NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Jam dinding di ruang tamu apartemen menunjukkan pukul satu dini hari.

Suasana sangat sunyi sampai sebuah suara rintihan pelan terdengar menyayat hati dari balik dinding kamar.

Jiang Chen yang sedang tidur bermeditasi langsung membuka matanya seketika.

Telinganya menangkap suara desahan napas yang berat dan rintihan kesakitan yang tertahan.

'Suara apa itu? Apa ada penyusup yang masuk ke kamar gadis barbar itu?' batin Jiang Chen curiga.

Dia segera melompat dari kasur dan berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya.

Jiang Chen menempelkan telinganya di daun pintu kamar Chu Mengqi.

"Ugh, sakit sekali. Ibu, perutku sakit," rintih suara Mengqi dari dalam sana dengan nada yang sangat menyedihkan.

Tanpa ragu lagi, Jiang Chen langsung mengetuk pintu kamar itu dengan keras.

"Hei Nona Chu! Apa kau baik-baik saja di dalam sana?" panggil Jiang Chen panik.

Tidak ada jawaban dari dalam, hanya suara isakan tangis pelan yang terdengar semakin jelas.

Jiang Chen memutar kenop pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci dari dalam seperti kemarin malam.

Cklek.

Pintu terbuka dan Jiang Chen langsung menyalakan sakelar lampu utama kamar tersebut.

Cahaya terang seketika menyinari sosok Chu Mengqi yang sedang meringkuk di atas kasur seperti seekor udang.

Wajah gadis itu sangat pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya hingga membasahi bantal.

Kedua tangannya memeluk perut bagian bawahnya dengan sangat erat seolah sedang menahan luka tusukan pedang.

"Ya Tuhan, Nona! Apa kau menelan racun serangga atau semacamnya?!" seru Jiang Chen sambil berlari mendekati kasur.

"Pergi, jangan lihat aku dalam keadaan begini," usir Mengqi dengan suara yang sangat lemah dan bergetar.

Jiang Chen tidak mempedulikan usiran itu dan langsung mengalirkan energi hangat ke matanya.

Pandangannya menembus lapisan selimut dan memindai aliran meridian di perut gadis itu.

Gumpalan energi dingin berwarna biru pucat terlihat membeku di sekitar rahim dan perut bagian bawahnya.

Otot-otot di sekitarnya mengejang hebat, menciptakan rasa sakit yang setara dengan tulang rusuk yang dipatahkan secara perlahan.

'Siklus bulanannya benar-benar datang malam ini, dan kramnya jauh lebih parah dari dugaanku,' analisis Jiang Chen dalam hati.

"Dengar Nona, meridian perutmu membeku parah akibat kebiasaan burukmu minum air es," omel Jiang Chen sambil duduk di pinggir kasur.

"Lepaskan tanganmu dari perutmu, aku akan menyalurkan Qi hangat untuk meredakan kramnya sekarang juga."

Mengqi menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil menangis menahan sakit.

"Tidak mau! Jangan sentuh aku, ini sangat memalukan!" tolak Mengqi keras kepala.

"Nyawamu sedang terasa seperti dicabut malaikat maut dan kau masih memikirkan rasa malu?!" bentak Jiang Chen tidak habis pikir.

"Bukan begitu masalahnya, bodoh! Aku, aku kehabisan persediaanku," cicit Mengqi dengan wajah yang kini memerah menahan malu.

Jiang Chen mengerutkan keningnya, sama sekali tidak memahami bahasa kode rahasia wanita tersebut.

"Persediaan apa? Persediaan obat pereda nyeri? Aku tidak butuh obat, tanganku ini lebih hebat dari obat apa pun!" balas Jiang Chen bangga.

"Bukan obat, dasar pria tidak peka! Aku kehabisan pembalut dan darahku bisa menembus kasur kalau aku bergerak sekarang!" teriak Mengqi putus asa.

