NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Langkah Pertama

Jalan setapak yang tadinya hanya samar di kejauhan mengarah lebih dulu ke tepi hutan lebat, tempat pepohonan tinggi tumbuh begitu rapat sehingga cahaya matahari hanya menembus dalam bentuk garis-garis tipis. Sasuke baru saja beberapa langkah masuk ke dalam bayangan hutan itu ketika ia merasakan sesuatu—bukan lewat kekuatan istimewa apa pun, melainkan kepekaan naluriah hasil bertahun-tahun pengalaman bertarung sebagai shinobi yang kini menyatu dengan dirinya.

Ia berhenti tepat saat sebuah anak panah melesat dari balik dedaunan, menghantam batang pohon tepat di sebelah kepalanya—meleset hanya karena ia memiringkan wajahnya sepersekian detik sebelum panah itu tiba.

"Pendatang!" sebuah suara berteriak dari atas pohon. "Jangan bergerak, atau panah berikutnya tidak akan meleset!"

Sosok-sosok mulai bermunculan dari balik pepohonan dan semak—empat orang bertelinga runcing khas elf, mengenakan pakaian kulit berwarna hijau tua yang menyatu sempurna dengan warna hutan, masing-masing memegang busur panjang dengan anak panah yang sudah terpasang, siap dilepaskan. Di ikat pinggang mereka tergantung pisau berburu dan tanduk sinyal—jelas ini bukan warga biasa, melainkan semacam penjaga hutan atau pemburu yang bertugas menjaga wilayah mereka.

"Aku hanya lewat," Sasuke berkata tenang, tangan kanannya terangkat perlahan sebagai tanda tidak melawan. "Tidak ada niat jahat."

"Itu yang selalu dikatakan para pemburu budak sebelum mereka menyeret anak-anak kami," salah satu ranger elf—seorang wanita dengan bekas luka tipis di dagunya—menyahut tajam, busurnya masih terarah lurus ke dadanya. "Desa kami sudah cukup menderita karena manusia serakah. Kami tidak akan membiarkan satu pun dari kalian mendekat lagi."

Sasuke mengerti sekarang. Ini bukan desa biasa—ini permukiman elf yang sengaja menutup diri dari dunia luar, kemungkinan besar akibat trauma dieksploitasi di masa lalu, sama seperti banyak cerita yang mulai ia dengar tentang dunia Astral ini: yang lemah selalu jadi incaran yang kuat. Ia sempat teringat pedagang elf yang ia lihat berlalu-lalang bebas di kota sebelumnya—jelas tidak semua desa elf atau demi-human memilih jalan seperti ini. Desa ini agaknya punya luka tersendiri yang membuat mereka memilih menutup diri sepenuhnya dari dunia luar.

"Aku bukan pemburu budak," ucapnya lagi, mencoba menjaga suaranya tetap datar dan tidak mengancam.

"Buktikan dengan tidak bergerak," ranger lain menyahut, seorang pria muda yang tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, melainkan karena tegang menahan tali busurnya terlalu lama.

Namun sebelum situasi bisa mereda, sesuatu yang lain justru memecah ketegangan. Dari balik semak-semak di sisi berlawanan, seekor makhluk buas menyerupai serigala berukuran sebesar kuda kecil—bertaring panjang dan bermata merah menyala—melompat keluar, menerjang tepat ke arah ranger muda yang tangannya gemetar tadi, yang posisinya paling dekat dan paling lengah karena fokus mengawasi Sasuke.

Tidak ada waktu untuk berpikir. Tubuh Sasuke bergerak sendiri, melesat menembus jarak dalam sepersekian detik, menangkis rahang makhluk itu dengan tangan kanannya yang tersisa sebelum taringnya sempat menyentuh leher sang ranger. Satu hentakan kecil saja sudah cukup untuk melemparkan makhluk buas itu menabrak batang pohon terdekat, tidak sadarkan diri seketika.

Hening menyelimuti hutan itu selama beberapa detik.

Ranger muda itu menatap Sasuke dengan mulut menganga, masih syok menyadari betapa dekat ia dengan maut, dan betapa cepat sosok yang tadi mereka todong justru menyelamatkannya tanpa berpikir dua kali.

"...Kenapa?" wanita berbekas luka tadi akhirnya bertanya, busurnya perlahan turun meski masih waspada. "Kenapa kau menolongnya?"

"Karena aku bilang tidak ada niat jahat," Sasuke menjawab sederhana, melangkah mundur dan kembali merapatkan jubahnya. "Aku tidak berbohong soal itu."

Barulah saat itu salah satu dari mereka—seorang pria tua berjanggut panjang yang tampaknya adalah pemimpin kelompok ranger ini—memperhatikan sesuatu yang sejak tadi tersembunyi di balik jubah panjang Sasuke: lengan kirinya yang tidak ada, hanya tersisa lipatan kain kosong yang bergoyang pelan.

Wajah pria tua itu berubah, dari waspada menjadi sesuatu yang lebih lembut—rasa iba yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Anak muda," katanya pelan, menurunkan busurnya sepenuhnya, "kau kehilangan lenganmu. Apakah itu juga ulah para pemburu budak? Atau perang?"

