NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:994
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gendongan Petama

Ballroom The Langham masih wangi melati, tapi kini sudah sepi.

Acara akad sudah selesai sejak satu jam lalu. Keluarga sudah pamit. Penghulu sudah pulang. Kotak bludru mas kawin kini ada di tangan Isyana Maldeva, digenggam erat.

Isyana masih berdiri di dekat jendela kaca besar. Kebaya modern mode sabrina broken white nya masih melekat sempurna di badannya yang indah. Bahu dan leher jenjangnya masih terekspos anggun, rambut panjangnya masih terurai dengan tiara kecil yang berkilau. Tapi bahunya kini sedikit gemetar. Bukan karena AC ballroom yang dingin.

Karena takut.

Malam pertama.

Kata itu berputar-putar di kepalanya, bersamaan dengan isi kontrak 1 tahun yang ia tanda tangani. _Harus memberikan anak._

Brayen Lucian Alkantara bin Louis Alkantara berdiri tidak jauh darinya. Tuxedo Broken White nya masih rapi, tapi dasi kupu-kupu nya sudah ia longgarkan sedikit. Matanya tidak lepas dari punggung Isyana.

Ia tahu. Ia tahu istrinya takut.

Brayen berjalan pelan mendekat. Setiap langkahnya hati-hati, tidak ingin membuat Isyana kaget.

"Isyana," panggilnya pelan.

Isyana Maldeva menoleh. Mata sembabnya masih basah.

"Penthouse sudah siap. Kita... pulang sekarang?"

Isyana mengangguk pelan. Sangat pelan.

Brayen Lucian Alkantara mengulurkan tangannya. Bukan untuk menarik. Hanya membuka. Memberi pilihan.

Isyana menatap tangan besar itu. Tangan yang tadi menghapus air matanya. Perlahan, dengan ragu, ia meletakkan tangannya yang kecil di atas tangan Brayen.

Hangat.

Brayen menggenggamnya. Tidak erat. Lembut.

Lift private The Langham membawa mereka turun ke lobi, lalu mobil Maybach hitam sudah menunggu. Sepanjang perjalanan ke SCBD, tidak ada yang bicara. Isyana hanya menatap keluar jendela, memeluk buket mawar putihnya. Tiara kecil di kepalanya sesekali berkilau terkena lampu jalan Jakarta.

Sampai akhirnya mereka sampai.

Penthouse Brayen Lucian Alkantara di lantai 67.

Pintu dibuka. Lampu menyala otomatis, warm light. Semua serba putih, hitam, dan kayu. Mewah tapi dingin. Terlalu luas untuk satu orang. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, tidak lagi untuk satu orang.

Isyana melangkah masuk. Kebaya sabrina nya yang pas di badan menyapu lantai marmer yang mengkilap. Ia bingung harus berdiri di mana.

Brayen menutup pintu. Ia melepas jas tuxedo Broken White nya, menyampirkannya di sofa.

Lalu ia melihat Isyana yang masih berdiri kaku di tengah ruang tamu, memeluk buketnya seperti tameng.

Brayen menarik napas.

Ia berjalan mendekat lagi. Kali ini ia berjongkok sedikit agar matanya sejajar dengan mata Isyana.

"Isyana Maldeva," suaranya serak tapi lembut, "kamu capek. Dari pagi berdiri."

Isyana mengangguk.

"Naik ke kamar ya. Kamarnya di atas."

Isyana menatap tangga melingkar menuju kamar utama. Kakinya terasa lemas. Sehari penuh tegang, ditambah kebaya dan kain batik yang dililit.

Melihat itu, Brayen Lucian Alkantara melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada wanita manapun.

Ia mengulurkan kedua tangannya.

"Boleh aku gendong?"

Isyana terkejut. Matanya membulat.

Brayen cepat-cepat melanjutkan, takut disalahpahami, "Bukan karena apa-apa. Kakimu pasti sakit. Aku hanya gendong sampai kamar. Setelah itu aku janji tidak akan menyentuhmu."

Isyana Maldeva terdiam. Bahu jenjangnya dalam kebaya sabrina itu naik turun. Ia menatap mata Brayen yang tulus. Tidak ada nafsu liar di sana. Hanya... khawatir.

Perlahan, ia mengangguk. Satu anggukan kecil.

Brayen tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum tulus.

Dengan satu gerakan lembut, tangan besarnya menyelinap di bawah lutut Isyana dan satu lagi menopang punggungnya yang ramping. Isyana yang ringan itu terangkat dengan mudah.

