran.

Wajar saja karena aku memang belum memberi penjelasan, tidak tahu harus bilang seperti apa.

Aku menoleh pelan. Pertanyaan itu seperti pisau tumpul ditusuk ke perutku. Ngilu rasanya.

“Gua belum bisa cerita dulu, tapi yang pasti demi kebaikan kita juga,” aku berusaha menenangkan.

“Maksudnya gimana, Mas?” Shinta semakin heran.

Ia mulai mendesakku. “Kita kan udah tau apartemen ini, ada kejanggalan. Ganggu kita terus dan lo juga udah liat, makin kesini, makin parah aja. Kok bisa-bisa lo bilang kita stay demi kebaikan kita?”

Aku terdiam.

Sadar kalau tidak bisa memberi penjelasan, Shinta pasti akan marah kepadaku. Tapi kemarahannya tidak membuatku takut.

Dalam pikiranku ada yang jauh lebih menakutkan dari itu.

Sebuah pesan mengerikan, “Penuhi tuntutan ini atau teman-temanmu akan mati.”

Ternyata tulisan dari Ratna bukan tentang permohonan. Tapi lebih ke arah pengancaman, menuntut tanpa negosiasi. Meski masih bertanya-tanya, “Kenapa harus aku?”

Andai saja bisa membagi beban ini. Aku merasa tidak sanggup untuk memikulnya, sendirian.

Tapi Ratna tegas memintaku merahasiakan semuanya.

Aku mengusap wajah lagi, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang mulai merayap ke gerak-gerikku.

“Mas Bagas? Jawab pertanyaan gua!” Shinta masih menatapku. Ada cemas di matanya, juga kesal.

Untuk menenangkan, aku kepikiran untuk menggunakan pengorbanan yang sudah kami lakukan sebagai bahan argumen. Lalu, membubuhinya dengan empati terhadap para korban penghuni apartemen.

“Memangnya hati lo nggak kesentuh? Kenangan masa lalu disini. Mereka yang udah jadi korban?” suaraku pura-pura meninggi, berupaya menekan.

“Pembantaian..” lanjutku. “Mungkin bisa kita bilang, Pembantaian, lho! Masa sih kita pergi gitu aja setelah tau semua?”

Walau aku mengarang, tapi setelah ku cerna lagi, ucapanku ada benarnya.

Shinta menggigit ibu jari.

“Terus kita mau ngapain?”

Menyadari saat ini Shinta sudah mulai melunak, aku langsung melanjutkan dengan rencana karangan yang sebenarnya baru saja ku pikirkan.

Aku menjelaskan bahwa kami harus membantu para arwah untuk mendapatkan keadilan.

“Kalau kita bantu mereka, nggak mungkin dong mereka jahatin kita? Yang penting, kita tunjukkin niat baik, gua rasa mereka pasti akan ngerti kok.”

Shinta menunduk, telapak tangannya saling meremas, “Lo yakin, Mas?”

Tak menjawab, aku hanya menganggukkan kepala, ditambah dengan sorotan mata tajam meyakinkan.

Padahal di dalam hati, aku juga ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini.

Aku dan Shinta lama terdiam setelah pembicaraan barusan. Heningnya ruang tengah seperti menyerap semua energi. Suara televisi terdengar pelan, tapi di sela-sela ada ketegangan, entah kapan akan berakhir.

Shinta menoleh padaku. Sorot masih penuh keraguan, tapi kini terasa mulai ada tekad di dalamnya.

“Kalau memang seperti yang Mas Bagas bilang,” ucapnya memecah kesunyian. “Kita harus ngapain? Buat ngebantu arwah para korban?”

Aku sudah menduga ia akan mengatakan ini, tapi aku belum menemukan jawaban. Jujur saja, aku tidak ada persiapan apapun sampai di titik ini.

Shinta yang belakangan paling sering diganggu, kini justru terlihat paling siap menghadapi semua.

Setelah berpikir, aku menemukan ide sementara. Hanya sekedar untuk mengisi kekosongan.

“Temenin gua yuk, ke bawah. Gua mau ketemu Kang Dayat,” ujarku sambil berdiri.

Ia pun beranjak, menuju kamar utama, “Tunggu, Mas. Gua pake jilbab dulu.”

Lorong apartemen terasa lebih nyaman dari biasanya. Lampu neon di plafon berkedip pelan, tapi aku tidak merasakan sebagai sebuah ancaman.

Setiba di lantai bawah, kami langsung mencari keberadaan Dayat. Hingga akhirnya kami berhasil menemukan Dayat di pos satpam yang letaknya tidak jauh dari basement.

Ia duduk, menatap lurus ke layar televisi menggantung, menempel ke dinding. Wajahnya kaku. Ada kantung mata gelap terlihat bengkak. Ia tampak jauh lebih tua dari pertama kali kami bertemu.

Aku minta agar Shinta berdiri agak jauh dulu, memastikan ia sadar dengan kehadiranku.

“Kang Dayat,” panggilku pelan.

Ia menoleh dengan tatapan dingin.