Sasuke terdiam sejenak, tidak menyangka arah pertanyaan itu. "Sesuatu seperti itu," jawabnya singkat, memilih tidak menjelaskan lebih jauh soal reinkarnasi atau dunia lain.

Pemimpin ranger itu menghela napas panjang, memberi isyarat pada ketiga rekannya untuk menurunkan senjata sepenuhnya. "Maafkan kecurigaan kami. Sudah terlalu lama kami hidup dalam ketakutan, sampai lupa bahwa tidak semua pendatang datang untuk mengambil sesuatu dari kami." Ia menatap lengan kosong Sasuke sekali lagi. "Apalagi kau sendiri tampaknya sudah kehilangan cukup banyak."

"Tidak apa-apa," Sasuke berkata, dan untuk pertama kalinya sejak insiden dimulai, ada nada yang hampir seperti kehangatan di suaranya. "Aku juga tidak bermaksud membuat kalian takut."

Ranger muda yang tadi hampir diterkam mendekat, masih agak canggung. "Terima kasih," katanya pelan, menundukkan kepala. "Aku... aku berutang nyawa padamu."

Sasuke hanya mengangguk singkat, tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih semacam itu secara langsung.

Sebelum ia melanjutkan perjalanan, pemimpin ranger itu menawarkan untuk mengantarnya sampai ke tepi hutan yang lebih aman, sekaligus menunjukkan jalan tercepat menuju kota terdekat—sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus rasa terima kasih yang tidak terucap penuh lewat kata-kata. Sepanjang jalan, tak ada satu pun dari mereka yang bertanya lebih jauh soal masa lalunya, seolah mengerti tanpa perlu dijelaskan bahwa beberapa luka lebih baik dibiarkan tersimpan.

Insiden kecil itu meninggalkan sesuatu di benak Sasuke yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, baik sebagai pemuda hampa di Bumi maupun sebagai bayangan Sasuke Uchiha di ingatannya—perasaan hangat karena telah melindungi sesuatu, murni tanpa alasan strategis atau kewajiban apa pun.

Ia melanjutkan perjalanannya dengan langkah yang terasa sedikit lebih ringan.

---

Jalan setapak itu akhirnya mengarah ke sebuah kota kecil, dikelilingi tembok batu setinggi tiga meter dengan gerbang kayu besar yang terbuka lebar di siang hari. Dari kejauhan, Sasuke bisa melihat asap tipis mengepul dari cerobong-cerobong rumah, dan suara riuh pasar yang samar terbawa angin.

Ia berhenti sejenak sebelum mendekat, menatap bahu kirinya yang kosong, lalu merapatkan jubah panjang yang entah bagaimana sudah melekat di tubuhnya sejak ia bangun—bagian dari "paket" penampilan yang ia minta. Setidaknya, pikirnya, jubah itu cukup menutupi kekurangan lengannya tanpa terlihat aneh.

Ia melangkah masuk melalui gerbang, dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ia berbaur di antara keramaian manusia sungguhan—bukan layar, bukan rekaman, melainkan orang-orang yang benar-benar bernapas dan bergerak di hadapannya. Pedagang berteriak menawarkan buah-buahan aneh berwarna ungu cerah, anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa, dan seorang penjaga gerbang bersandar malas di tembok sambil mengunyah sesuatu.

Tidak ada yang menoleh dua kali padanya. Di dunia yang penuh ras berbeda—ia sempat melihat sepasang telinga runcing khas elf di salah satu pedagang, dan sesosok bertanduk kecil di sudut jalan—penampilannya yang biasa saja justru membuatnya nyaris tak terlihat. Anonimitas yang menenangkan.

---

Ia duduk di sudut sebuah kedai kecil, memesan semangkuk sup hangat dengan koin perak yang entah bagaimana sudah ada di saku jubahnya sejak awal—bagian lain dari "hadiah" reinkarnasinya, ia menduga. Dari meja sebelah, dua pria berbadan tegap mengenakan zirah ringan sedang berbincang sambil minum.

"...makanya aku bilang, kalau mau naik Level di atas seratus, mending ikut saja tugas dari Gereja Cabang Utara. Ketimbang nekat sendirian," salah satu dari mereka berkata, suaranya agak keras karena pengaruh minuman.

"Tugas Gereja itu berat, bung. Aku dengar yang gagal lebih banyak daripada yang berhasil," yang satu lagi menyahut.

"Ya makanya jarang ada yang tembus dua ratus. Aku sendiri masih mentok di Level delapan puluh tiga setelah bertahun-tahun."

Sasuke mendengarkan sambil menyeruput sup-nya perlahan, menyerap setiap potongan informasi seperti spons. Jadi benar—batas Level seratus itu nyata, dan Gereja adalah gerbang menuju kekuatan lebih jauh dari itu.

"Kudengar juga," pria pertama melanjutkan, nadanya merendah sedikit, "beberapa Gereja di benua-benua lain nggak sebersih yang di sini. Ada yang katanya menyalahgunakan tugas-tugas itu buat kepentingan sendiri. Untung Gereja Cabang Utara kita masih lurus."