Jiang Chen mematung di tempatnya duduk, otaknya seolah berhenti bekerja selama beberapa detik mencerna kalimat tersebut.

Sebagai seorang pria yang sejak kecil hidup sendirian dan hanya fokus mencari uang, urusan anatomi wanita dalam praktik nyata adalah kelemahannya.

"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang? Menyumbatnya dengan tisu toilet?" tanya Jiang Chen dengan wajah polos tanpa dosa.

Sebuah bantal guling langsung melayang lemah dan menghantam wajah Jiang Chen.

"Kau mau membunuhku karena infeksi kuman tisu toilet, hah?!" raung Mengqi sambil terengah-engah menahan sakit.

"Tolong turun ke minimarket dua puluh empat jam di seberang apartemen dan belikan aku pembalut sekarang juga."

Mata Jiang Chen langsung terbelalak lebar seolah baru saja disuruh melompat dari lantai delapan tanpa parasut.

"Aku? Membeli barang pribadi wanita di tengah malam?! Tidak, aku tidak mau!" tolak Jiang Chen mentah-mentah.

"Aku ini dokter jenius dan petarung hebat, martabatku sebagai pria akan hancur lebur kalau terlihat memegang barang seperti itu!"

Mengqi mengerang kesakitan lagi, kali ini tubuhnya menggigil karena hawa dingin di perutnya semakin menyiksa.

"Kumohon Jiang Chen, perutku rasanya seperti diaduk menggunakan pisau berkarat," rintih Mengqi memelas dengan air mata berderai.

"Belikan aku barang itu, dan aku berjanji akan memberikan uang lima ratus Yuan sebagai upah jalanmu malam ini."

Mendengar kata lima ratus Yuan, telinga Jiang Chen yang tadinya tertutup rapat langsung berdiri tegak seperti radar.

Harga dirinya sebagai seorang pria sejati mendadak terasa jauh lebih murah dibandingkan lembaran uang merah tersebut.

"Ekhem, lima ratus Yuan dibayar tunai setelah barangnya sampai kan?" tanya Jiang Chen memastikan.

"Iya, dasar pria gila harta! Cepat pergi sebelum aku mati kehabisan darah di atas kasur ini!" usir Mengqi tidak sabar.

"Baiklah, bertahanlah Nona Barbar. Ksatria bayaranmu akan segera kembali membawa pusaka penolongmu," pamit Jiang Chen sambil melesat keluar kamar.

Jiang Chen menyambar dompetnya dan berlari keluar dari apartemen menuju lift dengan kecepatan maksimal.

Hanya butuh waktu tiga menit baginya untuk sampai di minimarket terang benderang yang ada di seberang jalan raya.

Lonceng pintu berbunyi nyaring saat Jiang Chen melangkah masuk ke dalam toko yang sepi pengunjung tersebut.

Hanya ada seorang kasir pria muda berkacamata yang sedang mengantuk di balik meja kasir.

Jiang Chen menarik napas panjang dan berjalan menyusuri lorong-lorong rak dengan lagak sok keren.

Namun begitu dia tiba di lorong khusus perawatan wanita, langkah tegapnya langsung terhenti seketika.

Terdapat puluhan jenis bungkus pembalut dengan warna, bentuk, dan tulisan yang sangat membingungkan berjajar rapi di sana.

"Apa-apaan ini? Kenapa barang sekecil ini punya variasi yang lebih banyak dari resep herbal kuno?" gumam Jiang Chen frustrasi.

Dia menatap bungkus-bungkus itu dengan dahi berkerut tajam seolah sedang memecahkan sandi rahasia negara.

"Sayap? Tanpa sayap? Memangnya benda ini mau terbang ke mana?" oceh Jiang Chen sendirian sambil membaca labelnya.

"Penggunaan siang? Penggunaan malam? Dua puluh sembilan sentimeter? Tiga puluh lima sentimeter?"

"Ya Tuhan, bahkan pedang pendek milik pembunuh bayaran saja tidak sepanjang ini ukurannya!"

1
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!