“Ngapain kalian kesini?” tanyanya sinis, dengan dialek sunda kental.

Aku menelan ludah. “Iya, Kang. Saya mau minta maaf, soal kemarin. Teman kita memang sering kebablasan. Tapi kita nggak ada maksud buat bikin Kang Dayat tersinggung.”

Dayat tidak menjawab, ia kembali menatap layar.

Memberanikan diri, aku maju selangkah. “Maaf ya, Kang,” ujarku lagi sambil menyodorkan tangan.

Shinta spontan ikut menunduk sopan.

Dayat mendesah, tapi bukan karena lega. “Kalian teh bikin repot saya aja. Lebih baik kalian segera pergi deh!”

Tak ingin menanggapinya secara serius, aku mencoba tersenyum. “Sekali lagi, kita minta maaf ya, Kang. Tapi bos kita udah bayar sewa sebulan penuh, Kang.”

Untuk menarik perhatian, aku membuka topik lebih serius, “Oh iya, Kang. Kita juga udah tau, apa yang sebenarnya terjadi di apartemen ini,” kataku menekan. “Ketika wabah covid, penghuni apartemen. Dan..kenapa mereka meninggal.”

Sekejap mata Dayat bergetar. Tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

“Udahlah,” katanya pendek. “Kalian nggak perlu ikut campur. Pergi aja, selagi masih bisa.”

Aku menatapnya lekat, mungkin saatnya aku berhenti berputar-putar, mendekat ke telinganya, lalu berbisik pelan.

“Kang,” ucapku. “Saya tau soal tragedi pengabaian penghuni di apartemen ini.”

Disini aku tidak menggunakan kata pembantaian yang sering kami gunakan karena menurutku terlalu berlebihan.

Dayat mendadak berdiri. Kursinya berderit kasar.

“Blegug sia!” suaranya meninggi hingga membuat Shinta terkejut. Matanya kini menatapku penuh amarah, tapi juga gelisah seperti ada rasa ketakutan. “Maneh jangan asal ngomong!”

Shinta mulai mundur setengah langkah.

“Minggat sia! Kaluar!” teriak Kang Dayat yang membuat Shinta benar-benar menjauh.

Tapi tidak denganku. Entah kenapa, aku merasa kalau Dayat bukan orang jahat. Ia seperti menyimpan rahasia sepertiku, hanya tak bisa diceritakan ke orang lain.

Mungkin aku bisa menjadi orang yang akan menjadi tempat berkeluh kesah untuknya.

“Kang,” ucapku lagi, pelan. “Saya punya niat baik, tidak ada maksud lain. Tolong percaya sama saya.”

Aku menatap matanya dengan tajam, berharap ia bisa memberikan kepercayaan kepadaku. “Saya ingin memberikan keadilan untuk mereka, Kang.”

Entah apa yang aku pikirkan saat ini. Terlalu membual. Padahal aku tidak punya kemampuan lebih. Hidupku saja masih sangat berantakan.

Aku hanya berbekal keyakinan serta yang paling utama, aku tak memiliki pilihan lain.

Dayat merebahkan tubuh ke kursi. Wajahnya berubah. Drastis, seperti menahan tangis. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut setelah melihat perubahan tersebut.

“Ada apa dengan Kang Dayat?” gumamku dalam hati.

Setelah diam sebentar, Dayat akhirnya bersuara. “Yang akan kalian hadapi, bukan cuma setan.” Aku sedikit terkejut dengan ucapannya.

“Tapi kalian juga harus melawan mereka, yang punya kuasa,” kata Dayat sambil menggelengkan kepala. Air mata menetes di pipi. Ia mulai histeris, tapi berusaha sekuat tenaga untuk menahan.

Shinta kembali mendekat, berdiri kikuk di depan pos satpam.

Dayat menghempas punggung ke sandaran kursi, tapi kini bahu ikut bergetar. Tangan menutup wajah. Lama sekali. Hingga suara isak terdengar semakin jelas, masih tertahan, seperti takut dunia ikut mengetahui rintihannya.

Aku duduk di sebelah, “Tenang ya, Kang. Saya pasti akan bantu sebisa kita. Yang penting, Kang Dayat bantu saya juga ya.”

Suara itu pecah. Rasa seperti mendengar seseorang sudah lama sekali tidak diizinkan menangis.

“Tapi mungkin sebelum lebih jauh, saya mau tanya, Kang. Punten pisan, jawab jujur ya, Kang.” kataku hati-hati.

“Apa Kang Dayat juga terlibat?”

Ia menggeleng cepat, “Saya udah usaha, bener. Berani mati saya kalo bohong,” katanya sambil mengusap air mata. “Makanya kamu udah lihat, saya sekarang tinggal sendiri. Keluarga saya diancam sama mereka.”

Shinta bergerak, meraih gelas plastik yang ada di atas galon dispenser. Ia mengambilkan air minum untuk Dayat.

“Minum dulu, Kang,” ujarnya lembut.

Kami semua diam, meski ribuan tanya mengantri dalam kepalaku. Aku membiarkan Dayat sejenak untuk menenangkan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!