NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Yang Tertulis di Halaman Terakhir

Zaki baru sempat membuka kitabnya lagi menjelang tengah malam.

Bukan karena ia tidak mau. Setelah kunjungan dua tamu dari Kediri, hari itu berjalan seperti roda yang macet. Ia diminta mengangkut air untuk dapur, menemani Darto membereskan gudang, dan mendengarkan Kang Fadil menjelaskan panjang lebar soal perbedaan wazan yang, ironisnya, justru membuatnya teringat pada koreksi pensil kecil itu. Baru setelah Kang Ridwan mulai mendengkur dengan iramanya yang setia, ia bisa menyalakan lampu minyak dan membuka halaman tujuh belas.

Goresan pensil itu masih di sana: "Puisi memang boleh salah, asal jangan i'rab."

Ia membacanya sekali lagi dan tersenyum kecil. Lalu, karena rasa penasaran yang tak bisa ia tahan, jarinya membalik ke halaman paling belakang, halaman yang selama ini ia hindari.

Halaman terakhir itu adalah tempat ia menulis hal-hal yang tidak ingin dibaca siapa pun. Ia menuliskannya di kota, pada malam-malam ketika ayahnya terbaring demam dan rumah terasa terlalu besar. Kalimat-kalimatnya pendek dan jujur, tidak ada puisi di sana. Hanya seorang anak yang takut.

"Bapak batuk lagi malam ini. Saya tidak berani tidur. Kalau saya tidur dan Bapak tidak bangun, siapa yang akan menyalahkan saya?"

Tulisan itu masih ada, dengan tinta yang mulai memudar.

Dan di bawahnya, ada sesuatu yang tidak ia tulis.

Goresan pensil kecil, rapi, miring ke kanan. Lebih tipis dari biasanya, seolah penulisnya ragu apakah ia berhak menulis di sana.

"Maaf, Kang. Saya membaca halaman ini ketika kitabnya tersasar ke sisi kami. Saya tidak sengaja, tapi juga tidak berhenti. Saya tidak menyalin apa pun. Tapi ada satu hal yang ingin saya katakan, dan sudah lama saya simpan:

Orang yang takut kehilangan ayahnya bukan anak yang lemah. Itu anak yang sedang belajar mencintai dengan cara yang paling sulit: menunggu.

Ayah Kang Zaki pasti bangga."

Zaki menatap kalimat itu tanpa berkedip. Angin malam masuk lewat celah dinding bambu, membuat api lampu bergoyang, dan bayangan di dinding ikut bergerak seperti sesuatu yang bernapas.

Ia teringat hari pertama, ketika kitabnya menghilang lewat lubang pemberian dan ia hampir mati kaku karena panik. Ia mengira hal terburuk yang bisa terjadi adalah catatan itu terbaca. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Catatan itu dibaca, dijaga, dan dijawab dengan kalimat yang selama ini tidak berani ia ucapkan pada dirinya sendiri.

Matanya memanas. Ia menutup kitab dan menekan sampul cokelatnya ke dada, lama, sampai napasnya kembali teratur.

"Kang Zaki," gumam suara serak dari kasur sebelah. "Kamu nangis?"

"Tidak."

"Kamu sesenggukan."

"Itu dengkurannya Kang Ridwan."

"Dengkurannya Kang Ridwan tidak pakai hidung meler." Darto membuka satu mata, lalu menghela napas dan mengubah posisi tidur menghadap ke arahnya. "Ada apa?"

Zaki ragu sebentar. Lalu, pelan, ia menceritakan semuanya: halaman terakhir, catatan tentang ayahnya, dan balasan di bawahnya. Ia tidak menyebut kalimat lengkapnya. Hanya intinya.

Darto mendengarkan tanpa memotong. Untuk sekali itu, ia tidak melucu.

"Kang Zaki," katanya setelah lama. "Saya sering bercanda, kamu tahu. Tapi yang ini saya serius."

"Apa?"

"Orang yang mau membaca ketakutanmu dan menjawabnya dengan baik itu jarang." Darto memandang langit-langit. "Kalau saya jadi kamu, saya akan hati-hati. Bukan supaya menjauh, tapi supaya tidak menyakiti."