Ya Tuhan.

Isyana memejamkan mata. Wajahnya memerah. Ia secara refleks melingkarkan tangannya di leher Brayen Lucian Alkantara, takut jatuh. Rambut panjangnya yang terurai dengan tiara kecil itu jatuh menyentuh bahu Brayen. Wangi melatinya kini begitu dekat.

Brayen Lucian Alkantara menahan napas. Tubuh istrinya dalam gendongannya terasa begitu rapuh, begitu pas. Kebaya sabrina nya yang halus terasa di tangannya. Leher jenjang Isyana begitu dekat di depan matanya.

Ia naik tangga pelan. Sangat pelan. Seolah tidak ingin momen ini selesai.

Sampai di kamar utama.

Kamar itu sangat luas. Ranjang king size dengan seprai putih. Jendela kaca dari lantai ke langit-langit menghadap Jakarta.

Brayen menurunkan Isyana dengan sangat hati-hati di tepi ranjang. Ia memastikan kebaya Isyana tidak kusut.

Isyana duduk di tepi ranjang. Tangannya masih meremas buket mawar putih.

Hening.

Brayen berjongkok lagi di depannya. Ia meraih tangan Isyana yang dingin. Ia genggam dengan kedua tangannya.

"Isyana," bisiknya.

Isyana mendongak.

"Kamu sudah siap?"

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang paling ditakuti Isyana, tapi disampaikan dengan cara paling lembut.

Isyana Maldeva terdiam. Air matanya kembali menggenang. Bibirnya bergetar.

"Beri... beri saya waktu," suaranya lirih, hampir tidak terdengar. "Saya masih takut dan gugup."

Brayen Lucian Alkantara langsung mengangguk. Tidak ada kecewa di wajahnya. Justru lega.

"Tentu," jawabnya cepat, lembut. Ia mengusap punggung tangan Isyana dengan ibu jarinya. "Tentu saja, Isyana."

Ia menatap mata Isyana dalam-dalam.

"Tenang saja. Di sini tidak akan ada yang menyakitimu. Termasuk diriku sendiri."

Isyana menahan isak.

"Kau bebas melakukan apapun yang kau mau di rumah ini. Asal dalam batas wajar. Mau masak jam 2 pagi, mau pakai bathtub sampai airnya habis, mau nonton TV sampai pagi, bebas. Ini rumahmu sekarang. Bukan kontrakan, bukan rumah Rina. Rumahmu."

Kata _rumahmu_ itu membuat tangis Isyana pecah lagi. Tiara kecilnya bergetar.

Brayen panik melihat air mata itu. Ia ingin menghapusnya lagi, tapi ia tahan. Ia tidak mau melewati batas.

"Dan soal anak..." Brayen melanjutkan, suaranya lebih pelan, lebih dalam, "Bila kau sudah siap untuk memberikanku anak... kau bisa panggil aku."

Isyana membeku.

"Aku tidur di ranjang ini. Di sisi sini." Brayen menunjuk sisi kiri ranjang yang jauh. "Tapi aku janji, Isyana Maldeva. Aku janji tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu. Satu helai rambutmu pun tidak akan aku sentuh kalau kamu tidak mau."

Janji itu. Janji seorang CEO kejam yang baru saja menghalalkan dirinya.

Isyana Maldeva menatap Brayen Lucian Alkantara yang masih berjongkok di depannya dengan tuxedo Broken White yang sedikit kusut. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat monster. Ia melihat pelindung.

Dengan suara bergetar, ia berbisik, "Terima kasih... Mas Brayen."

Kata _Mas Brayen_ itu.

Jantung Brayen Lucian Alkantara berhenti sedetik, lalu berdegup dua kali lebih kencang.

Ia tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus.

"Sama-sama, Istriku."

Malam pertama itu, Isyana Maldeva tidur di sisi kanan ranjang dengan kebaya sabrina nya yang masih ia pakai, rambut terurai dengan tiara kecil yang belum sempat ia lepas, di balik selimut tebal. Brayen Lucian Alkantara tidur di sisi kiri, masih dengan kemeja putih dan celana tuxedo nya, memberi jarak satu meter di antara mereka.

Tidak ada sentuhan. Tidak ada paksaan.

Hanya dua detak jantung yang pelan-pelan belajar untuk berdetak dalam satu atap yang sama.

Dan di luar jendela, Jakarta berkabut menyaksikan janji pertama mereka.

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!