Sasuke menyimpan informasi itu di suatu tempat di kepalanya. “Tidak semua Gereja sama, ya.”

---

Setelah makan, ia berjalan ke tengah alun-alun kota, tempat sebuah bangunan besar berdiri mencolok di antara rumah-rumah lain—dindingnya dihiasi lambang berbentuk pedang bersilang dengan perisai, dan papan kayu besar di atas pintunya bertuliskan GUILD PETUALANG — CABANG KOTA. Orang-orang berlalu-lalang keluar masuk bangunan itu, beberapa mengenakan zirah lengkap, beberapa lainnya berpakaian biasa namun membawa senjata terselip di pinggang.

Ia melangkah masuk, mendapati ruangan luas dengan papan pengumuman raksasa di salah satu dindingnya, dipenuhi lembaran-lembaran kertas—permintaan bantuan, lowongan escort pedagang, dan beberapa poster berisi wajah orang-orang dengan tulisan besar di bawahnya: DIBUTUHKAN, HIDUP ATAU MATI, lengkap dengan angka imbalan yang cukup besar.

Ia menatap salah satu poster itu lama-lama. Wajah di sana adalah seorang pria berjanggut lebat dengan bekas luka melintang di pipi, dituduh telah menghancurkan tiga desa di perbatasan Benua Manusia dan Benua Iblis.

Sebuah dorongan kecil muncul di benaknya—bukan dari ingatan Sasuke Uchiha, melainkan dari sisi dirinya yang lain, sisi yang dulu menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya menonton dari balik layar. Sisi yang kini punya kesempatan untuk benar-benar melakukan sesuatu.

*Aku bisa membantu\, kalau begitu maunya.*

Ia menghampiri meja resepsionis di sudut ruangan, tempat seorang wanita muda berseragam Guild sedang merapikan tumpukan berkas. "Aku ingin mengambil salah satu misi di papan itu," katanya, menunjuk ke arah poster buronan tadi.

Wanita itu mengangkat wajah, tersenyum ramah namun profesional. "Maaf, Tuan. Untuk mengambil kontrak apa pun dari Guild, Anda perlu terdaftar sebagai petualang resmi terlebih dahulu. Prosesnya sederhana—cukup pengukuran Level dasar dan pembuatan Kartu Guild. Apakah Anda ingin mendaftar sekarang?"

Sasuke menatap poster buronan itu sekali lagi, lalu teringat pada tujuannya yang sebenarnya—satu orang, tersembunyi di suatu tempat di dunia yang teramat luas ini. Mendaftar sebagai petualang mungkin berguna suatu saat nanti, tapi bukan prioritasnya sekarang.

"Belum," jawabnya akhirnya. "Mungkin lain kali."

Wanita itu mengangguk pengertian. "Kapan pun Anda siap, Guild selalu terbuka, Tuan."

Ia tidak mengejar poster itu hari ini. Bukan karena tidak sanggup—dengan kekuatan yang ia miliki sekarang, urusan seperti itu mungkin akan selesai dalam hitungan detik. Tapi ada sesuatu yang lebih penting yang mengganjal pikirannya sejak ia bangun di padang rumput tadi: misi yang dibebankan Dewa Agung kepadanya.

*Satu orang. Di suatu tempat di dunia seluas ini.*

Ia menghela napas, menatap langit senja yang mulai berubah warna jingga keunguan di atas kota kecil itu. Mencari satu orang di antara sepuluh benua dan ribuan kerajaan terasa seperti mencari satu butir pasir di pantai yang tak berujung. Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.

---

Malam itu, ia menyewa kamar kecil di penginapan kota menggunakan sisa koin peraknya, berbaring di ranjang sempit sambil menatap langit-langit kayu yang berbeda dari langit-langit kamarnya yang lama—namun entah kenapa memberi perasaan yang familiar. Kesendirian yang sama, hanya dengan latar yang berbeda.

Ia memejamkan mata, dan sebelum benar-benar tertidur, satu pikiran melintas.

“Kalau aku tidak tahu harus mencari ke mana, mungkin aku hanya perlu terus berjalan. Melihat dunia ini sedikit demi sedikit. Cepat atau lambat, aku akan menemukan petunjuk.”

Itu bukan rencana yang matang. Tapi untuk seseorang yang dulu tidak pernah punya rencana apa pun—bahkan untuk hidupnya sendiri—itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.

Esok paginya, ia meninggalkan kota kecil itu, melangkah menuju jalan yang lebih besar, tanpa tujuan pasti selain satu: terus bergerak, dan membiarkan dunia yang luas ini perlahan mengungkapkan jalannya sendiri.

Ia tidak tahu bahwa beberapa hari perjalanan dari kota kecil itu, tersembunyi di balik hutan lebat yang jarang dijamah manusia, terdapat sesuatu yang akan mengubah segalanya—sebuah menara batu tua yang menjulang jauh ke bawah tanah, dikenal oleh penduduk sekitar hanya lewat cerita rakyat dan bisikan penuh ketakutan.

Sebuah dungeon dengan seratus lantai.

---

*Bersambung ke Bab 5: Menara di Balik Hutan*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!