"Maksudmu?"

"Maksud saya, kamu dengar sendiri tadi siang di ruang tamu Kiai." Suaranya melemah. "Ada banyak hal yang belum kamu tahu. Dan kalau kamu terlalu cepat berharap, yang paling sakit bukan cuma kamu."

Zaki mengangguk pelan. Ia paham. Sangat paham. Tapi memahami sesuatu dan menerimanya adalah dua hal yang berbeda.

"Saya cuma ingin membalas," katanya. "Satu kali. Setelah itu, terserah."

"Ya sudah. Balas." Darto mengulurkan pensil pendeknya, si pensil keberuntungan. "Tapi jangan janji apa-apa."

"Janji apa?"

"Apa saja. Kamu itu terlalu jujur untuk berjanji sembarangan."

Zaki menulis balasannya di bawah tulisan Nafisah, tepat di halaman terakhir. Kali ini ia menulis dengan hati-hati, setiap kalimat ditimbang seperti garam untuk sayur.

"Terima kasih sudah membaca. Saya sempat marah pada diri sendiri karena kitab ini tersasar, tapi sekarang saya bersyukur.

Ayah saya sehat, Alhamdulillah. Dan ternyata, halaman ini tidak lagi terasa sepi.

Saya tidak akan berjanji apa-apa, karena saya tahu banyak hal yang belum saya mengerti tentang tempat ini. Tapi saya ingin Mbak tahu: tulisan Mbak sudah menjadi salah satu hal paling baik yang terjadi sejak saya datang ke Sumberwungu.

Kalau ada hal yang membuat Mbak ragu, saya siap menunggu. Sebab menurut Mbak sendiri, menunggu itu cara mencintai yang paling sulit."

Ia berhenti. Membaca kalimat terakhir itu dua kali, lalu, dengan tangan yang gemetar tipis, menambahkan satu coretan kecil:

"Maksud saya: mencintai ayah. Dan mungkin hal-hal lain."

Ia tertawa kecil, malu pada dirinya sendiri, tapi tidak menghapusnya.

Kitab itu berpindah tangan lewat Rukmini keesokan paginya, seperti kebiasaan mereka. Tapi kali ini Rukmini menerimanya tanpa banyak kelakar. Ia hanya menatap Zaki lewat celah anyaman selama beberapa detik, lalu berkata pelan, "Kang, semoga kamu paham apa yang sedang kamu titipkan."

"Saya paham, Mbak."

"Baik." Ia menarik tangannya. "Akan saya sampaikan."

Dan sore harinya, kitab itu kembali dengan bungkus daun pisang yang lebih tipis dari biasanya. Zaki membukanya di teras belakang asrama dengan napas tertahan.

Tidak ada goresan pensil baru di halaman terakhir. Tidak ada puisi. Tidak ada koreksi.

Hanya secarik kertas kecil, terselip di antara halaman, dengan tulisan yang lebih tergesa dari biasanya. Garis-garisnya sedikit bergetar, seolah penulisnya menulis sambil menoleh ke belakang.

"Kang Zaki,

Terima kasih atas kesabaran yang Kang tawarkan. Tapi ada satu hal yang harus saya sampaikan, dan lebih baik dari saya sendiri, bukan dari orang lain.

Jumat depan, selepas isya, ada yang ingin saya bicarakan. Bukan lewat lubang pemberian, bukan lewat Rukmini. Ada satu tempat yang boleh dilewati kita berdua, tanpa melanggar apa pun.

Tolong jangan tanya sekarang. Saya akan menulis lagi.

— N."

Zaki membaca surat itu tiga kali. Lalu empat. Ia mencoba menerka maksudnya, tapi setiap tebakan berujung pada pertanyaan baru. Tempat apa? Cara apa? Dan kenapa tulisannya terdengar seperti orang yang sedang menahan napas?

Di kejauhan, azan asar berkumandang, dan di antara langit sore yang mulai memerah, ia berdiri kaku dengan secarik kertas kecil di tangan yang tiba-tiba terasa berat.

Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Nafisah hari Jumat nanti. Ia hanya tahu satu hal: sejak hari ini, ia tidak lagi bisa berpura-pura bahwa ini semua hanya soal i'rab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!